One Night With Stranger

One Night With Stranger
Salah paham



"Iya iya, saya ngikutin kamu tadi sewaktu kamu pergi dari rumah. Saya penasaran makanya saya ikutin kamu, eh ternyata keputusan saya tepat. Buktinya kamu nangis begini dan butuh bantuan dari saya," ucap Raden.


"Aku gak butuh bantuan kamu kok, udah deh lepasin tangan aku!" ujar Abila.


"Jangan bandel Abila! Kamu habis putus kan sama pacar kamu? Yasudah, ini kesempatan untuk kita bersatu loh. Saya akan berikan yang terbaik buat kamu Abila," ucap Raden.


Plaaakk


Abila justru menampar wajah Raden menggunakan tangannya yang lain, hal itu membuat Raden tersentak kaget dan reflek memegangi pipinya sehingga pegangannya pada tangan Abila terlepas dan dijadikan kesempatan oleh Abila untuk menjauh dari pria tersebut.


"Kamu jangan gila ya om! Aku emang udah putus dari Tony, tapi bukan berarti aku mau nikah sama kamu. Karena sampai kapanpun, itu gak akan pernah terjadi!" tegas Abila.


"Mau kamu apa lagi Abila? Saya sudah berusaha untuk bertanggung jawab loh sama kamu, tapi kamu malah begini ke saya!" ujar Raden.


"Aku gak butuh tanggung jawab kamu, udah sana kamu pergi aja dan jangan pernah ganggu aku lagi!" sentak Abila.


"Enggak Abila, selamanya saya akan ganggu kamu. Sampai kamu benar-benar bisa terima saya di hidup kamu, jujur aja Abila tubuh kamu bikin saya candu dan saya gak rela kamu dimiliki oleh laki-laki lain!" ucap Raden to the point.


Abila menatap tajam ke wajah Raden, satu tamparan kembali mendarat tepat di wajah pria itu. Kini kedua pipinya sudah merah pekat akibat tamparan Abila yang sangat keras itu.


Plaaakk


"Kamu tampar saya lagi? Oh ayolah, salah saya apa Abila? Kenapa kamu seperti ketagihan menampar saya?" tanya Raden.


"Om masih tanya salah om apa? Udah jelas-jelas om yang bikin hidup saya hancur tau gak!" kesal Abila.


Raden terdiam memalingkan wajahnya, perkataan Abila memang benar adanya.


"Aku yakin om pasti ingat semuanya, malam itu malam dimana om renggut kesucian aku. Sejak saat itu, hidup aku udah hancur banget om. Jadi, tolong om jangan bikin hidup aku tambah hancur!" ucap Abila penuh emosi.


"I-i-iya Abila, saya ngerti saya salah dan saya minta maaf sama kamu. Tapi, sekarang saya mohon sama kamu untuk mau dengarkan kata-kata saya Abila!" ucap Raden.


"Apa lagi sih om?" tanya Abila ketus.


"Saya antar kamu pulang ya? Saya janji gak akan apa-apain kamu, saya cuma pengen antar kamu sampai ke rumah dengan selamat. Kamu mau ya Abila?" ucap Raden.


Abila berpikir sejenak, ia pun menghembuskan nafas pelan dan akhirnya menjawab. "Okay, aku mau diantar sama om," ucapnya pelan.


Raden tersenyum lebar mendengarnya, "Terimakasih ya Abila, kamu sudah mau memberi saya kesempatan untuk bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan ke kamu," ucapnya.


"Udah deh om, ayo kita ke mobil om sekarang! Aku udah malas lama-lama di tempat ini," ujar Abila.


"Baiklah Abila, kamu mau jalan sendiri atau saya gendong nih?" tanya Raden.


Abila menatap tajam wajah Raden di depannya.


"Eee enggak enggak, saya cuma bercanda. Kamu jangan terlalu serius dong Abila! Ayo deh kita jalan aja kesana nya!" ucap Raden.


Raden meraih telapak tangan Abila dan menggenggamnya, tapi dengan cepat gadis itu mengelak seolah tak ingin disentuh oleh pria di hadapannya tersebut.


