
Jill menoleh ke arah suara, Maxime berdiri di dekat pilar dan melipat tangannya.
"Siapa dia?" tanya Maxime.
"Bukan siapa-siapa Max," ucap Jill meraih lengan Maxime, dan menariknya jalan.
"Kau yang siapa? Kenapa bisa satu mobil dengan keluarga Jill!" Tommy menarik tangan Jill dari Maxime, agar bersisian dengannya. Memandang sengit calon rival di depannya. Tampan sih, tapi kere! Tommy memindai sejenak, penampilan pria di depannya. Pakaian sih keren, tapi kenapa numpang mobil? Cih, modal tampang doang ternyata!
"Menurut mu, bagaimana? Aku siapanya, Jill?" tanya Maxime yang awalnya tidak ingin meladeni Tommy.
"Sopirnya mungkin?" jawab Tommy acuh, dan mulai melingkarkan tangannya dipinggang Jill.
Maxime melihat tangan tersebut, menariknya kasar.
"Kau sentuh dia, hilang tanganmu," ucap Maxime refleks menarik kerah jas Tommy.
"Woo.. wooo, calm down Bro, kau hanya sopir Jill, berani sekali mengancamku!" sengit Tommy maju selangkah di depan Maxime.
"Max, abaikan dia! Ayo masuk ke dalam," ucap Jill merangkul Max. Setengah menarik Maxime agar segera beranjak.
Maxime tetap terdiam di tempatnya, walaupun Jill berusaha menariknya. Menatap tajam pria tengil di depannya.
"Kau coba dekati Jill sesenti saja, siap-siap saja kau!" Maxime mendorong Tommy dengan telunjuknya, hingga mundur beberapa langkah.
"Hei.. Lu bicara apaan sih?!" Sengit Tommy akhirnya tanpa sapaan formal.
"Kagak usah atur-atur Jill deh! Supir pakai setelan jas aja, belagu!" bisik Tommy beberapa centi dari Maxime.
"Jaga ucapan anda, Tuan," ucap Jill yang mulai marah dengan kalimat Tommy barusan, yang tertangkap gendang telinganya. Dia yang masih kesal dengan ulah Tommy tadi siang di Coffee shop, semakin emosi melihat tingkah Tommy barusan.
Tommy tersenyum manis pada Jill, saat Jill memanggilnya 'Tuan'. Menatap bola mata biru milik Jill, dressnya, tatanan rambutnya, semuanya dalam tatapannya.
"Perfect" batin Tommy.
"Aku suka panggilanmu tadi, sangat manis di telingaku," balas Tommy, maju selangkah, ingin mentoel sedikit pipi Jill. Gemas rasanya dirinya melihat Jill. Mengabaikan ancaman Maxime sebelumnya, agar tidak mendekati Jill.
"Tahan tanganmu!" geram Maxime, menatap nyalang Tommy. Jill menghela nafasnya, melihat situasi tamu kanan kiri, takut mereka mendengar. Untung posisi mereka masih di luar rumah.
Jill mundur, dan berpindah tempat di belakang Maxime. Mencoba menepuk-nepuk bahu Maxime agar menjaga emosinya.
Melihat kedekatan Maxime dan Jill, Tommy mulai cemas. Tambah lagi rivalnya, selain Marchell pikirnya. Rival? Sejak kapan? sejak tangannya di pelintir Jill tadi siang! Tommy jatuh cinta pada pelintiran pertama!
Satu rival saja, sulit baginya menyingkirkan. Apalagi tambah satu lagi. Bisa pendek umurnya!
"Apa kau menyelingkuhiku, Jill?" tanya Tommy dengan pedenya. Bodo amat! Toh tadi siang mereka juga sudah mengumbar hubungan mereka ke Marchell.
Mendengar kalimat Tommy, Jll terkejut! Langsung menatap Tommy "bohong"
Sedangkan Maxime tidak merespon apapun. Dia lebih percaya pada saudara kembarnya, ketimbang pria tidak jelas di depannya.
"Me? Pembohong?" Tommy tertawa sumbang. Gadis ini, benar-benar sulit di dekati ternyata.
"Jill" panggil mereka bersamaan. Bukan Tommy dan Maxime yang memanggil, tapi seseorang yang baru saja tiba di kediaman Kinanti.
Jill, Tommy dan Maxime menoleh ke asal suara panggilan itu. Sebuah lambaian tangan tertangkap dalam pupil mereka masing-masing.
"Siapa lagi itu Jill?" tanya Maxime datar namun tetap lekat memandang pria tersebut. Belum pulang ke Paris saja, sudah ada 2 predator mendekati kembarannya.
"Apa tidak cukup aku saja, Jill?" tanya Tommy tanpa memutuskan pandangan pada pria yang hampir tiba di depan Jil.
"Kau di sini juga Jill? tanya Bimo lebih dulu.
"Iya Bim, " balas Jill yang memangil dokter Bimo tanpa gelar di depannya sesuai permintaan Bimo.
"Kau kenal dengan keluarga calon?" tanya Bimo kembali, sedangkan Maxime masih menyimak interaksi mereka berdua.
"Kinanti sepupuku"
"Oiya? Kinanti juga teman SMA ku dulu" tawa Bimo, yang tak menyangka dunia sesempit ini.
