
"Maxime, bagaimana keadaan Oma? Dhita menggeser posisi duduknya dekat kursi di jendela.
Abbellard yang melihat Dhita pindah posisi pun mengikutinya. Duduk di depan Dhita.
" Siapa yang kau hubungi, sayang" tanya Abbellard sembari melihat nama penerima telepon di ponselnya Max.
"Oh Max" jawab Abbellard. Dia yang nanya, dia juga yang jawab. Dasar bucin, menelepo saja kau ikuti, gumam Ditha pelan.
" Oma sehat, Mom. Tuh buktinya, sudah bisa gibah dengan teman lamanya", Max mengalihkan panggilan menjadi video call, dan menujukkan posisi Omanya.
"Siapa mereka Max?" tanya Dhita, saat melihat wanita seusia dengannya duduk tertawa dengan ibunya. Syukurlah, ibu sudah ceria kembali.
"Tante Venny, Mom. Katanya dulu, teman lama Mommy"
"Coba kau lebih dekat lagi"
Maxime berjalan ke arah Oma dan sahabat lama Mommynya tersebut.
"Tante, mau bicara dengan Mommy?" tawar Maxime pada wanita seusia Mommynya.
Meraih ponselnya dan menatap tersenyum seseorang dalam layar ponsel tersebut.
"Ahhhh, Venny benarkah kau itu?" seru Dhita senang melihat sahabat lamanya. Dia, Vina dan Venny sudah berteman lama semenjak SMP.
"Hmm.. Kenapa, kau kaget aku makin cantik?" ucapnya dengan suara termanjanya.
"Kau tidak datang tadi malam ke reunian?"
"Tidak, aku baru saja landing dari Singapore, menjemput putriku"
"Kau punya putri? Ada bersamamu?"
"Iya namanya Anggita Marito Siregar"
"Siregar? Seperti marga Tigor, ya?" tanya Dhita.Abbellard yang mendengar nama Tigor disebut pun, langsung mendekati Dhita.
Dhita menatap aneh senyumnya. Why?tanya Ditha. Abbellard hanya menggelengkan kepala, pertanda baik-baik saja.
Ditha menarik nafas. Entah kenapa, suaminya ini sensi-an dengan nama Tigor, teman karibnya dari TK sampai SMP.
Mereka sangat akrab, karena sudah tetanggaan dari TK sampai SMP, sebelum Om Roni, papa Tigor ditugaskan ke Pekan Baru. Papa Tigor, seorang abdi negara.
"Iya benar Dhita. Ini memang anak bang Tigor. Cantikkan?"
"Iya Cantik.." puji Dhita membuat gadis bernama Anggita tersipu.
" Anggita, masih sekolah?"
"Iya Dhit, masih kelas 3 SMA di Jakarta. Tadi barusan pulang traveling bareng teman-temannya"
"Kenapa kau yang slalu jawab sih! Minggirlah sedikit, aku ingin bicara dengan Anggi"
Entah kenapa, Maxime tiba-tiba merasakan ada sesuatu hal tak enak terjadi pada dirinya.
Ingin segera beranjak, tapi ponselnya masih mereka gunakan.
Sudahlah, tunggu saja!
"Cantik, siapa namanya?" tanya Dhita ramah. Membuat Abbellard duduk semakin dekat.
"Apa yang kau rencanakan sayang" tanya Abbellard. Dia paham pasti ada yang ingin istrinya rencanakan.
"Cantik ya? Putri Bang Tigor" bisik Dhita. Membuat Abbellard memandang lagi ke layar ponsel.
"Bagaimana bisa putrinya secantik ini, pabriknya saja...
" Huss, Mamanya dengar loh" jawab Venny di sebelah Anggi.
" Anggi sudah punya pacar belum? Tanya Dhita to the point. Membuat Maxime dan Abbellard melongo.
Apa-apaan Mommy ini! Seperti aku tidak laku saja! Kesal Maxime di ujung sana.
Sedangkan Oma Rima, tersenyum mendengar keusilan Putrinya.
Dulu memang Oma Rima sangat ingin berbesan dengan keluarga Pak Roni. Karena Oma Rima sudah mengenal karakter Tigor dan keluarga dengan baik.
Namun, garis jodoh mereka berbeda.
Dhita langsung dilamar Abbellard, sebelum pulang ke Perancis. Mereka bertemu saat Dhita sedang liburan setelah selesai ujian nasional bersama teman-teman sekolahnya.
"Haha, tante bercanda kok sayang" ucap Dhita tertawa melihat wajah shock putri sahabatnya.
"Tapi kalau Anggi mau gapapa, cuman ya itu, anak tante Jorok!"
"Mom... ucap Maxime tidak terima.
Dia sangat rajin mandi. Kamarnya sangat bersih, lalu atas dasar apa Mommynya memfitnah dia jorok!
"Jomblo dari Orok" kekeh Dhita, membuat semua tertawa kecuali Maxime, menatap Mommynya kesal.
"Ven, kami akan segera pulang. Tadi malam, kami menginap di Hotel lokasi reunian sekolah. Tunggu aku ya! Kita bertemu di rumah Okay?"
