
Nyonya Lawson sangat sibuk dua hari ini mempersiapkan beberapa barang hantaran lamaran. Mengecek satu persatu barang yang sudah tersusun rapi di depannya, sebelum keluarga Lawson menuju kediaman Kinanti.
"Apa yang kurang ya?" ucap memeriksa kembali susunan barang-barang tersebut.
"Ah iya, kurang calonnya aja ternyata" senyumnya melirik arah kamar putranya saat ini.
"Lama sekali dia Mandi. Apa terlalu gugup ya? Sampai semua daki jadi sasarannya"
Meletakkan kembali barang yang dipegangnya, Nyonya Lawson beralih menuju kamar Putranya.
"Sayang, sudah selesai? Mama sudah siap berangkat. Ayo cepatlah!" ucap Nyonya Lawson sedikit berteriak.
" Mama tunggu di mobil ya?!" imbuhnya lagi dan mulai menuruni beberapa tangga di rumahnya.
Nyonya Lawson mengambil ponselnya, mencari nomor seseorang di daftar kontaknya.
" Halo..?" sapa Vina di tempat berbeda.
" Kami akan berangkat kesana ya. Tunggu kami Vin. Ah, Akhirnya kita besanan juga ya Vin" ucap Nyonya Lawson bahagia dan di balas tawa oleh sahabatnya. Sebelum pembicaraan mereka mengarah kemana-mana, Vina dengan segera menyudahi percakapan mereka.
Mengakhiri panggilannya, Nyonya Lawson menatap kembali jendela kamar anaknya dari dalam mobil.
Kenapa belum turun juga? Sudah 20 menit berlalu. Akh anak ini, tumben lambat sekali.
Di mobil Nyonya Lawson sedang kesal menanti putranya yang tak kunjung turun
Yang di tunggu malah duduk termenung di atas karpet. Menelungkupkan kepalanya di atas kedua lututnya.
"Kenapa jadi begini, Jill" desisnya pelan.
"Kenapa tidak mau jujur saja"
Marchell terluka atas foto Jill yang beberapa jam lalu dia terima, dari orang suruhannya.
Setelah kejadian malam itu, Marchell khawatir Jill akan kabur dari perjanjian mereka dan menempatkan dua orang penjaga bayangan di sekitar Jill.
Menerima foto, Jill duduk bersama rivalnya, Tommy. Dia jadi uring-uringan sendiri, dan menunda meeting yang telah di jadwalkan Personal Assistant sementaranya.
"Ada dengan Jill, kenapa bisa sedekat itu dengan Tommy? Mulai kapan mereka dekat?" sungutnya sambil melemparkan ponselnya. Membuat kaget, para peserta rapat, terutama salah satu manager area yang sedang presentasi.
"Kita reschedule meeting lusa" ucap Marchell menatap peserta meetingnya.
"Kau sesuaikan meeting lusa sesuai schedule ku yang masih available" Marchell melirik, membuat Personal Assistant tersebut gugup. Buru-buru mengecek schedule bossnya tersebut.
Marchell pun bergegas keluar dari ruang meeting,meninggalkan peserta meeting yang bingung karena kepergiannya.
Setengah berlari, Marchell mengambil kunci mobil di ruangannya. Hatinya benar-benar gelisah,melihat foto Jill dengan Tommy.
Pagi tadi, benar Jill menerima panggilan masuk dari nomor tidak di kenal ke ponselnya. Tidak ada niat Jill, sama sekali untuk mengangkat panggilan tersebut.
Hatinya masih hampa mendengar lamaran Marchell hari ini.
Ting!
Ragu untuk membuka pesan, penasaran, akhirnya Jill usap juga ponselnya untuk membuka pesan.
"Temui aku di Olive Cafe jam 10.00 wib di Jalan Nugraha. Kau harus datang, atau foto ini akan aku sebar ke keluarga besarmu"
Deg
Deg
Jil terpaku menerima beberapa foto dari orang yang tidak dia kenal. Kenapa dia punya foto ini? Dia melihat foto dirinya saat terlelap bersama Marchell. Tidak ingin foto ini tersebar, Jill segera bergegas menuju Cafe yang di maksud.
Tidak mengenali siapa pengirim pesan padanya. Bagaimana bentuknya, posturnya, disinilah Jill berada,duduk di sayap kiri Cafe Olivia dan selalu menatap setiap orang yang masuk ke pintu Cafe Olivia.
"Orang ini mengerjaiku" desis Jill kesal, menatap jam ditangannya menunjukkan pukul 11 siang.
Jill berdiri, ingin pulang,...
Ting!
Mengambil ponselnya dan melihat nomor seseorang yang tiga jam lalu juga mengirimnya pesan.
"Jangan coba-coba pergi, Jill. Berbaliklah, aku di belakangmu. Kau harus mengenaliku lebih dulu. Itu tugas pertamamu"
Jill memutar tubuhnya, setelah membaca pesan tersebut. Memandang setiap tamu di setiap meja, melihat beberapa pria di belakangnya. Ada belasan pria juga menatapnya balik! Lalu pria yang mana? Mencoba menatap satu persatu pria tersebut. Siapa tau ada yang melambaikan tangan padanya.
Jill berbalik penuh, dan maju beberapa langkah ke meja paling ujung dari posisinya saat ini
"Kau Tommy, kan? Kita sepertinya sudah pernah bertemu saat reunian orangtua kita" Jill tetap berdiri, tanpa berniat mengambil posisi duduk di depan pria itu.
"Kau yang mengirimku pesan?" tanya Jill kembali menatap pria yang saat ini santai menyeruput kopinya. Entah kenapa, Jill merasa pria ini memang mengirimkannya pesan. Buktinya dia tidak terkejut melihat Jill berdiri di depannya.
