
Seketika Billy serta Joana syok mendengarnya, sedangkan Devano dan Nadya kembali merasakan sakit atas apa yang dilakukan Raden. Lalu, Billy bangkit dari posisinya dan langsung menampar Raden dengan keras. Raden tak menghindar, ia menerima tamparan itu sampai hampir terjatuh.
Plaaakk
"Memang laki-laki biadab kamu! Siapa yang mengajarkan kamu untuk berbuat seperti itu, ha? Dasar anak gak tahu diri!" bentak Billy.
"Mas, udah mas jangan kasar begitu sama Raden!" Joana selaku ibu dari Raden ikut berdiri dan menahan suaminya, biar bagaimanapun ia juga tidak tega jika Billy terus memukuli putranya.
"Kamu kenapa Joana? Kamu mau belain anak kurang ajar ini?" tanya Billy.
"Gak mas, aku cuma gak mau kamu mukulin Raden terus!" jawab Joana.
"Kenapa aku gak boleh pukul dia? Kamu dengar sendiri kan tadi dia bilang apa? Dia ngaku kalau dia udah tidurin Abila, apa kamu masih mau belain dia?" sentak Billy.
"Bisa aja kan mas, saat itu Raden dalam keadaan mabuk berat. Jadi, dia gak sadar kalau dia tidur sama Abila," ucap Joana.
"Tetap aja, apa yang dia lakukan itu salah! Harusnya dia gak mabuk-mabukan, supaya kejadian ini gak terjadi!" ucap Billy.
"Pa, ma, sebenarnya aku—"
"Aku gak masalah kok dengan apa yang dilakukan mas Raden malam itu," sela Abila sambil beranjak dari tempat duduknya.
Seketika semua orang disana kompak terkejut dengan perkataan Abila, begitupun dengan Raden sendiri yang sebetulnya tadi hendak mengakui kalau dia meniduri Abila dalam keadaan sadar. Namun, sepertinya Abila tak mau Raden kembali mengulangi kesalahannya saat berbicara dengan orangtuanya.
"Abila, kenapa kamu bicara seperti itu? Raden sudah melecehkan kamu loh," heran Devano.
"Iya pa, karena aku cinta sama mas Raden. Toh dia juga mau tanggung jawab kan?" ucap Abila.
Raden tersenyum mendengarnya, tak lama sebuah teriakan anak kecil mengagetkan mereka semua, terutama Raden yang langsung menoleh ke asal suara tersebut.
"Papa! Kakek, nenek!" teriak Enzo yang baru datang bersama mamanya dari arah luar memanggil papa serta kakek neneknya.
Raden pun terkejut melihat putranya datang kesana, sedangkan Enzo sendiri sudah berada di dekatnya dan memeluk erat tubuh sang papa. Enzo sepertinya sangat senang karena dapat bertemu dengan papanya yang sudah lama tidak ia temui itu, apalagi sebentar lagi papanya itu akan menikah dan Enzo pun bisa memiliki mama baru.
"Papa, aku senang banget ketemu sama papa! Aku juga senang bisa ketemu lagi sama kakek dan nenek," ucap Enzo sambil tersenyum renyah.
"Ya Enzo, papa juga senang kok. Akhirnya kamu datang juga sama mama kamu, makasih ya sayang!" ucap Raden.
"Sama-sama pa, aku kan mau lihat papa sama mama Abila jadi satu. Aku gak sabar pengen tinggal bareng sama mama Abila," celetuk Enzo.
Abila tersenyum dan menghampiri pria kecil itu, "Ah kamu bisa aja deh Enzo, sekarang kamu udah mau panggil tante dengan sebutan mama?" ucapnya.
"Iya dong ma, kan papa yang suruh. Katanya nanti tante Abila bakal jadi mama aku juga, ya kan pa?" ucap Enzo.
"I-i-iya sayang, itu benar kok," jawab Raden pelan.
Lalu, Billy dan Joana turut menghampiri cucu mereka yang tampan itu. Mereka sama-sama bersedih saat melihat Enzo, apalagi jika pria kecil itu tau apa yang sudah dilakukan papanya pada calon mama barunya itu.
"Enzo, sini yuk sama nenek! Biarin papa kamu urus semuanya dulu ya?" ucap Joana.
