
"Apa lagi sih om?" tanya Abila ketus.
"Saya antar kamu pulang ya? Saya janji gak akan apa-apain kamu, saya cuma pengen antar kamu sampai ke rumah dengan selamat. Kamu mau ya Abila?" ucap Raden.
Abila berpikir sejenak, ia pun menghembuskan nafas pelan dan akhirnya menjawab. "Okay, aku mau diantar sama om," ucapnya pelan.
Raden tersenyum lebar mendengarnya, "Terimakasih ya Abila, kamu sudah mau memberi saya kesempatan untuk bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan ke kamu," ucapnya.
"Udah deh om, ayo kita ke mobil om sekarang! Aku udah malas lama-lama di tempat ini," ujar Abila.
"Baiklah Abila, kamu mau jalan sendiri atau saya gendong nih?" tanya Raden.
Abila menatap tajam wajah Raden di depannya.
"Eee enggak enggak, saya cuma bercanda. Kamu jangan terlalu serius dong Abila! Ayo deh kita jalan aja kesana nya!" ucap Raden.
Raden meraih telapak tangan Abila dan menggenggamnya, tapi dengan cepat gadis itu mengelak seolah tak ingin disentuh oleh pria di hadapannya tersebut.
"Jangan pegang-pegang aku om! Aku bisa jalan sendiri," ketus Abila.
Raden hanya mengangguk kecil, ia membiarkan Abila melangkah lebih dulu menuju mobilnya. Sedangkan Raden sendiri mengikuti dari belakang dengan perlahan. Namun, keduanya sama-sama terkejut saat sebuah deheman seorang pria terdengar dari arah belakang.
"Ehem ehem.." Abila menoleh dan menemukan Tony tengah menatap ke arahnya.
"Ohh, jadi karena ini kamu milih buat putus dari aku? Berarti benar dugaan aku, kamu bukan diperkosa tapi kamu emang menikmati itu," ucap Tony.
Abila terperangah, emosinya kembali memuncak mendengar perkataan Tony. Ia melangkah mendekati pria itu dengan tangan terkepal.
Plaaakk
Tangan Abila yang halus melayangkan tamparan ke wajah Tony, ia menggeram penuh kesal sembari memberikan tatapan tajam ke arah si pria. Hal yang wajar sebab wanita mana yang terima jika direndahkan seperti itu oleh lelaki.
"Kamu tampar aku Abila? Hanya karena lelaki tua ini?" ujar Tony menggelengkan kepalanya.
"Diam ya kamu Tony! Aku gak terima kamu hina aku kayak gitu, emangnya kamu pikir aku ini cewek apa? Selama ini aku udah sayang banget sama kamu, tapi kamu malah kayak gini!" kesal Abila.
"Kok kamu jadi nyalahin aku? Jelas-jelas kamu duluan yang mutusin hubungan kita, jadi semua ini salah kamu!" sentak Tony.
"Ya, aku minta putus karena aku gak terima kamu terus-terusan hina aku!" balas Abila.
Tony memalingkan wajahnya, dan sesaat kemudian Raden mendekat menjauhkan Abila dari Tony serta meminta pada Tony untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Anda jangan pernah menghina Abila lagi! Saya yang akan menjadi pelindung bagi Abila," ucap Raden dengan tegas.
"Ohh, jadi ini yang kalian lakukan? Kalian sekarang udah punya hubungan ya?" ujar Tony.
"Kalau kami ada hubungan memangnya kenapa? Kamu gak terima ya karena Abila lebih memilih saya daripada kamu?" ucap Raden.
Tony menggeleng pelan, "Cih, emang dasar wanita gak punya harga diri kamu Abila!" ujarnya.
Deg!
Perasaan Abila begitu terluka mendengar perkataan yang dilontarkan Tony, ia tak menyangka pria itu akan berubah dalam sekejap dan membuat dirinya sangat sedih. Raden yang melihat ekspresi gadisnya, langsung bergerak cepat menatap Tony dengan wajah emosi.
"Kamu memang benar-benar kurang ajar, rasakan ini!" setelah mengatakan itu, Raden langsung memukul wajah Tony dengan keras sampai pria itu tersungkur ke tanah.
Abila sampai menganga kaget melihatnya, Raden benar-benar emosi dan masih terus memukuli Tony yang sudah tergeletak lemas disana. Sontak Abila bergerak menahan Raden agar tidak melanjutkan itu, ia tentu tak mau jika sampai Tony meninggal di tangan Raden.
