One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 7



"Jill, apa yang sedang kau pandangi, sayang?" tanya Mommy Ditha, sepeninggal tante Vina yang sudah di jemput oleh supir keluarga Om Dika.


Menoleh ke arah Mommynya, mendekat, lalu memeluknya. Jill, lalu memandang Omanya yang masih terlelap.


"Melihat kota ini Mom, Jill rasa tidak terlalu beda dengan Paris, penuh gemerlapnya lampu-lampu, Mom" jawab Jill melepaskan pelukannya.


"Kamu sendirian, Maxime mana?" tanya Ditha kembali. Saking asiknya melepas rindu ditambah gibah tak jelas, mengenang masa SMA mereka dulu, Ditha sampai lupa tentang anak kembarnya.


"Ish, Mommy terlalu asik sih ngobrolnya sama tante Vina. Sampai ga tau Maxime dimana. Maxime di kantin Mom" jawab Ditha kembali.


"Ngapain disana sendirian jam segini?" ucap Ditha melihat jam tangannya, sudah hampir jam sembilan malam.


"Menghabiskan rendangnya Mom. Tadi Jill beli saat keluar dengan Kinanti"


"Lalu Kinan, mana?"tanya Ditha sembari mengedarkan pandangannya,mencari sosok keponakannya, Kinanti.


" Perasaan Mommy, Kinanti ga pulang bareng sama tantemu deh, Jill" 


"Emang Mom, Kinan tadi Jill tinggal di Coffee Shop sana. Ga mau akh, jadi nyamuk sendirian" jawab Jill menuju sofa di sudut ruangan rawat inap Omanya. 


"Kenapa jadi nyamuk?" tanya Ditha kembali ingin tahu. 


"Mom, Kinanti tadi barengan sama pacarnya. Lah, masa aku mau lihat mereka mesra-mesraan, No way Mom!". 


Walaupun masih Single, dan belum pernah berpacaran, tapi dia tahu bagaimana orang berpacaran. Teman-teman di kelasnya dulu, selalu membahasnya secara berkelompok. Saling bertukar informasi tentang kegiatan yang mereka lakukan selama berpacaran dengan kekasihnya masing-masing. Ga berkelas banget, pikir Jill saat itu! 


Dia tahu sekelompok gadis tersebut, sebenarnya sedang memperolok dirinya yang mereka anggap tidak laku, walaupun predikat "Paling Cantik" melekat pada dirinya"


"Loh kenapa ga gabung aja, mana tau kekasihnya Kinanti punya teman yang masih single" ucap Ditha mulai menghasut Putrinya tersebut. 


Jill mendelik sebal ke arah Mommynya. Lagi-lagi, masalah kaum Adam, batin Jill. Melipat kedua tangan di dadanya, Jill mengalihkan pandangannya ke arah Omanya. Memperhatikan Omanya apakah tidurnya baik-baik saja. Atau sudah terbangun dan butuh sesuatu. 


Ditha yang juga sedang menatap Putrinya, menghela nafas. Sepertinya memang sulit memperkenalkan laki-laki kepada putrinya ini. Teringat akan obrolannya tadi dengan Vina, sahabatnya dulu di SMA. 


"Lusa ada reunian akbar di sekolah kita, Dit. Kebetulan banget kamu datang ke Jakarta. Ikutan ya?! Syaratnya, wajib membawa anak masing-masing. Itu ide ketua Osis kita dulu. Katanya, jangan hanya orangtuanya saja berteman, anak-anak juga, kalau perlu berjodoh!" ucap Vina ngakak tiba-tiba, yang memang satu tower dengan Ditha. Satu tower usil dan tukang ngakak!


Menatap kembali putrinya dan menimbang, apakah perlu dia ajak Jill atau Maxime saja, ya? 


Maxime lebih gampang berbaur! Beda dengan Jill yang langsung akan menyingkir dan menyendiri di sudut, pikir Ditha kembali. Ah, gini amat punya anak gadis!


Ditha memantapkan hati, toh mencoba bicara, tak apa-apa, pikirnya. 


"Jill sayang, hm.."jeda Ditha sebentar. 


" Tadi tante Vina bilang, sekolah Mommy mengadakan reuni akbar. Jill, ikut ya temenin Mommy" ucap Ditha halus dengan nada membujuk. 


