One Night With Stranger

One Night With Stranger
Teringat masa lalu



"Saya dan Abila mengalami one night stand di bar om, tante." Raden terpaksa melakukan itu, tentu saja baik Nadya maupun Devano langsung terperangah mendengar ceritanya.


"Apa? Maksud kamu gimana? Ka-kalian sudah??" Nadya terkejut dan bahkan sulit untuk berkata-kata.


"Aku minta maaf ma, aku gak bisa jaga diri. Malam itu aku mabok dan om Raden juga begitu, kami berdua sama-sama gak sadar," ucap Abila.


"Enggak tante, mungkin Abila emang gak sadar karena dia mabuk. Tapi, saya akui kalau saat itu saya sepenuhnya sadar tante, om," ucap Raden.


Abila terperangah tak percaya dengan pengakuan Raden, itu bisa saja membahayakan pria tersebut.


Nadya menggeleng terkejut, "Maksud kamu gimana? Kamu melakukan itu secara sadar ke anak saya? Kurang ajar banget kamu! Terus mau apa kamu kesini, ha?" ucapnya penuh kekesalan.


"Saya hanya ingin bertanggung jawab tante atas kesalahan yang sudah saya lakukan ke Abila, saya rasa ini yang terbaik daripada saya harus lari dari masalah. Sekali lagi saya minta maaf tante, om!" ucap Raden menunduk.


"Kamu benar-benar keterlaluan! Kamu pikir saya bisa memaafkan kamu? Enggak ya, sekarang kamu pergi dari rumah saya!" sentak Nadya.


"Hey hey sayang, kamu tenang ya jangan emosi! Kamu gak boleh kebawa emosi kayak gini, kamu sabar ya Nadya!" ucap Devano coba menenangkan istrinya.


"Mas, gimana aku bisa sabar coba? Dia udah tidurin anak kita dan dia akui juga kalau dia lakuin itu secara sadar loh!" ucap Nadya.


"Ya aku tahu, tapi—"


"Udah cukup ya mas, aku gak mau banyak omong lagi. Pokoknya aku minta dia buat pergi dari sini dan jangan pernah kembali!" potong Nadya.


Raden menatap tak percaya, Nadya benar-benar emosi saat ini dan tidak seperti sebelumnya. Abila pun juga tak menyangka jika mamanya bisa sampai semarah ini, namun ia mewajarkan sebab pengakuan Raden tadi memang sungguh di luar nalar.


"Tante, saya ingin bertanggung jawab. Saya sadar apa yang saya lakukan itu salah, maka dari itu saya ingin menebus semuanya dengan bertanggung jawab pada Abila," ucap Raden.


"Kamu bicara apa? Tanggung jawab gimana yang kamu maksud, ha?" tanya Nadya.


"Apapun akan saya lakukan tante, yang penting saya bisa menebus semua dosa-dosa saya terhadap Abila," jawab Raden.


"Gak perlu, kamu gak perlu lakuin itu. Kamu cukup pergi dari sini dan jangan pernah kembali!" sentak Nadya.


"Ma, tolong jangan usir om Raden! Mama bisa kan bicara baik-baik dan gak perlu pake usir om Raden?" ucap Abila.


Braakkk


"Abila!" Nadya bangkit sambil memukul meja dengan kuat dan menunjuk ke arah putrinya, terlihat jelas emosi meluap dan berapi-api di dalam dirinya.


Abila yang baru kali ini melihat mamanya marah, langsung gemetar ketakutan dan reflek menundukkan kepala. Belum pernah sepanjang hidupnya ia dibentak seperti itu oleh mamanya, tapi ia paham karena saat ini situasinya ialah yang sudah melakukan kesalahan besar bersama Raden.


Devano sang suami mencoba menenangkan istrinya yang terbawa emosi itu, ia tak mau jika Nadya sampai melakukan hal-hal yang membuat wanita itu menyesal di kemudian hari. Itu sebabnya Devano ikut berdiri dan memegang dua bahu Nadya sambil mengusapnya perlahan.


"Sayang hey, tenangin diri kamu! Aku tau kamu kesal, tapi kamu gak seharusnya kayak gini sayang. Dengerin aku ya, kamu sabar dulu!" ucap Devano.