"Atau kau lebih suka aku pangku?" tawar Tommy meletakkan cangkir kopinya, dan menepuk-nepuk pahanya.
"Cih, dalam mimpimu!" desis Jill. Mengambil kursi dan mengambil jarak dengan Tommy.
"Apa tujuan pesanmu?" Jill mengangkat ponselnya dan menunjuk pesan yang dimaksud.
"Kau tidak sabaran sekali. Minum dulu, kita bisa ngobrol santai dulu, kenapa harus langsung ke topik utama?" ucap Tommy, melipat kedua tangan di dadanya, dan menaikkan salah satu kakinya.
"Aku tidak suka basa-basi, katakan, apa maumu. Kita tidak punya masalah apapun, kenapa mengancamku?" desis Jill kesal, dan mengikuti Tommy melipat kedua tangannya.
"Aku tidak ada masalah denganmu. Tapi dengan teman One stand night-mu" ucap Tommy sengaja berdiri, sedikit mencondongkan tubuhnya, dan mendekati Jill, memperjelas kata "One Stand Night".
Jill mendelik dan menendang tulang kering Tommy. Tapi tidak kena, karena Tommy refleks menghindar.
"Calm down baby, jangan main kasar di sini! Kalau mau main kasar nanti di ranjang saja" Tommy menaikkan alisnya dan tersenyum melihat Jill yang menatapnya kesal.
"Atau kau mau langsung ke Hotel saja?" tawar Tommy kembali, lalu menyeruput kopinya kembali.
"Dalam mimpimu!" ucap Jill yang kali ini berhasil menendang area segitiga bermuda Tommy.
"Jill,kauu...!" ucap Tommy tertahan, menahan sakit yang luar biasa di area bawahnya. Melihat beberapa pengunjung Cafe yang memandanginya dan tertawa.
Jill hanya menatap biasa saja tanpa berniat membantunya. Memandangi Tommy yang sangat kesakitan dan tersenyum mengejek Tommy yang masih kesakitan.
Salah sendiri, kenapa bicara seperti itu sama wanita, Dasar tidak sopan,batin Jill.
Tommy berusaha menetralkan emosinya. Tidak baik bagi image perusahaannya, jika dia memukul seorang wanita yang hampir merusak masa depannya. Menatap nyalang Jill.
"Jill tadinya aku masih berbaik hati padamu, tapi sepertinya kau sama saja seperti teman tidurmu itu. Kasar!"
"Langsung saja ke intinya.."
"Baiklah"
"Aku memiliki rekaman Hot-mu dengan Marchell. Kau sudah menerima fotonya juga kan? Atau mau aku kirim juga potongan videonya, mau lihat bagaimana kau bergerak liar?" Tommy memandang Jill dengan tatapan balik mengejek Jill.
"Apa masalahmu? tanya Jill kesal.
" Baby, sudah aku bilang, masalahku bukan denganmu, tapi dengan teman tidurmu, Marchell" ucapnya mengetuk meja di depannya. Tommy menatap raut wajah Jill yang terkesan biasa saja, tapi tetap angkuh.
"Baiklah sepertinya sangat sulit bicara padamu, apa aku kirim saja foto ini sebagai pemanasan? Kau pilih saja, siapa yang harus lebih dulu menerima fotomu ini? Daddymu? Mommymu? Kakakmu? Omamu? Atau sepupumu yang sudah kau khianati?"
Mengambil ponselnya dan mengangkat ponsel di depan Jill.
"Kau tunjuk saja, foto mana yang kau rasa mewakili pengkhianatanmu?" Tommy sengaja menyindir Jill. Melihat ekspresi Jill yang mulai berubah cemas, dia tersenyum.
"Katakan, apa maumu" ucap Jill kesal. Namun terdengar manis di gendang telinga Tommy.
"Hm.. Aku menyukai gadis penurut sepertimu, baby" ucap Tommy mengerling nakal. Membuat Jill menatap marah pada Tommy.
"Okay, Okay, aku serius sekarang"
"Ibuku menyukaimu sejak pertama kali bertemu denganmu di reunian malam itu. Ibu ku ingin kau mengunjunginya, bagaimana?"
"Tidak mau..."jawab Jill tanpa berpikir
" Kau tidak ada pilihan, Jill! "
" Dimana? "
" Tentu saja di rumahku! "
" Bisa aku bersama Max ke rumahmu? "tanya Jill yang memang khawatir mengunjungi rumah yang tidak di kenalnya.
" Tentu bisa, baby.. "
" Tapi, aku pastikan satu foto aku DP dulu ke Daddymu, bagaimana? "
" Kau....! " tunjuk Jill dengan kesal.
" Baiklah, kapan? " Jill sudah mempertimbangkan konsekuensinya, jika pergi bersama dengan manusia menyebalkan di depannya. Tenang Jill, kau sudah menguasai beberapa ilmu bela diri, batin Jill menguatkan dirinya sendiri.
"Kau benar-benar gadis penurut! Pantas saja, ibuku menyukai mu!" Tommy mentoel sedikit pipi Jill dan ditangkis Jill segera.
"Sentuh aku, kalau kau siap kehilangan satu persatu anggota tubuhmu" sungut Jill kesal.
Penurut dimananya? Jill mendongkol dalam hati.
"Jill.." teriak seseorang yang membuat Jill dan Tommy menoleh.
"Peluk aku, atau ku DP fotomu sekarang juga ke Daddymu" bisik Tommy dan terlihat sangat mesra di pandangan Marchell.