
Jill pulang ke rumah dengan sangat lesu. Memilih pulang sendiri dengan Taxi saat hendak di antar pulang Marchell. Saat ini dia benar-benar ingin sendiri. Sepanjang hidupnya, belum pernah merasakan perasaan aneh seperti ini. Bahagia dan sakit menjadi satu!
"Kau pulang, Jill?"
Ditha menatap kepulangan Jill dengan raut aneh. Ada apa dengan putrinya tersebut, kenapa lemas sekali. Mencoba menyenggol Abbellard yang sedang bicara dengan ibunya, tapi tidak peka dengan kode yang Dhita berikan.
"Hai Mom, Dad,Oma" sapa Jill lalu mengecup pipi masing-masing keluarga tersayangnya tersebut.
"Jill naik dulu ya, Capek" Jill beralasan saja, padahal yang sebenarnya, hatinya sangat sedih saat ini.
"Tadi darimana sayang? Dad khawatir!"
"Hanya main ke mall, Dad. Jill bosan sendirian di rumah, Dad"
"Maafkan kami sayang, tadi Mommy dan Daddy bawa Oma kontrol, check up biasa". Jill pun mengangguk pertanda dia baik-baik saja di tinggal ke rumah sakit kok. Beralih menatap Omanya yang duduk di sebelah Daddynya.
"Oma, Jill kangen" Jill bergeser ke mendekati wanita yang seluruh rambutnya sudah memutih itu.
"Kau bersedih sayang?" sebagai seorang wanita yang sudah malang melintang dengan berbagai jenis perasaan manusia, Oma langsung peka terhadap situasi Jill saat ini.
"No Oma, Jill baik-baik saja. Hanya ingin memeluk Oma, sebelum ke kamar Oma" jawab Jill berpura-pura tersenyum.
"Baiklah peluklah Oma sepuasmu" balas Oma, mengelus rambut panjang cucunya.
"Hanya Oma saja? Daddy, tidak? tanya Abbellard yang memang dari tadi menunggu antrian pelukan putrinya.
" No Dad, Daddy bau keringat " ucap Jill asal, mengerjai Daddynya itu. Abbellard mencoba mengangkat ketiaknya dan mengarahkan pada istrinya, yang duduk di sebelahnya.
"Sayang coba kau endus dulu, apa aroma-nya masih sama seperti pertama kita bertemu" Abbellard tersenyum, menatap Dhita yang menatap geli pada ketiaknya.
"Kenapa aku?" tanya Dhita pura-pura tak mendengar kalimat Abbellard sebelumnya.
"Karena di rumah ini, kau lah ahli per-endusan! Bahkan jika ada pemilihan Menteri perendusan, aku yang pertama memilihmu, sayang" Abbellard pun mengedipkan sebelah matanya. Menggoda istrinya adalah salah satu syarat memperpanjang usia istrinya dan dirinya.
"Kau..?" ucap Dhita memukul pelan tangan suaminya, tidak terima dikatakan seperti itu. Abbellard dan Jill hanya terkekeh.
"Coba kau ingat-ingat kenapa julukanmu seperti itu?hm"
"Apa coba?"
" Dimana pun aku meletakkan uangku pasti kau tahu" jawab Abbellard tertawa.
Lalu menaikkan kembali ketiaknya.
"Sayang turunkan, basah ikh" ucap Dhita menunjukkan lingkaran basah T-shirt suaminya dekat lipatan lengannya tersebut.
"Basah? Masa? Kok bisa ya, sayang? Padahal cuaca sangat mendung, saat aku" naik-naik ke puncak gunung" tadi loh! " Abbellard bergurau, tanpa sadar putri dan ibu mertuanya di sampingnya.
" Kapan Daddy mendaki?" tanya Jill penasaran. Sedangkan Dhita yang mendengar Jill bertanya, berdiri dan berjalan ke dapur, pura-pura mengecheck, brownies yang sedang di panggangnya.
Abbellard? Dia terkikuk dan menjawab pertanyaan Jill dengan pertanyaan baru
" Kau sudah makan sayang?"
Sebuah pertanyaan, yang akhirnya menyelamatkan Abbellard dari pertanyaan Jill terkait Obyek wisata kesukaannya.
Meninggalkan Mom dan Dad-nya yang sedang menikmati teh hangat dan brownies buatan Mommynya, Jill izin ke kamarnya dan menapaki tangga menuju lantai 2, tapi bukannya masuk ke kamarnya, Jill berputar arah ke kamar kembarannya, Maxime.
Ingin sebentar saja bersandar di punggung saudara kembarnya tersebut.
Mengetuk pintu beberapa kali, namun tetap saja belum ada sahutan dari dalam.
"Maxime, aku masuk ya?" teriak Jill dari luar dan membuka pintu kayu jati tersebut.
Melihat Maxime yang sedang terpulas dengan posisi tidur menghadap dinding, Jill pun melangkahkan kakinya menuju tempat tidur Maxime.
Jill menaiki tempat tidur berukuran king size tersebut, lalu bersandar di punggung Maxime.
