One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 36



"Kau, baik-baik saja Jill?" tanya Bimo memastikan kondisi Jill, yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Iya," ucap Jill mencoba tersenyum, tapi hatinya sangat sakit saat ini. Ternyata begini, sakitnya mencintai.


"Mau ikut aku ke rumah sakit?" tawar Bimo, takut saat dia tinggalkan Jill sendirian, berbuat yang aneh-aneh.


"Tidak, aku mau tidur saja."


"Kau terluka, sini aku obati dulu," ucap Jill mengambil tissue, dan membersihkan bibir Bimo.


Bimo mengikuti langkah Jill, duduk di depan Jill. Perlahan, menikmati secuil perhatian Jill padanya, Bimo tersenyum.


"Kenapa tersenyum?" tanya Jill menghentikan olesannya. Bimo terdiam sesaat, lalu terkekeh lagi.


"Baru kali ini ada seorang gadis mengobatiku. Sebelumnya teman-teman seprofesiku selalu bilang, mereka selalu deg-degan setiap kekasih mereka mengobati luka mereka. Ternyata benar ucapan mereka."


"Tapi, aku bukan kekasihmu," celetuk Jill, membuat Bimo terdiam. Mulut gadis ini, benar-benar ya!!


"Cih, siapa juga yang mau jadi kekasihmu!" balas Bimo tersenyum.


"Akh, akh, ishhh, kau sengaja ya menekan lukaku?!" seru Bimo berpura-pura sakit. Jill menjulurkan lidah, mendengar itu,lalu tertawa bersama.


"Ingat, setelah aku pergi, kau langsung saja tidur, jangan memikirkan apapun lagi. Okay?" pesan Bimo khawatir.


"Baiklah, besok kita jadi ke rumah sakit?" tanya Jill ragu.


"Tentu dong, mau aku jemput dimana?"


Jill terdiam, memutuskan akan menginap sampai besok atau pulang. Mengambil ponselnya, lalu menekan nomor Mommynya.


"Halo sayang, kau baik-baik saja?" tanya Dhita penasaran, di ikuti Abbellard yang menempel telinganya di pipi Dhita.


"Speakerkan!" pinta Abbellard, saat di usir Dhita.


"Baik Mom," jawab Jill tersenyum. Orangtua memang terbaik di dunia ini.


"Mom, Dad, boleh aku menginap satu malam di Hotel? Di rumah Om Dika sangat berisik, karena keluarga besar kita, menginap semua malam ini disana. Jill hanya ingin tidur pulas saja malam ini, Mom, Dad."


"Tidak, kau harus pulang, Daddy jemput!" tegas Abbellard, tidak terima putrinya sendirian di luar sana.


"Aktifkan videomu, Daddy mau tau kau sekarang dimana?" ucap Abbellard membuat Dhita terdiam. Untuk urusan menginap, memang sangat sulit meluluhkan hati suaminya ini. Bahkan saat, acara camping sekolah Max dan Jill, Abbellard juga mengikuti mereka camping.


Mengaktifkan videonya, Jill mengkode Bimo, agar pindah ke sebelah kiri dengan telunjuknya, agar tidak terlihat Daddy posesifnya.


"Kau, sudah di Hotel, sayang?" tanya Dhita memperhatikan suasana kamar Jill. Jill mengangguk, membenarkan ucapklan ibunya.


"Hotel mana? Daddy jemput!"


"Dad? Please, satu malam saja ya, Jill menginap," pinta Jill lagi.


"Tidak boleh!" jawab serentak Maxime dan Abbellard menatap Jill. Maxime yang barusan bergabung, heran dengan kelakuan Jill akhir-akhir ini.


Menarik nafasnya pelan, Abbellard menatap putri cantiknya itu.


"Sayang, kau lupa? Besok subuh, kami akan pulang ke Paris. Meninggalkanmu bersama Oma selama sebulan di Jakarta. Kau tahu, rasanya sangat berat untuk Daddy. Terus mau menginap, dan tidak mau memeluk Daddy, sebelum berangkat?" Abbellard menjelaskan dengan lembut, berharap putrinya berubah pikiran.


"Sorry Dad, aku lupa. Kalau begitu, tolong jemput Jill jam 07 malam ya Dad?"


"Dimana?" kali ini pertanyaan dari Maxime.


"Sunshine Continental Hotel," balas Jill.


"Aku jemput sekarang!" jawab Max langsung.


"Jam 07 malam Max, aku mau tidur sebentar!" Jill yang setengah emosi, melirik Bimo, yang sedari tadi melihat jamnya terus.


"Sampai ketemu jam 07 ya Dad, Max, Mom. Aku di kamar 1101. See you!" Menutup teleponnya,dan mengikuti Bimo ke arah Pintu kamar.


