One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 26



Marchell memasuki ruangannya dengan sangat emosi. Melempar apapun yang di lihatnya di ruangan tersebut.


Tidak ada satupun pegawai di kantornya yang berani mendekati ruangannya, walaupun mereka mendengar suara pecahan barang.


Masih terengah-engah meluapkan emosinya. Marchell mencoba menekan dadanya "Sakit Jill!"


Menendang mejanya. Terduduk!


Terduduk menangisi cinta pertamanya yang baru saja kandas. Marchell benar-benar patah hati.


Berjalan sempoyongan menuju kamar mandi, menengadahkan kepala ke arah shower. Marchell berharap bisa mendinginkan kepalanya yang akan meledak saat ini.


Hampir 3 jam lamanya terisak di kamar mandi. Berdiri dan menatap cermin di kamar mandinya "Hanya kali ini saja aku menangis Jill, besok atau lusa, kau yang akan menangis, Lets end up as your wish"


Merapikan kembali penampilannya, berjalan ke meja kerjanya dan mengangkat telepon line ruangannya yang berisik sejak tadi.


" Marchell, kenapa lama sekali angkat telepon Mama? Mama hubungi handphone mu, juga tidak kau angkat?!"


ucap Nyonya Lawson memarahi anaknya tersebut.


Jantungnya shock, mendengar laporan dari asisten Marchell, putranya sedang mengamuk tidak terkendali di ruang kerjanya.


"Apa ini, karena lamaranmu besok, sayang?" tanya Nyonya Lawson mulai melunakkan suaranya, mencoba menggali sedikit saja informasi.


"Ada apa? Coba cerita sama Mama, sayang?" Nyonya Lawson tetap berusaha membujuk Marchell.


"Tidak ada apa-apa Ma," ucap Marchell, lalu duduk. Melihat ruangannya yang sangat kacau.


"Lalu kenapa kau mengamuk di kantor, sayang?!" Marchell mencerna, darimana Mamanya tau dia sedang emosi.


"Aku hanya sedang kesal karena kalah tender saja Ma," ucap Marchell sengaja berbohong. Untuk apa jujur, jika gadis yang di cintai sudah menentukan pilihannya.


"Benarkah bohongmu itu?" tanya Nyonya Lawson menjebak.


"Sure Mom" Marchell terdiam dan tersadar dengan kalimat Mamanya. Dia tahu, Mamanya sangat sulit di bohongi.


Terdiam sebentar, Nyonya Lawson mendengar helaan nafasnya dari seberang sana.


"Sudah Makan siang?"


"Not yet Mom"


"Kenapa belum makan?"


"Not hungry"


"Apa kau, memang benar-benar tidak suka lamaran besok dilakukan?" Nyonya Lawson akhirnya to the point! Dia tau, sangat sulit mengulik Marchell.


"Itu yang membuat stres, lamaran?" tebak Nyonya Lawson


"Apa itu juga, yang membuatmu tak fokus bekerja? Dan membatalkan meeting pagi ini lalu mengkambing hitamkan gagal tender?" cecar Nyonya Lawson, tetap dengan suara lembutnya.


"Tidak Ma. Pure hanya masalah pekerjaan saja"


"Ok, so bagaimana dengan lamaran besok?Mama akan ikuti keputusanmu saja. Yang menjalaninya kan kalian" tanya Nyonya Lawson memastikan. Dia tahu ada sesuatu yang putranya ini sembunyikan.


"Lanjutkan saja Ma, aku tidak masalah"


"Baiklah, as you wish" balas Nyonya Lawson mengakhiri panggilannya.


"Dad, sepertinya kepulangan kita, harus di undur sehari," ucap Ditha, menyendokkan nasi putih ke piring suaminya.


"Tambahin sedikit lagi nasinya, sayang" pinta Abbellard, saat melihat porsi nasinya tidak sebanding dengan tubuhnya.


"Bule kok sarapan nasi, makan siang nasi, malam nasi," ucap Jill melirik dan menyindir suami dan putranya di sudut sana, yang baru saja menambakan nasinya kembali.


"No problem dear, yang penting subuh makananku beda," gurau Abbellard.


"Siapa bule? Aku Indonesia Mom, kalau Mommy lupa! balas Maxime mengunyah nasi uduk kesukaannya. Tidak terima dengan statement Mommynya.


"Mom, aku juga mau nasi uduknya lagi"


"Rakus sekali," ucap Abbellard sengaja menggoda Maxime. Dia lupa, dia sudah tambah 4 kali.


"Bukan rakus Dad! Hanya melaksanakan perintah dokter saja, untuk makan-makanan bergizi. Masih dalam masa pertumbuhan, Dad!" terang Maxime sambil tersenyum.


"Apa yang masih belum bertumbuh dari dirimu?"


"Hatiku Dad"


Dhita hanya tersenyum mendengar obrolan mereka. Mengambil piringnya dan mulai memakan nasi ayam bakar favoritnya.


