One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 37



Setelah selesai acara berpelukan di Hotel dan di Bandara yang penuh drama, Jill akhirnya melepas keberangkatan keluarganya dengan pilu,dalam pelukan Tante Vina. Sedangkan Oma tidak ikut mengantar ke Bandara.


Jill masih membalas lambaian terakhir Maxime, sebelum tubuhnya hilang dalam gedung Bandara.


Matanya yang sembab, masih menatap kedatangan seseorang yang menatapnya sangat dingin, lalu membuang mukanya, enggan menatap dirinya.


"Baru datang, Chell?" tanya Om Dika menyapa calon menantunya, terdengar oleh Jill.


"Iya, Om. Tadi telat bangunnya, sepertinya keluarga Om Abbellard sudah berangkat ya Om?" tanya Marchell berbasa-basi.


"Iya, mungkin selisih 10 menit denganmu, sayang" jawab Kinanti, bergelayut manja di lengan Marchel. Jill membalikkan tubuhnya, tidak ingin melihat adegan tersebut.


"Kalau begitu, kita sarapan dulu di rumah, bagaimana?" tawar Vina melirik Jill dan Marchell.


"Jika, tidak merepotkan Tante, saya terima undangan sarapan paginya," jawab Marchell tanpa menatap Jill di sebelah Vina.


"Tante, maaf, Jill belum bisa ikut sarapan pagi ini. Jill sudah ada, janji lebih dulu dengan teman Jill," mohonnya agar di izinkan pergi lebih dulu,dan Tantenya tidak tersinggung.


"Janjian sepagi ini?" Vina memastikan pendengarannya.


"Bukan sekarang Tante, jam 08 nanti, cuman dia akan jemput Jill kesini. Takut Jill nyasar," jawab Jill membuat Marchell mendelik tajam.


"Teman apa Deman?" usil Kinanti menjahili Jill, membuat Jill malu. Sedangkan Dika dan Vina, tersenyum mendengar celotehan putrinya.


"Awalnya sih teman, harapannya berakhir deman," celetuk Bimo mendekat pada keluarga Dika.


Dari tadi dia sudah tiba, saat Vina menawarkan sarapan bersama.


"Oh, Jill jalan sama kamu ternyata. Kalau sama kamu jalannya, sesubuh ini, Tante sama Om, percaya sama kamu!" imbuh Dika, menepuk bahu Bimo.


"Kalau jadian, jangan lama-lama Bim, tarik aja langsung ke penghulu!" kompor Kinanti terkekeh. Mereka semua tertawa, kecuali Marchell.


Sorotnya sangat dingin, hatinya beku, bahkan setelah mendengar kata penghulu.


"Tanyain atuh, sama gadis cantik, di sebelah kamu, sudah siap belum di seret ke penghulu! Ntar malah aku, yang balik di seret om Abbellard ke penjara," balasnya lagi, membuat mereka tertawa kembali.


"Jadi kalian mau kemana hari ini rencananya?" Vina mencoba mengorek informasi. Jika Jill benar-benar, berkencan pagi ini, Dhita pasti bakalan heboh. Apalagi Dhita pernah bilang ke Vina, sangat menyukai kesopanan Bimo, "Cocok jadi mantuku" kata Dhita saat di acara lamaran Kinanti.


"Cuman jalan-jalan keliling Jakarta aja Tante. Mau mencoba membangun chemistry sama Jill"


"Bangun chemistry atau bangun rumah tangga?" usil Kinanti lagi.


"Pengennya bangun rumah tangga, tapi yang di kode-in ga peka!" kekeh Bimo, yang berhasil mendapat satu cubitan dari Jill.


"Ciee.. udah berani sekarang cubit-cubit abang ya?" seloroh Bimo lagi. Membuat Jill yang tadi sedih, menjadi tertawa. Tawa yang menular, pada Bimo dan lainnya.


Tanpa sadar, Bimo maju selangkah dan mencubit gemas pipi Jill dengan kedua tangannya.


"Ikh...,gemasnya! Kamu tuh, kalau senyum begini, cantiknya mengalahkan Raisa loh!" Gombalan tulus, membuat Jill malu, melupakan Marchell yang menatapnya sangat dingin.


"Baiklah, Om sama Tante, titip Jill yah. Tolong jagain baik-baik. Kami, pulang dulu ya!" Vina dan Dika, berjalan, menuju parkiran mobil mereka.


Sedangkan yang lainnya menyusul di belakangnya. Beberapa langkah di depan, Marchell tiba-tiba berhenti di depan tempat sampah.


Mengeluarkan secarik kertas, dan membalikkan tubuhnya, dengan satu tangan di atas tempat sampah.