Raden berhenti, menuruti permintaan Abila dan tidak lagi menghajar Tony. Tampak Tony masih meringis kesakitan dengan wajah penuh darah akibat pukulan Raden, sedangkan Abila sudah memegangi dua tangan Raden untuk mencegah pria itu memukuli Tony.
"Udah ya om? Yuk kita pulang sekarang! Tadi katanya om mau nganterin aku kan? Biarin aja dia disini, gausah diurusin lagi!" ucap Abila.
"Ya Abila, ayo kita pergi!" singkat Raden.
Raden pun menggandeng tangan Abila dan membawanya pergi menuju mobil, Tony yang masih tergeletak coba bangkit untuk mengejar Abila, tetapi usahanya sia-sia karena luka di wajahnya cukup banyak.
"Abila, tunggu Abila! Akh sakit banget!" Tony akhirnya kembali terjatuh ke jalan karena tidak kuat menahan lukanya.
"Akh sialan tuh cowok! Awas aja, gue bakal balas dia!" geram Tony.
•
•
Kini Raden dan Abila berada di dalam mobil, tampak jelas kalau Abila tengah menangis deras memikirkan kejadian yang baru saja ia alami tadi. Abila sama sekali tak menyangka bahwa hubungannya dengan Tony akan berakhir setragis ini, ia juga tahu seperti apa sikap Tony yang sebenarnya.
Sebagai seorang lelaki, Raden pun berinisiatif menenangkan gadis yang sedang bersedih itu. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Abila dengan lembut, tak ada penolakan dari Abila sebab gadis itu tidak perduli dengan apa yang ada di sekitarnya untuk saat ini.
"Abila, kamu gak perlu lah tangisin cowok kayak si Tony itu! Dia tuh bukan lelaki yang baik buat kamu Abila," ucap Raden pelan.
"Terus menurut om, lelaki yang baik buatku itu siapa? Om gitu?" tanya Abila ketus.
"Of course, saya bisa jadi yang terbaik kok di hidup kamu. Saya juga janji kalau saya akan membahagiakan kamu sayang!" jawab Raden.
"Lo udah gila kali ya om? Gue gak mungkin mau sama duda anak satu!" ujar Abila.
"Apa salahnya? Biarpun duda, saya tetap kece kok. Saya gak kalah dari si brengsek Tony, dia itu cuma bisa nyakitin perempuan, kalau saya kan menyayangi perempuan," ucap Raden.
"Terserah lu ah, gue lagi males banget debat dan please jangan ganggu gue dulu!" ucap Abila kesal pada Raden.
Raden mengangguk menurut, ia melepaskan tangannya dari kepala Abila dan membiarkan gadis itu memiliki waktu sendiri. Ia paham betul seperti apa perasaan Abila saat ini, dan ia tidak mau membuat Abila menjadi semakin sedih hanya karena keegoisan dirinya.
Singkat cerita, mereka telah sampai di rumah Abila. Raden pun menatap sejenak wajah gadis itu dari tempat ia duduk saat ini, Abila masih tampak bersedih dan belum bisa melupakan semua kejadian tadi. Meskipun sudah beberapa kali Raden mencoba untuk menghibur gadis itu.
"Kita udah sampe, kamu langsung mau turun atau tetap disini aja?" tanya Raden.
"Gue turun aja om, lu udah boleh balik kok. Thanks ya udah anterin gue pulang ke rumah," jawab Abila.
"Yakin kamu? Emangnya kamu gak butuh saya buat menghibur kamu?" tanya Raden memastikan.
"Enggak ya om, gue bisa hibur diri gue sendiri. Udah ah gue mau turun dulu, dan lu jangan ikutin gue!" ucap Abila dengan tegas.
Gadis itu langsung keluar dari mobil dan berjalan pergi menuju rumahnya, Raden yang tak bisa meninggalkan Abila begitu saja memilih ikut turun dari mobil lalu mengejar Abila. Pria itu berhasil menyusul Abila, ia tahan dan genggam lengan Abila dari belakang.
"Tunggu dulu Abila, biarkan saya bicara sebentar sama kamu!" pinta Raden.
"Apa lagi sih om? Apa semua ini gak cukup buat om? Om udah bikin hidup aku hancur, sekarang semuanya udah gak ada harapan lagi! Dimulai dari om perkosa aku, lalu hidup aku jadi sehancur ini om!" sentak Abila.
"Abila!" keduanya sama-sama terkejut ketika suara berat memanggil nama wanita itu, Abila sontak menoleh dan menemukan papanya berdiri disana.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...