One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 38



Bimo dan Jill berdiri dan masuk ke ruangan Obgyn saat nama Jill di panggil.


Dokter Sheila, kaget melihat teman seprofesinya, masuk ke ruangannya bersama seorang wanita muda. Setahunya, Bimo masih single, lalu kenapa ke Obgyn bersama seorang gadis? Bimo hanya tersenyum tipis, melihat keterkejutan di wajah wanita berjas putih di depan.


Sheila mengatasi rasa kagetnya, dengan melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap Jill, lalu duduk dan menatap Jill.


"Kita USG dulu ya Bu," ucap Sheila mempersilahkan Jill naik ke tempat tidur, dibantu perawat Obgyn.


Bimo tetap di posisi duduknya, dia paham akan rangkaian pemeriksaan selanjutnya


Tidak mungkin bersisian dengan Jill, saat pakaiannya area perutnya di singkap.


Merasakan gel di usap di perutnya, Jill terharu mendengar suara detak jantung bayinya. Begitupun dengan Marchell, yang sedari tadi menguping di celah jendela ruang praktek tersebut. Senyumnya terukir jelas di wajahnya, mendengar detak tersebut. Lalu berubah sendu, mengingat kejadian Jill dan Bimo di Hotel saat itu. Marchell ragu, detak bayi yang dia dengar saat ini, bukan detak bayinya.


"Kenapa bentuknya belum terlihat ya, Dok?" tanya Jill penasaran, setelah Grace, menginformasikan kantung didepannya.


"Usianya saat ini 6 minggu, bentuknya masih sangat kecil, seperti kacang polong," ucap Sheila melirik Bimo, yang mengalihkan pandangannya.


"Suaminya mana? Kenapa kontrol pertama kali, tidak di dampingi suami. Ada banyak informasi penting yang harus saya jelaskan pada suami ibu."


Beberapa menit berlalu, Jill masih bungkam, tidak menjawab pertanyaan Dokter Obgyn tersebut. Sedangkan Sheila dan Marchell, masih menunggu jawaban dari Jill.


"Sampaikan saja pada Saya, Dokter Sheila," jawab Bimo akhirnya mantap, setelah melihat raut bingung Jill.


"Maksudnya?" Sheila memastikan jawaban rekannya tersebut.


"Ini bayi kami," balas Bimo, membuat Jill dan Sheila kaget. Sedangkan Marchell menatap marah dan dingin keduanya. Mengepal kuat tangannya, Marchell pergi dengan emosi memuncak. Tadinya, dia berharap, Jill akan mengatakan, dialah ayah bayi tersebut!


Tak lama setelah kepergian Marchell, Jill dan Bimo keluar dari ruangan Obgyn tersebut.


"Aduh, sakit!" seru Bimo, menatap bekas cubitan Jill di lengannya.


"Kenapa tadi ngaku-ngaku, hah?"


"Cih, di bantu, bukannya bilang thank you, malah nyubit, mana biru lagi!" gerutu Bimo, mencoba mengurai rasa sakit cubitan Jill.


Jill terdiam, tidak membalas ucapan Bimo, berjalan ke arah parkir, menghindari kerumunan antrian pasien di depannya. Bimo melihat Jill pergi, segera mengikuti langkah Jill.


"Jangan berlari Jill, kasihan baby kita."


Kalimat Bimo, membuat Jill berhenti, lalu berbalik menuju Bimo.


"Tidak ada maksud apa-apa, Jill. Tadi, pure hanya membantu saja, kau kebingungan menjawab pertanyaan Obgynmu. Ya, aku bantu!"


"Tapi Bim, jangan katakan bayi ini milikmu!"


"Lantas aku harus jawab apa? Di rumah sakit ini, mereka taunya aku single. Masa iya, datang tiba-tiba nemenin kamu ke Obgyn, tanpa status apa-apa!"


"Trus ngapain ajak aku ke rumah sakit ini? Tempat kamu kerja! Kan bisa, bawa aku ke rumah sakit lainnya!"


"Tapi Sheila, Dokter Obgyn terbaik di kota ini, Jill."


Bimo menarik nafasnya, berurusan dengan bumil muda,memang harus bestian dengan si sabar.


"Jangan gitu lagi ya Bim! Aku gak mau orang lain salah paham. Di dengar keluargaku, kamu bisa di babak belur, mau?" tatap Jill melunak, melihat ekspresi terkejut Bimo.


"Its Okay, Jill. Asal kamu happy!" balas Bimo mengelus kepala Jill.


"Why?"


"Gak tahu, mungkin hanya care saja!" balas Bimo berjalan mendahului Jill menuju mobil, menghindari pertanyaan lebih dalam dari Jill.