"Kumohon, jangan berbalik Max. Biarkan aku sebentar saja bersandar padamu. Hatiku sedang rapuh. Entah kenapa" ucap Jill dalam hati.
Lima menit
Sepuluh menit
Dua puluh menit.
Akhirnya Jill terlelap. Maxime yang sebenarnya tadi sudah terbangun, memilih diam saat kembarannya naik ke tempat tidur.
Mendengar dengkuran halus Jill, Maxime mencoba membalikkan tubuhnya.
Mengulurkan tangannya, mencoba menghapus sisa airmata di pelupuk mata Jill.
Tapi siapa, Jill?
Maxime mengatakan dengan sangat pelan. Memeluk sebentar kembarannya, berharap setelah Jill terbangun, dia akan baik-baik saja. Seperti yang biasa dia lakukan. Max sangat tahu, setiap Jill ada masalah, Jill akan mengendap masuk ke kamarnya, hanya untuk meminjam punggungnya, bersandar
Maxime bangun dan menyelimuti dengan bad covernya. Tetap berdiri dan memandang Jill dengan gemuruh di dadanya. Perasaannya mengatakan, ada hal besar yang sedang di alami oleh kembarannya.
Baiklah Jill, aku berharap setelah bangun, kau akan jujur dan menceritakan masalahmu padaku
Jika tidak, aku yang akan cari tau sendiri, Jill!
Menutup pintu kamarnya pelan, menuruni tangga dan segera bergabung dengan keluarganya di ruang tengah.
Melihat putranya menuruni tangga, Abbellard memanggil putranya tersebut.
"Hi Dad, apa yang sedang Daddy baca?"
Abbellard mengangkat sebentar buku yang sedang di bacanya, dan menunjukkan judul buku di cover buku tersebut.
"Oh Bandarmology, Dad?"
"Hm.."
"Siapa penulisnya, Dad?
"Ryan Filbert " ucap Abbellard membaca nama penulis di covernya.
"Buku yang sangat menarik untuk kau baca, Marchell. Nanti Daddy pinjamkan setelah selesai baca ya"
"Oma mana Dad?"
"Baru saja, Mommy antar ke kamar." ucap Ditha, langsung duduk di sebelah Maxime.
"Ekhm.. Ekhm.." deheman Abbellard, dan melirik Dhita dengan pandangannya, seolah berkata "Duduk di sebelahku, ngapain kau duduk dengan pemuda jomblo itu!"
Dhita yang mengerti arah pandangan Abbellard tersebut pun segera berpindah tempat, dan mencubit pelan pinggang suaminya.
"Cemburumu keterlaluan, sayang"
"Biar saja, sama istri sendiri" balas Abbellard, melirik Maxime yang jengah melihatnya.
"Dasar Bucin" desis Maxime membalas tatapan Daddynya.
"Yang penting ada yang Daddy bucinin, daripada seseorang sudah mau 19 tahun, belum punya seseorang yang bisa di bucinin" balasnya mengejek kembali putranya.
" Kalian kalau masih bertengkar, Mommy ke rumah Tigor aja ah" ucap Dhita pura-pura berdiri.
"Jangan" jawab Abbellard cepat
"Aku anterin Mom" balas Maxime
"Kau, berani mengantar Mommynya mu ke rumah Tigor?
Daddy jual cepat nanti mobilmu. Daddy pasang iklan" Beli mobil Free sopirnya!"
" Siapa sopir yang Daddy maksud? "
" Kamulah, siapa lagi?" ucap Abbellard tersenyum menyeringai, sedangkan Maxime kembali duduk tanpa membalas Daddynya. Biarlah mengalah pikirnya.
Dhita hanya geleng-geleng kepala saja mendengar ucapan Abbellard.
" Max, minggu sore kita kembali ke Paris ya. Oma masih Mommy bujuk supaya, mau ikut ke Paris. Kalian bantu bujuk Oma juga ya!" Dhita menjawab langsung pertanyaan Maxime sebelum ditanya. Sepertinya paham Maxime akan bertanya, Jika mereka pulang, Oma dengan siapa!
"Jill sudah tau Mom?
" Setelah bangun nanti Mommy kabari"
"Pokoknya sabtu sore kalian sudah harus siap-siap ya"
"Bawa yang penting saja, buah tangan untuk keluarga di Paris, sudah Mommy kirim hari ini terpisah"
"Jangan kau bawa lemari jati Oma, bisa jatuh pesawat kita nanti" celetuk Abbellard yang sudah gatal ingin menggoda putranya itu.
"Jangan kau bawa karpet Oma di kamarmu itu. Kita bukan Aladdin" gurau Abbellard lagi.
Maxime yang mulai kesal dengan gurauan Daddynya pun menyeringai.
"Kalau ini itu ga boleh di bawa, ya udah, Max bawa Om Tigor saja ke Paris, ya Mom?" balas Maxime yang langsung kabur ke luar rumah, daripada di lempar vas bunga oleh Daddynya.
"Maxx sini kauuu" teriak Abbellard mengejar Putranya itu.