One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 35



"Angkatlah panggilanmu, aku akan pesankan kamar untukmu, sebelum aku ke rumah sakit." Jill mengangguk mendengar kalimat Bimo.


Berjalan menuju sofa, menggeser icon hijau di ponselnya.


"Jill, kau dimana? Barusan aku cek kamarku kosong," cecar Kinanti, yang menelepon di taman belakang rumahnya.


"Cari udara segar Kinan. Tapi sepertinya bukan udara segar yang aku hirup, tapi polusi. Jadi kepalaku semakin pusing saja," balas Jill setelah bergurau.


"Posisimu dimana? Maxime terus menggangguku, karena kau tidak angkat panggilannya!" delik Kinanti menatap Maxime yang menyengir padanya.


"Di rumah terlalu berisik, aku tidak bisa pulas tidur. Jadi aku tidur di Hotel," imbuh Jill, membuat Maxime mengambil alih ponsel Kinanti.


"Hotel mana? Biar aku jemput sekarang!!" tanya Maxime menuntut.


"Ish, aku akan pulang, setelah tidur. Jangan khawatir Max!"


Di dekat mereka, Marchell yang berpura-pura minum kopi, mendengar jelas obrolan mereka, karena speaker ponsel mereka aktif. Tangannya terkepal, matanya memerah menahan emosi.


Tadinya dia pikir, Jill hanya asal bicara saja. Ternyata mereka benar-benar ke Hotel. Hatinya sakit mendengar itu.


Melempar cangkir ke taman dengan kuat, membuat Maxime dan Kinanti kaget. Marchell meninggalkan rumah itu dengan emosi memuncak tanpa pamit pada keluarganya ataupun Kinanti.


Dia pun bingung, mengontrol emosinya, akhir-akhir ini.


"Cek dimana posisi gadis itu berada! Cek segera! Waktumu 10 menit untuk melacak nama Jill Abbellard!" teriaknya kepada orang kepercayaannya.


Jill merasakan perasaannya sangat tidak nyaman saat ini. Menghampiri Bimo, yang memegang keycard di tangannya.


"Ayo, aku antar ke kamarmu, baru aku bisa lega pulang. Ingat, Mommymu menitipkanmu tadi padaku," ucap Bimo, yang tau, Jill akan menolaknya di antarkan ke kamar.


"Baiklah." Berbalik, berjalan menuju Lift.


"Kau mual?" tanya Bimo, menatap Jill yang sedang menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Jill mengangguk, membuat beberapa tamu Hotel, menjaga jarak dengan Jill. Berbeda dengan tamu yang menjaga jarak, Bimo justru mendekat. Mencoba mencari kantong plastik, dia lupa meninggalkan tas di mobil.


"Masih tahan? Tinggal 5 lantai lagi," ucap Bimo menatap urutan angka di tombol lift.


Jill menggelengkan kepalanya, pertanda tidak tahan lagi. Aroma kuat parfume salah satu tamu, dalam lift, membuat perutnya bergejolak.


"Tahan ya, satu lantai lagi, coba tarik nafas" saran Bimo, yang tidak tau, cairan Jill sudah sampai di mulutnya.


"Uekk......," Jill yang tidak tahan, memuntahkan semua di kemeja dan jaket Bimo. Bimo terkejut, dengan banyaknya muntahan di tubuhnya.


"Sorry Bimo," mohon Jill, melihat kondisi shock Bimo saat ini. Bimo bahkan bingung, mau berbuat apa. Ini pertama kalinya, dia di muntahi seseorang.


Jill keluar dari Lift, dan berhenti, melihat Bimo masih terdiam di Lift,tak bergerak sedikit pun. Jill mendekati Bimo, merasa bersalah, Jill menarik ujung lengan Bimo, dan menariknya keluar Lift.


"Maafkan aku Bimo, tapi jangan turun ke bawah dengan kondisi seperti ini. Takutnya, pasien mu di rumah sakit, kabur," ucap Jill setengah bergurau, menutupi rasa bersalahnya.


"Jill, boleh aku pakai sebentar kamar mandi di kamarmu? Sepertinya aku butuh mandi sebentar, sebelum ke rumah sakit. Aroma ini terlalu kuat, takutnya, para fans di rumah sakit,


mendadak meninggalkanku nanti!" pinta Bimo yang merasa tidak nyaman dengan aroma di tubuhnya.


" Tentu boleh. Pakaian gantimu, bagaimana?" tanya Jill membuka kamar 1101 tersebut.


"Aku akan call, sopir Mama untuk antar pakaian ganti ke sini." Bimo masuk kamar, langsung menuju kamar mandi. Jill segera berbaring, menarik bed cover, menatap langit-langit.


"Uekkkkk..."


