One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 25



Marchell yang di liputi rasa cemburu pun mendekati Jill dan menarik Jill ke belakang tubuhnya.


"Berani sekali, kau sentuh dia!"


Marchell melangkah dan berdiri di depan rivalnya, Tommy, lalu mendorongnya mundur dengan telunjuknya.


Mengambil tissue basah berukuran mini di saku jasnya.


"Bagian mana, tadi yang dia sentuh?" tanya Marchell lalu menghapus beberapa area yang tadi di sentuh Tommy, sepenglihatan dia.


"Apa yang kau lakukan?" sungut Jill saat Marchell mengecup daun telinganya.


"Tadi di juga menyentuhnya bagian ini kan?" Marchell menunjuk telinga Jill dengan telunjuknya.


Tommy menatap datar kedua pasangan di depannya. Rencana ke 3 pun muncul di benaknya sesaat.


Menarik kembali lengan Jill yang sedang di pegang oleh Marchell. Marchell mendelik Tommy, dan mengepalkan tangannya,


" Woow.. woow, sabar man!" seru Tommy menghindari pukulan Marchell, yang hampir saja mengenai hidung mancungnya.


"Kenapa dari dulu sifatmu selalu kasar? Tidak berubah sama sekali! gerutu Tommy terang-terangan di depan mantan sahabatnya itu.


Marchell terdiam dan menatap tangan Jill yang sedang erat di genggam oleh Tommy, emosinya memuncak.


" Lepaskan " Marchell maju ingin melepaskan genggaman tangan tersebut.


" Kenapa kau yang marah, aku menggandeng tangan kekasihku? jawab Tommy santai, menarik Jill kembali duduk di sebelahnya.


Jill yang tidak terima di sebut sebagai kekasihnya, berbalik dan memelintir tangan Tommy.


Tommy yang tidak siap mengelak, menjerit saat tangannya di pelintir kuat Jill. Gadis ini, kenapa sangat suka kekerasan!


Mengangkat ponselnya, dan tersenyum licik, " Sayang lepaskan tanganku, calon ibu mertuamu menelpon"


Mengangkat ponselnya dan menunjukkan foto hot Jill dan Marchell,agar Jill melihatnya.


Tommy tersenyum saat lengannya berangsur di lepaskan oleh Jill.


"Thank you sayang" goda Tommy menyentuh pipi Jill. Jill mundur selangkah saat Tommy ingin menyentuhnya.


"Sulit juga gadis ini didekati" batin Tommy, lalu dengan gerakan cepat, maju memeluk pinggang Jill, berbisik pelan sekali " Kau mau Kinanti tau tentang pengkhianatanmu? Menurutmu, bagaimana Kinanti mengatasinya? Jika bukan bunuh diri? Peluk aku cepat!" seringai Tommy, membuat Jill terpaku dengan ucapan Tommy dan tetap diam di posisinya, saat tangan Tommy menggenggamnya kembali. Meletakkan satu tangannya ke pinggang Tommy.


Kinanti bunuh diri? Tidak!


Marchell masih berdiri, menatap tidak percaya, melihat keduanya saling merangkul. Dan Jill-nya tidak menolak sama sekali.


" Benar dia kekasihmu, Jill?" tanya Marchell pelan namun sangat menusuk hati Jill. Jill tetap diam, pandangannya menunduk ke bawah. Entah apa yang di tatapnya.


"Benar kau berkencan dengannya?" tanya Marchell lagi setengah berteriak, sungguh dia menahan sangat, emosinya.


Jill tetap terdiam, sedangkan tangan Tommy semakin erat melingkar di pinggangnya.


Beberapa pengunjung Cafe berbisik dan menatap mereka. Tapi tidak ada satupun yang berani mendekat dan menasehati mereka.


"Jill, jawab aku Jill!!" Marchell benar-benar frustasi saat ini, berulang kali menjawab, gadis di depannya tetap mengunci bibirnya.


"Perjanjian kita bahkan belum genap sebulan sebelum menunggu kabar calon bayi kita, Jill" ucap Marchell bergetar. Baru pertama kali jatuh cinta, tapi sudah dipatahkan, sebelum berkembang.


