One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 31



Marchell bergerak cepat menangkap tubuh Jill yang akan terjatuh. Membuat semua keluarga dan tamu terlihat bingung dengan kekhawatiran Marchell pada Jill.


Dhita yang gampang panik pun, kaget melihat Jill tiba-tiba pingsan. Untung ada yang menangkap tubuh putrinya.


Abbellard yang duduk beberapa meter dari Jill pun, setengah berlari, melihat Jill pingsan. Sebagai seorang ayah, dia merasa gagal, tidak tau jika putrinya sakit, sampai pingsan begitu.


"Jill," Maxime segera mengambil alih tubuh Jill, tanpa permisi pada Marchell, Segera menarik Jill dalam dekapannya. Mencoba menepuk pelan pipi Jill, tapi tetap tidak sadar.


Ditha dan Vina mencoba mengarahkan minyak kayu putih ke arah hidung Jill, agar segera sadar, tapi tetap tidak di respon.


"Kau, kenapa Jill?" Maxime menatap tamu undangan yang sedang menonton adiknya yang pingsan, lalu segera mengangkat tubuh Jill.


"Ada dokter di sini?" teriaknya, teringat Mommy Ditha mengatakan ada Dokter Bimo di sini.


Abbellard yang ingin mengambil alih menggendong Jill, di tepis halus Maxime. Masih mencari sosok dokter yang dimaksud Mommynya.


Marchell terkesiap melihat Daddy Jill tidak di izinkan mengambil alih Jill, "Bahkan ayahnya Jill tidak di izinkan menggendong Jill, Dia siapa??" sungut Marchell menyorot Jill dalam dekapan Maxime.


Melihat sebelah tangannya yang sedang di genggam calon istrinya saat ini.


Marchell menahan diri agar tidak merusak kepercayaan keluarganya. Bukankah dia yang memutuskan, melanjutkan lamaran ini?


Melihat seorang pria menerobos masuk dari arah pintu, Maxime yang mengenali Dokter Bimo, meneruskan langkahnya menuju tangga.


"Dokter Bimo, tolong ikuti aku ke kamar," ucapnya terus menaiki tangga tanpa menoleh.


Abbellard yang sudah lebih dulu berjalan di depan Maxime, segera membuka pintu dan menyiapkan tumpukan bantal untuk Jill.


"Tolong segera periksa, Jill!"


Maxime yang sangat khawatir, menarik langsung Bimo yang baru saja masuk dengan peralatan medisnya.


Abbellard bahkan mondar-mandir tak jelas, membuat suasana semakin tegang saja.


Bimo mencoba mengecek kondisi pernafasan Jill. Meletakkan tangannya, memeriksa denyut nadi Jill. Sedikit mengerutkan dahinya.


"Bukankah dia belum menikah?" batin Bimo dalam hati, lalu menatap Abbellard yang menggerakkan kepalanya, seperti bertanya "Jill kenapa?"


Memeriksa ulang kembali denyut nadi Jill, takut salah hitung denyut.


"Sama," ucap Bimo terkejut. Menatap Jill tidak percaya, gadis yang dia anggap baik, bisa hamil sebelum menikah.


Bimo berdiri, menatap bingung, bagaimana cara mengatakan pada keluarga Jill, tentang keadaan Jill saat ini.


Jika Jill sudah menikah, pasti dia akan sangat senang menyampaikan kabar pasiennya tersebut.


Abbellard berhenti melangkah, saat melihat Maxime sudah lebih duluan maju mendekati Dokter muda di depannya.


"Jill kenapa? Apa perlu kita bawa ke rumah sakit sekarang?"


"Tidak usah, biarkan dia istirahat dulu. Sepertinya hanya stress saja, itu yang membuatnya tertekan dan pingsan," ucap Bimo tanpa memberitahukan status Jill saat ini. Biarlah Jill yang menyampaikan kabar bahagia tersebut pada keluarganya.


"Stress? Tertekan?" ulang Maxime, dan di angguk Bimo.