"Ga ah Mom, Jill ga tertarik, ajak Maxime aja. Jill mau jaga Oma saja" tolak Jill halus. Apa kan gwa kata, dalam hati Ditha. Pasti nih anak nolak. Nyebelin, anak siapa sih?! ucap Ditha dalam hati.  


"Tadi Dokter bilang, Oma besok siang sudah boleh pulang. Semangat sembuhnya Oma luar biasa sejak liat cucu-cucunya. Besok tinggal nunggu visit terakhir Dokter saja sebelum pulang. Nanti, biar Maxime yang jaga nenek ya" ucap Ditha kembali membujuk. 


"Memang kapan reuniannya, Mom" ucap Jill memandang kembali Mommnya. Mempertimbangkan kembali, ikut atau tidak. Acara seperti itu, sama sekali bukan minatnya!


"Lusa sayang" ucap Ditha senang. Akhirnya putrinya mau menemaninya. Padahal Jill belum mengiyakan.


"Tapi aku ga punya gaun Mom untuk acara itu" ucap Jill, berharap dengan tidak adanya gaun bisa membatalkan niat Mommynya. Ada sesuatu pasti di balik ajakan Mommynya ini.


"Tenang sayang, tante Vina yang akan siapkan Gaun kamu. Kamu lupa, tante kamu kan punya Boutique di Jakarta. 


" Lusa siang kamu ke Boutique tante kamu aja langsung ya. Habis itu, langsung ke salon langganan tantemu ya. Nanti di antar supir tante. Ketemu sama Mommy di Boutique tante jam 18.30 ya sayang. Dari sana kita berangkat bersama. Okay" ucap Ditha menjelaskan panjang lebar. 


"Baiklah Mom" jawab Jill pasrah. Dia ga punya alasan apapun untuk menolak. Disini dia tidak punya kegiatan apapun selain liburan dan menemani Omanya. 


"Max help me" batin Jill yang sedari tadi menunggu Maxime datang menyelamatkannya, tapi tak kunjung datang juga. Rendang benar-benar membuat Maxime menikmati waktu makannya. Sampai sejam belum kelar juga, mengunyah rendang! 


"Baiklah, Jill kamu pulang saja bersama Maxime ya? Mom dan Dad yang akan menjaga Oma malam ini,sayang" ucap Ditha mengelus pipi putrinya. 


"Kamu pasti lelah, sayang" ucap Ditha lagi. 


"No, Mom! Biar Jill yang berjaga malam ini dengan Maxime, Mom! Kami sudah sepakat akan menjaga Oma malam ini, Mom" jelas Jill berdiri dan memeluk Mommynya dari belakang. 


"Jangan meremehkan kami yang masih muda ini, Mom. Urusan begadang,anak muda juaranya, Mom" ucap Jill mengedipkan sebelah matanya. 


"Pulanglah Mom, biar Jill telepon Daddy untuk menjemput, Mommy" ucap Jill kembali.


"Tidak usah telepon, Daddy disini bersamaku, Jill" jawab Maxime yang sudah berdiri di depan pintu. Kapan pintu itu terbuka, ucap Jill dalam hati, memandang ke arah pintu.


"Benar yang Jill katakan Mom, pulanglah dengan Daddy. Biar kami berdua yang menjaga Oma malam ini. Besok pagi, tolong bawakan pakaian kami, Mom. Aku lupa membawa pakaian ganti" ucap Maxime mengangkat ketiaknya dan mengendus aromanya.


"Selalu wangi, Mom" ucap Maxime dengan pedenya.


"Ish.. Uekkk, mual rasanya melihatmu mengendus seperti itu" ucap Jill mendelik kembarannya yang sedang terkekeh saat ini.


"Kau mau coba mengendusnya" tawar Maxime mendekati Jill


"Kau pikir aku si Tobi, Chihuahua kesayanganmu!", ucap Jill sambil mengibaskan tangannya mengusir mundur kembarannya.


Sedangkan Dhita dan Abellard, hanya tersenyum melihat tingkah kedua anak kembar non identiknya.


Meninggalkan Maxime yang terus saja menggoda Jill dengan aroma kaosnya, Dhita mundur beberapa langkah, lalu berputar arah ke ranjang pasien. Membetulkan selimut Ibu tercinta, mengecek suhu ruangan. Mengelus lembut helaian rambut putih ibunya.


