One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 17



Kinanti baru saja terbangun. Awalnya hanya duduk di sofa, lalu tertidur begitu saja. Gadis ayu itu, berjalan ke arah jendela dan membuka tirai jendela, ruang rawat inap di sebuah Rumah Sakit.


"Selamat pagi Jason, apakah tidurmu, nyeyak?" ucap Kinanti menyapa sahabat lamanya. Mengecek sebentar cairan infus yang tergantung.


"Sudah hampir habis cairannya" ucapnya pelan.


"Kau harusnya sudah sadar, tidak lelah tidur terus? Kalo kau tidak sadar hari ini, maka besok pagi aku akan kembali saja ke Jakarta" ucap Kinanti pelan,berharap Jason segera pulih.


Kinanti mengucek kedua matanya, menguap dan berjalan menuju toilet dalam kamar rawat inap Jason.


Hanya mencuci wajah dan menggosok gigi saja. Selesai, batin Kinanti.


Menyisir rambutnya, dan mengikat rambutnya yang terurai sejak kemarin.


"Semoga harimu menyenangkan hari ini, Kinanti" ucap Kinanti tersenyum menyemangati dirinya, lewat pantulan kaca.


Membiarkan beberapa peralatan mandinya, facial wash dan kosmetiknya, tersusun rapi di dekat kaca kamar mandi. Ya, Kinan sudah menyiapkan semua setelah dia menjenguk rumah sakit. Toh, Jason sudah tidak di ruang Icu lagi. Peralatan mandi tersebut sangat membantunya saat menjaga Jason di rumah sakit. Ya, Kinanti memutuskan untuk berjaga Full di Rumah sakit.


Berjalan ke luar kamar mandi, Kinanti menghampiri Jason.


"Jason, aku ke luar sebentar ya, cari sarapan, kau ingin di bawakan apa? tanya Kinanti basa basi menawarkan jasa titipan sarapannya.


" Baik-baiklah selama aku mencari sarapan ya" ucap Kinanti lagi, mengambil sling bagnya dan ponselnya.


Menggeser pintu ruangan Jason, Kinanti tersenyum, berjalan menyapa beberapa pasien yang sedang duduk di luar ruangan. Mungkin mereka jenuh!


Berbelok sebentar ke arah meja perawat.


"Sus, cairan infus pasien atas nama Jason sudah mulai habis. Tolong diganti ya, Sus" info Kinanti sopan.


Meninggalkan beberapa perawat yang mengangguk padanya.


Kinanti tetap berjalan lurus menuju gerbang rumah sakit. Dan melihat beberapa pedagang makanan di sepanjang jalan.


Kinanti berhenti di setiap pedagang yang berjejer rapi, mencari menu yang cocok di lidahnya. Dia bukan pemilih makanan. Dia dan papanya, bahkan sering berburu tempat makanan baru di manapun mereka tinggal, untuk mencoba menu mereka.


Melihat gerobak penjual bubur ayam di ujung jalan buntu, yang terlihat sangat ramai di pandangan Kinanti, ia memutuskan untuk sarapan bubur ayam saja.


"Bang bubur ayam lengkap, ga pakai kecap ya" ucap Kinanti, lalu membalikkan tubuhnya, mencari posisi duduknya.


Melihat sepasang Ibu dan anak yang sudah selesai sarapan, dan bergerak mundur, lalu memajukan kembali kursinya.


"Bang saya duduk di meja sana ya" Kinanti berpesan sambil menunjukan mejanya. Penjual bubur hanya tersenyum, mengangguk.


Menghampiri seorang pelayan wanita muda, dan menepuk pundaknya pelan.


"Mba, meja sana tolong dibersihkan ya" pinta Kinanti pelan dan sopan.


Bergegas si Mba tersebut, merapikan dan melap meja tersebut.


Mengambil ponselnya kembali, Kinanti mengulang kembali membaca pesan dari Marchell tadi malam.


"Ayo, kita menikah" ulangnya pelan.


Ini Marchell serius atau tidak, sih?!. Masa hal serius seperti ini via pesan WhatsApp? Kinanti berusaha mencerna apa maksud pesan Marchell.


Tadi malam, saat menerima pesan WhatsApp Marchell, Kinanti terdiam sesaat, sebelum akhirnya dia melompat-lompat kegirangan dengan pesan tersebut.


Lalu duduk di sofa, berharap Marchell segera menghubungi.


Lama menanti telepon dari Marchell, Kinanti terpulas tanpa dia sadari.


Mengaduk-aduk buburnya, Kinanti masih berperang dengan hati dan pikirannya. Marchell serius atau tidak?


Menyelesaikan bubur di mangkoknya hingga habis, lalu membayarnya. Kinanti berjalan-jalan sebentar ke taman di dekat rumah sakit tersebut.


Mengambil ponselnya kembali, lalu menekan nomor seseorang.


...Kinanti is calling...


Marchell membaca nama Kinanti di layar ponselnya.


"Kenapa waktunya tidak tepat" ucap Marchell dalam hati. Memandang ponsel dan memandang Jill yang juga sedang berbalik menatap benda pipih di tangannya.


