One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 16



Marchell mencoba mengetuk pintu kamar Jill. Dia masih mengingat jelas, tadi malam, Jill mencoba membuka pintu kamar di depan kamarnya ini.


"Jill"


"Jill"


"Jill"


Panggil Marchell berulang kali. Masih berusaha memanggil dan mengetuk-ngetuk pintu kamar Jill.


"Kecil? Tidak merasakan apa-apa? Cih, dasar penipu!". Desis Marchell mengingat pesan Jill tadi.


"Lalu, siapa yang bilang" Fast.. Fast, tadi malam? Hantu?! " ucap Marchell kembali, dia masih sangat kesal membaca pesan itu. Menjatuhkan dirinya sebagai lelaki.


"Jill, ayolah buka pintunya. Aku tau kau di dalam kamar! Aku sudah call front desk, dan kau belum check out!".


"Kau ingin aku tetap berteriak di sini, dan membangunkan penghuni satu lantai ini? teriak Marchell, mencoba bernegosiasi. Mungkin dengan sedikit ancaman, gadis ini akan bergerak membuka pintunya.


" Klek "


Benar saja dugaannya, begitu di ancam pintu langsung di buka.


"Kau berisik sekali!" seru Jill merasa terganggu dengan ulah pria di depannya.


Ada apalagi menemuinya?


Tidak tahu malu sekali jadi orang!


Sudah merusak anak gadis orang, bukannya meminta maaf, malah buat keributan! ucap Jill dongkol, walaupun hanya dalam hati saja.


Dia sudah berusaha menghindari pria di depannya. Dan berharap tidak akan pernah bertemu lagi. Tapi harapannya tidak dikabulkan Tuhan sepertinya. Buktinya, sudah tau tidak di bukakan pintu, bukannya langsung pergi, malah mengancam balik!


" Kau menangis? Kenapa? Apa karena aku menggedor pintumu? Jadi, kau takut denganku? tanya Marchell, yang tidak peka, kenapa Jill menangis.


Membuat Jill menendang selakangan Marchell dengan kuat." Kau tidak tau atau pura-pura tidak tau, hah?!" umpat Jill memegang pintu berwarna coklat, lalu segera menutup pintu.


Malas rasanya, bicara dengan pria seperti Marchell. Entah apa yang membuat, Kinanti menyukai pria seperti dia!


Menahan rasa sakit akibat tendangan Jill, Marchell refleks bergerak cepat, saat Jill ingin menutup pintu.


Mengganjal pintu dengan kaki sebelah kanannya, yang sudah lebih dulu masuk,mendahului pintu.


"Ayo, akhh, kita bica ra sebentar Jill" ucap Marchell menahan sakit di selakangannya, dan sakit akibat injakan Jill di kaki kanannya.


Mengumpulkan sisa tenaganya, Marchell mendorong kuat pintu. Jill yang tidak menyangka, Marchell akan mendorong pun mundur. Tangannya sempat menarik kerah kemeja Marchell.


Bugh


Bugh


Menatap mata pria di atasnya yang berjarak tipis darinya. Sedang tersenyum manis padanya.


Jill merasakan, tiba-tiba ada yang bergerak kembali di bibirnya rose pinknya.


Memalingkan wajahnya segera, agar tidak semakin dalam Marchell mencecap "rose pinknya".


Ditolak, bukannya mundur, Marchell malam tersenyum. Menangkup wajah Jill kembali, dan mengulang kembali rasa manisnya "rose pink" Jilli-nya.


Iyah, Marchell sudah melabelkan Jill sebagai miliknya, resmi sejak penyatuan semalam.


"Kau.. semakin melunjak ya" ucap Jill menggeser tubuh Marchell. Jill lekas berdiri, dan pindah posisi ke sudut kamar.


"Jika kau, tidak ada keperluan, sebaiknya, pergi saja. Aku mau tidur", ucap Jill memalingkan wajahnya.


Marchell berdiri, ingin mendekati Jill dan memeluk Jill dari belakang.


Jill yang merasakan pergerakan tubuh Marchell, mengangkat tangannya, merentangkan lima jarinya.


Marchell berhenti, dia paham, maksud tangan Jill tersebut. Berhenti!


"Jill, aku tidak akan meminta maaf untuk kejadian tadi malam. Sungguh aku tidak menyesalinya. Aku malah beruntung, keperjakaanku kau yang merenggutnya" ucap Marchell tersenyum.


Jill yang mendengarnya, membalikkan badan dan melotot pada Marchel


"Gila.." maki Jill, namun terdengar sangat manis di gendang telinga Marchell


"Kau harus bertanggung jawab atasku, Jill. Bagaimana jika Mamaku bertanya, siapa yang merenggut keperjakaanku? Aku harus jawab apa? ucap Marchell dengan mimik sedih yang dibuatnya, sesedih mungkin. Berharap Jill akan menghampirinya dan memeluknya.


" Pulanglah, kau kekasih Kinanti, sepupuku. Aku tidak mau merusak persaudaraanku, hanya karena pria tidak jelas seperti mu" ucap Jill yang masih kesal.


" Biar itu menjadi urusanku dengan Kinanti. Kenapa kau bilang aku pria tidak jelas, Jill? Apanya yang tidak jelas? Jika aku tidak jelas, kau tidak akan berubah menjadi serigala tadi malam. Lihat punggungku, penuh dengan cakaranmu" balas Marchell tak terima, lalu sengaja membuka sedikit kemejanya. Ingin menunjukkan bekas cakaran Jill di pundaknya.


Jill yang mendengar hal memalukan itu pun, melempar bantal ke arah Marchell.


Marchell terkekeh mendapat lemparan tersebut. Di usianya ke 19 tahun, memang terlalu lama baginya mengenal cinta. Hidupnya dulu terlalu fokus di prestasi sekolah dan menjalankan perusahaan peninggalan papanya. Walaupun masih dibantu oleh asisten kepercayaan papanya dulu. Meskipun dua tahun sudah memiliki kekasih, pilihan mamanya, bukan pilihannya.


Saat ini usianya sudah 19 tahun, mahasiswa semester 6 dan sudah berpenghasilan. Pendapatannya lebih dari cukup untuk menghidupi anak istrinya kelak. Pernikahan, hal itu yang sedari tadi Marchell pikirkan di kamar. Dia akan mengikat Gadis angkuh di depannya ini, segera!


Dia belum pernah mengingini seseorang seperti ini sebelumnya. Marchell lupa, pesan yang dia kirimkan tadi malam pada Kinanti, walaupun bukan dia yang mengetik pesannya, tapi terkirim langsung dari ponselnya.


"Jill aku tidak akan bertanya lagi kenapa kau menangis" potong Marchell, lalu menatap pada gadis yang sudah mengisi sebagian ruang kosong di hatinya.


" Mungkin kau menangis, karena terlalu bahagia menerima keperjakaan dari pria tampan, baik hati dan tidak sombong sepertiku" goda Marchell kembali, yang berhasil membuat Jill mendelik kembali padanya.


" Karena kau sudah merenggut satu-satunya hartaku yang paling berharga, tanggung jawab Jill. Nikahi aku segera" ucap Marchell, yang langsung menghindar saat Jill melempar kotak tissue ke arahnya.