
Tony menggeleng, "Mereka berhak tau sekarang Abila, kenapa juga harus kamu tutup-tutupi? Kamu malu ya sama skandal kamu itu?" ujarnya.
"Tony cukup! Kalau kamu kesini cuma mau mempermalukan aku, lebih baik kamu pergi aja dan jangan ganggu aku!" usir Abila.
"Oh kamu berani usir aku Abila? Kamu gak tahu dulu seberapa besar cinta kita, ha?" tanya Tony.
"Itu dulu Tony, sekarang aku udah gak sama sekali ngerasain jatuh cinta sama kamu!" tegas Abila.
"Secepat itu Abila? Okay, gapapa aku bisa terima kok semuanya. Tapi, aku akan tetap disini dan beritahu semua keluarga kamu tentang kelakuan bejat pria itu. Dia gak pantas buat dapatin kamu Abila," ucap Tony.
"Terus menurut kamu, kamu yang pantas gitu? Jangan mimpi Tony! Aku gak akan pernah balikan sama orang yang udah ngerendahin aku!" ujar Abila.
"Tapi kamu justru memilih menikah dengan orang yang sudah melecehkan kamu, dimana pemikiran kamu Abila?" ucap Tony geleng-geleng kepala.
"Kamu gausah ikut campur urusan aku ya, Tony. Kamu gak ada hak lagi buat atur-atur hidup aku, sekarang kamu pergi atau aku akan panggil security buat usir kamu!" ucap Abila.
"Aku gak mau Abila, aku akan tetap disini. Sana kembali saja ke Raden dan lanjutkan pertunangan kalian!" ucap Tony.
"Tony!" tiba-tiba Raden berteriak dan melangkah menghampiri keduanya.
Sontak Tony menoleh, lalu tersenyum seringai ketika melihat Raden mendekat ke arahnya dengan penuh emosi. Inilah yang ia inginkan, dimana Raden terpancing emosi dan tentunya akan membuat acara pertunangan pria itu dengan Abila berantakan. Bahkan, kalau bisa batal terlaksana.
"Wah wah wah, ini dia nih si pemerkosa yang gak tahu malu. Udah ambil kesucian orang, terus sekarang mau nikahin Abila gitu aja. Situ sehat mas? Gak malu apa?" cibir Tony.
"Diam ya kamu Tony! Jangan buat masalah di acara pertunangan saya dan Abila!" sentak Raden.
"Saya hanya menyampaikan fakta, saya yakin banyak dari orang-orang disini yang belum tahu tentang itu semua kan?" ucap Tony dengan lantang.
Semua keluarga besar Raden maupun Abila yang hadir disana saling terheran-heran, mereka berpikir benarkah Raden sudah melakukan hal sekeji itu pada Abila. Tentu saja hal itu membuat Raden emosi, ia maju mendekati Tony dan mencengkram kerah baju pria itu dengan kuat.
"Dengar ya kamu, pergi dari sini atau saya habisi kamu sekarang juga!" ancam Raden.
"Oh silahkan, habisi saya! Kamu pasti akan tambah malu Raden jika membunuh orang di hadapan keluarga besar kamu," ujar Tony.
"Kurang ajar!" Raden yang terpancing berusaha memukul wajah Tony, tapi dihalangi oleh Abila.
"Jangan mas! Kamu gak boleh mukul Tony disini, kamu harus bisa tahan emosi kamu!" pinta Abila.
"Mana bisa Abila? Dia udah bikin kacau acara kita, dia harus dikasih pelajaran!" geram Raden.
Bugghhh
Abila benar-benar terkejut saat Raden memukul wajah Tony sampai terjatuh ke lantai, ia reflek berteriak dan langsung menutupi mulutnya karena tak percaya dengan itu. Sedangkan Devano juga memanggil security untuk bisa memisahkan Raden dan membawa Tony pergi dari sana.
Setelah Tony dibawa pergi, Raden masih saja emosi dan hendak mengejar ke depan. Namun, Billy serta Joana selaku orang tua pria itu mendekat membuat Raden menunduk malu. Raden tahu orangtuanya pasti ingin bertanya mengenai perkataan Tony barusan, dan ia pun kebingungan saat ini.
