One Night With Stranger

One Night With Stranger
Mulai jatuh cinta



Maura sungguh kesal, matanya menatap tajam ke arah Raden serta Abila.


"Kamu gak bisa ajak Enzo ke dalam urusan gak bener kamu mas, biarin Enzo pergi sama aku. Toh kamu juga lagi sama pacar kamu kan?" ujar Maura.


"Apanya yang gak bener Maura? Justru kamu tuh yang udah gak bener, dengan cara kamu paksa buat bawa pergi Enzo dari sini," ucap Raden.


"Kamu jangan asal ya mas! Aku bawa Enzo pergi juga karena aku sayang sama dia," ucap Maura.


"Kalau kamu emang sayang sama Enzo, harusnya kamu gak egois dan biarin Enzo tetap disini sama aku!" ujar Raden.


"Aku bukan egois mas, aku cuma—"


"Ah udah deh Maura, gak ada debat lagi. Aku akan ambil hak asuh Enzo dari kamu!" sela Raden.


Maura langsung terbelalak, tidak mungkin ia membiarkan Raden mengambil hak asuh Enzo darinya. Oh tentu Maura tak siap jika harus kehilangan Enzo, anak yang sangat ia sayangi. Apalagi ia tahu Raden sudah akan menikah dengan wanita di sampingnya.


"Gak mas, kamu gak bisa lakuin itu. Enzo selamanya akan tinggal sama aku, bukan kamu!" ucap Maura.


Raden langsung menarik tangan Maura secara paksa, membawanya ke ruangan pribadinya.


Sementara Enzo sendiri sudah mendekap erat tubuh Abila dengan raut ketakutan, ia memang paling cemas ketika mendengar ayah dan ibunya saling bertengkar seperti sekarang.


"Kamu yang tenang ya Enzo!" ucap Abila mengusap wajah pria kecil itu.


"Abila?" tiba-tiba saja Hesti dan Tony muncul, lalu menegur Abila dan membuat gadis itu terkejut.


Abila tak mengira jika sahabat serta pacarnya akan datang kesana, ia sungguh bingung harus bagaimana saat ini. Apalagi ia tengah bersama Enzo, sang anak dari Raden. Jujur Abila tidak mau jika Tony sampai bertemu dengan Raden, mungkin saja bisa terjadi perdebatan diantara mereka.


"Hesti, Tony? Ka-kalian ngapain kesini? Terus kalian tahu darimana kalau aku disini?" tanya Abila gugup.


"Mereka siapa tante? Tante kenal?" Enzo tiba-tiba ikut bertanya sambil mendongak ke wajah Abila.


"Eee ini teman-teman tante sayang, namanya kak Hesti dan kak Tony!" ucap Abila.


"Ohh, halo kak Hesti, halo kak Tony!" ucap Enzo menyapa dua orang itu.


"Iya halo sayang, nama kamu siapa? Duh, gemes banget sih!" ujar Hesti sembari mencubit pipi Enzo.


"Aku Enzo kak," jawab Enzo singkat.


Sementara Tony masih terus menatap Abila, bola matanya bergerak kesana-kemari seperti mencari keberadaan seseorang. Abila tahu saat ini Tony pasti tengah mecari Raden, untung saja Raden sedang pergi bersama mantannya.


"Sayang, mana si cowok sialan itu? Kamu kok malah sama anak kecil sih? Kata Hesti tadi kamu diajak pergi sama cowok pemilik uang koper yang waktu itu," tanya Tony tegas.


"Eee Ton, kamu sama Hesti pergi aja ya? Aku disini tuh cuma mau makan siang kok," pinta Abila.


"Loh kenapa sayang? Emang ada apa sebenarnya antara kamu sama cowok itu? Terus anak ini siapa? Kamu kenapa?" tanya Tony heran.


"Ini anak mas Raden, eh maksud aku pak Raden. Dia cowok yang punya uang koper itu," jawab Abila dengan gugup.


"Ohh, jadi dia udah punya anak? Terus ngapain dia deketin kamu?" tanya Tony lagi.


"Udah ya Tony, jangan bicara lagi! Kamu mending cepat pergi deh sama Hesti, aku nanti nyusul kalian kok!" ucap Abila makin panik.