"Bu, Dhita pulang dulu ya. Besok kami kembali ke sini lagi menjemput Ibu pulang",bisik Dhita lalu mencium keningnya dan mengambil tangan kanan ibunya, mencium tangan ibunya. Memandang sekilas tangan ibunya yang sudah berkerut. Kerutan-kerutan yang terbentuk karena perjuangan Ibunya memperjuangkan pendidikannya dan abangnya setelah papanya meninggal dunia.


"Bu, kami pulang dulu ya, Bu" ucap Abellard, mengambil tangan ibu mertuanya, untuk menyalimnya dengan sangat pelan. Takut Ibu mertuanya terbangun.


"Ayo, sayang kita pulang. Besok kita jemput Ibu pulang" ajak Abellard dan merangkul istrinya. Berjalan ke arah kedua anaknya.


"Besok, Mommy bawain sarapan ya, sayang. Mau Mommy masakin apa buat sarapan besok? tanya Dhita kepada Jill dan Maxime. Kedua anak kembarnya yang sudah terduduk karena lelah saling apit-mengapit.


" Roti Bakar, Mom" jawab Jill singkat.


Lalu Mommy Dhita memandang Maxime, menunggu jawabannya.


" Rendang Mom" jawab Maxime masih dengan suara yang ngos-ngosan,yang paham arti pandangan Mommynya.


"Cih, barusan kau makan rendang 10 potong, apa kau tak bosan?!" delik Jill bertanya pada Maxime, yang justru tersenyum mendengar ejekan saudaranya.


"Aku tak akan bosan dengan rendang, Sweetie" balas Maxime menggoda Jill dengan panggilan Sweetie-nya.


"Kalau perlu, aku buatkan syarat untuk jadi calon kekasihku nanti. Harus bisa masak rendang" kelakar Maxime, yang membuat Mommy dan Daddnya tersenyum. Berbeda dengan Jill yang mencebik lagi


"Kau pacari saja pemilik Rumah Makan Padang" Pagi sore" sana. Sudah jelas dia jago masak rendang, tak perlu lagi kau seleksi" jawab Jill yang membuat Maxime tertawa. Jill menyebutkan nama salah satu Rumah makan Padang langganan keluarganya, jika mereka ke Jakarta.


"Psst..." ucap Mommy Ditha, mengangkat jari telunjuk ke bibirnya.


"Suara kalian pelankan, ini rumah sakit, sudah malam, pasien sedang istirahat" imbuh Ditha lagi, seraya menggerakkan kepalanya ke arah kanan, arah tempat Ibunya terlelap.


"Ok Mom" jawab Maxime tanpa suara, hanya menggunakan isyarat jari saja.


"Mommy dan Daddy pulang duluan ya. Maxime, jaga adik dan Oma mu ya. Jangan bertengkar lagi. Nanti Oma bangun",ucap Abellard pelan menasehati.


"Ini Daddy bawakan Coffee kesukaan kalian. Cold Brew, Kesukaan Maxime dan Caramel Macchiato, kesukaan putri Daddy yang cantik" ucap Abellard sembari menyerahkan masing-masing 1 thumbler kepada anaknya. Thumbler yang dia beli saat memesan kopi di Coffee Shop berlogo Putri Duyung berekor ganda.


"Dan untuk istriku yang Cantik, Java Chip Frappucino" ucap Abellard mentoel pipi istrinya dan memberikan 1 thumbler lain untuk Dhita. Dhita yang memang mulai mengantuk, tersenyum menerima thumbler tersebut dan mulai menyeruput kopinya.


"Dan ini buat cemilan kalian malam ini" imbuh Abellard kembali meletakkan 2 kotak martabak di atas meja depan Maxime.


Maxime yang membaca nama Martabak Sinar Bulan Muara Karang pun tersenyum kepada Daddynya dan mengacungkan jempolnya.


"Daddy yang terbaik" ucap Maxime tersenyum. Ini adalah Martabak kesukaannya. Setiap ke Jakarta, pasti tak pernah absen untuk makan martabak ini.


" Ini Pizza buat Putri Daddy" ucap Abellard meletakkan 1 kotak Pizza Tuna kesukaan putrinya.


Dhita dan Abellard memeluk anak-anaknya. Lalu melangkah ke arah Pintu sambil melambaikan tangannya.


"Hati-hati di jalan Mom, Dad" seru si kembar bersamaan.