"Tapi Jill stress kenapa? Kau tahu penyebab Jill stres?" potong Abbellard menatap Maxime yang menggeleng kepalanya.


Mungkin dia akan bertanya langsung setelah Jill sadar.


"Apa karena perjodohan?" celetuk Maxime yang teringat, Mommynya beberapa waktu lalu, semangat memilih calon kekasih buat Jill, termasuk Dokter di depannya ini.


"Apa?" ulang Dhita yang merasa tidak terima di tuduh. Menatap balik Abbellard dan Maxime yang menatapnya dengan tatapan aneh.


"Sayang, aku hanya memperkenalkan saja, tidak mewajibkan Jill berkenan dengan kandidatku," ucap Dhita berusaha membela diri. Dia kan memang pure, memperkenalkan saja.


Tanpa mendengarkan obrolan keluarga Jill, Bimo menatap Jill. Lalu melihat ke arah pintu, sekilas ada bayangan di dekat pintu berdiri, menguping pembicaraan mereka saat ini.


"Siapa? Apa ayah dari calon bayi ini," ucap Bimo dalam hati, lalu berjalan ke arah pintu.


"Dokter mau kemana?" Dhita bergerak mendekati Bimo. Bimo berbalik.


"Hanya ingin mengambil tensimeter di mobil, Tante" balas Bimo beralasan, padahal tujuannya ingin melihat siapa yang sedang menguping di luar sana.


"Tidak usah, biar aku saja yang ambil. Mana kunci mobilmu?Berapa plat mobilmu? Tetaplah di sini, sampai Jill sadar" cecar Maxime, langsung mengambil kunci mobil Bimo dan turun ke bawah.


"Sepertinya aku harus ganti jurusan nanti. Biar Jill saja yang menjalankan perusahaan, aku akan menjadi Dokter saja," gumam Maxime saat membuka mobil Bimo. Tertarik dengan jas putih yang tergantung di mobil Bimo.


Berlari kembali ke dalam rumah, terhenti mendengar seseorang memanggil namanya.


"Dokter bilang, hanya kelelahan saja Om," ucap Maxime lalu mendekat dan memeluk Tigor.


"Om tadi mau naik, lihat Jill ke atas, tapi takut Daddymu ngambek lihat Om," ucap Tigor memberikan sebotol air mineral.


"Nanti kasih Jill minum, kalau sudah siuman ya," pesan Tigor kembali. Melihat Maxime sangat gagah dan tampan seperti ini, dia sangat senang. Mungkin jika Jill sudah sadar, mereka bisa berbagi cerita.


"Baik Om, Max naik dulu ya Om," balas Maxime kembali berlari ke lantai 2.


Pergerakan Maxime tersebut tidak luput dari pandangan Marchell, yang sedang duduk bersama Kinanti. Raganya di bawah, hati dan pikirannya bersama Jill di atas.


"Kau sepertinya sangat khawatir tadi saat menangkap Jill? Aku heran, jarak kalian kan tadi tidak dekat, kenapa bisa responmu secepat itu ya?" tanya Kinanti yang memang penasaran ingin bertanya dari tadi.


"Karena dia di belakangmu, sejak berdiri di belakangmu, wajahnya sangat pucat," Marchell menjelaskan apa adanya. Memang Jill sangat pucat tadi. Dirinya juga bingung, beberapa saat setelah melihat Jill seperti menahan diri agar tidak jatuh, tanpa sadar, dirinya sudah berjalan beberapa langkah ke arah Jill, saat Jill memegang kepalanya.


"Sepupumu, apa punya penyakit bawaan?" tanya Marchell mencoba mengorek informasi tentang Jill.


"Tidak, justru dia yang paling sehat diantara kami cucu Oma," ucap Kinanti.


Ingin bertanya kembali, tapi tangan Marchell terkepal melihat Tommy naik ke lantai 2. Dan menerobos masuk ke dalam kamar Jill.


"Untuk apa dia kesana?" sungut Marchell pelan.