"Gak bisa, kamu jelasin dulu ke aku ada apa semua ini!" pinta Tony.


"Duh gawat! Gimana ini?" batin Abila.




Raden bersama Maura keluar dari ruangan pribadi pria itu, ia menggandeng tangan Maura lalu melangkah kembali menuju meja tempat Enzo serta Abila berada. Maura merasa risih saat Raden menyentuh tangannya, tapi ia tak bisa apa-apa sebab Raden menahannya agar tidak berontak.


Belum sempat mereka sampai di meja, Maura langsung menghentikan langkahnya dan membuat Raden tersulut emosi. Maura mencoba berani, ia tidak ingin membuat masalah baru hanya karena Raden menggandeng tangannya.


"Mas, kamu apa-apaan sih? Kenapa kamu malah gandeng tangan aku? Nanti kalau pacar kamu itu tahu dan lihat gimana?" protes Maura.


"Kamu diam aja deh, aku gandeng kamu tuh supaya kita cepat sampe kesana nya!" sentak Raden.


"Gak harus gandeng tangan juga kali mas, aku gak mau bikin pacar kamu salah paham dan ada masalah nantinya!" ucap Maura.


"Buat apa kamu mikirin itu? Lagian Abila itu gak kayak kamu Maura, aku yakin dia pasti paham kenapa kita gandengan sekarang," ucap Raden.


"Maksud kamu? Emang apa alasan kamu gandeng tangan aku coba?" tanya Maura heran.


"Jelaslah supaya Enzo lihat dan dia ngira kalau kita ini baik-baik aja, soalnya tadi kan kita sempat bertengkar di depan dia," jawab Raden.


"Kamu duluan sih yang mulai," ucap Maura.


"Lah kenapa jadi aku? Jelas-jelas kamu yang cari masalah tadi, coba aja kamu diam dan jangan bicara! Pasti gak akan kayak gini," ucap Raden.


"Kamu dari dulu gak pernah berubah ya? Selalu aja gak mau ngalah," ucap Maura.


"Buat apa aku ngalah sama kamu? Lagian kamu juga sama egoisnya kayak aku, jadi kenapa aku yang harus ngalah?" ujar Raden.


"Udah lah, buruan jalan! Aku males lama-lama dipegang sama kamu!" sentak Maura.


"Kamu pikir aku mau pegang-pegang kamu? Aku lebih suka milik Abila daripada kamu," goda Raden.


Maura benar-benar geram dengan Raden, bisa-bisanya pria itu membandingkan dirinya dengan wanita lain. Jika bukan karena ada Enzo, maka mungkin Maura sudah menendang burung milik mantan suaminya itu karena telah membuat ia merasa marah.


"Kenapa? Kamu gak terima? Pengen coba buktiin kalau kamu lebih enak dari Abila? Aku siap kok buat rasain punya kamu lagi, udah lama juga kita gak main kan?" ucap Raden sensual.


"Dasar gila!" umpat Maura.


Raden hanya tersenyum kecil, mereka kini menghentikan langkah begitu sampai di dekat Abila serta Enzo. Namun ada sesuatu yang membuat Raden terkejut, ya keberadaan Hesti serta Tony diantara Abila dan Enzo. Apalagi tampak jelas Tony sedang menggenggam tangan Abila dengan erat.


Raden pun berpikir di dalam hatinya, siapakah pria yang bersama gadisnya itu? Apa mereka memiliki hubungan spesial dan kesempatan Raden untuk mendekati Abila akan berakhir? Sungguh Raden sangat cemas, ia tidak mau kehilangan Abila karena ia sudah mulai mencintai wanita itu.


"Ehem ehem.." deheman kecil Raden membuat keempat manusia itu terkejut lalu reflek menoleh ke arahnya.


"Papa!" Enzo tersenyum senang melihat papa dan mamanya tampak akur, ia berlari antusias menghampiri papanya lalu memeluknya disana.


Sementara Abila masih kebingungan saat ini, apa yang harus ia jelaskan pada sang kekasih mengenai identitas Raden? Dan apa juga yang akan ia katakan pada Raden mengenai kekasihnya?


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...