One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 11



Memasuki area parkir sebuah salon ternama, Jill melihat banyaknya mobil yang terparkir di parkiran salon tersebut.


"Benar ini salonnya, Tante?" tanya Jill memastikan.  Menoleh sebentar ke arah  tantenya yang menjawabnya dengan sebuah anggukan.


"Sepertinya sangat ramai Tant, sudah banyak mobil terparkir, lihatlah Tant" ucap Jill sambil menunjuk arah area parkir.


"Disini bukan hanya salon saja,Jill. Di saja ada area untuk Gym, di atasnya lagi tempat latihan Dance. Nah paling atas, itu lantai khusus Ibu-Ibu yang ingin melenturkan tubuhnya dengan zumba" Vina menjelaskan sambil menarik rem mobilnya. Memastikan mobilnya sudah aman.


"Ayo, turun Jill" melepaskan seatbelt, mengambil handbagnya, lalu berjalan dengan anggun ke arah pintu masuk.


"Tant, Kinanti tidak ikut reunian ini?" Jill bertanya karena sampai mereka duduk di salon untuk dirias, Jill tidak melihat sepupunya itu.


"Kinan? Dia kemarin sore ini berangkat ke Surabaya. Ada urusan di salah satu rumah sakit di Surabaya. Mungkin besok sudah landing di Jakarta. Apa dia tidak bilang padamu? tanya Vina balik.


"Iya, Kinan bilang Tante, ia akan ke Surabaya sebentar, tapi tidak bilang kapan berangkatnya" helas nafas dari Jill pun terdengar oleh Vina.


"Berarti aku sendirian di reunian nanti" tanya Jill menatap tantenya yang tersenyum padanya.


"Loh kok sendirian, Jill. Ada Mommymu, Daddymu, ada tante dan mungkin kau bisa bertemu teman baru disana" ucap Vina sambil menunjukkan ke pegawai salon, model rambut yang dia inginkan.


"Jil tante penasaran" ucap Vina membalikkan badannya ke arah Jill. 


"Benar kamu ga kenal sama Marchel? bukannya, tante ga percaya sama kamu, tapi Marchel bukan tipe Pria yang gampang beramah-tamah dengan perempuan. Sama Kikan aja, dia cuek. Tante bahkan belum pernah melihat Marchel menggandeng tangan Kikan" ucap Vina secara santai dan tidak menyudutkan keponakannya ini. 


Dia bertanya, karena merasa aneh saja. Bukan hanya dia, bahkan Nyonya Lawson, temannya, shock atas tindakan putranya tadi, dan langsung meminta maaf padanya. Padahal Vina biasa saja.  Vina cukup berbesar hati, tentang Marchell. Dia tahu selama 2 tahun perjalanan kisah Marchell dan Kinanti, hanya putrinya saja yang mencintainya. Marchell tidak.


Beberapa kali Vina coba mengatakan pada Kinanti, agar melepas Marchell, dan mencari pria yang memperlakukannya dengan cinta. Tapi putrinya selalu menolak, dengan alasan cinta akan tumbuh karena kebersamaan. Tapi sudah dua tahun, jangankan tumbuh, benih cinta saja belum ada di hati Marchel. Aura mereka berdua bukan aura orang sedang jatuh cinta. Lebih adik dan kakak.


"Jill hanya pernah di kenalkan Kinanti, sebentar saja kok Tant. Dan itu tidak, Jill anggap sebagai orang yang sangat dekat. Makanya Jill bilang tidak kenal" jawab Kinanti sambil menyeruput Caramel miliknya.


"Feeling Tante, sepertinya Marchell tertarik denganmu, Jill" Vina mengatakan sudut pandangnya dengan lembut. Berharap agar Jill yang mendengar ucapannya barusan, bisa nyaman tanpa merasa bersalah.


Berbeda dengan Jill yang langsung tidak nyaman dengan ucapan Tantenya barusan.  Seperti kedapatan selingkuh saja,batin Jill, menatap tantenya heran.


'No Tante, dia kekasih Kinanti. Dan aku tidak tertarik dengan pria seperti dia. Sudah punya pacar, tapi berani mengecup perempuan lain. Bukan tipe idamanku,Tant' ucap Jill lembut dan membuat Tantenya terkekeh. 


Namun ucapan Jill barusan didengar oleh seorang pria yang baru saja masuk. Dia ingin mengambil syal mamanya yang tertinggal di salon tersebut. Andai Jill lebih teliti dan membaca nama salon ini, mungkin Jill tak akan mau merias dirinya di sini, Lawson Salon.


"Menarik sekali, aku bukan tipenya." ucap Marchell tersenyum sambil berjalan. Ada apa dengan sepupunya Kinan itu. Kepedean sekali aku bakal menyukainya! Kekeh Marchell kembali.


Marchell berjalan menuju Mobil biru kesayangannya. Membuka pintu, lalu menyerahkan syal kesayangan Mamanya. Hadiah terakhir dari mendiang papanya.


Nyonya Lawson menerima dengan tersenyum menatap syal tersebut.


"Mama berharap kau bisa bersama dengan seorang wanita sampai maut memisahkan sayang. Seperti Mama dan papa" ucap Nyonya Lawson sambil menepuk lembut tangan anaknya, yang baru saja duduk di mobil.


"Maksud Mama?" tanya balik Marchell yang tak mengerti alur pertanyaan ibunya.


Menarik nafas sebentar dan memandang putranya, "Jika kau sudah punya Kinanti, jangan ada Kinanti lainnya. Kau paling tau, Mama sangat sayang dengan Kinanti. Kinan gadis yang sangat baik, kau tahu itu!" ucap Nyonya Lawson tetap lembut,walaupun nada akhirnya sedikit meninggi.


