One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 15



Jill terbangun, menatap langit-langit kamarnya. Teringat kejadian tadi malam. Beberapa bulir air mata, mulai membasahi pipinya. Jill menangis tertahan.


Mencoba menggerakkan tubuhnya. Remuk, rasanya!


Melihat sebelah kanan, kekasih sepupunya terlelap dengan posisi tengkurap.


"Hiks.. Hiks, apa yang harus aku katakan pada Daddy, Mommy dan Maxime. Kinanti? Maafkan aku Kinanti" batin Jill dalam hati. Benar-benar menyesal!


Mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, mencari pakaiannya yang berserakan di penjuru kamar.


Melihat jam, Deg, sudah jam 10 siang?!.


Menghapus air matanya. Jill bergegas, memakai pakaiannya, merapikan dirinya, dan mengambil handbag-nya.


Melangkah tertatih ke arah pintu. Belum juga memegang pintu, Jill mundur ke arah meja di depan tempat tidur.


Mengambil secarik kertas, dan mulai menulis pesan


..." Kecil sekali. Aku tak merasakan apa-apa"...


Jill menoleh dan berucap pelan


"Jangan katakan apapun pada Kinanti" berharap pria yang sedang tidur di depannya tidak mengungkit apapun saat mereka bertemu.


Lalu bergegas keluar sebelum Mommy dan Daddynya datang ke kamarnya.


Kembali menangis setelah sampai kamar mandi, menyalakan shower, mengambil sabun, Jill mencoba membersihkan sisa-sisa pertarungan semalam.


"Jill, kau murahan sekali. Bisa-bisanya kau tidur dengan kekasih Kinanti". Jill memukuli dirinya, masih terisak.


Dia juga bingung kenapa bisa seperti itu. Tidur dengan pria yang belum dinikahinya, bukan dirinya! Tapi dia sudah melanggarnya!


Sementara di kamar lain, Abbellard dari pagi sudah mondar-mandir di kamarnya.


Pagi ini dia terbangun, dan kaget, sudah jam 8 pagi. Berpikir sejenak, bagaimana bisa dia tidur sepanjang malam, dan melewati acara istrinya.


Abbellard bahkan tidak memiliki prangsangka buruk terhadap istrinya.


Menepis dugaannya terlelap, Abbellard mengingat Jill?!


Apa Jill baik-baik saja?


Membersihkan dirinya, Jam 09, Abbellard sudah naik ke lantai 9, beberapa kali mengetuk pintu kamar Jill, menelepon putrinya, tapi belum ada jawaban sama sekali.


"Jill, dimana sayang?" tanya Abbellard masih jalan di sekitar kamar tersebut. Dia baru saja, turun dari lantai 9.


"Coba kita telepon lagi. Aku gunakan telepon kamar, kau gunakan ponsel mu"


Ditha segera mengangkat telepon line kamarnya, menekan no ruangan Jill.


"Sudah diangkat?" tanya Abbellard, dia benar-benar khawatir. Naluri ke-daddy-annya mengatakan, Jill sedang tidak baik-baik saja. Dhita, menggelengkan kepalanya,pertanda telepon line juga belum di angkat.


"Aku akan turun ke resepsionis dan meminta cadangan keycard kamar Jill", setengah berlari ke arah pintunya.


"Yes Dad" ucap Jill disebrang sana, mengangkat panggilan Daddynya, menghentikan langkah kaki Abbellard untuk meminta keycard cadangan.


"Oh my God, kemana aja kau, Jill?" Daddy hampir saja ingin menjebol pintu kamarmu! ucap Abbellard meluapkan kekhawatirannya.


Abbellard berputar arah, lalu duduk di tepi tempat tidur.


"Speaker-kan! ". Abbellard mengangguk dan meloudspeakerkan ponselnya, menuruti keinginan istrinya.


"Jill, kau baik-bagi saya, sayang?". Dhita bertanya dengan khawatir. Dia menyesal, tidak mengantarkan putrinya sampai ke tempat tidurnya.


"I'm okay, Mom, Dad! Jill hanya terlalu nyaman sepertinya dengan kasur hotel ini, jadi tidak dengar Daddy mengetuk pintu, sorry Dad". Jill menahan tangisnya. Maafkan aku Mom, Dad berbohong. Bibirnya sudah mulai bergetar.


"Mau, Daddy belikan kasur seperti itu untukmu?"


"Daddy ada duit?" tanya Jill coba bergurau.


"Kita jadikan cicilan 60 bulan, sayang" balas Abbellard tersenyum. Jill pun tersenyum mendengar gurauan Daddynya.


"Dad aku masih ngantuk, kita extend sampai sore, bisa Dad? tanya Jill coba mengulur waktu. Dia tidak ingin bertemu dengan orangtuanya, saat matanya masih memerah. Pasti mereka akan curiga nanti, batin Jill.


