
Abbellard dan Dhita baru saja tiba di kediaman Dika. Dengan tergesa-gesa, Dhita menarik tangan Abbellard, agar lebih cepat berjalan.
"Cepatlah sayang, waktu kita mepet ini. Aku belum touch up bedakku," ucap Dhita kembali menarik tangan Abbellard.
"Untuk apa, kau menebali wajahmu? Siapa yang mau kau goda disana? Abbellard menarik pelan tangannya, dan menghentikan langkahnya. Dia benar-benar tidak suka, istrinya tebar pesona begini.
"Ish, pasti untukmulah! Untuk siapa lagi?Kalau aku, cantik, kamu juga yang happy, right?" mencoba menarik Abbellard kembali, tapi tidak bisa. Suami posesifnya ini memang benar-benar luar biasa pencemburunya.
Melangkah sebentar ke hadapan suaminya. Dhita menangkup wajah Abbellard.
"Look at me!" perintah Dhita. Sejak menangkup wajah suaminya, bukan memandang padanya, Abbellard malah memandang ke arah lain
"Lihat aku! Atau aku akan melihat pria lain," ucap Dhita, berhasil membuat Abbellard menatapnya! Menatap marah!
Melihat suaminya yang sudah berubah raut, Dhita menghela nafasnya pelan, benar-benar menguras emosi, jika Abbellard sedang cemburu!
"Apa yang mau aku tebarkan dengan pria disana," Dhita menunjuk sekumpulan pria, yang sedang berpose dengan teman-temannya.
"Semua yang ada padaku, kan milikmu," Dhita melirik Abbellard yang tidak merespon.
"Jalan pendakian ini, milikmu" Jill menunjukkan leher jenjangnya.
"Merosot ke bawah, ada lokasi wisata di kelilingi kolam susu favoritmu," gurau Jill melirik suaminya, tetap diam saja tak meresponnya.
"Ke bawah lagi, ada lokasi tambangmu," kedip Dhita mencoba menggoda suaminya. Tapi tetap gagal. Abbellard tetap diam menatap datar.
"Baiklah kalau kau masih marah. Lebih baik aku mencari penambang baru saja," Dhita sengaja berlalu, menuju beberapa pria yang menatapnya tadi. Itu kenapa Abbellard cemburu dan emosi.
"Berani kau mendekati mereka," geram Abbellard tertahan. Namun segera stabil, saat Dhita berlari padanya dan memeluknya.
Cup, aku milik Abbellard
Cup, aku milik Abbellard
Cup, hanya Abbellard saja
Membuat pria berusia emas itu tersipu dengan tindakan dan ucapan istrinya. "Kau seperti anak ABG saja, kalau merona" Dhita mencubit gemas pipi Abbellard.
"Nanti malam, aku sepertinya tidak pulang, sayang?" Abbellard sengaja membalas istrinya.
"Kenapa? Kau mau kemana?Aku ikut!" protes Dhita menanggapi kalimat Abbellard.
"Tidak bisa, kau tidak sanggup, sayang. Hanya aku yang mengerti cara kerjanya," balas Abbellard menahan tawanya. Istrinya menggemaskan sekali, jika jiwa keponya muncul.
"Ish, aku tanya apa, kau jawab apa! Abbellard, kau mau kemana?!" tanya Dhita emosi dan memanggil nama suaminya tanpa embel-embel sayang di belakang namanya.
"Rahasia, sayang!" Abbellard.
"Abbellard!!!!!" geram Jill mencubit kuat lengan Abbellard. Mereka lupa, Vina mondar-mandiri di kamarnya, sedang menunggu paperbag yang ditenteng oleh Abbellard.
Abbellard terkekeh, tiba-tiba mendapatkan kecupan di pipinya. Dhita memang punya bakat luar biasa, untuk mengorek informasi.
"Kau masih belum mau mengatakan kemana tujuanmu nanti malam?" tanya Dhita berkacak pinggang.
"Jangan harap kau bisa minum.......," ucap Dhita menarik sedikit kerah gaunnya, menunjukkan sedikit area kolam susunya.
Abbellard terkesiap dengan ultimatum istrinya. Menggandeng tangan istrinya yang masih penasaran.