"Mama bahagia jika hatimu mulai bergetar, tapi pastikan getarannya hanya untuk Kinanti, sayang", ucap Nyonya Lawson mulai serius.


Marchell tidak ingin menjawab apapun yang di katakan ibunya. Karena yang dikatakan ibunya, tidak benar adanya. Hatinya masih kosong, belum ada satu namapun yang terpatri di sana. Termasuk nama Kinanti, jadi untuk apa ada Kinanti lainnya.


"Kau sayang Mama?" tanya Nyonya Lawson,yang membuat perasaan Marchell tak enak. Pasti ada maunya ini,batin Marchell. 


"Tentu saja, Mama yang paling aku sayangi" jawab Marchell,namun dalam hati, please Mama jangan minta yang aneh-aneh.


"Baiklah Ma" ucap Marchell sambil mengecup tangan mamanya.


Lalu men-starter mobilnya membelah jalanan ibukota menuju Hotel tempat acaranya berlangsung.


Saling klakson antara Marchell dan Abbellard, saat mobil Marchell keluar dan Alphard putih Abbellard masuk ke parkiran salon. Padahal mereka tidak saling kenal, yang penting klakson saja, karena jalur sempit.


Waktu masih menunjukkan Pukul 17.35 tapi Mommy Ditha serta Daddy Abbellard sudah tiba 1 jam lebih awal di Lawson salon dengan rapi. Sedangkan acara baru dimulai Pkl. 20.00 wib


Ditha yang sangat pintar berdandan, terlihat sangat cantik, walaupun tanpa bantuan professional make up.


Berjalan meninggalkan Abbellard yang masih sibuk mencari tempat memarkirkan mobil. Sial, semua penuh.


"Bukannya menungguku, malah lebih dulu berlalu. Apa dia sengaja ingin memamerkan kecantikkannya pada semua pria disana" sungut Abbellard yang masih belum dapat tempat parkir.


Sementara Istrinya Dhita, sudah sampai di depan Jill dan Vina, sahabatnya.


'Oh my God, siapa ini?' tanya Ditha tak percaya melihat Jill secantik ini. Putrinya yang terbiasa dengan jeans dan Tshirt,tampak berbeda dalam balutan gaun malam.


"Sini Mommy foto dulu " ucap Ditha sambil membidik putrinya.Cakepp..Anak siapa sih? Pasti mamanya cantik? Batin Ditha. Dia bertanya dia yang jawab sendiri.


"Mommy mau kirim ke Maxime dulu. Mau lihat bagaimana ekpresinya,Maxim" ucap Ditha antusias.


"Silakan Mom, kalau mau Maxim datang dan menjemputku langsung" celetuk Jill akhirnya. Mommy ini, masa ga tau bagaimana Maxime sih!


Ditha yang mendengarnya pun mengangguk setuju. Merapikan gaun Jill, menggandeng dan melirik ke Vina "jalan yuk"


"Come on berangkat girls" seru Ditha bersemangat. Dia lupa, dia bawa pawang ke acara tersebut.


Melihat Daddynya sudah menunggu, Jill mengangkat gaunnya, dan berjalan lebih cepat. Abbellard yang terpukau melihat putrinya pun, terdiam memikirkan cara bagaimana agar Jill tidak ikut ke acara tersebut. Pasti banyak vampire di acara! Pikir Abbellard, yang tak mau putrinya di kelilingi vampir berlabel casanova. Walaupun reuni, Abbellard paham, teman-teman istrinya dulu rata-rata petinggi perusahaan. Identik dengan wanita!


"Dad, I miss you so bad" ucap Jill memeluk Daddynya. Abbellard menatap Putrinya yang sangat cantik malam ini, memeluknya, lalu berbisik "Jika kau tidak mau ikut, Daddy punya cara"


"Really, Dad? Kenapa ga dari tadi, Dad?"


"Daddy mana tau, kamu bakal secantik ini setelah dandan" jujur Abbellard yang memang belum pernah melihat putrinya dandan seperti ini. Make up Jill seperti mau prawedding saja, ucap Abellard dalam hati.


Ditha yang sudah berada di samping mereka, dan mendengar samar, bisik-bisik mereka, tersenyum tipis.


"Ya sudah, kalau Daddy mau antar Jill pulang, silakan. Mommy ga pa pa kok?


Yang penting anak dan suami senang, I'm happy" ucap Ditha mengajak Vina, berjalan ke sisi mobilnya


"Really, sayang? Aku antar Jill pulang sebentar, lalu jemput kamu ke sini, ya?"


"Ga usah!. Nanti kamu capek bolak-balik. Sudah kalian berdua pulang saja, percuma diajak juga", usir Ditha langsung.


"Ayo sayang, Daddy antar" Abbellard lalu membuka pintu untuk Jill. Biarlah dikatakan Daddy overprotective, penting putrinya tidak jadi incaran para vampir.


Berpamitan sebentar dengan istrinya, hendak membuka pintu mobil.. Terdiam mendengar istrinya menelepon seseorang


"Halo Tigor, bisa jemput aku?" ucap Ditha dengan suara manisnya, menelepon sahabatnya. Sahabatnya dari kecil, yang selalu di cemburui suaminya.


"Sayang, ayo berangkat" ucap Abbellard setengah berteriak. Memutuskan ikut ke reunian SMA istrinya.


"Awas kau Tigor" ancam Abbellard dalam hati.