One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 22



Sudah sore, tapi langit tetap setia dengan cuacanya yang mendung dari pagi. Jill ke kamar dan mengambil sweaternya. Mengintip sebentar ke kamar saudara kembarnya, namun tidak ada, melangkah ke ruangan lainnya, "Max, kau di toilet?" Jill bertanya sambil mengetuk pintu toilet.


Tidak ada jawaban, gumam Jill. Kemana Max ya? Padahal aku ingin mengajaknya berjalan-jalan sebentar. Bosan sekali rasanya di rumah terus.


Jill keluar dari kamar Max, menuruni tangga dan mencari Ditha di penjuru rumah.


" Mommy juga ga ada di rumah. Apa aku tidur terlalu lama, sampai di tinggal?" ucap Jill yang mulai menangis. Entah kenapa akhir-akhir ini moodnya up down.


Ting!


Jill melihat pesan di ponselnya, mengusapnya langsung.


"Bersiaplah, temani aku memilih cincin untuk Kinanti. Sebentar lagi aku sampai"


Deg! Marchell akan melamar Kinanti?. Jill mencoba mengulang membawa pesan tersebut.


Bukannya, harusnya dia senang? Inikan pilihannya!


Jill berbalik dan berjalan lesu ke arah kamarnya, berganti dengan dress berwarna peach lalu mengambil sling bagnya.


Membuka pintu bertepatan dengan kedatangan Marchell di rumah Omanya.


"Bi Siti, aku keluar sebentar. Tolong sampaikan jika Mommy dan Oma pulang ya" ucap Jill saat melihat asisten Omanya di taman. Jill berjalan pelan dan melambai pada asisten rumah tangga Omanya.


"Kau mau membeli cincin, dimana? Aku tidak bisa lama-lama keluar rumah. Nanti Mom dan Dad akan khawatir mencariku".


"Sebentar saja, tidak sampai satu jam. Kita akan pilih di Mall dekat sini saja", Marchell mendatangi Jill, menggandengnya pelan, dan membuka pintu mobil untuk Jill.


"Thank you"


"Anything for you" balas Marchell dan menyalakan mobilnya, melaju turut bergabung dalam kemacetan ibukota Jakarta.


Memasuki salah satu Mall elite di Jakarta,Jill dan Marchell berjalan bersisian. Menaiki Lift menuju lantai 2, tempat penjual Berlian langganan keluarga Lawson.


"Pilihlah, cincin yang tepat dan menurutmu bagus", Marchell menarik pinggang Jill agar lebih dekat lagi dengannya.


Melihat Jill yang bingung menatap banyaknya pilihan cincin di jajaran etalase. Marchell terdiam, masih memperhatikan raut wajah Jill yang terlihat terbuai dengan kilauan berlian di depannya. "Kenapa dia terlihat santai memilih cincin untukku"


Jill yang sudah menentukan pilihannya, pada cincin berlian bermata satu, memegang tangan Marchell..


"Aku pilih yang ini" ucap Jill tanpa memandang Marchell.


Mengambil cincin pilihan Jill, Marchell memakaikan di jari manis Jill


" Jarimu cantik memakai cincin ini, Jill"


Jill menatap jarinya,tertegun. Benar, dia sangat cocok memakai ini. Mulai ragu melepasnya. Tidak, Marchell milik Kinanti! gumamnya kembali.


Melepaskan cincin itu kembali, dan mengembalikannya pada pegawai Toko


"Tolong di letakkan di kotaknya, Mba"


Marchell menatap Jill dengan kecewa. Dia pikir dengan mengajak Jill memilih cincin, Jill akan berubah pikiran. Dan akan berjuang bersamanya mendapatkan restu.


Menerima paper bag setelah melakukan pembayaran menggunakan black cardnya, Marchell menggandeng Jill, menggenggam tangan Jill erat, walaupun Jill menolak.


"Kau, ingin makan sesuatu?"


"Tidak, langsung pulang saja?"


"Tidak ingin membeli Macchiato kesukaanmu?"


"Darimana kau tahu, itu minuman kesukaanku?"


"Aku bahkan ingat berapa ukuran bramu" goda Marchell berusaha mencairkan suasana mereka.


Mendengar ucapan frontal Marchell, Jill menutup mulut Marchell dengan telapak tangannya. Melepaskan tangan Jill yang membekapnya, Marchell tersenyum,


"Akh, tadinya aku berharap kau bungkam dengan itu" kekeh Marchell menunjuk bibir Jill. Jill yang mendengarnya pun mencubit pelan lengan Marchell.


"Jadi tidak beli Macchiatonya?" tanya Jill mengingatkan kembali tujuan mereka. Bergerak mendahului pria yang sedang berjalan santai di depannya.


"Sini, jangan jauh-jauh dariku, takutnya kamu kangen nanti"


"Ga bakalan"


"Ga yakin aku? Buktinya sekarang tangan kamu erat banget, genggamannya" celetuk Marchell gemas.


Marchell menaikkan tangan mereka dan mengecupnya. Manisnya, bisik-bisik gadis yang terdengar samar oleh Jill.


Memegang pinggang Marchell reflek,dan menoleh ke sekumpulan gadis di belakang sana. Hati Marchell menghangat dengan perlakuan Jill.


Melepas genggamannya, dan berputar ke arah belakang Jill. Memeluk Jll dari belakang, membuat kumpulan gadis di belakang mereka menjerit.