"Aku tidak kemana-mana sayang,hanya bercanda saja"
"Bercandamu keterlaluan!"
"Kalau gitu kasih bonus dong!" goda Abbellard.
"Enggak"
"Nambang ya ntar malam," rayu Abbellard berbisik.
"Dasar kuda tua" cibir Dhita.
"Ck, Kuda tua? tapi bisa buat kau meringkih kan?" gelak Abbellard, membuat beberapa tamu, melihat mereka.
Mengabaikan para tamu yang berbisik melihat kepo mereka berdua, Abbellard dan Dhita kembali berjalan menuju kerumunan tamu di rumah Dika. Mata Abbellard memicing, melihat dan mengenali seseorang yang tidak di sukainya.
"Ck, kenapa dia di sini sih? Bukannya baik-baik bertugas!" Abbellard menyerahkan paperbag tersebut pada istrinya. Dia akan mengurus, pria berpotongan rambut model buzz cut itu.
"Sayang, kau saja yang antar paperbag Vina ya, dia pasti sudah menunggu. Temani Vina dan koreksi masakannya," ucap Abbellard, membuat Dhita heran.
"Kenapa jadi masakan?" Dhita mengoreksi suaminya.
"Maksud aku koreksi penampilannya. Dia kan yang punya acara, harus perfect pastinya" Abbellard segera mengantar Dhita menuju tangga pertama ke arah lantai 2.
"Hati-hati naik tangganya. Cukup terjatuh di hatiku saja, di tangga jangan, sayang" Abbellard tersenyum menggoda istrinya, yang berhenti sebentar menatapnya, merona dan melanjutkan kakinya menapaki tiap tangga.
Berbalik dan menatap pria yang sedang berbincang dengan beberapa undangan di sana.
"Ck, Kalau kau bertugas menjaga negara, maka aku bertugas menjaga istriku"
Sebelum berhadapan dengan pria tersebut, memastikan dulu, pakaiannya tetap rapi, melangkah dengan tenang dan gagah.
"Entah kenapa, setiap melihatnya sangat kesal"
"Hai.. Abbellard," sapa seorang pria bertubuh tegap dan kekar tersebut, saat bersitatapan.
"Apa kabarmu, aduh aku senang sekali bisa bertemu denganmu disini," ucapnya lagi, maju ke arah Abbellard dan berjabat tangan dengan Abbellard.
"Kulihat tubuhmu semakin berisi saja," ucap Abbellard tak terima mantan rivalnya, lebih atletis daripada tubuhnya. Meraba sedikit gumpalan lemak di area perutnya yang sedikit menonjol.
"Ini bukan lemak, tapi rendang" batinnya menolak kenyataan kalau perutnya sedikit membuncit.
"Dasar rendang menyebalkan, menggoda iman saja!" keluh Abbellard pelan tak bersuara.
"Iya Abbellard, sudah tua begini, sudah malas berolahraga," ucap Tigor merendah. Sebaliknya, semakin tua, semakin rajin dia berolahraga.
"Kau menyindirku?" entah kenapa apapun kalimat baik yang di ucapkan Tigor semua salah di pendengaran Abbellard. Ya pria di depan Abbellard, Tigor, mantan rivalnya dulu, memperebutkan Jill, versi Abbellard.
Padahal hanya salah paham saja. Tigor sejak dulu menyukai teman sekelasnya Dhita, bukan Dhita. Rumah Dhita dan Tigor yang saling berhadapan, membuat mereka sering terlihat berduaan.
Disangka pacaran oleh sekitarnya, padahal Tigor sedang curhat dan minta saran pada Dhita, bagaimana cara mendekati temannya tersebut.
Dari awal Tigor dan Dhita sudah berkomitmen untuk menjaga persahabatan mereka, walaupun kedua orangtuanya memintanya melamar Dhita setelah lulus SMA, saat mereka berdua masih SMP. Sepertinya mewaspadai mereka agar tidak punya gebetan selama sekolah.
Tigor dan Dhita hanya mengiyakan saja. Mereka berharap sejalannya waktu, orang tua mereka akan lupa. Ternyata tidak!
