One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 34



"Cari ini?" ulang seseorang menggoyang-goyang kunci di tangannya. Bimo terdiam, menatap sorot tajam mata pria tersebut.


"Mau kemana?" ketusnya melipat kedua tangannya, dan menyembunyikan kuncinya.


"Not your bussines!" balas Bimo tidak suka melihat gaya pria di depannya. Keluar dari mobil, dan berdiri, saling berhadapan dengan Marchell.


"Kau, sedang apa di sini? Bukannya, menemani calon istrimu!" tanya Bimo menengadahkan tangannya meminta kunci.


"Dan, kenapa kau emosi, melihat kami berdua?" selidik Bimo, yang jelas melihat, Marchell terus melirik Jill di dalam mobil.


"Dia sepupu Kinanti, tentu saja menjadi urusanku juga. Sepertinya, kau bukan pria baik-baik!" tuduh Marchell asal, tanpa memutus pandangannya ke Jill.


Melangkah sedikit, dan merebut kunci mobil dari genggaman Marchell, namun gagal. Bimo mendelik kesal.


"Turun Jill!" seru Marchell, mendekat dan mengetuk pintu mobil Jill. Tetap diam, tanpa menatap Marchell.


"Aku sudah dapat izin dari Mommy Jill, untuk membawa Jill bersamaku. Lalu apa, masalahmu?!"


"Kau bisa tanyakan sana!" imbuh Bimo lagi, mengarahkan pandangannya ke Mommy Ditha.


Tanpa memperdulikan Bimo, Marchell tetap menggedor pintu Jill, yang di lock dari dalam. Gedoran itu, membuat sakit kepala yang tadi berangsur pulih, mendadak kambuh lagi.


Memegang kepala yang semakin pusing, Jill menurunkan jendelanya sedikit, berteriak pelan pada Bimo


"Bimo, ayo pergi. Antar aku ke Hotel terdekat."


Tetap memegang kepalanya yang semakin berdenyut mendengar kalimat sinis Marchell.


"Hotel? Apa yang kalian lakukan di sana?" emosi Marchell meluap, melempar kunci dan menendang ban mobil.


"Aku pikir kau berlian Jill, ternyata sampah! Bisa-bisanya, kau, berganti pria setiap tidur di Hotel!" tatapnya penuh emosi. Maju selangkah, dan berbalik lagi menendang tulang kering Bimo.


"Aku membencimu Jill. Menyesal aku pernah mengenalmu!"


Meninggalkan Jill yang terisak pilu, dan Bimo yang menahan sakit kakinya.


"Berurusan denganmu, sepertinya akan menambah banyak luka di tubuhku, Jill."


Bermaksud bergurau, malah membuat Jill semakin terisak. Membiarkan Jill menangis, Bimo menjalankan mobilnya, menuju tempat yang di inginkan Jill.


"Kenapa kita ke sini, bukan ke pantai?" tanya Jill dengan sisa isaknya, saat menatap gedung tinggi di depannya.


"Bukannya tadi, kau minta ke Hotel?" tanya Bimo balik.


"Itu tadi, sekarang pengen ke pantai. Mungkin dengan melihat laut, suasana hatiku membaik," ucap Jill memohon pada Bimo.


"Ck, baiklah!"


Menempuh perjalanan 90 menit, Bimo dan Jill tiba di pantai pasir putih.


Jill turun tanpa mengenakan alas kakinya. Ingin merasakan butir-butiran halus pasir di kakinya.


Dan duduk di hamparan pasir, tanpa alas duduk. Bimo melihat jam tangannya, malam ini dia ada jadwal piket di rumah sakit,tidak bisa lama-lama di pantai. Menghitung berapa lama waktu yang bisa dia manfaatkan, menghibur gadis tersebut.


"Mau berbagi bebanmu denganku?" tawar Bimo, mendekati Jill, dan duduk di sebelahnya. Beberapa menit, menatap Jill, yang terus bungkam.


"Tidak baik, ibu hamil, tertekan. Tidak baik untuk calon bayimu." Bimo bersitatapan dengan Jill lalu melirik perutnya.


Jill ingin sekali bercerita, tapi Bimo bukan orang yang sangat dekat dengannya. Tidak terbiasa baginya, berbagai rahasia dengan orang yang baru di kenal.


"Jika kau ragu, karena aku bukan siapa-siapa bagimu, anggap kau sedang bercerita dengan Dokter pribadimu, bagaimana?" tawar Bimo menatap lurus luasnya laut di depannya.


"Maaf, aku hanya bingung, bagaimana menghadapi kabar ini," Jill terhenti, saat melihat seorang balita berjalan berjalan di atas pasir, di pegang ayahnya yang tertawa bahagia melihat anaknya bisa melangkah.


"Kami datang ke Indonesia, hanya menjenguk Oma saja. Kemanapun aku pergi, selalu bersama keluargaku, kecuali saat ini," ucap Jill menarik nafasnya, agar tidak menangis.


"Daddyku menaruh harapan besar padaku. Selalu mengingatkan kami agar selalu menjaga diri, dan kembaranku, selalu menjagaku sangat extra."