Jill terkekeh mendengar Bimo mual. Mengambil tissue basah, Jill mulai membersihkan sisa muntahan di mulutnya.


Teringat di bawah hotel tadi ada beberapa Toko Pakaian, Jill mengambil keycard, dan kembali turun, membeli pakaian untuk Bimo, sebagai permintaan maafnya, daripada menunggu lama pakaian dari supirnya.


Menjatuhkan pilihannya pada kemeja liris biru muda, dan celana panjang Navy, mengambil dalaman pria, segera menuju ke kasir untuk membayar barang belanjaannya. Lalu pindah ke Toko berikutnya, untuk membeli pakaian untuknya.


Jill tidak sadar, sejak dia turun, langkahnya sudah di ikuti oleh ayah dari bayinya.


Marchell yang menerima info dari orang kepercayaannya, Jill menginap di Sunshine Continental Hotel pun langsung membanting setirnya, menuju hotel tersebut.


Memasuki Hotel dengan emosi memuncak saat melihat Jill keluar dari dalam lift. Mengikuti Jill dengan tatapan marah, saat Jill memasuki Toko Pakaian pria, emosinya memuncak, saat Jill tersenyum memilih kemeja, dan terkekeh saat memilih pakaian dalam. Marchell, bahkan tidak tahu, bagaimana cara mengontrol emosinya saat ini.


Melihat Jill naik Lift, Marchell melihat angka lantai tujuan Jill, dan segera naik Lift satunya.


Mengambil ponselnya, dan menyalahkan kamera ponselnya untuk merekam setelah pintu lift terbuka.


Meletakkan ponsel dalam kantong kemejanya, Marchell berlari mencari jejak Jill di beberapa lorong di lantai 11.


Deg...!


Ingin menangis rasanya, melihat seorang pria menggunakan bathrobe, membuka pintu untuk Jill.


Dan tersenyum manis menerima paperbag dari tangan Jill.


Melangkah dengan cepat, Marchell menjegal pintu sebelum tertutup. Mendorong kuat, hingga Bimo terhempas.


Pandangan Marchell tertuju pada bathrobe Bimo dan rambut basah Bimo. Mencari Jill yang baru saja masuk ke kamar tapi tidak ada. Langkahnya, menuju kamar mandi.


Tok, Tok, Tok, Tok, Tok, mengetuknya beberapa kali.


"Bimo, aku lagi mandi. Jangan ganggu aku!" teriak Jill dari kamar mandi. Bimo yang namanya di sebut, hanya diam saja menatap Marchell.


Menutup pintu, dan membawa paper bag ke atas kasur. Tidak mempedulikan, Marchell yang marah menatap kegiatannya di atas kamar itu.


Bimo tetap santai memakai pakaiannya sebelum Jill keluar. Merapikan rambutnya, dan melihat jam, waktunya tersisa 40 menit lagi, sebelum jam piketnya.


Memakai kembali sepatunya, Bimo menatap Marchell yang menyorotnya tajam.


"Minggirlah, aku mau pergi," deliknya tajam, saat pria di depannya,memblock akses jalannya.


"Sedang apa kalian berdua di kamar hotel!" teriak Marchell, membuat Jill yang sedang memakai pakaian, terkejut. Emosi melihat Bimo dan Jill mandi, kasur yang berantakan.


"Tidak sedang apa-apa, aku hanya numpang mandi saja," balas Bimo, menggerakkan tangannya, agar Marchell minggir.


"Cih, kau pikir aku percaya, manusia berbeda gender, hanya numpang mandi di sini?" geram Marchell meninju dinding di sebelahnya.


"Terserah, kau mau percaya atau tidak. Tapi curiga dan menuduh tanpa bukti itu, tidak baik bagi kesehatanmu!"


"Bukti katamu?"


Bugh! Bugh! Bugh!


"Marchell!! teriak Jill saat Marchell memukul Bimo dengan kekuatan penuh.


Memegang tangan Marchell, dan melerai mereka. Jill tanpa sadar, mengambil tissue, dan melap bibir Bimo yang pecah.


"Tega sekali kau, Jill!" teriak Marchell membanting semua yang ada di kamar.


Emosinya meluap.


Bimo yang takut Marchell kalap, memasukkan kembali Jill ke dalam kamar mandi.


"Kau pikir, aku sejahat itu, memukul wanita?" teriak Marchell tidak terima.


"Jill, aku menyesal mengenalmu! Kau sampah Jill! Sampah! Akan kubalas perbuatanmu, Sampah!" teriak Marchell pilu menendang pintu kamar.


Sama pilunya dengan Jill yang menangis di sudut kamar mandi, mendengar makian Marchell.


"Jangan coba, muncul di hadapanku!"