"Sampah harus di buang ke tempatnya. Dan sampah, memang cocok berteman dengan sampah lainnya!" Menekan kata sampah saat menatap dingin Jill.


Kinanti tidak mengerti maksud ucapan Marchell. Sedangkan Jill, sadar ucapan itu, di tujukan untuk dirinya. Bimo, menatap geram, pria pengecut di depannya.


"Sampah akan bernilai, di tangan yang tepat!" balas Bimo telak. Berpamitan dengan Kinanti, dan merangkul bahu Jill, yang berusaha terlihat tegar. "Dasar bumil cengeng!"


"Kau jangan menangis! Mau anakmu lahir, matanya sembab!" gurau Bimo, mengusap pelan bahu Jill. Membuat sorot mata Marchell di belakang mereka semakin tajam.


"Akan kubalas kalian berdua!"


Jill sudah berhenti sedih, sedangkan Maxime, masih berusaha mencari jalan agar batal berangkat.


Berhasil mendapat seat yang berbeda dengan orangtuanya, setelah seorang anak, ingin bertukar posisi duduk dengannya, untuk melihat awan.


Melihat kedua orang tuanya yang sudah pakai seatbelt dan asyik ngobrol, Maxime mengambil ransel perlahan meninggalkan pesawat.


"Maaf Tuan, anda mau kemana?" tanya Pramugari menghentikan langkah Maxime.


"Aku cancel flight, baru dapat kabar, istriku mau melahirkan di rumah sakit!" Bohong Maxime, lalu pergi, setelah Pramugari mengizinkan Maxime turun.


Maxime keluar dari Bandara segera, berharap masih bisa pulang bersama Jill. Ternyata sudah di tinggal!


Mencari taksi untuk kembali pulang ke rumah Omanya dan memberikan kejutan untuk Jill.


Selesai sarapan bubur ayam di luar Bandara, Bimo langsung meluncur membawa Jill pergi ke rumah sakit.


Tanpa sadar, ada sebuah mobil mengiringi mobil mereka di belakang.


"Silakan turun Nyonya," ucap Bimo menirukan suara driver, dan mengulurkan tangannya membantu Jill turun dari mobil.


Jill yang agak pusing, segera memegang tangan Bimo, sebagai pegangannya.


"Ck, jika kau menempel begini, aku pastikan, semua fansku di rumah sakit ini patah hati," Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau ini, bercanda terus! Kita mau kemana?" tanya Jill antusias, Jill paham Bimo pasti mengajaknga kontrol.


"Mau melihat bayi kita," seloroh Bimo, Yang langsung mendapat pukulan dari Jill. Namun kalimat tadi terdengar jelas di telinga seseorang by video call.


Setelah berpisah di Bandara, Marchell meminta orang suruhannya, mengawasi Jill. Tapi, sama sekali, tidak menyangka, kepergian mereka menuju rumah sakit.


Awalnya, Marchell berharap, janin yang di kandung, Ji adalah anaknya, tapi terpatahkan dengan kalimat Bimo tadi.


Mengambil kunci mobilnya, Marchell menerobos kerumunan mobil di jalan, menuju rumah sakit.


"Bayimu?Ish, hati-hati bicara! Nanti aku bisa, dicakar mantanmu di sini?"


"Ck, belum ada mantan, kamu mau ga, mantanin aku dulu," kedip Bimo jahil.


Berdua, memasuki area pusat informasi, Jill dan Marchell, mengisi daftar pribadi, Jill terhenti saat ingin mengisi nama ayah calon bayi, menatap Bimo sesaat.


Bimo tersenyum, melihat keraguan Jill menulis nama ayah bayinya.


"Kau bisa menulis nama aslinya, tapi kalau kau tidak mau menulis nama ayahnya, bisa pakai namaku. Tapi habis tulis nama, kita ke KUA!" gurau Bimo memancing.


Memikirkan kalimat Bimo, Jill mulai mengisi datanya dan menyerahkan pada perawat.


Jill dan Bimo, diarahkan perawat untuk duduk mengantri. Bimo sengaja tidak mengambil jalur khusus, karena ingin lebih lama ngobrol dengan Jill.


Berbeda keadaan Jill dan Dhita, Dhita justru sangat panik, mengetahui Maxime tidak ada di kursi kelas Bisnis. Dhita dan Abbellard, meyakinkan diri mereka, bahwa Maxime, sudah duduk manis di pesawat.


Ini penerbangan Abbellard, yang paling menegangkan seumur hidupnya, anaknya hilang!


Haruskah dia menghubungi CIA atau FBI mencari putranya!