"Kembaranmu? Kau punya kembaran?" tanya Bimo terkejut.


"Aku ingat!"


"Dengan penjagaan seketat itu, menurutmu, bagaimana aku mengatakan pada mereka kalau aku hamil? Jujur, aku belum sanggup melihat kekecewaan keluargaku akibat hamil di luar nikah."


"Kau bisa katakan, anak kekasihmu." Bimo berusaha memberikan solusi, tanpa tau status Jill saat ini.


"Akan lebih baik, aku hamil saat ada kekasih. Tapi aku tidak punya kekasih. Itu kenapa Mommyku, berusaha mencarikan ku kekasih!"


Membuat Bimo kaget, mendengar Jill jomblo, dugaannya Marchell, ayah calon bayi tersebut, semakin kuat.


"Terus?" tanya Bimo menatap tubuh Jill yang sudah bergetar.


"Bulan depan, harusnya aku sudah mulai kuliah. Tapi tidak mungkin melanjutkan kuliah, dengan perut membesar nantinya." Menerima uluran tissue dari Bimo, Jill mulai menyeka airmatanya


"Aku juga tidak mungkin tinggal lebih lama di Indonesia, keluarga ku pasti sangat curiga, terutama Maxime."


"Jill, kau belum menjawab pertanyaanku di kamar tadi," potong Bimo, menoleh menatap Jill. Jill yang masih ingat pertanyaan Bimo tersebut, memalingkan tatapannya dari Bimo.


Menarik nafasnya, Bimo berdiri, dan pindah posisi ke arah pandang Jill saat ini.


"Kenapa menghindari pertanyaan itu, Jill?" tanya Bimo lembut. Memang bukan haknya bertanya seperti itu.


"Benar, calon suami Kinanti, ayah dari calon bayimu?" ulang Bimo lembut, agar Jill tidak merasa di hakimi.


Jill tetap tidak menjawab atau menggelengkan kepalanya, membuat Bimo tetap menunggu jawabannya.


"Kau takut merusak kebahagiaan, Kinanti?" ulangnya lagi.


"Dengar Jill, dibandingkan Kinanti, bayimu lebih membutuhkan ayahnya. Kau harus memberitahu dia, tentang kehamilanmu. Biarkan dia, yang memutuskan langkah selanjutnya."


"Tidak, itu akan lebih menyakiti keluargaku. Aku belum siap menghadapi hinaan, hamil dengan calon suami Kinanti."


"Kau, tidak bisa menutupinya Jill. Setiap bulan, calon bayimu akan berkembang, dan seiring perkembangannya, perutmu akan membesar. Bagaimana kau menjelaskan saat sudah membesar, Jill?"


"Akan aku pikirkan nanti." Jill menunduk, melihat perutnya yang masih datar. Benar kata Bimo, setiap hari, ukurannya pasti bertambah.


"Bim, apa kau punya kenalan untuk menggugurkan bayi ini?" tanya Jill putus asa menatap Bimo, yang mendelik tajam mendengar ucapannya tadi.


"Coba, kau ulangi?!!!!" tanya Bimo emosi,


Jill tahu dia Dokter, harusnya paham, tugasnya menyelamatkan pasien, bukan membunuh!


"Ulangi!" seru Bimo, membuat Jill kaget dan menangis kembali. Dia kan hanya bertanya, kenapa dibentak seperti itu.


"Diluar sana, banyak wanita berjuang, mendapatkan seorang anak dengan berbagai ikhtiar dan cara. Rela menjalani berbagai pengobatan dan menahan sakit suntikan jarum." Bimo meluapkan emosinya, namun tetap menahan nada suaranya.


"Harusnya kau bersyukur diberikan kepercayaan ini. Bayi ini akan membuatmu, merasakan, bahagianya menjadi seorang ibu. Memenuhi harimu dengan cinta Ibu dan anak," imbuhnya lagi.


"Jadi tolong, jangan pernah sedikitpun, memikirkan cara bagaimana menyingkirkannya, Jill."


Menatap Jill yang masih terguncang dan terisak. Ingin sekali memeluknya, namun menahannya, Jill bukan pasangannya. Bimo, hanya menepuk lembut pundak Jill.


"Lusa pagi, aku ada waktu luang. Aku jemput dan antar kontrol ke rumah sakit, mau?" tawar Bimo lembut.


Bimo yang masih khawatir akan tolakan Jill, bernafas lega, saat Jill mengangguk. Dia sengaja membawa Jill kontrol ke Spesialis kandungan, supaya wanita bodoh di depannya ini, memiliki kekuatan bicara dengan keluarganya, setelah mendengar detak jantung bayinya.


"Aku ada tugas jaga malam ini, Jill. Kita kembali pulang ya?"


"Baiklah," balas Jill berdiri dan mengikuti langkah Bimo, sambil menyeka sisa airmatanya. Dia sudah cukup lega, setelah Bimo memarahinya, sadar salah dengan ucapan sebelumnya.


"Mau aku antar ke rumah langsung?" tawar Bimo membuka pintu mobil, untuk Jill.


"Tidak, Hotel saja. Aku mau menenangkan diri dulu."


"Oke, as your wish"