"Jangan pegang-pegang aku om! Aku bisa jalan sendiri," ketus Abila.


Raden hanya mengangguk kecil, ia membiarkan Abila melangkah lebih dulu menuju mobilnya. Sedangkan Raden sendiri mengikuti dari belakang dengan perlahan. Namun, keduanya sama-sama terkejut saat sebuah deheman seorang pria terdengar dari arah belakang.


"Ohh, jadi karena ini kamu milih buat putus dari aku? Berarti benar dugaan aku, kamu bukan diperkosa tapi kamu emang menikmati itu," ucap Tony.


Abila terperangah, emosinya kembali memuncak mendengar perkataan Tony. Ia melangkah mendekati pria itu dengan tangan terkepal.




Devano keluar kamar setelah puas menikmati tubuh Nadya, ia menemui dua orang anaknya yang tengah duduk di ruang tengah sambil menonton tv. Matanya juga terus mengedar ke seluruh ruangan berupaya menemukan Abila disana, tapi nampaknya gadis itu tidak ada disana.


"Firza, Afifah, kalian kok cuma berdua aja sih? Kakak kalian yang cantik tapi nyebelin itu kemana? Dia gak diajak nonton juga atau dia yang gak mau?" tanya Devano sambil duduk di sofa.


"Iya pa, kak Abila tadi gak mau diajak nonton sama kita. Dia malah pergi keluar tuh," jawab Afifah.


"Loh Abila pergi kemana sayang? Kamu tahu gak?" tanya Devano.


Afifah menggeleng, "Aku gak tahu pa, kak Abila gak ngomong apa-apa sama aku. Tapi, tadi itu kak Abila rapih banget loh pa," jawabnya.


"Iya pa, mungkin aja kak Abila itu mau ketemu sama temannya dan jalan-jalan," tebak Firza.


"Bisa jadi sih, tapi kenapa dia gak pamit dulu sama papa atau mama coba? Biasanya dia kan kalau mau kemana-mana izin dulu," heran Devano.


"Entahlah, kayaknya kak Abila lagi buru-buru deh pa, jadi gak sempat izin sama papa," ujar Firza.


"Yaudah, kalian lanjut aja nontonnya! Papa mau ke kamar lagi ya temuin mama kalian?" ucap Devano.


"Iya pa," ucap Firza dan Afifah bersamaan.


Devano pun beranjak dari sofa, lalu kembali ke kamar menemui Nadya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan bathrobe miliknya. Nadya terkejut saat Devano muncul dan berjalan ke arahnya, ia sudah was-was kalau lelaki itu akan meminta jatah kembali padanya.


"Mas, kamu mau ngapain lagi? Belum puas tadi udah tiga ronde? Aku capek loh, lagian aku juga baru selesai mandi," ucap Nadya.


"Kamu suudzon aja sama suami sendiri, aku bukan mau minta jatah kali," ucap Devano.


"Terus kamu mau apa mas? Biasanya kalau kamu masuk kamar kan pasti pengen minta jatah," tanya Nadya penasaran.


"Aku cuma pengen tanya ke kamu, Abila itu kemana ya? Dia kok pergi tapi gak bilang-bilang dulu sama kita? Gak biasanya loh dia begini," ujar Devano.


"Ohh, ya mana aku tahu mas. Aku itu kan daritadi sama kamu disini, nemenin kamu yang minta jatah terus dari kemarin," ucap Nadya.


"Iya sih, kayaknya aku salah minta jawaban dari kamu. Terus Abila kemana ya ini? Apa aku susulin aja dia buat cari tau?" ucap Devano.


"Kamu mau susulin kemana? Lagian biarin ajalah dia pergi mas, toh dia udah besar," ucap Nadya.


"Yaudah deh, kalo gitu berarti aku disini aja sama kamu. Yuk sayang kita lanjut ronde kedua!" ucap Devano sambil tersenyum lebar.


"Hah??" Nadya terkejut bukan main, dan sesaat setelahnya ia langsung ditarik begitu saja oleh Devano tanpa aba-aba lebih dulu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...