Saat Dhita dilamar Abbellard, Bu Rima, ibu Dhita menelpon keluarganya, menyampaikan kabar tersebut, dan meminta keluarganya melamar juga, agar bisa menolak lamaran Abbellard.
Karena bu Rima tidak mengenal Abbellard dan tidak mau di tinggal jauh putrinya ke luar negeri, jika mereka menikah.
Masa pelatihan menyelamatkan pertemanan Tigor dan Dhita. Tigor sengaja menolak, karena masa pelatihannya sebagai prajurit baru saja di mulai.
Sangat dekat dengan Dhita, wajar, mereka, tumbuh bersama. Masa-masa kecil mereka dilalui dengan tangis, tawa, bertengkar, berbaikan dan bertengkar lagi.
Tigor tersenyum mengingat sekilas memorinya dengan Dhita.
"Tidak menyindirmu. Kenapa sensitif sekali?" balas Tigor. Dia sudah paham dengan karakter pencemburu suami sahabatnya. Dia pun begitu terhadap istrinya. Wajar, kalau pria di depannya ini sangat waspada.
"Kau sedang apa di sini? Bukannya bertugas, malah bergosip disini! Abbellard melangkah mengambil sebotol air mineral di dekatnya.
" Kau juga ngapain di sini? Bukannya bekerja menjalankan perusahaan, malah asyik mencoba menu Indonesia," Tigor balik menskakmat Abbellard, yang sedang mencoba beberapa kue tradisional Indonesia di sekitarnya.
"Cih, aku orang yang sangat sopan. Di tawari makanan, pasti kumakan. Tak baik menolak rejeki," balas Abbellard mencoba membuka daun pisang yang menutupi kue bugis, favorit Maxime.
Mendengar itu, Tigor terkekeh. Benar-benar tidak berubah dari dulu. Sudah 19 tak bertemu, masih saja bersikap seperti itu.
"Kau tidak mau?" tawar Abbellard berbasa-basi. Jika diminta, pasti dia akan katakan "sana ambil sendiri!"
Tigor menggelengkan kepalanya, pertanda tidak. Bukannya tidak suka, tapi dia sudah mencicipi beberapa kue di sini sebelum bertemu Abbellard.
"Kenapa tidak mau? Kulihat kelingkingmu masih saja kurus. Sepertinya pembagian gizi di tubuhmu tidak adil," ucap Abbellard merelakan satu kue bugis terakhirnya, dia berikan pada Tigor.
"Kali ini saja dia berbaik hati. Aku kan memang dermawan!" puji Abbellard pada dirinya sendiri.
"Terima kasih Abbellard," ucap Tigor, menerima kue tersebut. Dia tidak mempermasalahkan intonasi suara Abbellard padanya. Tigor tahu, pada dasarnya, Abbellard pria yang sangat baik.
Membalas sikap ketus Abbellard dengan sikap sopan, menunjukkan jati dirinya sebagai warga negara Indonesia yang sopan dan ramah, terlebih statusnya sebagai abdi negara.
Tigor ingin sekali bertanya dimana Dhita. Tapi takut pawang sahabatnya ini mengamuk. Padahal jika bertemu Dhita, pasti dia bertemu dengan keponakan-keponakannya yang tampan dan cantik tersebut. Dia sudah rindu belasan tahun tidak bertemu ponakannya tersebut.
Sejak Abbellard di depannya, Tigor sudah mengedarkan pandangannya. Mereka bertiga tidak masuk radar bola matanya.
"Kenapa kau lihat aku?" tanya Abbellard tajam.
"Jangan sampai kau naksir aku ya? Maaf aku sudah lama sold out!" jawab Abbellard, membuka kembali satu kue berbungkus daun. Mencoba dan mengendus aromanya. Ini kue apa nasi?
Mengamati sebentar kue lemper tersebut, dan memasukkan ke dalam mulutnya.
Enak, enak, enak..
"Kaya ada ayam-ayamnya gitu" gumam Abbellard membuat Tigor tertawa.
"Tigor, kau Tigor?" tanya Dhita setengah teriak menatap tak percaya, sahabatnya datang ke acara lamaran Kinanti, anak sahabatnya.
Abbellard segera berdiri "Stop!"