"Bi Siti, sore masak ini dong," pinta Maxime memperlihatkan salah satu jenis kue tradisional Indonesia, saat ART Omanya menuju dapur.


"Kue bugis Tuan?"


"Iya.. Boleh ya?"


"Ini besok pagi ya bi" tunjuknya lagi, pada salah satu gambar makanan tradisional juga.


"Rendang mulu?!" tanya Abbellard, membuat Maxime berhenti mengunyah. Bukannya, dia dan Daddynya nya rendang lovers?


"Kau tidak kapok rupanya, diprank lengkuas lagi ya? Dan jangan makan rendang terus Max, kolesterolmu bisa naik. Hampir seminggu ini kamu minta rendang terus," Abbellard mencoba mengingatkan anaknya.


Marchell yang di nasehati, hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.


"Tapi Daddy minta ya?" kekeh Abbellard.


"Gak!"


Ditha yang lebih duluan selesai menyantap makanannya, menatap Abbellard.


"Kau tidak dengar perkataanku sebelumnya?" tanya Ditha. Abbellard mencoba menghentikan makannya dan menatap istrinya.


Menggelengkan kepalanya pertanda "tidak dengar sayang, why?"


"Iiiih.." cubit gemas Ditha.


"Tadi Mommy bilang, sepertinya kepulangan kita harus undur satu hari"


"Kenapa sayang?" tanya Abbellard menghentikan sejenak makannya.


"Tadi Vina menelepon dan mengabari, kekasih Kinanti akan melamarnya Sabtu besok"


"Pacar Kinanti yang kemarin datang, Mom?" tanya Maxime yang gatal ingin bertanya.


"Iya! Aku iri sama Vina, dia sudah dapat menantu, pastinya segera menimang cucu. Aku?" ucap Dhita menatap nanar putranya yang kembali lahap. Sepertinya nafsu makan mereka meningkat drastis di Jakarta, batin Dhita.


"Kenapa?" tanya Abbellard pura-pura tidak tau maksud tujuan pertanyaan istrinya tersebut.


"Kau mau dengar suara bayi, ya?" ucap Abbellard mulai bergurau.


"Iya" Dhita berkata dengan semangat. Melihat itu, Abbellard mengambil handphonenya dan memeriksa sesuatu.


"What are you doing, honey?"


"Just a minute, aku cek dulu schedule ku siang ini sayang" balas Abbellard tetap memandang handphonenya.


"Untuk apa?" tanya Jill heran.


"Mengatur jadwal wisataku, tentunya!" Abbellard tertawa melihat raut wajah Dhita yang kaget dengan kalimatnya.


"Dad, I'm here!" Maxime hanya berpura-pura saja, dia bahkan tidak tau apa maksud Daddynya.


"Mom, Jill mana?" Maxime meletakkan sendoknya, dia sudah kenyang!


"Tadi izin ke Mall" jawab Dhita santai.


"Mommy sudah bilang, kita akan pulang lusa?


"Sudah. Jill bilang akan pulang ke Paris bulan depan," ucap Dhita memandang Maxime.


"Why?"


"Masih kangen Oma," balas Dhita.


"Kalau begitu aku juga tinggal, Mom" aura bodyguard Maxime muncul. Oh tidak bisa, dia harus selalu menjaga Jill. Banyak predator akan melahap, adik polosnya, jika di tinggal sendirian


"No Max! Kau lupa mulai training di kantor?" Abbellard mengingatkan tugas Maxime yang mulai running minggu depan.


Dhita memandangi keduanya bergantian. Ck, respon Max sama dengan respon Abbellard saat tau Jill akan pulang belakangan,batin Dhita.


"Lalu siapa yang bersama Jill?" tetap saja Maxime tidak terima Jill tinggal sendirian.


"Max, Jill sudah 18 tahun, dia bisa menjaga diri," ucap Dhita mencoba memberi pengertian.


"Dad, bisakah training ku di undur 1 bulan. Aku janji akan mempelajari dengan baik, Dad," ucap Maxime sungguh-sungguh.


"Bisa, asal kau setuju dengan syarat Mommymu?"


"Baiklah Dad, lebih baik aku pulang, aku belum siap dengan syarat Mommy" jawab Maxime lalu berdiri dengan wajah sendunya.


"Mau kemana?" tanya Abbellard penasaran.


"Milkshake, dad! Mau Dad? tawar Maxime.


"No, Daddy sudah minum susu dari sumbernya langsung, Max"


Sore ini, Abbellard dan keluarga, sudah tiba di kediaman Dika dan Vina, tempat prosesi lamaran Kinanti dan Marchell berlangsung.


Jill yang baru saja memasuki pelataran rumah, terlihat sangat cantik berbalut dress peach lengan pendek dan makeup flawlessnya. Menjadikannya pusat perhatian kaum adam di sana.


"Cantik sekali..," ucap Tommy mendekati Jill yang baru saja memasuki rumah.


"Siapa dia, Jill?"