One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 9



Tak seperti pagi-pagi sebelumnya di Rumah Oma Rima yang biasanya sepi.


Pagi ini sangat ramai dengan suara teriakan Putrinya, Ditha. Suara canda menantunya dengan cucunya, Jill.


Sungguh pemandangan yang membahagiakan baginya setelah pulang dari rumah sakit.


"Aaaa.. Oma" ucap Jill mengode Omanya agar membuka sedikit lebar mulutnya, agar dirinya bisa menyuapi bubur sedikit demi sedikit.


"Oma sudah kenyang, Jill" ucap Omanya tersenyum. Di masa tuanya seperti ini, anak cucunyalah sumber kebahagiaannya.


Mengelus rambut panjang cucu di depannya, Oma Rima teringat bayi gembul mungil berambut coklat. Sekarang lihatlah, sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.


"Maxxxx.... ayo sarapan" teriak Mommy Ditha dari bawah. Sudah sekian kalinya dia berteriak, tapi anak lajangnya tak kunjung turun. Teriakan yang membuat Jill dan Omanya menoleh.


"Max, sekali lagi Mommy panggil ga turun, Mommy habiskan semua rendang ini" ancam Ditha akhirnya, menunjuk sepanci rendang dengan spatulanya.


Kemarin dia tak sempat membuat rendang karena terlambat bangun dan harus menjemput ibunya pulang dari rumah sakit.


"Biar aku saja bu, yang bangunkan Maxime" ucap Jill seraya melap area mulut Omanya, memberi minum lalu mencuci sebentar mangkok bubur Omanya.


Berjalan ke arah tangga, mengetuk pintu kamar Max yang berada di sebelah kamar Daddy dan Mommynya.


"Max.. Bolehkah aku masuk?" izin Jill lebih dulu.


Ikh, kenapa aku tanya, dia kan sedang tidur, mana dengar, ucap Jill dalam hati. Mendorong pintu berwarna putih tersebut. Dan melihat saudara kembarnya masih terpulas di bawah selimut.


"Pantas saja tidak dengar dari tadi Mommy teriak, masih ngorok ternyata" ucap Jill pelan.


Membuka selimut Max perlahan, membuka tirai jendela, lalu menepuk pelan pipi Maxime. Tapi sepertinya saudara kembarnya itu, tetap tidak merespon tepukannya. Jill mengambil bantal, menaikkan kepala Maxime, lalu meletakkan bantal di kepala Maxime agar posisinya lebih tinggi.


Berjalan mundur, lalu mengambil sedikit bumbu rendang di piring yang di bawanya tadi. Mentoel bumbu dengan telunjuknya. Jill coba membuka sedikit mulut Maxime, meletakkan sedikit bumbu rendang kedalam mulut Maxime.


Menunggu sebentar respon Maxime.


"Apaa yang di mulutku ini, Jill. Rasanya sangat enak, seperti rendang" tanya Maxime terduduk dan mengucek kedua matanya. Lalu mulai meresapi bumbu yang masuk ke mulutnya.


"Masih ada lagi, Jill" tanya Maxime ketagihan.


"Cih, di kasih bumbu minta rendang" ucap Jill mengejek saudara kembarnya.


"Ayo ke bawah, sarapan sudah siap. Mommy masak rendang yang banyak. Tapi kalau kau masih tidur, silakan, biar rendangnya di habiskan Daddy" ucap Jill seraya berjalan ke arah pintu, di ikuti langsung oleh Maxime.


"Urusan rendang aja, langsung bangun" decih Jill melihat saudaranya bergegas menuruni tangga, setelah menggosok gigi secara ekspress.


"Kau bilang apa, Sweetie" balas Maxime, menaikturunkan alisnya. Lalu menggandeng saudara kembarnya menuju meja makan.


Dentingan sendok dan garpu terdengar menggema di meja makan keluarga Oma Rima. Tapi berbeda sendiri dengan Maxime, yang makan menggunakan tangan untuk memegang daging rendangnya. Kebiasaan itu dia lihat saat Om Dikanya makan menggunakan tangan, lalu di cobanya. Ternyata Maxime nyaman. "Sensasinya beda, Jill" ucap Maxime jika Jill memberikan sendok dan garpu.


"Sial, ini lengkuas ternyata" decih Maxime, mengangkat lengkuas seukuran daging rendang. Membuat Daddynya tertawa, sedangkan Jill hanya mengejek dan melanjutkan makannya.


"Jill, jangan lupa, kau ada janji dengan tante Vina, untuk fitting gaun ya" ucap Ditha mengingatkan putrinya. Yang di sebutkan namanya, Jill. Tapi yang menengok ke Ditha, satu meja makan.


"Langsung ke salon ya. Ingat nanti Mommy dan Daddy jemput Pkl. 18.30 wib ya"


"Iya Mom" jawab Jill pelan. Sungguh dia tak bersemangat ke acara tersebut.


"Max, jaga Oma ya, sayang. Nanti Mommy usahakan pulang lebih awal" ucap Ditha menjelaskan pada putranya dan di balas dengan anggukan kepala Maxime.