"Angkatlah, aku tidak mau sepupuku, merasa sedih karena kau abaikan panggilannya" ucap Jill ingin berlalu dari kamarnya dan memberikan waktu pada mereka untuk berbicara.


"Halo Kinan?" ucap Marchell berbasa-basi, lalu menangkap lengan Jill agar tidak kemana-mana.


" Iya " jawab Marchell tanpa mendengarkan apa pertanyaan dari Kinanti. Bola matanya fokus melihat gerakan pelan dari bibirnya Jill. Mencoba menerka pesan yang ingin, Jill sampaikan padanya.


Dia menjawab" Iya" karena Jill mengatakan dengan gerakan pelan, jika kau sudah selesai, keluarlah"!


Mendengar jawaban Marchell, sungguh Kinanti sangat senang. Kinanti tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini.


Ingin berteriak, tapi takut dianggap tidak waras sama warga yang sedang joggimg di sekitarnya.


"Beib, aku tunggu kau melamarku secara resmi" ucap Kinanti bahagia


Menutup telepon dengan hati bahagia.


Sepanjang perjalanan menuju ruangan Jason, Kinanti bersenandung dengan riang.


Berbeda dengan Marchell yang tergugu, mendengar permintaan Kinanti, agar dia melamar Kinanti dengan resmi.


Bagaimana ini? Bukan ini yang dia mau. Tadinya Marchell ingin datang baik-baik dan menjelaskan ke Kinanti agar hubungan mereka diakhiri saja. Marchell tidak ingin menghambat jodoh Kinanti dengan bersamanya.


"Kau sengaja ya Jill mengucapkan kalimat pertama mu tadi, saat Kinanti meneleponku? tanya Marchell pelan.


" Tidak " jawab Jill benar adanya. Dia memang tidak tau apa isi percakapan mereka berdua.


Mendengar jawaban Jill, Marchell langsung tidak bersemangat.


"Jill, kau tahu, aku menjawab iya saat bertanya, dan Kinanti memintaku melamarnya secara resmi" ucap Marchell serius, memberitahu Jill percakapannya dengan Kinanti.


"Lamarlah Kinanti. Dia Gadis yang sangat baik. Bukankah dia juga sudah menemanimu selama ini? Anggap, kejadian semalam tidak pernah terjadi. Tolong jangan pernah menyapaku, saat kau melihatku bersama keluargaku" ucap Jill tegar.


Dia sadar diri, harus mengembalikan pria di depannya ini pada kekasihnya, Kinan.


Mereka bukan siapa-siapa sebelumnya. Jangan hanya karena kejadian semalam, merusak hubungan keluarga besarnya. Cukup dirinya saja yang rusak!


"Kau gila Jill" teriak Marchell marah. Tadinya dia berharap, dengan memberitahukan permintaan Kinanti, Jill akan berjuang bersamanya, untuk mendapat restu keluarganya! Tapi nyali Jill, sepertinya tidak sekuat itu.


" Keluarlah.. Sebentar lagi mungkin Daddyku datang. Aku tidak mau Daddyku, memergoki ku seruangan dengan pria yang bukan siapa-siapa ku!" seru Jill mengibaskan tangannya.


"Apa kau tidak menyesal melepaskanku?" tanya Marchell kembali.


Walaupun mereka tidak terikat, masa gadis ini tidak merasakan apapun setelah penyatuan mereka. Dia saja masih mengingat dengan jelas detailnya.


" Never..!" tegas Jill.


" Yakin, kau sudah benar-benar yakin?


" Yes! "


" Bagaimana kalau kau hamil? Aku tidak menggunakan pengaman apapun tadi malam!


"Aku akan menggugurkannya segera tanpa kau tahu!"


Jill hanya asal bicara agar Marchell pergi. Dia mana mungkin tega membunuh darah dagingnya, walaupun dunia tidak menerimanya.


"Kau tega? Dia darah dagingmu! Seru Marchell tak terima.


Padahal belum tentu penyatuan mereka semalam mengasilkan benih.


"Jika itu anakmu, iya, aku gugurkan" ucap Jill mengalihkan pandangannya dari Marchell.


Sungguh dia tak tega melihat raut Marchell saat ini.


Kenapa di usia belia seperti ini, dia terlihat sangat dewasa, ucap Jill dalam hati.


"Baik.. Aku akan melamar Kinanti segera, sesuai keinginanmu. Tapi kau harus tetap di Jakarta selama 1 bulan ini. Akan kupastikan dulu, kau hamil anakku atau tidak!. Jika kau tidak hamil, aku akan segera menikahi Kinanti di hadapanmu, biar kau puas, Jill!"


"Jika kau hamil anakku, jangan coba-coba lepas dari pandanganku. Jangan pernah sedetikpun memikirkan cara untuk menyingkirkannya" ucap Marchell menahan emosinya, menghadapi gadis angkuh di depannya saat ini.


"One month in Jakarta?"


"Yes!"


"Siapa takut?! jawab Jill langsung!


Membungkam Marchell yang langsung keluar dengan emosinya.