
"Lepaskan aku Max," ucap Jill sedikit meronta, ingin mengurai rangkulan Maxime yang terlalu erat.
"Kau ingin aku mati muda? Erat sekali merangkulku, Lepaskan Max!" geram Jill.
Jarak mereka sudah sangat jauh dari pria-pria tadi, tapi sedikit pun, Max tidak mau mengendurkan rangkulannya.
"Kau kenal di mana si Tomcat?" tanya Maxime, melepas langsung rangkulannya, dan menatap lantai 1, tempat dia berdebat tadi.
"Jill, apa di sedang melotot padaku?" Maxime menunjuk Tommy yang juga bertatapan dengannya.
"Kau tau nomor pemadam kebakaran di Jakarta?"
"Untuk apa?"
"Memadamkan api cemburu," ucap Maxime menarik Jill kembali lebih dekat padanya.
"Kenapa kau memelukku lagi?" tanya Jill heran, tidak biasanya Maxime usil seperti ini.
"Supaya lebih berkobar lagi apinya. Biar sekalian terbakar dia," ucap Maxime, meledek Tommy yang masih nyalang menatap Maxime.
"Kau nakal sekali" kekeh Jill.
"Salah dia sendiri, kenapa sebodoh itu! Kalau dia menyukaimu, pastinya dia tau siapa aku? Cih, malah menganggap aku rivalnya!"
"Mendekatlah, cium pipiku!" gumam Maxime.
"Tidak mau!"
"Ish.. Cepatlah," ucap Maxime, yang sengaja memancing emosi Tommy.
Cup..!
Maxime tersenyum dan menjulurkan lidahnya ke arah Tommy yang kepanasan di bawah sana. Maxime tertawa melihat Tommy meradang dan menendang tembok di depannya.
Melihat itu, Jill berusaha menarik Maxime agar tidak menjahili Tommy lagi. Jill sungguh malas berhubungan dengan pria tersebut.
"Ya sayang sekali, aku harus pulang besok Jill. Dia pasti sangat kesepian tanpa aku," kekeh Maxime melihat Tommy meringis kesakitan.
Maxime masih terkekeh dan mengapit adiknya kembali, berjalan hingga masuk ke ruangan Kinanti. Meninggalkan Tommy yang menahan nyeri kakinya setelah menendang tembok.
"Lagian sejak kapan tembok ada di sini!" pukul Tommy pelan pada tembok di depannya.
Dari tadi Tommy masih setia menatap interaksi Jill dan Maxime. Tidak beranjak dari tempat semula.
"Sabar Tom, sebelum janur melengkung, kau luruskan lagi, jangan sampai melengkung!" ucapnya menguatkan hatinya.
"Masih ada waktu mendekati Jill. Tidak bisa dekati anaknya, dekati Mommynya dulu," dengan percaya diri bangkit dan menuju sofa.
Meninggalkan Tommy di bawah, Maxime masih saja tersenyum. Menyapa sepupunya yang sedang duduk di meja riasnya.
Kinanti melihat kedatangan Jill dan Maxime melambaikan tangan, dia hampir selesai di rias oleh salah satu Makeup Artis Profesional, pun melambai.
"Wah Kinanti, kau cantik sekali," ucap Maxime menggombal Kinanti.
"Cih, recehku habis Max," ucap Kinanti menahan tawanya.
"Gampang, kau bisa transfer, cek atau giro. Aku bukan tipe pemilih," kedip Maxime tersenyum dan mengambil tempat duduk di belakang Kinanti.
"Kau sepertinya sangat bahagia, Kinan?" tanya Maxime, melihat Kinanti yang terus saja tersenyum.
"Tentu saja Max. Semua wanita pasti bahagia dilamar dan menikah dengan pria yang dicintainya," balas Kinanti tetap dengan senyumannya.
"Cih, dia belum bekerja Kinan! Coba kau pertimbangankan dulu. Nanti kau makan apa?" Maxime tetap mencoba mempengaruhi sepupunya itu. Menurut Maxime, Kinanti masih terlalu muda menjalani pernikahan.
"Cih, semua gadis di muka bumi ini, juga mengatakan hal seperti itu, Kinanti, saat jatuh cinta. Sekarang kau mungkin belum pusing, tapi saat pendapatanmu pas-pasan, harga cabe naik, BBM naik, minyak naik, semua naik, aku mau lihat, bagaimana cara kau mengatasinya," balas Maxime menatap Kinanti yang terkekeh mendengar kalimatnya.
"Aku heran, kau seperti emak-emak saja!" sindir Jill yang merasa aneh, kembarannya tau hal sedetail itu.
"Siapa emak-emak? Me? Setampan ini, jadi emak-emak? Enak saja! Aku tuh gak sengaja dengar Bik Siti curhat sama suaminya via telepon!"
"Dih, selain usil, kau tukang nguping juga ya?!" sindir Jill kembali.
"Bedakan ya Nona manis, menguping dan ga sengaja dengar pas lewat," papar Maxime tak terima di tuduh Jill.
