
"Lamar aku segera, Beib" kalimat yang Kinanti ucapkan dengan penuh pertimbangan.
Menatap kekasih di depannya, yang terlihat shock mendengar permintaannya. Permintaan sederhana yang biasanya selalu di ulur kaum adam.
"Beib..." panggil Kinanti kembali sambil menepuk pelan telapak tangan kekasihnya.
"Apakah permintaanku, terlalu berat untukmu?" tanyanya kembali. Jujur saja, Kinanti belum siap menerima kalimat penolakan dari Marchell. Dulu iya, sekarang tidak. Terkesan terburu-buru memang permintaannya ini, tapi sepertinya kekasihnya ini, harus ia ikat dengan pernikahan, agar bisa membuka hati untuk mencintainya.
"Kinan, kau sadar, apa yang baru saja kau ucapkan?tanya Marchel memperjelas maksud permintaan Kinanti.
" Usia kita masih terlalu muda untuk menjalani pernikahan, Kinanti "
" Tidak, lebih cepat menikah, maka akan lebih baik, Beib. Supaya hatimu tidak bercabang kemana-mana, Beib" jawab Kinanti menahan airmatanya. Sungguh kalimat Marchel sebelumnya sudah memberi signal, kekasihnya menolak permintaannya.
"Apa alasanmu mengatakan, hatiku bercabang, Kinan? Pernah melihat aku jalan dengan perempuan lain, selain dirimu?" tanya Marchel dengan suara tertahan. Mencoba menekan amarahnya. Sudah menjadi pria setia, tapi tetap dikatakan bercabang.
"Bukan itu maksudku, Beib. Aku hanya ingin kau memperlakukanku selayaknya kekasihmu. Mungkin dengan kita menikah, menjadi milikmu seutuhnya, kau akan lebih menghargai aku dan membuka hati untuk mencintai aku" ucap Kinanti mulai menghapus bulir air matanya.
Meski mencoba tak terisak,namun dari getaran suara, siapapun yang mendengar pasti tau, Kinanti sedang menangis.
Ada apa dengan Kinanti, batin Marchel. Tidak ada masalah apapun, tiba-tiba mengungkit masalah "menghargai pasangan". Justru karena dia menghargai Kinanti, dia tidak ingin mencoba menyentuh yang bukan miliknya. Masih Kekasih saja kan? Bukan istri? Batin Marchel.
Belum selesai masalah perusahaannya di Surabaya, masalah asistennya, malah ditambah dengan masalah Kinanti.
Kenapa masalah datang seolah-olah ingin mengeroyoknya secara massal?
Marchel menatap kembali Kinanti yang sedang menangis. Dia bukannya tidak peka, kenapa gadis di depannya menangis. Paham, sangat paham malah.
"Kinanti, aku hanya Karyawan biasa di KingMar Group. Masuk ke perusahaan tersebut atas rekomendasi salah satu Kakak temanku. Penghasilanku belum cukup untuk menghidupi kita berdua. Biaya kuliah, rumah, biaya sehari-hari kita" ucap Marchel mencoba menjelaskan mengapa ia belum siap menikah.
Faktanya, tidak semua kalimat yang ia ucapkan benar. Secara keuangan, Marchel tahu, kekayaan peninggalan papanya tidak akan habis tujuh turunan, tujuh tanjakan dan tujuh belokkan.
Tapi memang hatinya yang masih ragu.
"Ayo aku antar pulang. Masalah ini, kita bicarakan lain kali ya, Kinan?" ucap Marchel lembut lalu lebih dulu beranjak tanpa menggandeng Kinanti.
Menatap nanar pada kekasihnya yang sudah duluan keluar, Kinanti pun mengikutinya.
Bagaimana lagi, dia yang terlalu cinta pada Marchel.
Jalanan yang tidak terlalu macet, membuat jarak tempuh menjadi singkat. Marchel menghentikan mobilnya di depan pagar putih rumah Kinanti.
Kinanti membuka pintu, dan turun tanpa menyapa Marchel kembali. Sungguh, saat ini, Kinanti ingin langsung masuk, dan menangis di kamarnya.
Merasa bersalah pada gadis sebaik Kinanti, Marchel berlalu dan menekan klakson satu kali sebagai ucapan selamat malamnya.
Kinanti hanya menatap mobil yang membawa Marchel tanpa mengucapkan apapun. Membuka ukiran pintu jati rumahnya, mengucapkan salam.
Memandang sekitar rumahnya, hanya ada asisten rumah tangga yang menyambutnya. Dia lupa, Mama papanya di rumah sakit menjenguk Omanya, atau malah sedang dalam perjalanan pulang.