"Mas, aku—" Devano memotong ucapan Nadya dengan menaruh telunjuknya di bibir wanita itu.




Di kamar, kini Devano tengah duduk berdua bersama istrinya. Nadya langsung menangis di dalam pelukan sang suami, ia tak percaya jika Abila harus mengalami nasib seperti ini. Tentunya ini mengingatkan Nadya pada apa yang terjadi menimpa Shella di masa lalu.


"Mas, kenapa ini semua bisa terjadi mas? Aku masih belum percaya kalau Abila harus mengalami ini juga mas seperti mbak Shella dulu," ujar Nadya.


Seketika Devano pun teringat pada Shella, sosok wanita yang pernah ia perkosa dan tinggalkan di jalan beberapa tahun lalu tanpa perasaan. Ia berpikir, mungkinkah ini karma dari Tuhan atas perbuatan yang ia lakukan. Namun, mengapa harus terjadi pada anak kandung dari Shella.


"Aku juga gak terima sayang, aku marah sekali sama pria itu. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah terjadi. Marah pun percuma, gak akan bisa membalikkan kesucian Abila," ucap Devano.


"Aku tahu mas, tapi aku gak enak sama mbak Shella. Dia pasti sedih banget di atas sana mas, karena dia tahu kalau kita gak bisa jaga anak yang dia titipkan ke aku. Jujur aja aku merasa bersalah banget dalam hal ini," ucap Nadya terisak.


"Sssttt udah udah, jangan mikir terlalu jauh dulu sayang! Shella gak mungkin begitu, udah ya jangan nangis!" Devano langsung memeluk dan menenangkan istrinya.


"Hiks hiks, apa ini balasan ya mas karena dulu kamu yang udah nyakitin mbak Shella?" ujar Nadya.


Devano tersentak, jantungnya berdebar kencang saat Nadya tiba-tiba mengatakan itu dengan wajah mendongak ke arahnya. Bayangan akan kejadian kelam beberapa waktu lalu kembali terlintas di kepalanya, apakah memang mungkin ini karma yang ditunjukkan Tuhan untuknya.


"Mas, maafin aku. Gak seharusnya aku mengungkit masa lalu yang udah lewat, aku cuma masih gak terima aja sama apa yang menimpa Abila saat ini. Tapi yang aku heran, kenapa Abila malah bela pria itu coba mas?" ucap Nadya.


"Gapapa sayang, ya mungkin aja Abila cuma gak mau kamu marah-marah seperti tadi. Dia gak enak kali sama Raden," ucap Devano.


"Kenapa harus gak enak? Raden udah perkosa dia secara sadar loh mas, kalau mabuk masih wajar ya mas, tapi ini sadar!" sentak Nadya.


Devano tertunduk lesu, "Dulu aku juga secara sadar lakuin itu ke Shella, bisa aja ini emang balasan dari Tuha untuk aku," ucapnya dengan lemas.


Nadya yang mendengarnya ikut merasa sedih, kini berganti ia yang coba menenangkan suaminya dengan cara menepuk punggung lelaki itu. Devano sudah tak bisa membendung air mata yang ingin keluar, ia menangis mengingat semuanya menjadi satu di dalam pikirannya saat ini.


"Udah ya mas? Yang lalu biarlah berlalu, aku minta maaf kalau tadi udah bikin kamu jadi keinget sama masa lalu kamu yang kelam itu," bujuk Nadya.


"Ya sayang, aku gapapa kok. Gimana kalau sekarang kamu istirahat aja, terus aku yang ke depan lanjut bicara sama Abila dan Raden?" ucap Devano.


"Aku gak mau mas, aku juga pengen ikut. Aku—" lagi-lagi Devano memotong ucapan Nadya, pria itu menatap tajam wajah istrinya.


"Dengerin, kamu disini aja dan jangan kemana-mana tanpa izin aku! Biar aku yang urus semuanya ya?" sela Devano.


Nadya pun mengangguk pasrah, melawan juga percuma karena pasti Devano akan terus melarangnya untuk ikut. Akhirnya Devano saja yang kembali ke luar, tak lupa pula lelaki itu mengunci kamar agar Nadya tidak bisa keluar.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...