One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 21



"Beib, kau datang?" Kinanti yang melihat Marchell datang pun langsung menghampiri. Ini pertama kalinya, Marchell mau mengunjungi rumah Omanya.


"Hm, apa kabar mu?" tanya Marchell sambil berjalan bersisian dengan Kinanti.


"Aku baik! Ayo, masuk ke dalam, aku perkenalkan kau sama keluarga besarku. Kebetulan keluargaku sedang berlibur di Jakarta" ucap Kinanti bersemangat. Marchell mengerutkan dahinya.


"Mereka dari Paris" jawab Kinanti sebelum Marchell bertanya. Sepertinya Kinanti paham, arti kerutan di wajah Marchell


Menemui keluarga besar, ini pertama kalinya bagi Marchell. Sebelumnya dia hanya berkenalan dengan papa dan Mama Kinanti saja. Dan pernah sekali saja bertemu dengan Oma Rima, saat mengantar pulang Kinanti. Tapi tidak masuk ke dalam rumah, karena sudah larut.


"Selamat sore Oma, Om dan tante, perkenalkan saya Marchell", Marchell langsung memperkenalkan diri sebelum ditanya keluarga Kinanti. Abbellard, Oma dan Dhita langsung menengok ke arah suara seseorang yang sedang memperkenalkan dirinya.


Oma yang melihat Marchell pun tersenyum.


"Duduklah" ucap Oma tersenyum.


Abbellard dan Dhita hanya memandang sekilas lalu melanjutkan memakan puding buah buatan Kinanti. Meletakkan piring puding dan melap bibirnya dengan tissue, Dhita memandang Marchell.


"Ini temannya Kinanti, ya? Seperti biasa, jiwa kepo Dhita muncul.


"Bukan tante, kekasih Kinanti" jawab Kinanti tersipu, memperkenalkan Marchell sebagai kekasih kepada keluarganya, adalah impiannya.


"Wah, Kinanti diam-diam sudah punya Kekasih. Beda sama anak-anak tante di ujung sana" tunjuk Dhita ke arah seorang pria yang sedang asyik memainkan game-nya.


"Kekasihnya, hanya ponselnya saja, Ck". Maxime yang merasa di sindir pun biasa saja. Dia sudah kebal dengan sindiran Mommynya. Sedangkan Marchell sejak duduk, mengedarkan bola matanya mencari sosok Jill. Dan itu tidak lepas dari pandangan Abbellard


" Kuliah?"


" iya tante"


" Kerja?"


" Iya, tante!


" Kau sedang mencari siapa? kali ini bukan Dhita yang bertanya, tapi Abbellard. Mereka melihat ke arah Abbellard. Aneh, kenapa Abbellard berkata seperti itu! Batin Dhita.


"Aku tidak mencari siapa-siapa Om. Hanya melihat foto keluarga di depan sana. Yang bergaun merah itu siapa, Om? ucap Abbellard mengalihkan pembicaraan.


Mereka menatap arah tunjuk Marchell ke arah foto keluarga besar.


" Itu Kinanti menjelang lulus SD. Di sebelahnya Maxime, dan di sebelah Maxime, Jill, putri kami" ucap Dhita memeluk Abbellard.


Dia muncul dari balik selimut di sebelah Maxime.


"Kau kenapa tidur di situ, Jill" tanya Marchell membuat keluarga Abbellard bingung. Maxime menghentikan gamenya dan menatap Marchell intens. Tadi dia asyik memainkan gamenya dan tidak mendengar perkenalan Marchell karena menggunakan headphone.


"Kau siapa? Melarang Jill tidur di sampingku? ucap Maxime dingin menatap Marchell.


Melihat itu, ingin sekali rasanya Marchell menarik Jill, pulang ke apartemennya. Namun mengingat janjinya pada Jill, agar tidak menyapanya saat ada keluarga besarnya, Marchell pun menahan emosinya.


"Kau mengenal Jill?" Maxime kembali bertanya. Jika berkaitan dengan Jill dia akan lebih dulu bertindak, dengan atau tanpa persetujuan Daddynya.


"Aku pernah di kenalkan Kinanti" balas Marchell yang mendapat anggukan dari Kinanti.


"Kau mengenalnya, Jill?" suara Maxime yang dingin saat berbicara dengan Marchell, tiba-tiba terdengar lembut saat bicara dengan Jill.


"Aku lupa! Beberapa hari ini banyak pria yang kutemui" ucap Jill tanpa menatap Marchell.


Marchell yang mendengar Jill tidak mengenalnya, mengepalkan tangannya. Dan memandang Jill tajam. Aku berharap benihku tumbuh, dan melihat, bagaimana cara kau menyangkal, tidak mengenalku, Jill!! ucap Marchell dalam sorot matanya saat pandangan mereka bertemu.


Maxime ingin mengungkit kembali masalah Marchell yang marah saat tidur di sebelahnya. Namun tertahan dengan suara Jill.


"Max, aku ngantuk sekali. Tolong peluk aku tidur" ucap Jill sambil menguap dengan kedua telapak tangan menutupi uapannya.


"Kau mau lanjut tidur di sini? Atau aku gendong ke kamar?" tanya Maxime mengelus kembarannya.


"Disini saja, Max. Aku malas turun lagi, saat makan malam. Tolong bangunkan aku yaa, untuk makan malam" ucap Jill pelan, hingga akhirnya terlelap.


Tanpa melihat Marchell kembali, Maxime merapikan bed cover Jill. Tadi saat Jill pulang dan langsung duduk di di sebelahnya dan terpulas. Maxime langsung ke kamar dan mengambil bed cover untuk Jill.


Maxime naik ke bale-bale jati berlapis kasur tersebut. Membawa Jill ke dalam pelukannya.


Sedangkan di belakang Maxime, Marchell menahan emosinya, melihat bagaimana Jill begitu nyaman di pelukan pria lain. Kau keterlaluan Jill, bisa-bisanya kau tidur di pelukan pria lain, selain aku!


Emosi yang menguasainya, membuat Marchell lupa, Maxime saudara kandung Jill.


Mundur perlahan setelah izin, Marchell meluapkan emosinya dengan menambah kecepatan mobilnya.


Jill, kau keterlaluan!!!