
"Keluyuran dari mana saja kamu?" Suara hardikan Arsita terdengar menggema hingga ke sudut-sudut ruangan yang menghubungkan ruang tengah dengan kamar-kamar di lantai atas.
Yuva baru saja menaiki anak tangga menuju kamarnya, awalnya dia merasa lega melihat rumahnya yang sepi. Berharap tubuhnya yang lelah tidak akan menerima banyak omelan dari mamanya. Namun, harapan Yuva sepertinya terlalu tinggi.
"Aku tidur di rumah teman, Ma ...," jawab Yuva seraya memutar tubuhnya menghadapi sang mama yang berkacak pinggang di ujung ruang tengah yang berfungsi sebagai ruang keluarga.
"Temanmu yang mana, ha? Kumpulan wanita sundal mana lagi yang kau ikuti, Yuva? Kenakalan apa lagi yang diajarkan kumpulan wanita murahan itu padamu kali ini?" Arsita melangkah dua langkah lebih dekat pada Yuva yang mulai memupuk air mata di matanya. Arsita melihat anaknya itu terluka akibat perkataan kasarnya barusan. Tapi Sita bisa apa? Disini, dia juga harus melakukan sesuatu agar keberadaannya sedikit saja dianggap dan berguna. Hanya Yuva yang bisa melakukan semuanya.
"Mama akan melihatnya sebentar lagi!" jawab Yuva dengan mata panas. Tangan wanita itu sampai berpegangan pada besi berbentuk pipa yang berada di sisi tangga untuk menguatkan tubuhnya yang terasa lemah. Perkataan wanita yang melahirkannya itu kali ini terasa seribu kali menyakitkan.
"Wah ... ibu dan anak saling memaki demi mendapatkan pengakuan dari papiku." Manda menjentikkan jemarinya dan bersandar malas di dinding pembatas antara kamarnya dan ruang tengah. "Terlihat menarik ... dan jika Tante melihat foto ini, mungkin semakin menarik saja pertengkaran ini."
Manda dengan malas menggerakkan ponsel yang sejak tadi berada di tangan kirinya. Yuva bergeming, tetapi Sita segera menyambar ponsel Manda dan melihat foto yang terpampang di layar datar milik Manda. Selembar foto yang menunjukkan Yuva dalam keadaan tidak sadar meliukkan tubuhnya di depan seorang pria yang sedang menciumi lehernya.
Yuva mengerang dengan perasaan khawatir.
"Yuva ...," geram Sita sembari meremas ponsel Manda. Mata wanita itu sudah mengguratkan amarah yang siap meledak. Manda segera merebut ponselnya lagi sebelum benda berharganya ini terpecah belah menjadi serpihan. Wanita temperamental yang bodoh, yang mudah sekali dihasut, begitu pendapat Manda soal Arsita, Ibu tirinya.
"Dan yang paling mengejutkan anakmu itu tidur dengan pria itu semalam ...," hasut Manda lirih di telinga Sita. "lihat saja leher dan dadanya, bekas itu masih ada." Manda menaikkan bola matanya ke arah Yuva yang seperti patung di atas tangga. Manda tersenyum licik sebelum menjauh dari Sita, pergi begitu saja dari ruangan ini.
Sita meradang dan berjalan kasar ke arah Yuva. "Perempuan murahan! Apa mama mengajarimu menjadi wanita murahan, ha? Kau ini akan bertunangan dengan Lucas, dan kau masih main-main dengan pria lain?"
"Kau merusak rencana Mama, Yuva ... kenapa kau lakukan ini pada mama? Kenapa Yuva? Apa kau tidak mau kita hidup lebih baik, dipandang penuh sanjungan dari semua orang, Papimu akan berhutang padamu, kakak-kakakmu akan sungkan dan tidak akan semena-mena padamu! Kenapa kau tidak mau melakukan ini demi dirimu, kalau kau tidak peduli pada mama, ha?"
Sita berkata sambil menarik kasar baju yang melekat pada tubuh anaknya hingga menyisakan pakaian dalaamnya saja. Bekas merah di dada dan leher Yuva terlihat semua, membuat Sita semakin murka. Dan Sita tahu, ini adalah pertama kalinya untuk Yuva, Sita mengenal betul anak kandungnya ini. Tetapi kali ini, rasa kecewa dan marahnya benar-benar berada di puncak.
"Lucas tidak boleh tahu hal ini, kau harus tetap menikah dengan Lucas dan itu akan terjadi tidak lama lagi!" Mata Sita sudah mengambangkan cairan bening. Entahlah, dia sangat terluka melihat anaknya seperti ini. Rencananya sungguh sempurna untuk Yuva, untuk dirinya, dan kenyamanan mereka di masa datang. Tetapi setelah kejadian ini, dia hanya bisa berharap pada keajaiban cinta. Berharap Lucas benar-benar mencintai Yuva dan tak mempermasalahkan ketidakperawanan Yuva. Atau jika tidak, dia akan merendahkan diri dan berakting bahwa Yuva hanyalah korban.
Sita melemparkan gagang shower dan pergi begitu saja dari kamar mandi di kamar Yuva. Meninggalkan anaknya yang bergeming tanpa membalas apapun yang dilakukan sang mama kepadanya. Tatapan wanita itu begitu kosong dan beku. Sebeku hatinya.
Sita pergi ke kamarnya, membayangkan hari buruknya di masa depan. Membayangkan kejayaan suaminya menguap begitu saja, memikirkan Lucas menarik seluruh investasinnya dari perusahaan suaminya. Hidup mereka terlunta-lunta.
"Pokoknya, bagaimanapun caranya, Yuva dan Lucas harus menikah. Aku tidak mau kalau sampai rencanaku gagal dan Arman semakin tak segan menendangku keluar dari rumah ini." Sita berjalan hilir mudik di kamarnya. Otaknya berputar memikirkan cara agar Lucas tetap setuju menikahi Yuva.
.
.
.
.