"Bimo, menjawab pertanyaanmu tadi, sebaiknya besok, bertemu di rumah sakit saja, bagaimana?"


"Kau dengar sendiri, besok pagi, keluargaku akan kembali ke Paris, dan akan ke Jakarta lagi, saat pernikahan Kinanti. Mungkin, aku akan langsung ke rumah sakit dari Bandara"


"Jangan langsung bertemu di rumah sakit, kau belum hapal kota ini. Besok aku jemput di Bandara saja, bagaimana?"


"Kau tidak lelah?"


"Itu nomorku, kabari aku, jam berapa keberangkatan Daddymu nanti." seraya berjalan dan membuka pintu kamar, lalu berpamitan dengan Jill


"Kau tidak ingin mencium tanganku?" kekeh Bimo, membuat Jill heran.


"Kau sudah seperti, istri mengantar pergi kerja suami soalnya," membuat Jill tersenyum. Bimo melambai, lalu Jill menutup pintu begitu Bimo melangkah.


Di tempat berbeda, Marchell yang masih emosi, meluapkan amarahnya dengan meninju samsak pasir sampai jebol.


Sudah 8 samsak hancur dibuatnya. Terduduk dan menatap lama, pasir samsak yang berceceran kemana-mana.


Berdiri, menuju kamar mandi, pandangannya dingin dan kosong. Patah hati, membuat hatinya beku. Menatap dingin, dirinya dalam pantulan kaca, meninju kuat kaca di depannya. Terdiam, menatap luka di tangannya, darah segar deras mengalir. Ternyata luka di tangannya, tak mampu, mengimbangi rasa sakit hatinya.


Menatap pesan Kinanti yang baru saja masuk ke ponsel.


..."Sayang, besok Om dan Tanteku, akan pulang ke Paris, fligt jam 03.35 pagi. Kau, bisa ikut mengantar mereka ke Bandara?"...


Tanpa menjawab, walaupun sudah membaca pesan, Marchell keluar kamar mandi menuju samsak lainnya.


"Dasar sampah! Berani sekali pergi!"


"Sampah!"


"Sampah!"


"Sampah!"


"Sampah!"


"Sampah!"


"Sampah!"


"Jangan berani pergi, sebelum ku balas!


Umpatnya, memaki dan memukul samsak terus-menerus.


Sedangkan Jill, bukannya tidur, malah menatap langit-lagi di atas.


Masih berpikir, bagaimana cara mengatakan kehamilannya pada Marchell, setelah kesalahpahaman tadi.


Bingung, cara menghadapi Daddy dan Maxime, kembarannya. Berjam-jam berpikir, sampai Jill tertidur tanpa sadar.


Dini hari, Jill terbangun karena rasa lapar. Kaget, saat membuka mata, Daddy, Mommy dan Maxime tidur berdempetan dengannya dalam satu kasur.


Jill menangis, melihat kehangatan keluarganya, rasa menyesal, kembali menyesakkan dadanya. Mencoba menahan isaknya, ternyata isaknya, tetap membangunkan Daddy dan Maxime, yang langsung memeluknya.


"Jangan menangis sayang, Daddy pasti jemput bulan depan," Jill semakin terisak, mendengar kalimat Abbellard, yang membuatnya semakin merasa bersalah.


"Atau kita pesan tiket untukmu sekarang, Jill?" tawar Maxime, berdiri dan memeluk kembarannya di sisi satunya lagi.


"Hm, bagaimana? Pulang sekarang bersama kami, sayang?" ulang Abbellard mengusap pipi Putrinya, dia juga sebenarnya tidak mau berpisah dengan putrinya. Tapi mertuanya yang meminta ditemani Jill.


"No Dad, Jill sudah janji menemani Oma pemulihan," ucapnya terisak.


"Jill nangis karena, tidak akan mendengar suara kalian sebulan ini. Nanti siapa yang akan mengomeli Jill disini," isak Jill menatap Abbellard.


"Siapa yang menguntit Jill nanti?" isak Jill menatap Maxime.


"Dan siapa yang membuat roti bakar kesukaan Jill," isaknya saat melihat, Mommynya bangun dan memeluknya.


Mereka berempat saling menguatkan dalam satu pelukan, isak Jill semakin kuat, saat dipeluk keluarganya. Menatap satu persatu keluarganya.


"Maafkan aku mengecewakan Daddy"


"Maafkan aku membuat malu, Mommy"


"Maafkan aku Max, tidak menjaga diri"


Maxime yang lebih duluan, melepas pelukan, melihat sorot mata yang berbeda dari kembarannya. Hatinya berkata, Jill sedang tidak baik-baik saja.


"Aku harus tetap di Jakarta!"