"Okay" jawab Venny, membuat Dhita tersenyum manis.
Memasukkan ponsel ke handbagnya. Dhita berjalan ke arah suaminya, yang menunggu di depan pintu.
"Kenapa tidak langsung naik ke atas saja, menjemput Jill?"
" Sudah. Jill sudah menunggu kita di bawah"
Abbellard memegang pinggang istrinya, menuju lift.
"Pinggangku sangat sakit, karna terlalu semangat mendaki gunung tadi"
"Masa? tanya Dhita tidak percaya.
" Sepertinya aku butuh banyak olahraga malam ini. Aku berenang saja mungkin"
"Dimana?" tanya Dhita, karena di rumah ibunya tidak ada kolam renangnya.
"Kolam susu" kekeh Abbellard berhasil mengerjai istrinya.
Pasangan suami - steri tersebut keluar saat Lift terbuka tepat di sofa, area Jill duduk.
"Kenapa kau tiba-tiba memakai syal, sayang?" tanya Dhita merasa aneh. Jill tidak tahan gerah atau panas. Kenapa tiba-tiba memakai syal?
"Sepertinya aku alergi udara di hotel ini, Mom! Kulitku gatal-gatal."
"Sini Mommy lihat". Jill pun memberikan tangannya untuk di periksa.
Dhita menarik nafas, melihat banyaknya ruam kemerahan yang tampak timbul pada permukaan kulit Jill.
"Apa kau makan kacang"
"Iya Mom",Jill akhirnya mengaku bukan udara penyebab alerginya.
Aku tak sengaja makan permen isi kacang. Tapi aku langsung minum obat sebelum reaksinya parah, Mom" ucap Jill yang kemana-mana selalu membawa obat alerginya. Jill tau dia alergi kacang, namun sengaja memakan sedikit kacang di piring, sisa breakfast tadi pagi.
Dia bingung harus dengan apa menutupi bekas kecupan di lehernya. Akhirnya, dia memikirkan ide gila yang mengancam keselamatannya!
"Jika alergimu kambuh, tolong segera hubungi Daddy, sayang" ucap Abbellard memeluk Jill.
Seorang Dokter muda yang kebetulan lewat dan mendengar kata "alergi" pun mundur dan menghampiri keluarga Abbellard.
"Maaf mengganggu, siapa yang alergi-nya kambuh, dimana pasiennya, apa bisa saya cek kondisinya? ucap Dokter tersebut menawarkan bantuannya.
" Maaf, anda siapa?! "tanya Abbellard tak senang, ada seseorang yang memotong pembicaraannya dengan anak dan istrinya.
" Perkenalkan, saya Bimo Pak, kebetulan saya seorang dokter, yang kebetulan lewat dan mendengar anda mengatakan alergi "
" Oh Dokter Bimo toh, ini putri saya yang alerginya kambuh, cuman sudah minum Obat dari dokter keluarga kami" ucap Dhita sopan. Bagaimana pun, itikad Dokter ini perlu di apresiasi.
"Ada name card yang bisa dokter berikan?.
" Maksud saya, jika putri saya kambuh dan kami masih di Jakarta, saya mungkin bisa konsultasi dengan dokter"
"Baiklah Bu. Ini name card saya" ucap Dokter muda tersebut seraya berpamitan pada keluarga tersebut.
Dokter tersebut berjalan meninggalkan keluarga Abbellard. Berhenti di area parkir, memegang dadanya yang berdebar kencang saat menatap putri keluarga yang baru saja di temuinya.
Melihat ke belakang, memfokuskan pandangannya ke seorang gadis di pelukan Daddnya
"Dia sangat cantik" gumam Dokter tersebut, menaiki mobil yang sudah datang menjemputnya.
"Dokter Bimo Narendra" Ditha membaca nama pria tadi di namecardnya.
"Aku seperti tidak asing dengan nama Narendra, sayang"
"Banyak nama Narendra di Indonesia, Dad" ucap Jill mengalihkan pertanyaan Daddynya. Ditha tetap tersenyum memegang namecardnya di tangannya, memikirkan rencana cadangannya.
"Yeay, aku punya satu calon lagi untuk mu Jill" ucap Ditha bersemangat. Membuat Abbellard jengah.
Tapi dia tidak bisa melawan istrinya. Tidak diizinkan "naik - naik ke puncak gunung" adalah Ultimatum dari istrinya, dan sungguh berat bagi Abbellard menahannya.
Mereka berjalan menuju Lobby Lawson Hotel. Dan mobil keluarga Abbellard pelan-pelan meninggalkan area hotel, menuju rumah Oma Rima.
Mereka tidak sadar, ada seseorang yang duduk membelakangi mereka dan mendengar percakapan mereka.
"Awasi gerak gerik Dokter Bimo dan Jill Abbellard" ucap seseorang di teleponnya, menghubungi orang kepercayaannya.
"Pria yang sore ini menggunakan pakaian casual smart, juga berdiri meninggalkan area lobby Hotel. Marchell akan berangkat ke Surabaya, menjenguk kondisi Asistennya Jason.