"Raden tunggu! Kamu gak perlu kejar orang itu lagi, sekarang kamu jawab pertanyaan mama!" ujar Joana dengan tegas.
"Ma, aku—"
Deg!
Tak hanya Raden, bahkan Abila sendiri juga kaget mendengar Joana menanyakan itu. Raden sungguh bingung, tapi pada akhirnya mau tidak mau ia mengangguk dan mengakui semua perbuatan yang sudah ia lakukan pada Abila. Saat itu juga Joana serta Billy sangat emosi.
"Mama gausah dengerin kata-kata orang itu tadi, dia cuma pengen bikin aku malu dan pertunangan aku sama Abila gagal. Mama sama papa percaya aja sama aku ya!" ucap Raden.
"Kamu jangan bohongi mama, Raden! Gak mungkin orang tadi cuma bicara asal, mama yakin dia memang tahu," ucap Joana.
"Kok mama lebih percaya orang itu daripada aku yang anak mama sendiri? Aku gak bohong sama mama, coba aja mama tanya ke Abila langsung!" ucap Raden kesal.
Abila hanya merunduk diam, ia pun tidak tahu harus berkata apa. Ia tak mau membuat Raden dimarahi orangtuanya karena masalah itu, tapi ia juga tak mungkin berbohong di depan calon mertuanya sendiri. Abila benar-benar dihadapkan pada situasi yang membingungkan.
"Eee pak Billy, Bu Joana!" Devano serta Nadya langsung mendekat dan menegur mereka.
"Ah iya pak Devano, maaf saya hanya ingin memastikan perkataan pria tadi. Saya tentu gak mau kalau sampai Raden melakukan hal sekeji itu pada Abila," ucap Joana.
"Ya pak Devano, kami sebagai orang tua akan merasa sangat gagal dalam menjaga putra kami, jika memang benar dia melakukan itu," sahut Billy.
Devano menghela nafasnya, "Tenang dulu pak, Bu! Mari kita bicarakan saja semuanya dengan tenang disana!" ajaknya.
Seketika itu juga Raden merasa panik, ia khawatir Devano akan menceritakan semuanya pada kedua
orangtuanya saat ini. Namun, biar bagaimanapun Raden pasrah saja jika memang Devano akan mengatakan semuanya. Lambat laun pastinya Billy dan Joana juga akan mengetahui semua itu.
"Raden, kamu ikut juga ya sama kita! Kali ini kamu harus bicara sejujur-jujurnya ke orang tua kamu, mereka juga berhak tau apa yang terjadi dan kenapa semuanya bisa sampai begini," ucap Nadya.
"Ya tante, saya pasti akan jujur kok. Tapi, gimana dengan pertunangan kami?" tanya Raden.
"Kalian bisa lanjutkan pertunangan kalian, setelah saya dan istri saya mengetahui semuanya," jawab Billy dengan tegas.
"Iya pa," Raden mengangguk saja menurut dengan ucapan papanya yang terlihat emosi itu.
Lalu, mereka semua berjalan menuju sofa dan memutuskan menunda sejenak prosesi pertunangan yang sebetulnya tinggal sedikit lagi selesai itu. Ya Raden sudah selesai memasang cincin di jari Abila, hanya saja Abila belum sempat memasangkan cincin pada Raden akibat Tony yang tiba-tiba datang kesana.
"Sial! Padahal sedikit lagi saya resmi tunangan sama Abila, kalau gini ada kemungkinan buat saya gagal milikin Abila nih!" batin Raden merasa kesal.
Devano, Nadya, Billy, Joana bersama Abila dan Raden terduduk di sofa. Suasana tampak tegang, Billy langsung menatap Devano dengan penuh tanya. Billy sudah sangat penasaran apakah benar putranya telah merenggut kesucian Abila secara paksa sebelum ini.
"Pak Devano, bisa tolong jelaskan ke kami yang terjadi sebenarnya?!" pinta Billy.
"Tentu pak Billy, dengan senang hati saya akan menjelaskan semuanya. Tapi, ada baiknya kalau Raden sendiri yang berbicara dan menjelaskan semua pada pak Billy dan Bu Joana," ucap Devano.
Raden bertambah panik, terlebih saat ini papa mamanya menatap ke arahnya dengan tajam dan menunggu jawaban darinya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...