Dari kemarin saat menjemput Omanya, sepanjang perjalanan hanya acara reunian tersebut yang di bahas.


"Maxime, itu acara reunian, bukan ajang mencari jodoh" ucap Abellard tak senang, jika gadis 18 tahunnya harus di jodoh-jodohkan. Dia saja berjuang mendapatkan istrinya, masa anak-anaknya menikah tanpa perjuangan, batin Abellard mengiris rendangnya.


"Akh, ini juga lengkuas ternyata" ucap Abellard, membuat Maxime tersenyum. Setidaknya dia punya teman "prank" lengkuas.


"Mommymu ini, sudah berapa kali, Daddy bilang, kalau sudah matang, lengkuasnya di buang, suka banget nge-prank-in orang" ucap Abellard membuat semua yang di meja makan tersenyum.


Selesai makan, Jill mengangkat piring kotor ke wastafel, sedangkan Maxime mencuci piring. Hari ini giliran mereka berganti jadwal cuci piring. Mommy Ditha sudah mewanti-wanti Bi Siti, agar tidak membantu mereka. Biarkan mereka melaksanakan tugasnya masing-masing.


Mengenakan jeans biru dongker dan T-shirt putih polos, menempuh perjalanan 40 menit dengan kondisi jalanan Jakarta yang macet, di sinilah sekarang Jill berdiri. Di depan Boutique besar di Jakarta "Vina Boutique".


Melangkah masuk, menemui resepsionis yang menyambutnya dengan senyuman ramah.


"Ada yang bisa saya bantu Bu" ucap ramah penuh senyuman resepsionis bernama Alyaa di nametagnya.


"Saya mau bertemu tante Vina, saya sudah buat janji kok" ucap Jill to the point


"Mari Nona, silakan lurus kedepan, naik Lift ke lantai 3. Nanti di lantai 3 sudah ada staf yang akan mendampingi Nona" ucap resepsionis tersebut ramah, tetap dengan senyuman terbaiknya.


Ting, pintu lift terbuka


Benar seperti ucapan resepsionis dibawah. Jill langsung melihat gadis muda menyambutnya.


"Selamat siang Nona Jill, mari saya antar ke ruangan Bu Vina" ucapnya ramah.


Luar biasa pikir Jill. Para karyawan tantenya sangat ramah.


Menatap beberapa gaun indah berjejer. Jill bingung ingin memilih yang mana. Semua terlihat sangat cantik di pandangan matanya.


"Tante, bantu pilihkan gaun untuk Jill. Jujur, Jill ingin bawa semua, tapi takut Mommy marah" ucap Jill pelan membuatnya Tantenya tersenyum.


"Beli apa yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan. Buat apa beli, kalau gak kamu pakai. Kalian pikir, uang datang dari langit? Disulap dari beberapa lembar daun? Daddy kalian yang banting tulang. Kalau semua di hamburkan, karena kalian anggap banyak duit, dalam beberapa bulan kita bakal bangkrut" ucap Jill menirukan ucapan Mommynya, membuat tantenya kembali tersenyum.


"Benar Jill, ibumu seperti itu, tante sangat tahu. Hm.. Kalau begitu, pakai yang ini saja Jill. Pilihan tantenya jatuh pada Gaun cantik, namun terlihat sangat sexy.


" Ini sangat cantik tante, tapi aku pastikan pulang tinggal nama" ucap Jill menunduk. Dia punya Daddy dan saudara kembar yang sangat posesif.


Ini itu harus dengan persetujuan mereka.


"Hm.. Well, jika begitu, berarti harus kamu yang memilih sayang" ucap Vina mengelus lengan keponakannya.


"Hm yang ini saja mungkin tante, terlihat lebih sopan. Jadi saat pulang, telinga Jill aman dari kritikannya Maxime" ucap Jill sambil mengambil gaun panjang simple.


"Itu juga cantik untukmu, Jill. Ayo tante temenin kamu ke salon langganan tante" ucap Vina, sambil menyerahkan gaun kepada pegawainya, untuk di simpan dalam papperbag.


"Ga usah tante, mengganggu pekerjaan tante nanti. Jill, bisa sendiri tante" ucap Jill merasa tidak enak.


"Sama tante sendiri kok canggung, tante juga mau sekalian make up dong, kan tante satu alumni mama kamu, masa kamu lupa" ucap tante Vina menoel pipi Jill.


Merasa ada yang datang, Jill dan tantenya menoleh. Pegawainya yang bernama Anggita menginformasikan sesuatu.


"Maaf Bu, Nyonya Lawson datang, katanya sudah janji dengan ibu" ucap pegawai Vina


"Oh iya, tante hampir lupa. Jill, tante handle customer tante dulu ya. Sambil menunggu tante, kamu coba dulu aja gaun-gaun disini" ucap Vina menunjukkan koleksi gaun terbarunya. Vina mengkode pegawainya, agar melayani Jill dengan baik.


"Baik tante, Jill coba gaun yang tadi Jill pilih saja ya" ucap Jill lalu mengikuti pengawai tantenya ke ruang Fitting gaun.