
Kinanti terdiam menatap salah satu pasien di depannya. Melihat dan membaca kembali nama pasien tersebut, Jason Prawira. Hanya memastikan, apakah benar, pria yang terbaring di depannya adalah Jason, teman masa kecilnya dulu.
Bukannya mereka sekeluarga di Papua? Kenapa sekarang ada di Surabaya? Apa Om Prawira pindah tugas lagi dari Papua ke Surabaya? batin Kinanti mencoba mengingat kembali tetangganya ini.
Mendekati pasien, Kinanti menatap Jason yang terbaring dengan beberapa selang di tubuhnya. Beberapa area di tubuh Jason juga tutupi perban.
"Sus, pasien kenapa belum sadar juga?" tanya Kinanti pada beberapa perawat yang baru saja masuk, sepertinya pergantian shift dari pagi ke sore.
"Pasien mengalami pendarahan otak. Sepertinya kepala pasien langsung berbenturan dengan aspal, saat kecelakaan terjadi" tutur Perawat berseragam putih tersebut.
"Berapa lama kira-kira pasien sadar, Sus?", tanya Kinanti lagi. Dia tidak bisa berlama-lama di Surabaya, harus segera kembali ke Jakarta. Kedatangannya murni hanya menjenguk teman masa kecil sampai remajanya.
Walaupun memang rumah Kinanti di Surabaya. Namun hanya papanya saja, yang menempati beberapa bulan ini, karena menangani CapAbellRD cabang Surabaya. Sedangkan Kinanti dan Mamanya di Jakarta, Event Wedding yang sedang di handle Mamanya secara maraton.
"Tergantung keinginan pasien untuk sembuh bu. Paling cepat 2-4 minggu,Bu" ucap Perawat kembali.
" Empat minggu, Sus?", Saya tidak bisa selama itu di Surabaya. Apa ada contact keluarga pasien lainnya, Sus? Yang bisa saya hubungi? ucap Kinanti mengatupkan kedua tangannya. Berharap pihak rumah sakit berbelas kasih memberikan info tentang pasien, walaupun Kinanti tau pasti tidak! Benar saja, perawat tersebut menggelengkan kepalanya.
"Polisi tidak menemukan ponsel pasien di lokasi kecelakaan Bu. Hanya dompet dan identitas pasien saja. Dan selembar foto anak perempuan berseragam merah putih bu"
"Di balik foto itu, ada no ponsel. Nomor itulah yang kami coba hubungi, dan ibu mengangkat" ucap Perawat bernama Indriani. Sudah 4 hari dia merawat pasien ini, pasien tanpa keluarga.
"Tidak ada petunjuk tentang keluarganya, Sus? Kinanti hanya ingin memastikan saja. Jika memang tidak ada, dia akan coba tanyakan pada Mamanya. Siapa tau masih menyimpan contact Keluarga Om Prawira
" Tidak ada Bu. Kami sudah cek alamat sesuai KTP pasien, namun rumah di alamat tersebut sudah sepuluh tahun kosong Bu" jelas perawat itu kembali.
"Baik, terima kasih Sus". Kinanti berjalan ke arah Pintu, menggeser pintu setelah perawat-perawat tersebut keluar, mengambil sebuah kursi. Duduk di sebelah sahabatnya.
"Kamu kenapa? Apa yang terjadi? Dimana Om dan tante sekarang? Kinanti bertanya sambil menatap Jason.
" Ah, baiknya aku tanyakan mama saja" monolog Kinanti, mengambil ponsel di sling bagnya. Berjalan ke luar lalu menutup pintu ruangan pasien.
Tidak langsung menelepon, tapi mengirimkan pesan lebih dulu ke mamanya. Kebiasaan yang dia sering lakukan sebelum menelepon mamanya.
"Ma, bisa Kinan telepon sebentar" isi pesan Kinan.
Ting"
"10 menit lagi Mama telepon ya, sayang. Mama keluar dulu, di sini sangat berisik"
Menarik napas lega, ternyata Mamanya tidak sedang meeting. Melihat jam di pergelangan tangannya, jam 21.30 wib.
Sudah malam!
Menghembus nafas kembali, "Apa aku harus menginap di sini?".
"Tapi, jika aku pulang dan menginap di Hotel, tidak ada yang menjaganya. Bagaimana jika malam ini Jason sadar"
Dilema! Kinanti dilema! Seolah-olah masalahnya dengan Marchell menguap begitu saja karena masalah Jason.
Drrrt.. Drrrt
...Mommy is calling...
Kinanti mengusap icon hijau di ponselnya, menerima panggilan Mamanya.
"Ya sayang? Apa ada masalah di Surabaya?" tanya Vina khawatir sesuatu terjadi pada putrinya
"Bukan Kinanti Ma. Mama ingat keluarga Om Prawira yang dulu tinggal di depan rumah Oma?"
"Iya, Mama ingat. Kenapa sayang?
"Kinan, kenapa tiba-tiba tanya hal itu? Om Prawira sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Setahun setelah tante Nindy meninggal karena kecelakaan tunggal di Papua. Membuat Kinanti terkejut atas ucapan Mamanya.
" Maaf Ma, Kinan benar-benar ga tau soal itu", Mendengar kabar kematian keluarga Om Prawira, Kinanti semakin bingung. Lalu bagaimana dengan Jason? Menimbang apakah sebaiknya memberitahukan Mamanya tentang Jason. Baiklah, kasih tau saja! Toh, Mama berteman baik dengan mendiang tante Nindy dan Om Wira.