" Apapun buatmu, sayang. Daddy pesankan breakfast, mau? "


"Biar Jill yang order, Daddy"


"Dad...?


"Masih ada waktu 1 hari lagi" ucap Jill tersenyum. Jill yakin Daddynya paham, maksudnya.


"Dasar anak nakal" ucap Abbellard lega. Setidaknya dia tahu, Jill baik-baik saja.


Dhita yang paham kalimat terakhir Jill pun segera mundur.


"Sayang....." Abbellard mendekati Dhita.


"Hm...?" jawab Dhita waspada.


"Sebagai Daddy yang baik, kita harus kasih contoh ke Jill, cara memanfaatkan waktu yang benar!" balas Abbellard menaikkan alis kanannya.


"Maksudmu?


"Ayo, kita berkencan seharian"


"Kemana?"


Abbellard menunjuk Dhita dengan bibirnya, lalu tersenyum.


Aku?? tunjuk Dhita tidak mengerti maksud suaminya.


"Iya! Kau, sayang. Lihatlah baik-baik dirimu" ucap Abbellard membalikkan tubuh istrinya ke arah kaca. Lalu memeluknya dari belakang.


"Lihatlah, semua objek wisata, ada di dirimu. Mari kita mulai dari, naik-naik ke puncak gunung dulu". ucap Abbellard, yang membuat Dhita gemas, mencubit lengannya.


Segera, menggendong istrinya ke arah tempat tidur. Abbellard bersemangat menuju " lokasi wisatanya".


Jill meletakkan kembali teleponnya. Memandang dirinya di pantulan kaca.


"Banyak sekali bekas penjajahannya!. Bagaimana cara menghapusnya? ucap Jill pelan sambil mengusap bekas-bekas gigitan yang sudah membiru.


" Ganas sekali dia" ucap Jill yang mengingat beberapa kejadian semalam.


Mencari ponselnya, mengetikkan keyword saat searching di salah satu situs pencarian. Got it! Jill menemukan cara memudarkan bekas-bekas tersebut


Kompres es batu atau air hangat, pesan Artikel tersebut.


Segera menghubungi Front Desk, dan meminta beberapa es batu dan air hangat, dan meminta tolong di belikan foundation shade light.


Semoga sore nanti, bekasnya sudah memudar! ucap Jill dalam hati,sambil menunggu orderannya tiba.


Jill kau bodoh!


Sedangkan di kamar berbeda, Marchell baru saja terbangun. Matanya mencoba menyesuaikan sinar matahari yang masuk ke pupilnya. Meraba-raba sebelah tempat tidurnya,kosong!


Dalam posisi tengkurap, Marchell menoleh ke sisi kirinya.


"Kemana Jill?!


Mencoba duduk tegak, lalu turun dari tempat tidurnya, mengambil sebotol air minum, dan menghabiskannya, sambil berjalan memeriksa Jill di kamar mandi.


Degh! Tidak ada! Kemana dia? Apa sudah kembali ke kamarnya atau ke rumahnya? Marchell mulai menebak-nebak. Jika sudah pergi, kenapa tidak berpamitan dulu padanya? Setidaknya kan, dia bisa mengantarnya pulang!.


Duduk kembali di ranjang, yang menjadi saksi bisu pertarungan mereka semalam. Sudut bibir Marchell terangkat, tersenyum melihat bercak merah di seprai putih tersebut.


"Aku yang pertama, ternyata" ucapnya bangga.


"Tapi Jill juga yang pertama, bagiku" monolog Marchell, tetap tersenyum. Dia tidak tahu, di depan kamarnya, ada seorang gadis terisak akibat perbuatannya. Yang bingung bagaimana menjelaskan pada keluarganya. Yang merasa bersalah pada sepupunya, Kinanti!


Berputar kembali, menuju kamar mandi, Marchell ingin membersihkan diri terlebih dulu, lalu menemui Jill, dan membahas tentang mereka.


Mengingat kejadian semalam, Marchell tersenyum. Begini ternyata rasanya! Resmi melepas status "perjaka ting-ting"-nya.


"Jill harus bertanggung jawab padaku" ucap Marchell tersenyum kembali. Tidak ada penyesalan dalam senyumannya. Justru hatinya berbunga-bunga.


Ternyata begini rasanya jatuh cinta.


Bersiul-siul selama mandi. Selama dia mandi di sembilan belas tahun umurnya, inilah mandi terbahagianya sepanjang hidupnya!


Memakai handuknya, dan memakai pakaiannya kembali. Berjalan ke arah kaca, untuk melihat tampilannya saat ini, Marchell kaget membaca pesan yang di tulis oleh Jill.


"Bulls-nya, kecil katanya? ucap Marchell memandang ke kandang Bantengnya di bawah? Menatap Bantengnya yang sudah mimpi indah saat ini.


"Tidak merasakan apa-apa?!


Mematahkan hati Marchell langsung. Menarik sprei putih tersebut, awas kau Jilllllll!!