Tommy, rival Marchell, yang kaget Jill pingsan dari para tamu disana, segera berlari menuju arah yang di sebutkan para tamu. Sebelumnya dia keluar sebentar, daripada panas melihat Jill bersama si Teflon.


Tommy langsung membuka pintu, tanpa mengetuknya lebih dulu.


Fokusnya hanya ke Jill yang terbaring dia tempat tidur. Tidak melihat ada siapa pun di kanan dan kiri dalam bola matanya.


"Kau kenapa sayang?" Tommy langsung duduk di tepi tempat tidur, dan mengelus rambut Jill. Dokter Bimo, Maxime, Dhita dan Abbellard terkejut mendengar kata 'sayang' tersebut.


"Sejak kapan Jill punya kekasih?" tatap Abbellard tajam pada Tommy.


"Apa dia ayah dari bayi Jill," ucap Bimo dalam hati, juga menatap Tommy


"Tommy? Kekasih Jill?" Dhita terdiam memikirkan, kapan mereka mulai dekat.


Berbeda dengan mereka yang berasumsi dengan pikiran masing-masing, Maxime bergegas menghampiri Tommy.


"Jangan coba-coba sentuh dia! Atau kau pulang tinggal nama, mau?!" Maxime menarik kasar tangan pria tengil di depannya.


Tommy berbalik dan melihat 1,2,3,4 hitungnya dalam hati, kaget ada beberapa orang ternyata dalam kamar Jill.


"Sejak kapan kalian di sini? Kok aku ga lihat kalian masuk?" tanya Tommy, membuat Bimo tersenyum. Pria Gila! Pikir Dokter Bimo.


Tommy menatap Maxime, Dhita dan Abbellard yang menatapnya seperti orang aneh.


"Apa aku salah bicara?" tanyanya ulang, namun tetap tidak ada yang meresponnya.


Tommy segera mengalihkan pandangan ke arah Jill, mengabaikan tatapan horor di depannya.


Melihat pergerakan pelan Jill, Tommy langsung bergerak, membantu Jill.


Belum sempat merengkuh Jill, kerahnya ditarik kasar seseorang. Tommy tahu ini pasti ulang si teflon.


Melepas tarikan kerah, Tommy yang melotot, langsung meneduhkan matanya, dan menunduk, "Maaf Om," ucap Tommy menatap Abbellard.


"Berani sekali kau menyentuh putri kesayanganku. Tolong segera keluar," Abbellard mengarahkan tangannya ke arah pintu. Menatap nyalang pria yang sejak dia suruh keluar beberapa menit lalu, masih betah berdiri di depannya.


Tommy yang mulai paham situasi pun, terpaksa keluar dan meninggalkan Jill.


"Jill baik-baik saja," info Bimo setelah memeriksa Jill. Membuat Maxime, Dhita dan Abbellard bernafas lega.


"Maaf Om, Tante, bisa saya bicara berdua dengan Jill sebentar?" izin Bimo dengan sopan, setelah melihat raut tenang keluarga pasiennya.


"Hanya ingin tahu saja keluhan pasien dan apa yang membuatnya stress. Mungkin dia mau berbagi cerita dengan saya, sebagai Dokter," ucap Bimo kembali, saat Abbellard menatapnya tajam.


Dhita yang paham maksud Bimo pun segera menarik Maxime dan Abbellard yang tidak mau meninggalkan Jill.


Marchell yang sejak tadi selalu menatap pintu kamar Jill, kaget, Maxime, Dhita dan Abbellard keluar dari kamar tersebut. Dan bergabung dengan calon mertuanya di ujung sana.


"Dokter Bimo belum turun? Mereka berdua saja?" Marchell yang cemburu pun bergegas menuju lantai 2 setelah mengecoh keluarganya dengan berjalan ke arah kamar mandi lebih dulu.


Memastikan pintu tertutup, Bimo menarik sebuah kursi dan duduk dekat tempat tidur Jill. Memperhatikan lebih dulu ekspresi Jill saat ini, sebelum kalimat berikutnya dia tanyakan.


"Jill boleh aku bertanya?"