"Cih, tawaranmu seakan untuk kami bertiga, tapi tangan mu terulur hanya untuk Jill saja!" Tommy memang sengaja menyindir pria yang baru saja datang, tapi langsung ingin membawa Jill-nya.
Bimo mengeryitkan dahinya menatap Tommy. Memangnya ada yang salah dengan tawarannya? Mengulurkan tangan pada seorang gadis, saat ingin masuk ke ruang acara, kan etika!
Gak mungkin dia mengulurkan tangan kepada sesama pria. Aneh pria ini!
"Maaf jika salah ucap," balas Bimo santai.
"Saya Bimo," ucap Bimo memperkenalkan diri.
"Saya Maxime," balas Maxime dan menjabat tangan Bimo. Walaupun dia tidak suka dengan pria yang mendekati adiknya, tapi orangtuanya selalu mengingatkan mereka tentang kesopanan.
"Tommy," balas Tommy singkat tanpa sudi menjabat tangan rivalnya.
"Anda mengenal Jill?" Maxime langsung ke intinya. Lalu memandang Jill yang terkesiap dengan pertanyaan kakaknya. Malu rasanya!
"Jill? Kebetulan pernah dua kali bertemu dalam situasi yang sama," jawab Bimo santai. Tidak masalah baginya, seseorang yang tidak dia kenal, melontarkan pertanyaan seperti itu.
"Dimana? Kapan?" Tommy mencecar Bimo.
"Rahasia!" kali ini Jill yang menjawab pertanyaan Tommy, agar tidak menjalar kemana-mana.
"Jill, biarkan pria ini menjawab!" balas Tommy sedikit sengit. Dia sedang sangat penasaran saat ini. Dadanya terasa sesak saat ini, mendapati ada 3 rivalnya saat ini. Belum terhitung, yang belum ketahuan olehnya.
"Jill banyak sekali penggemarmu!" sungut Tommy kesal, di dalam hati.
"Kau cerewet sekali," sindir Maxime melirik pria tengil depannya.
"Kenapa kau sewot sekali? Yang kutanya saja tidak komentar, kamu?!"
Tanpa menjawab pertanyaan Tommy, Max menggandeng langsung Jill menuju pintu masuk, langkah Maxime terhenti, saat merasa genggamannya terurai.
Menatap kesal penuh emosi, pria yang barusan dia ketahui bernama Tomcat!
"Ingin sekali ku remukkan tulangmu, sampai kau tak mampu berdiri! Tapi ini acara keluargaku, tak mungkin aku merusaknya. Jika kau tidak ada kepentingan dan hanya membuat onar saja, silakan pergi!" ucap Maxime geram.
Tommy mendengar usiran dari pria yang namanya seperti salah satu merk teflon koleksi ibunya, balik mengejek.
"Dasar teflon, cepat sekali panasnya! Aku hanya memegang tangan kekasihku, lalu kenapa kau emosi. Yang kupegang saja menikmatinya malah!" balas Tommy mengarahkan pandangan ke arah genggamannya, yang reflek di lepaskan Jill. Jill yang sedari tadi berusaha melepaskan tangannya tidak bisa, karena di genggam kuat Tommy.
"Coba katakan sekali lagu, siapa kekasihmu?" tanya Maxime melipat tangannya.
"Siapa lagi kalau bukan Jill!" balas Tommy tersenyum. Memandang dua reaksi pria yang terkejut, mendengar Jill kekasihnya. Ternyata mudah sekali, sekali timpuk, dua kepala yang benjol, batinnya Tommy senang.
Bimo terlihat tenang padahal sangat shock, gadis yang dia sukai sejak pandangan pertama, sudah ada yang punya! Tapi tetap menyimak, meski hati tercubit.
"Bermimpilah terus!" sindir Maxime lagi. Jika Daddynya melihat dia beradu mulut seperti ini, pasti sangat marah! Beruntung, setelah Daddy dan Mommynya menurunkan mereka di parkiran rumah, Tante Vina menelepon dan meminta tolong untuk mengambil paper kebayanya yang ketinggalan di Boutiquenya.
"Kekasihmu ya? Coba buktikan!"
Mendengar itu, Tommy mencoba merangkul Jill lebih mesra lagi, sedetik kemudian berteriak menahan sakit, kali ini lengannya di pelintir sangat kuat. Beberapa detik Jill menekannya, mendorong dan melepaskan Tommy kasar.
Bimo terkesiap melihatnya dan semakin menyukai gadis tersebut. Gadis tangguh!
"Kekasihmu ya?" ejek Maxime, mendekati Jill lalu merangkul Jill, mengecup lama dahi, saudara kembarnya.
Melepaskan kecupan di dahi Jill, Maxime menatap kemenangan pada Tommy "Jadi diantara kita, siapa kekasih Jill sesungguhnya?" tanya Maxime dengan nada mengejek Tommy yang mengepal kuat tangannya. Lalu Max merangkul Jill menuju rumah, tepatnya kamar Kinanti.
Tommy sangat emosi!
Bimo mematung!
Dan di sudut sana, seorang pria mengepalkan tangannya kuat.
"Banyak sekali priamu Jill!"