
"Jill jawab aku! Benar,pria tadi ayah calon bayimu, iyakan?" tanya Bimo dengan suara pelan, tapi sangat menuntut jawaban dari Jill. Mendengar isak tangis Jill yang semakin kuat, Bimo menarik Jill dalam pelukannya, menyalurkan semangat darinya untuk Jill. Tanpa Jill beritahukan pun, Bimo yakin, Marchell ayah dari bayi yang di kandung Jill sekarang.
"Sudah jangan menangis, kau mau seluruh keluargamu tahu kau menangis? Lalu keluargamu akan menuduhku membuatmu menangis. Aku bukan tipekal pria pembohong Jill, jika keluargamu menanyakan padaku,kenapa kau menangis, aku pasti langsung mengatakan pada mereka Jill. Jadi, berhentilah menangis!!" seru Bimo yang mulai gusar menatap pintu kamar yang masih terbuka sejak Marchell meninggalkan kamar ini.
"Aku ju ga ingin ber hen ti me nangis, ta pi sulit," isak Jill lagi melanjutkan tangisannya yang semakin kuat dan membuat Bimo panik.
"Jill mau kubawa ke suatu tempat, mungkin bisa mengubah suasana hati mu langsung," tawar Bimo, membuat isak Jill berkurang, dan menatap Bimo penuh tanya, "Kemana?"
"Pantai mau?" tanya Bimo,yang di jawab Jill dengan anggukan. Bimo tersenyum dan memberikan JIll air hangat kembali, " Minumlah, supaya lebih tenang!"
"Aku ingin membawamu, tapi bingung bagaimana caranya, sedangkan di bawah masih sangat ramai. Tidak mungkin kau lolos dalam pandangan mereka, terutama Daddymu." Bimo mencoba mengutarakan sudut pandangnya saja. Jill yang masih sedikit terisak pun, menatap Bimo, lalu berjalan menuju kaca. Melihat matanya yang sangat merah dan sembab, jelas tidak mungkin keluar dengan kondisi seperti ini. Tapi dia sedang butuh waktu menenangkan pikirannya sebentar.
"Pinjam kacamatamu," ucap Jill masih menatap kacamata hitam milik Bimo yang menggantung di saku kemejanya. Bimo yang sadar maksud Jill pun, menyerahkan kacamatanya tersebut.
"Apa masih terlihat?" tanya Jill memastikan pada Bimo.
"Tentu, hidungmu!" Bimo mengalihkan Jill kembali ke depan kaca, dan melihat sekilas tampilah hidung Jill yang sangat merah saat ini.
"Ada masker?" tanya Jill lagi, dan mendapatkan gelengan kepala dari Bimo.
"Cih, bagaimana bisa seorang Dokter tidak mempersiapkan masker kemanapun!" decih Jill yang sudah mulai stabil emosinya, tidak terisak lagi.
"Ck, untuk apa Dokter membawa masker ke acara lamaran, jika di mobil aku punya banyak stok masker, tapi mereka akan curiga, kalau aku keluar masuk rumah, hanya demi masker saja."
Jill
Jill
Jill
Bimo menoleh ke arah suara Dhita di pintu masuk, dan hendak beranjak, posisi ini sangat sulit baginya. Berbohong bukan keahliannya.
"Dokter Bimo jangan bergerak kemanapun. Aku belum selesai bercerita tentang keadaanku," ucap Jill sengaja, agar Mommynya mendengar dan segera keluar kamar, tapi nyatanya tidak justru mendekat.
"Mom jangan mendekat dulu, aku sedang tidak baik-baik saja Mom. Aku ingin cerita, tapi belum sanggup Mom," ucap Jill mulai terisak kembali, merasa gagal menjaga nama baik keluarga besarnya.
'Kenapa sayang, cerita sama Mommy ya," tawar Dhita mendekat, namun Jill justru bergeser ke arah Bimo, membuat Bimo kikuk dengan tatapan Dhita padanya.
"Mom, tadi Kak Bimo mengajak Jill ke pantai untuk menenangkan suasana hati Jill saat ini. Boleh, Jill ke pantai sebentar sama Kak Bimo?" pinta Jill membuat Bimo terbatuk-batuk dipanggil Kakak sama Jill. "Kok kakak sih, Jill! Ga asik banget panggilan dari kamu! batin Bimo menatap sendu Jill.
Sedang Dhita heran dengan kedekatan Jill tiba-tiba dengan Bimo.
"Mom, please ya, izinkan Jill sebentar ke Pantai. Jill janji pulang sebelum jam 9 malam Mom," ucap Jill mendekati Mommynya dan memeluknya dari belakang. Dhita yang sebenarnya sejak tadi, putrinya baru saja menangis, pura-pura tidak tahu, supaya Jill tidak semakin sedih.