"Ma, sahabat yang Kinanti temui di Surabaya, Jason Ma. Jason kecelakaan, dan mengalami pendarahan otak saat ini. Belum tau, kapan sadarnya. Tadi Perawat info ke Kinanti, kemungkinan masa sadarnya 2 sampai 4 minggu, bahkan lebih Ma", Kinanti menjelaskan secara detail, sesuai informasi yang di dapatnya.
"Ya Tuhan, kasihan sekali Jason"
"Iya Ma, Kinanti bingung siapa yang menemani Jason nantinya"
"Kinan, kamu temani dulu Jason 3 hari ini. Nanti Mama coba carikan perawat pribadi buat Jason ya" hanya itu saja yang terlintas di pikiran Vina saat ini. Dia terlalu kaget, mendengar anak laki-laki yang sering menjahili putrinya sedang berjuang sendirian.
"Bagaimanapun, Jason sudah mama anggap seperti anak mama sendiri. Dan keluarga mendiang Prawira juga banyak membantu kita, saat Mama merintis Boutique dulu"
"Baik Ma" Kinanti menjawab pasrah. Bukannya dia tak mau menjaga Jason, tapi aneh jika hanya mereka berdua dalam ruangan, meskipun Jason tertidur.
"Tapi kamu harus tetap istirahat yang cukup. Cari Hotel terdekat rumah sakit tersebut. Jangan lupa makan, sayang. Masalah ini, nanti Mama bicarakan dengan papa ya". ucap Vina menasehati putrinya. Entah kenapa akhir-akhir ini, dia melihat Kinanti kurang berselera makan, bahkan sering melamun.
Ketika dia bertanya, selalu baik-baik saja jawaban putrinya.
Menutup panggilan dari Mamanya, Kinanti kembali ke dalam ruangan beraroma obat tersebut. Berjalan ke arah sofa. Melihat kembali ponselnya, sudah 3 hari, tidak ada pesan masuk dari Marchell, kekasihnya.
Setidakpeduli itukah, Marchell padanya.
Berbeda dengan Kinanti yang saat ini bersedih karena kekasihnya, Vina kembali masuk dan bergabung dengan teman-teman sekolahnya dulu. Dia sangat senang, Putrinya baik-baik saja.
"Bara, masih kuliah?" korek Ditha yang terdengar geli di telinga Vina.
"Semester 4 tante" jawab pemuda berbaju kotak-kotak merah, yang sejak punya akta lahir, bernama Baratayudha Hadikusumo.
"Kok bisa sudah semester 4,padahal seumuran sama Jill" tanya Ditha lagi. Entah kenapa jiwa detektif dan mak comblangnya menjadi satu malam ini.
Ditha sudah berkeliling meja, menyapa teman-temannya. Modus pertama memang menyapa, selanjutnya mengorek dan menyeleksi calon mantu. Entah kenapa dari semua yang di seleksinya semua jago IT, jago Olahraga, juara Olimpiade. Tapi gada satupun yang bisa pijat, atau minimal ngerok kalo Abbellard masuk angin!
Dan Ini meja terakhir yang sedang Dhita kunjungi. Ada 2 pemuda yang belum dia interview.
"Bara ikut Akselerasi di SMP dan SMA loh, Dhita" ucapan Ningsih membuyarkan lamunannya.
"Aku aja ga nyangka punya anak sepintar ini loh" ucap Ningsih membuat Ditha mengangguk-angguk.
"Jill sepertinya juga sangat pintar, cantik banget lagi" puji Ningsih yang memang berharap Jill bisa melirik putranya. Walaupun Dhita tidak memperkenalkan diri sebagai istri pemilik CapAbellRD, tapi dia pernah melihat wajah Dhita dan suaminya di salah satu majalah bisnis dunia.
"Pintar ngadu ke Daddynya, sih iya" ucap Dhita dalam hati. Lalu melirik pria tampan di sebelah Jill. Dhita menelisik mereka berdua. Apa yang mereka bicarakan? Kapan saling mengenalnya? Tak apalah, mungkin pertanda baik, batin Ditha.
"Mommymu melihat ke kita. Mungkin belum pernah melihat pria setampan aku" ucap Marchell menggoda Jill disampingnya.
"Cih, wajah sepertimu di Perancis di obral di jalanan" Decih Jill berlalu meninggalkan meja, menuju toilet. Sesak rasanya menahan buang air kecil dari tadi.
Beberapa menit kemudian Marchell pun bergerak menyusul Jill. Marchell merasa tidak terima, dirinya disamakan dengan obralan di jalanan.
"Dhita, dimana Abbellard?" tanya Vina menghentikan Dhita yang hendak mengikuti Jill dan Marchell.
"Abbellard? Hehe, tadi dia sempat turun ke sini saat kau menerima panggilan. Kau tahu, semua teman-teman kita memandang Abbellard tak berkedip!" ucap Dhita kesal mengingatnya.
"Lalu, dimana dia, Aku tak melihatnya dari tadi?" tanya Vina melihat sekelilingnya. Tak ada Abbellard sini.
"Aku beri Obat tidur di jusnya, lalu aku antar ke kamar" kekeh Dhita. Vina hanya geleng-geleng kepala saja. Dasar jahil!