
Nyatanya, hal yang dikatakan kecil oleh Nando adalah sesuatu yang cukup besar bagi Gerald. Bukan soal pekerjaan apa yang diminta Nando, melainkan usaha dalam mencapai posisi tersebut. Gerald saja harus memulai usahanya dari staf biasa baru menjadi direktur pelaksana seperti sekarang. Jadi kalau Nando meminta jabatan, Gerald akan memberikan sesuai dengan kemampuannya, bukan hasil nepotisme seperti ini.
"Mau kemana?" Ketika Yuva mengendap ke pintu depan, Gerald melihatnya. Baru beberapa saat lalu Gerald pulang. Bukan di rumah sakit, melainkan beberapa tempat yang disebutkan dalam surat wasiat ibunya. Dan disalah satu tempat tujuannya itu, Gerald disambut bak pangeran.
Yuva terkejut bukan main, tetapi ia langsung menegakkan tubuhnya dan berekspresi dingin. "Hanya mau cari pembalut."
"Kau sedang tidak datang bulan, Yuva. Jangan cari alasan." Gerald langsung mendatangi Yuva dengan langkah lebarnya yang begitu menyakinkan dan gentle. "Kau berniat meninggalkan calon suamimu?!"
Yuva mundur dan menggelengkan kepalanya. "Aku serius! Untuk apa aku bohong soal datang bulan. Lagipula, kau tidak hamil ... kenapa kau begitu takut? Pria tidak akan berbekas meski tidak perjaka, bukan?" Langkah Yuva mundur hingga terantuk tembok.
"Kau pikir benihku itu barang sumbangan? Jasaku kemarin malam hanya sedekah?" Gerald dengan galak meraih tangan Yuva dan mencengkeramnya erat-erat. "Dimana aku menanam, di situ lahannya jadi milikku. Dimana aku menabur jasa, balasannya mengabdi seumur hidup! Pahami itu, Yuva! Sekarang, di dalam perutmu ada benihku yang bisa saja akan jadi seorang bayi. Bayi yang lahir dari seorang Alister adalah berharga."
Yuva menggeleng kalut. Gerald ini sebenarnya maunya apa. Bukankah bagus jika wanita yang ditidurinya tidak meminta apa-apa? Tapi kenapa dia malah memaksa untuk bertanggungjawab. "Saya akan jaga bayimu jika sampai aku hamil, Gerald. Aku tidak akan menghalangimu merasa memiliki anak ini nanti. Tapi aku ingin bebas, aku ingin menjadi diriku sendiri—"
"Bersamaku kau tidak perlu jadi orang lain. Kau tetap wanita bebas, hanya kau sedang menjalani pernikahan. Cukup dengan kau tidak menyukai pria lain, tidak punya perasaan pada pria lain, dan tidak berhubungan dalam bentuk apapun dengan pria. Kau tetap bisa melakukan apapun yang kau mau, tidak dituntut bisa masak, maupun melakukan pekerjaan rumah. Malah kau akan jadi ratu dengan semua pelayanan terbaiknya."
Yuva menelan ludahnya kecut. "Setidaknya, pikirkan perasaan pasanganmu, ibumu, dan keluargamu. Aku ingin ketika menikah semua orang menerimaku dengan baik, Gerald. Kalau tidak, aku sama saja dengan kembali ke neraka."
Tangan Yuva ditarik dengan paksa, lalu dengan langkah cepat, Yuva meninggalkan rumah ini dan Gerald yang mematung. "Gadis sialan! Susah sekali menaklukkannya!"
Gerald meraup wajahnya kasar, lalu meraih ponsel di saku celananya. "Bagaimana persiapan pernikahannya, El?" tanya Gerald saat Eldar menjawab panggilannya.
"Anda tinggal datang kemari, Tuan. Semua sudah beres! Atau saya harus menjemput anda?" Eldar dengan suara bisingnya menjawab.
"Tidak perlu. Aku akan datang dalam tiga puluh menit!" Gerald mematikan sambungan teleponnya, lalu mendatangi jendela terdekat untuk mengintip keluar. Melihat sejauh mana Yuva pergi darinya.