Mengambil sesuatu dari handbagnya, Dhita memberikan masker pada Jill dan Bimo, membuat mereka berdua kebingungan.
"Kalian berdua pakailah masker ini dulu, Jill pergilah dari belakang rumah, supaya Daddy dan Maxime tidak melihat kamu keluar ya. Mommy akan mengajak Daddy dan Maxime ke arah dapur, supaya kalian bisa turun tanpa di sidang Maxime."
"Baik Tante, saya akan menjaga Jill dengan baik, dan akan kembali tepat waktu,' janji Bimo tulus mengatakannya pada Dhita, Mommy Jill.
"Baik buktikan pada Tante janjimu ya. Bimo, kamu bisa keluar lebih dulu setelah Tante ya. Kamu tetap dari depan, Jill dari belakang," ucap Dhita mendekati Jill,mencium dahinya, dan memeluk putrinya.
"Apapun masalahmu, ingat kami bersamamu, sayang! Pergilah dan kembali dengan senyum di wajahmu!"
Dhita mengusap pipi Jill, lalu melangkah keluar lebih dulu, menuruni tangga, dan mengajak Maxime dan Tigor ke dapur untuk mencicipi rendang yang Dhita masak pagi tadi. Kepergian Dhita dan Maxime, juga di ikuti oleh Abbelard. Dhita tersenyum saat, Bimo sudah turun dan berpamitan dengan Kinanti dan keluarganya. Dan saat Bimo berpamitan, Jill turun, langsung melewati pintu depan, setelah dirasa Jill tidak ada pihak keluarganya di pintu depan.
"Aku seorang Dokter, kenapa rasanya seperti sedang menculik ya!" gurau Bimo setelah dia dan Jill berhasil sampai ke dalam mobilnya. Namun gurauannya, tidak di tanggapi balik oleh Jill. Jill hanya berusaha tersenyum saja pada Bimo.
Drtt
Drtt
Drtt
Jill menatap Bimo heran, kenapa panggilan di ponselnya tidak dia angkat. Sedangkan Bimo, bingung kenapa Jill menatapnya dengan tatapan seperti itu, bukannya mengangkat ponselnya.
"Bim, angkat panggilanmu," ucap Jill dengan suara lemasnya. Dia saat ini sudah mulai mengantuk dan ingin tidur dulu sebelum sampai pantai.
"Jiahh, tadi di depan Mommymu, panggilanmu manis sekali, Kak Bimo!" ejek Bimo menirukan suara Jill tadi saat memanggilnya lembut di depan Dhita. Ejekan dan nada Bimo tersebut, membuat Jill tersenyum.
"Baiklah, Kak Bimo, angkat teleponmu, berisik sekali soalnya!"
Bimo yang mendengar kalimat Jill tadi, tersenyum senang. Setidaknya sudah ada panggilan sayang Jill untuknya.
"Adik Jill, itu bukan panggilan Kakak Bimo, tapi ponselmu!' balas Bimo, membuat Jill kaget, lalu mengecek nama pemanggilnya. Maxime!
Melihat paniknya Jill, Bimo mencoba bertanya pada Jill, "Debtcollector ya?" Bimo tersenyum menatap Jill yang bete mendengar pertanyaannya tersebut.
"Bukan, panggilan dari saudara kembar Jill, namanya Maxime!" Kalimat Jill barusan membuat dirinya kaget,mengetahui Jill punya saudara kembar laki-laki.
"Yang tadi di kamar bersama keluargamu?" Bimo benar-benar penasaran kali ini, kalau benar itu saudaranya Jill, benar-benar apes dia hari ini. Mengingat Daddynya saja, dilarang menyentuh Jill, saat di kamar tadi.
"Iya itu Maxime, Kakak kembarku. Kami ini kembar identik," ucap Jill pelan, lalu mencoba menyenderkan kepalanya pada sisi mobil.
Sudah hampir beberapa menit, Jill mencoba menutup mata, tapi tidak bisa, karena mobil belum jalan juga. Jill membuka kelopak matanya, dan melihat Bimo yang sedang mencari sesuatu.
"Tadi kunci mobil sudah masuk ke sini,tapi tiba-tiba hilang," ucap Bimo mencari ke kolong mobilnya, dan tidak mungkin jatuh, karena dia sangat ingat, kunci sudah masuk lobang kunci dengan pas. Jill menatap kaca jendela mobil yang sejak masuk memang sengaja di buka Bimo lebih dulu, agar berganti sirkulasi.
"Aneh sekali bisa tiba-tiba hilang, masa harus panggil pesulap merah sih?" ucap Bimo, membuat Jill mendelik tak percaya.
"Kau mencari ini ??" ucap seseorang mengulurkan kunci mobil Bimo.