"Kau lihat sayang, banyak kucing betina mengincarku, masa kau tidak?" ucap Marchell dengan nada sensualnya.


Mendengar hal tersebut, Jill terdiam, sungguh dia dilema. Maju bersama Marchell, banyak hati yang akan dia patahkan. Mundur, hati mereka berdua.


Jill menepuk tangan Marchell, seakan berkata semua akan baik-baik saja.


" Marchell? " sapa seorang wanita berusia, namun tetap terlihat sangat cantik di usianya sekarang.


"Ma.., Marchell terkejut dan melepas pelukannya pada Jill.


Tidak ingin calon mertua Kinanti berpikiran macam-macam, Jill mencoba menyapa lebih dulu.


"Selamat sore Nyonya Lawson, saya Jill, masih ingat saya?" tanya Jill menyapa Nyonya Lawson.


"Iya saya masih ingat" balas Nyonya Lawson lembut dan langsung pindah tatapan


"Marchell, kau belum jawab pertanyaan Mama, sedang apa kalian?!"


"Membeli Machiato, Ma"


Nyonya Lawson memandang coffee shop di depannya. Benar, mereka sedang di coffee shop, ya pasti sedang membeli coffee.


"Kenapa hanya berdua, sebelumnya kemana?"


"Membeli cincin, Nyonya"


"Panggil tante saja, Jill"


"Beli cincin buat siapa?"


"Buat Kinanti, Tante" balas Jill menunjukkan paper bag berlogo Toko berlian, dan logo tersebut sangat di kenal keluarga Lawson.


Kalimat Jill tadi, membuat Nyonya Lawson sangat senang dengan kabar tersebut.


Marchell menatap sendu Jill, ini di luar rencananya.


"Mama bahagia sekali, kamu akhirnya melamar Kinanti. Ah bahagianya" Nyonya Lawson maju dan memeluk putranya.


Jill yang melihat begitu bahagianya Nyonya Lawson tertunduk. Benar, keputusannya benar, mengembalikan Marchell pada Kinanti.


"Kenapa ajak Mama? Kenapa cuman kalian berdua?


"Kinanti sepupu saya, tante" ucap Jill menahan sendunya.


"Ya ampun Jill, Tante lega, kalau kamu, sepupu Jill. Tadinya, tante pikir kamu selingkuhannya Marchell. Maaf ya Jill, tante sudah salah paham sama kamu. Tante sudah benar-benar menyayangi Kinanti. Rasanya sangat sulit menerima gadis lain jadi mantu Tante"


Nyonya Lawson bergerak memeluk Jill. Jill yang dipeluk menahan isak, sungguh pedih rasanya di tolak langsung. Mengusap bulir air matanya yang merembes di ujung pelupuk matanya.


Memandang Marchell yang juga sedang menatapnya sendu.


"Jill pulang bersama tante ya.. Tante mau ngulik-ngulik tentang Kinanti sama kamu. Mau ya?"


"Terima kasih Tante, tapi mohon maaf, Jill harus pulang, takut Mom dan Dad cemas nyariin Jill"


Tidak mungkin dia kuat ikut ke rumah calon mertua Kinanti


Jika pulang larut, Mom, Dad, Kinanti, Maxime pasti akan bertanya, darimana dia, dimana dia dan Marchell bertemu.


"Yah, padahal tante mau ngobrol banyak sama kamu"


"Kapan-kapan Jill berkunjung Tante"


Beralih tatapan ke anaknya, Marchell, Nyonya Lawson mengambil tangan Marchell dan mengelusnya perlahan.


"Kapan rencana kamu melamar Kinanti, sayang?" tanya Nyonya Lawson memandang Marchell penuh harap.


Menatap Jill yang memalingkannya wajahnya, Marchell tau, Jill mencoba menahan perasaannya. Marchell menghembuskan nafasnya pelan.


"Belum tau Ma, nunggu waktu yang tepat saja"


"Pastinya?"


"Nanti Marchell kabari Mama ya?!"


"Kok gitu sih. Kalau kamu bimbang menentukan waktu, biar Mama yang tentukan saja, bagaimana?


Menatap Jill kembali, berharap gadis tersebut memberi dirinya signal untuk memperjuangkannya, tapi mustahil, Jill justru membalikkan tubuhnya.


" Terserah Mama saja" balas Marchell akhirnya.


"Oke, lusa ya" tawar Nyonya Lawson pada putranya.


Marchell tertegun mendengar waktu yang di tentukan Mamanya.


"Bukannya terlalu cepat ya Ma?"


"Justru tidak baik, menunda hal-hal baik seperti ini. Kamu tau sayang, justru Mama pengennya lusa kamu langsung nikah aja, gimana?


"Tunangan saja Ma" tolak Marchell cepat.


"Kenapa?


" Masih terlalu muda, kalau langsung menikah Ma" tolak Marchell. Kecuali di nikahkan sama Jill, detik itupun dia bersedia.


"Baiklah, nanti mama tanyakan pada Kinanti, apakah dia sudah siap nikah atau belum. Jika sudah siap, kalian langsung nikah saja sebulan setelah lamaran" balas Nyonya Lawson tersenyum, lalu menggandeng tangan Jill menuju salah satu restoran di Mall tersebut.


Nyonya Lawson tidak tau, jantung Jill seakan berhenti mendengar perkataannya barusan. Menikahkan Marchell bulan depan.


"No Ma Please" ucap Marchell pelan.