"Jika pun jadi bayi, bukan milikmu, tapi milikku!" balas Tommy sengaja memanasi Marchell, makin memperkeruh situasi.


Bugh


Bugh


Bugh


Bugh


Jill yang melihat hal tersebut terisak, menatap Marchell yang sedang mengamuk


" Marchell.. ucap Jill bergetar.


Marchell menoleh dan berbalik ke arah Jill. Hatinya menghangat, ini pertama kalinya, Jill memanggil namanya.


Mendekati Jill, meninggalkan Tommy yang terduduk, Marchell menahan nafas menunggu kalimat Jill berikutnya.


" Kita tidak pernah ada apa-apa dan tidak akan menjadi apa-apa. Jangan luapkan amarahmu seperti itu. Pulanglah, biarkan aku bersama Tommy menyelesaikan masalah kami"


Mendengar kata " menyelesaikan masalah" dari Jill, Marchell tergugu. Dia salam paham! Menyangka masalah yang di maksud adalah hubungan Jill dan Tommy di belakangnya.


Pandangannya sendu menatap Jill. Tidak peduli dengan keadaan sekitar Coffee shop yang sedang menonton cinta segitiga mereka.


Tetap diam di posisinya, "Kau tahu Jill, barusan aku sangat bahagia mendengar kau memanggil namaku. Pertama kalinya Jill, kau panggil namaku. Tapi sebentar saja. Hati ku sakit mendengar kalimatmu yang selanjutnya, Jill"


"Apa aku seburuk itu Jill, sampai kau tega menghempaskan aku? Salahku dimana?Dimana Jill?!!!! teriak Marchell menendang Meja di sampingnya.


Jill terdiam menahan tangisnya. Sungguh dia ingin berlari dan memeluk Marchell yang sedang terluka. Hatinya pun sama terlukanya. Maafkan aku Marchell, ucap Jill dalam hati.


Sedangkan Tommy menatap puas adegan di depannya. Mencoba bangkit dan berjalan mendekati Jill.


"Pulanglah sana, bukannya kau sudah punya kekasih! Untuk apa kau mendekati kekasihku juga? Tommy mendekat dan langsung merangkul Jill kembali, mencoba menahan rasa sakit di wajahnya.


Tidak tahan, Marchell berbalik dan melangkah menuju pintu keluar Coffee shop


" Marchell" panggil Jill menghentikan langkah Marchell. Tidak ingin berbalik, hatinya tidak sekuat itu, melihat Jill bersama pria lain.


"Apa?" tanya Marchell datar.


"Tetaplah lamar Kinanti untukku" Marchell terpaku. Bagi mereka, hanya perasaan Kinanti saja yang harus di hargai, lalu siapa yang akan menghargai perasaannya.


Marchell berjalan lurus tanpa menjawab permintaan Jill.


"Aku membencimu, Jill!"


Melihat Marchell yang sudah pergi, Jill menatap nyalang pria di sebelahnya. Menghempaskan kasar tangan pria tersebut.


"Apa maksud mu mengatakan aku kekasihmu?!"


"Bukan apa-apa, hanya melihat responnya saja. See, hanya segitu saja perjuangannya padamu kan! ucap Tommy tersenyum puas.


Menatap Jill yang masih emosi padanya " Kalau kau mau jadi kekasihku juga boleh, aku tidak menolak kok" kedipnya genit pada Jill.


"Benarkah?" tanya Jill datar


"Iya"


"Kemarilah.." panggil Jill menggerakkan telunjuknya memanggil Tommy mendekat.


Bugh..


"Akh.. Ji..ll, apa ya ng ka u la ku kan? tanya Tommy terbata menahan sakit kembali di serang area vitalnya oleh Jill.


" Bukan apa-apa, aku hanya mau melihat responmu saja" ucap Jill membalas kalimat Tommy sebelumnya. Melangkah pergi meninggalkan Tommy yang bersimpuh menahan sakit di areanya,yang ditendang Jill dengan sangat kuat.