
Abila mengangguk dan mulai melangkah, tapi tiba-tiba langkah mereka terhenti saat Devano melihat seorang pria keluar dari mobil dan berjalan menghampiri mereka. Sontak Devano berbalik, menatap heran ke arah pria itu.
"Kenapa papa, kok berhenti sih?" tanya Abila bingung.
"Itu sayang, supir taksi online kamu tadi turun dari mobil dan jalan ke arah kita. Dia senyum tuh, kayaknya dari penampilannya dia bukan supir taksi deh," ucap Devano.
"Hah??" Abila terkejut dan reflek ikut menoleh ke belakang, matanya terbelalak melihat Raden tengah berjalan menghampiri mereka.
"Permisi om," Raden langsung menyapa Devano sambil tersenyum dan sedikit membungkuk, kemudian ia juga mengulurkan tangan ke arah Devano untuk mencium punggung tangannya.
"Iya iya, maaf kamu ini siapa ya? Apa hubungan kamu sama Abila anak saya?" tanya Devano penasaran.
"Eee saya..."
"Dia ini om Raden, papanya Enzo anak laki-laki yang aku gak sengaja ketemu waktu di restoran tadi pa," sela Abila memotong ucapan Raden.
Devano menganggukkan kepalanya, namun ia masih tak mengerti mengapa Abila tadi mengatakan jika Raden adalah supir taksi online.
"Terus, kenapa tadi kamu bilang pulang sama taksi online?" tanya Devano.
"Itu cuma bercanda pa, aku kan gak nyangka juga kalau om Raden ini bakal turun dan nyamperin aku kesini. Soalnya tadi tuh dia udah pamit mau pulang," jawab Abila gugup.
"Ohh, kenapa gak disuruh mampir dulu sih sayang? Kasihan dong pak Raden ini kalau gak diajak masuk dan dikasih minum, kan dia udah antar kamu pulang tadi," ucap Devano.
"A-aku rasa gak perlu sih pa, toh dia juga harus pulang biar bisa ketemu anaknya," ucap Abila.
"Emang anaknya kemana pak?" tanya Devano pada Raden.
"Eee anak saya ada sama istri saya, jadi ya gak masalah juga sih kalau saya masih disini. Cuma kalau enggak juga gapapa," jawab Raden.
"Oh gitu, yaudah kamu masuk aja dulu yuk kita ngobrol-ngobrol di dalam!" ajak Devano.
"Pa, tapi pa—"
"Kamu itu kenapa sih sayang? Ada tamu yang mau mampir kok gak dibolehin?" heran Devano.
"Bukan gitu pa, aku cuma—"
"Udah ya, nanti aja kamu ngobrolnya di dalam. Yuk pak Raden kita masuk!" potong Devano.
"Siap om, makasih!" ucap Raden tersenyum.
Abila semakin dibuat kikuk saat Raden melangkah bersama papanya ke dalam rumah, ia tak ingin papanya tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Raden beberapa waktu lalu.
•
•
Saat di dalam, Devano langsung mempersilahkan Raden untuk duduk di sofa bersamanya. Sedangkan Abila terlihat masih tak suka dengan kelakuan Raden yang seolah ingin sengaja membuatnya tertekan.
"Ish, ini orang nyebelin banget sih! Dia maksudnya apa sih coba kayak gini?!" batin Abila.
Abila pun terpaksa ikut duduk disana bersama Raden dan juga papanya, ia ingin memastikan kalau Raden tidak akan berkata mengenai kejadian malam itu pada papanya. Abila tentu tak ingin jika Devano mengetahui apa yang sudah terjadi diantaranya dan juga Raden.
"Jadi, kalian ini baru pertama kali bertemu ya?" tanya Devano penasaran.
"Iya pa, aku gak sengaja ketemu sama om Raden waktu di restoran tadi. Soalnya ada anak kecil laki-laki yang nyamperin aku, dan ternyata itu anaknya om Raden," jawab Abila bohong.
"Oalah, kenapa kamu mesti bohong sih tadi sama papa? Bilangnya naik taksi online, padahal ternyata kamu pulang sama mas Raden," heran Devano.