"Iya nek," Enzo mengangguk menurut dan berjalan menghampiri neneknya.
"Mama bawa Enzo main dulu sama Maura juga ya? Kamu selesaikan semuanya disini, jangan bikin mama kecewa!" bisik Joana di telinga Raden.
Joana pun membawa Enzo pergi ke luar, diikuti Maura di belakangnya dengan wajah penasaran karena suasana disana cukup tegang dan membuatnya ingin tahu apa yang terjadi.
•
•
Maura kini sudah bersama Enzo serta Joana di taman samping rumah besar tersebut, Maura masih penasaran mengapa suasana di dalam tadi sangat tegang dan terlihat ekspresi Raden yang cukup cemas seperti sedang terjadi sesuatu. Maura pun terus menebak-nebak apa sebenarnya yang terjadi di dalam sana sebelum ia datang bersama Enzo.
"Ma, aku mau tanya deh. Di dalam tuh ada apa sih? Kenapa semuanya pada tegang gitu pas aku datang? Lagi ada masalah ya? Bukannya mas Raden harusnya tunangan sama Abila?" tanya Maura.
"Kamu gak perlu tau Maura, kamu kan bukan lagi istri Raden. Jadi, kamu diam aja ya!" ucap Joana.
"Maaf ma, abisnya aku heran aja sama suasana di dalam tadi. Tapi, pertunangan mas Raden sama Abila itu jadi kan ma?" ucap Maura.
"Ya pasti jadi dong, kenapa harus enggak coba? Emang kenapa sih Maura? Kok kamu tanya-tanya soal itu terus daritadi?" ucap Joana.
"Gapapa ma, syukurlah kalau emang mereka tetap jadi tunangan dan gak ada masalah," ucap Maura.
"Iya, kamu doakan aja ya semoga mereka bisa terus lanjut sampai pernikahan nanti!" pinta Joana.
"Aamiin ma," singkat Maura disertai senyuman tipis.
"Nah, setelah mereka nikah nanti Enzo bakal ikut sama papanya tinggal di rumah mama. Kamu setuju kan Maura?" ujar Joana.
Sontak Maura terkejut mendengarnya, tentu ia tak terima jika harus dipisahkan dengan putra yang sangat ia cintai. Ingin rasanya ia meluapkan emosi pada Joana, namun Maura masih mencoba menahan dirinya sebab tak mungkin ia bersikap seperti itu pada mantan mertuanya.
"Gak bisa gitu dong ma, Enzo kan anak aku. Dia harus tinggal di rumah aku, aku gak setuju lah kalau dia dibawa sama papanya dan Abila," protes Maura.
"Kamu kan sudah lama tinggal sama Enzo, nanti giliran Raden yang dapat hak asuh Enzo. Toh Raden kan juga orangtuanya, dia berhak dong buat bawa Enzo tinggal sama dia," ucap Joana.
"Mama benar, tapi tetap aja aku gak rela kalau harus pisah sama anak kandung aku!" tegas Maura.
Joana menghela nafasnya sembari menggeleng perlahan, baru saja ia hendak membuka mulut, tapi Enzo sudah lebih dulu menyeka dengan kepala mendongak ke arah mama dan neneknya itu. Sepertinya Enzo bingung mendengar perdebatan antara kedua wanita itu.
"Nenek, mama, kenapa pada berantem sih? Katanya mau ajak aku main, ayo dong kita main bareng-bareng biar seru!" ujar Enzo.
"Eh iya sayang, mama gak berantem kok sama nenek. Mama cuma lagi ngobrol aja tadi," ucap Maura sambil mengusap wajah putranya.
"Oh gitu, tapi kok mama sama nenek bawa-bawa papa juga?" tanya Enzo penasaran.
"Ya kita emang lagi bahas papa kamu sayang, udah ya kamu gak boleh kepo urusan orang dewasa!" ucap Maura.
"Iya ma," Enzo mengangguk patuh dan kembali fokus pada mainannya.
Saat itu juga Joana tersenyum, ia senang lantaran Maura ternyata bisa mendidik Enzo dengan baik sehingga pria kecil itu tumbuh menjadi anak yang penurut dan tidak nakal.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...