Segaris senyum smirk terlukis di sana, lalu ia menelpon seseorang kembali. "Saatnya kau bekerja, Nando!" gumam Gerald.
"Yuva kabur! Bawa dia ke alamat yang aku kirimkan dalam tiga puluh menit. Tidak boleh terluka ataupun dengan cara kekerasan. Aku mau Yuva datang dengan keikhlasan. Setelah itu akan aku pertimbangkan posisi yang baik untukmu!"
Gerald bukan orang yang mudah disogok maupun dilobi. Sejak kecil ia selalu mendapatkan semuanya dengan usaha keras dan pantang menyerah. Jadi Nandopun juga harus merasakan hal yang sama saat ingin mendapatkan posisi tinggi di kantor Gerald. Lalu jika membujuk Yuva adalah perkara mudah, Gerald akan melakukannya sendiri.
"Gadis manisku, setelah ini kau hanya akan menari di pelukanku." Bukan Gerald jika tidak punya rencana matang sebelum bertindak.
Sementara di luar sana, Nando dibuat terkejut dengan permintaan itu. Buru-buru ia bangun dan mendorong istrinya dari pintu kamar mandi.
"Honey, kenapa kau kasar padaku!" rajuk Leana, istri Nando, dengan seraut wajah cemberut dan kesal. Nando biasa memperlakukan istrinya dengan lembut bagai ratu, tetapi barusan Nando mendorongnya brutal.
Anna tampak terkejut dan menatap suaminya tak percaya. "Kau bilang siapa?" tangan Anna sampai menutup mulutnya saking tidak percaya. "Impossible, Honey ... itu sesuatu yang mustahil. Papa mertua saja tidak bisa mendekati dia, apalagi cuma kamu, Honey."
Nando tersenyum bangga. Ia mengusap pipi Anna dan melabuhkan sebuah ciuman di bibir Anna. "Keberuntungan ada di tangan orang yang sabar dan pintar melihat peluang. Dan suamimu ini sedang beruntung, Honey Lovely."
Sekali lagi Anna melongo. Namun, Nando kembali menciumnya, "percayalah, Honey! Kita sebentar lagi tidak butuh tempat ini!" Ia bergegas meraih pakaian yang berada di dekat Anna berdiri.
Prang!
Di ruang makan terdengar suara mengamuk dan ribut. Nando dan Anna saling pandang.
"Bocah terkutuk sialan! Enyah saja kau dari rumahku! Setiap pagi hanya suara rengekanmu yang menjijikkan itu yang memenuhi telingaku! Kupikir tanganmu lengkap untuk makan, ha! Atau mau kulenyapkan saja kedua tanganmu itu biar kau tau rasa!"
"Kumohon jangan bicara kasar pada Chester, Arman. Dia hanya anak kecil, belum bisa makan sendiri dengan benar."
"Diam kau, Sita! Singkirkan dia dari hadapanku sekarang juga! Dan pastikan ini sarapan terakhir dia di meja ini! Besok-besok kasih makan dia di dapur! Pastikan mulutnya diam! Kalau sampai aku mendengar rengekannya lagi, akan kusumpal mulutnya dengan batu!"
Keributan reda. Nando dan Anna membuang napas bersamaan. "Kuharap kita tidak punya anak selama kita masih tinggal di rumah ini, Honey ... ini sarang perompak. Bukan keluarga."
"Sorry, kau harus melihat ini setiap hari, Sayang. Tapi aku janji akan berusaha lebih keras agar kita bisa tinggal layak di rumah kita sendiri." Nando mengecup bibir Anna lagi.
"Aku berangkat," pamitnya.
"Sarapan?"
Nando menghela napas. "Kurasa perutku mendadak kenyang dengan suara tadi." Lantas ia berlalu meninggalkan kamar, dan bergegas menuju lokasi-lokasi yang di kirimkan Gerald.
.
.
.
Selamat membaca🤗