"Kan aku udah bilang tadi pa, aku cuma bercanda. Lagian aku juga gak nyangka kalau om Raden mau turun dan mampir kesini, soalnya dia bilang kalau dia mau langsung pulang," ucap Abila.
Abila melotot ke arah Raden, sedangkan Devano mengernyitkan dahinya bingung mengapa putrinya harus mengusir Raden dari sana.
"Benar begitu Abila?" tanya Devano pada putrinya.
"Umm, aku kan ngiranya om Raden ini mau cepat-cepat balik biar ketemu sama Enzo gitu. Papa jangan melotot dong ke aku, lagian sekarang om Raden juga ada disini!" ucap Abila gugup.
Devano menggeleng dan beralih menatap Raden, sedangkan Raden hanya tersenyum tipis disana.
"Yaudah ah, aku mau ke kamar dulu ya pa? Aku mau mandi nih gerah banget rasanya," pamit Abila setelah dirasakan kalau Raden tidak akan bercerita tentang kejadian malam itu.
"Iya, sudah sana kamu mandi!" ujar Devano.
Abila bangkit, kemudian melangkah pergi dari sana menuju kamarnya. Sedangkan Raden tetap disana bersama Devano dan lanjut berbincang.
•
•
Sementara itu, Enzo tengah merengut di taman seorang diri sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. Ia masih tak terima dengan keputusan mamanya yang melarang ia untuk ikut pergi bersama Raden dan Abila, padahal ia sangat ingin pergi dengan keduanya tadi.
Maura yang menyaksikan itu pun merasa tidak tega, ia menghampiri putranya dan duduk di sebelah lelaki kecil itu. Perlahan ia menyentuh pundak Enzo, mulai berbicara pelan padanya memberi pengertian agar Enzo tahu apa alasan ia melarang Enzo pergi dengan Raden dan Abila.
"Sayang, udah dong ngambeknya! Mama sedih tau lihat kamu ngambek terus kayak gini, maafin mama ya Enzo!" bujuk Maura.
"Aku gak mau maafin mama, aku sebel sama mama!" ujar Enzo mencebikkan bibirnya.
"Hey, Enzo jangan gitu dong nak! Mama itu tadi larang kamu buat ikut sama papa kamu, karena mama gak mau kamu ganggu mereka. Kan kamu tau sendiri papa kamu lagi sama pacar barunya," ucap Maura.
"Ah mama mah cuma alasan, aku gak mau dengerin omongan mama lagi!" kesal Enzo.
"Enzo, kamu kok jadi gini sih? Kamu dengerin mama dong sayang, mama lakuin itu kan juga demi kebaikan papa!" ucap Maura.
"Mama itu jahat, mama udah pisahin aku dari papa dan mama gak bolehin papa buat bawa aku!" ucap Enzo tegas.
"Gak gitu sayang, mama bolehin kok kamu kalau mau pergi sama papa. Tapi, jangan pas ada tante Abila ya sayang!" ucap Maura.
"Emangnya kenapa ma? Papa kan tadi bilang, katanya aku disuruh lebih akrab sama tante Abila, dia kan calon mama aku tau," heran Enzo.
Maura terdiam sesaat, "Maafin mama ya Enzo, mama gak mau kamu dekat dengan Abila karena mama khawatir akan kehilangan kamu. Mama juga gak mau kamu jadi lupain mama," batinnya.
Lalu, Maura pun meraih dua tangan putranya dan tersenyum ke arahnya. "Sayang, kamu mau kan maafin mama? Kita masuk yuk!" ucapnya.
"Enggak ah, aku gak mau!" sentak Enzo.
"Ayo dong Enzo sayang! Mama janji deh, besok kamu boleh pergi sama papa kamu. Tapi, sekarang kamu harus masuk ke dalam ya?" ucap Maura.
"Beneran ma?" tanya Enzo.
"Iya benar dong sayang, yuk masuk dulu yuk!" jawab Maura.
"Iya ma," Enzo mengangguk setuju dan bangkit dari duduknya.
Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah dengan tangan saling menggandeng satu sama lain, seketika kekesalan Enzo hilang setelah mendengar janji mamanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...