"Sama saja, ck!"
" Coba kau pertimbangankan lagi, Kinanti,sebagai saudaramu, aku hanya ingin yang terbaik saja," ucap Maxime menggenggam tangan Kinanti, yang sudah selesai dirias.
"Aku sangat bersyukur, punya kau dan Jill. Menikahi Marchell, impianku sejak melihatnya pertama kali. Kalian tahu, bahkan dalam setiap doa-ku, aku selalu menyelipkan nama Marchel. Aku berharap, akulah tulang rusuk Marchell. Mungkin, aku akan berhenti bernafas tanpa Marchell, terdengar sangat bodoh, kan?" Kinanti menatap Maxime yang terdiam. Sepertinya Maxime tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain mendukung keputusan Kinanti.
"Baiklah gadis keras kepala, semoga kau bahagia nanti menjalani kehidupan rumah tanggamu,"ucap Maxime memeluk Kinanti sesaat.
Jill bangkit dan menghampiri Kinanti yang sangat cantik dalam balutan kebaya karya tantenya, mencoba tersenyum,tapi sulit ternyata membohongi diri.
Entah kenapa begitu melihat raut bahagia Kinanti, Jill kesulitan tersenyum. Harusnya Jill juga bahagia kan? Melihat saudaranya bahagia!
"Jill, kamu lelah? Sepertinya sangat lesu, apa kurang tidur?" ucap Kinanti memandang Jill dari pantulan kaca. Saat ini, tatanan rambutnya sedang di rapikan, sebelum turun ke bawah sebentar lagi.
Maxime menoleh dan memandang Jill sejenak. Benar Jill pucat! Tapi saat masuk, dia baik-baik saja. Ada apa?!
Mengambil kursi di dekat pintu, dan meletakkannya di sebelah tempat duduknya.
"Duduklah Jill," ucap Maxime membantu Jill duduk. Memiliki 2 adik perempuan, memang menuntutnya selalu sigap dan peka. Ada Jill dan Kinanti yang harus dia jaga.
Jill yang akhir-akhir ini memang gampang lelah, berbinar saat menoleh dan melihat tempat tidur. Tidurnya sangat cukup! Overtime malah! Entah kenapa beberapa hari ini selalu mengantuk!
"Kinanti, aku numpang tidur dulu ya? Ngantuk banget," ucap Jill tanpa menunggu jawaban yang punya kamar, langsung berjalan dengan pelan, karena kepalanya memang sangat berat tiba-tiba.
"Sini ku bantu," ucap Maxime langsung memapah saudara kembarnya tersebut.
"Hati-hati Jill" Maxime mulai khawatir dengan Jill.
"Apa mau ke dokter, Jill?" tawar Maxime memegang dahi Jill. Tidak panas, batin Maxime. Terus kenapa pucat sekali? tatap Maxime.
"Tidak Max, Aku baik-baik saja. Istirahat sebentar pasti langsung segar! Mungkin asam lambungku saja" Jill mencoba duduk di tepi tempat tidur tersebut. Agar Maxime percaya dia baik-baik saja.
"Jill, kau tidur saja! Acara masih satu jam lagi. Berbaringlah!" Kinanti setengah memerintah Jill. Dia sangat tau sepupunya tersebut, berpura-pura kuat, selalu mengutamakan keluarga dibandingkan dirinya sendiri.
"Jill pasti takut membuat kami khawatir, selalu saja begitu, mengkhawatirkan yang belum tentu terjadi," gumam pelan Kinanti.
"Jangan lupa bangunkan aku ya Maxime, Kinanti," ucap Jill mengatakan 'lupa' dengan sangat pelan. Ucapannya berbanding terbalik dengan maksudnya. Jill berharap mereka lupa membangunkannya agar dia tidak melihat lamaran Marchell dan Kinanti.
" Aku benar-benar tidak sanggup" ucapnya pelan, menutup kelopak matanya dan tertidur.
Maxime mendengar jelas kalimat Jill barusan. Mengernyitkan dahinya, mencoba menebak apa maksud kalimat Jill tadi.
Apa ada sesuatu yang terlewatkan, tanpa dia ketahui?
Sejak kemarin, hatinya merasa kesedihan di sorot mata kembarannya. "Berbagilah denganku Jill! Jangan sok kuat! Jangan kau pikir aku tidak bisa merasakan kesedihanmu. Ingat, kita terlahir dalam rahim yang sama!" Maxime menatap lama Jill, mencium dahi Jill. Membantu melepaskan tali pengait heels Jill dan menyelimuti Jill. Tetap duduk sejenak, mengelus rambut kembarannya.
"Aku harus membujuk Mom lagi! Aku tidak mau kembali ke Paris, meninggalkan Jill seperti ini," ucap Maxime mantap dalam hati.
"Kinan, aku turun sebentar ya. Mom dan Dad sudah sampai. Titip Jill ya" Maxime berlalu setelah Kinanti mengatakan 'Okay'.