"Kau lapar Jill? Mau makan sesuatu?" tawar Bimo saat membuka pintu mobil untuk Jill.


"Iya, mau makan orang!" sinis Jill membuat Bimo terkekeh.


"Aku lapar, kita ke resto langgananku yuk!" ajak Bimo, mulai menjalankan mobilnya menuju restoran favoritnya.


Bimo membukakan pintu untuk Jill, saat tiba di parkiran restoran tersebut.


Mata Bimo memicing, saat lambaian tangan mengarah pada mereka berdua.


"Kinanti?" panggil Jill senang, lalu menuju meja Kinanti.


"Sendirian?" tanya Jill mendekat.


"Tidak, tapi bergabunglah makan siang dengan kami, mau Bim?" tawar Kinanti berharap Bimo menyetujuinya.


"Baiklah," ucap Bimo akhirnya.


"Kinanti, kau kesini dengan siapa?" ulang Jill saat sudah duduk di depan Kinanti.


"Dengan aku, kenapa?" balas Marchell dingin tiba-tiba, langsung duduk di depan Bimo, menyorotnya sangat tajam.


Jill sangat kaget melihat tatapan dingin Marchell padanya.


"Kalian berdua ngapain di sini?"


"Clubbing!" jawab Bimo cuek.


"Kau kenapa sayang? Biarkan mereka makan dengan kita berdua," tanya Kinanti mengelus lengan Marchell pelan, dan di sambut dengan genggaman mesra Marchell. Bimo menatap raut wajah Jill, yang langsung memalingkan wajahnya melihat adegan tersebut.


"Cih, mereka mengganggu saja. Aku hanya ingin berduaan saja denganmu, sayang." Decak Marchell berpura-pura mesra memanasi Jill, wanita yang tega menggarami lukanya yang belum sembuh.


"Lagian kenapa tidak ke tempat favorit kalian saja sana!" usir Marchell tegas menatap Bimo.


"Memang kau tahu, dimana tempat favorit kami?" celetuk Bimo menatap balik Marchel.


"Hotel!" sengit Marchell membuat Jill dan Kinanti tergugu mendengarnya.


"Kasar sekali bicaramu!" geram Bimo tidak terima di sindir begitu.


"Memangnya kau di hotel ngapain? Bukannya di hotel, ada restoran juga?" imbuh sinis Marchell.


"Atau biasanya kalian ke hotel, bukan untuk makan ya, tapii," ucap Marchell tertahan melipat tangannya, menatap dua manusia sampah di depannya.


"Bikin baby, maybe?!" sindir telak Marchell, membuat Jill menahan tangis.


Bimo terdiam, mengepalkan tangannya, memandang dan merasakan tubuh Jill yang bergetar.


"Sayang, kenapa bicaramu seperti itu?" tanya Kinanti heran. Marchell, bukan tipe pria yang suka berbicara kasar.


"Ada yang salah dengan ucapanku? Aku kan hanya bertanya! Jika mereka berdua, tersinggung dengan ucapanku, berarti ucapanku benar!"


"Yang mana, yang buat kalian tersinggung? Resto atau buat bayi?" imbuh Marchell sinis.


"Makan di resto Hotel? Rasanya, tidak mungkin orang tersinggung dengan makan di hotel."


"Binggo! Bikin baby? Iya? Tebakanku benarkan?!" sinis Marchell menatap Jill, yang dari tadi diam, dan memalingkan wajahnya.


"Mau kami makan, tidur, main volly di hotel, atau buat bayi lucu duplikatku, urusannya dengan mu apa, hah?" balas Bimo kesal.


"Cih, memang sampah cocok dengan sampah, bahkan bau busuk kalian menyengat sampai sini!" sinis Marchell kembali. Berdiri dan memegang tangan Kinanti yang ada di atas meja.


"Ayo sayang, kita pindah restoran saja. Aku ga mau, wangi mu berubah busuk juga!"


"Sayang jangan begitu," ucap Kinanti berusaha meredakan emosi calon suaminya. Dia kan hanya ingin makan siang bersama saja, kenapa jadi saling sindir menyindir begini. Kinanti menatap tak enak pada sepupu di depannya.


Bimo memijat pangkal hidungnya, entah kenapa, dia terjebak dan terseret dalam lingkaran asmara Jill.


"Tidak usah, kalian di sini saja! Kami yang datang, biar kami yang pindah saja." balas Bimo, memapah Jill berdiri.


"Kalian mau kemana?" tanya Kinanti tak enak hati.


"Ke Hotel! Bikin bayi!" celetuk kesal Bimo.