"Mau Bi Inah siapkan makan malam, Non?" tanya asisten rumah tangga Kinanti, yang sudah mengabdi sejak ia kelas 3 SD.
"Ga usah Bi, Kinan langsung ke kamar saja. Tadi sudah makan di luar, Bi" jawab Kinanti tanpa memandang ke asisten rumah tangganya. Takut ketahuan sedang menangis.
Setengah jam menangis, Kinanti terduduk, lalu mendengar ponselnya berdering.
Kinanti abaikan ponsel tersebut tanpa melihat siapa yang menelepon. Kinan pikir Marchel yang menelepon, padahal Jill. Ponsel yang berdering itu ia abaikan, karena dia masih belum mau menerima telepon dari kekasihnya itu. Ponselnya hening beberapa saat. Lalu menerima notifikasi di WhatsApp.
Membaca perlahan pesan dari sepupunya, Jill.
"Kau dimana Kinan, sudah jam 11, kenapa belum ke rumah sakit. Aku menunggumu loh"
Kinanti tergugu membaca pesan WhatsApp Jill, sungguh dia lupa.
"Maaf Jill, tiba-tiba aku kurang enak badan, jadi langsung pulang ke rumah. Tolong jaga Oma untukku malam ini ya, Jill" balas Kinanti dalam pesan WhatsAppnya.
"Get well soon, Kinan" balas pesan balasan WhatsApp Jill yang Kinan terima.
Berlalu dan membersihkan wajah ke kamar mandi. Lalu Kinan segera tidur, berharap esok, hatinya sudah membaik
"Kenapa Jill?" tanya Maxime yang aneh melihat Jill terus menatap ponselnya.
"Kinanti sakit, aneh! Padahal saat aku tinggalkan di coffee shop dia baik-baik saja" ucap Jill bermonolog. Tapi terdengar Maxim karena jarak mereka bersebelahan.
"Pasti ada sesuatu dengan kekasihnya. Ga mungkin tiba-tiba sakit" ucap Jill kembali, jiwa detektifnya tiba-tiba saja bangkit.
"Kinanti sudah punya pacar?" tanya Maxime memastikan.
"Iya, tadi aku bertemu dengannya di Coffee shop. Hanya sebentar saja, lalu aku tinggalkan mereka berdua, Kenapa?" tanya Jill balik.
"Tidak hanya, aku tiba-tiba memikirkan temanku di Jakarta, yang sangat menyukai Kinanti dari kecil. Dia yang dulu tinggal di depan rumah Oma. Apakah kamu ingat, Jill? tanya Maxime penasaran.
Apakah adiknya ini mengingat sosok Jason, teman masa kecil mereka, saat liburan di Jakarta. Teman bermain petak umpet mereka. Terakhir mereka bertemu 4 tahun lalu, sebelum kepindahan tugas orangtua Jason ke Papua.
"Jason, yang suka nangis itu ya, Max?" tanya Jill mencoba mengingat anak laki-laki tersebut. Yang sudah besarpun masih suka menangis. Dan menjadikan pundak Kinanti sandarannya, jika dia bersedih.
"Iya, Jill. Itu namanya Jason. Dia sudah menyukai Kinanti sejak usia 6 tahun sampai aku bertemu dengannya 4 tahun lalu, dia semakin menyukai Kinan, Jill. Entah bagaimana tanggapannya, kalau dia tau, Kinanti sudah memiliki kekasih!
Jason, mereka berkenalan dengan anak laki-laki bermata coklat tersebut saat mengunjungi Oma liburan sekolah. Karena tak sengaja, Maxime menangkap basah Jason memandangi Kinanti tanpa berkedip. Dengan sengaja, Maxime menendang bola, kearah sepatu Jason sebagai salam perkenalan. Bukannya menendang balik, anak itu malah meraung sendiri, entah kenapa.
Maxime tersenyum mengingat kenangan itu.
"Max, kau membayangkan hal-hal yang aneh lagi, ya? goda Jill menggelitik perut Maxime.
" Pikiranmu yang sepertinya kotor" desis Max.
"Tidurlah, ini sudah sangat larut. Besok pagi, kita harus mengajak Oma jalan-jalan pagi, dan berjemur" ucap Max beranjak dari sofanya. Menggeser sofa dengan pelan dan menyusunnya lurus. Mengambil beberapa bantal sofa dan menatanya secara rapat, agar adiknya bisa nyaman tidur.
Jill mendekat dan mencoba rebah di sofa tersebut
"Tidurlah, biar aku yang menjaga Oma" ucap Max mengelus rambut adik kesayangannya
" aku akan bangun lebih awal, supaya kita bisa bergantian dan kau bisa tidur juga"
"Iya sweetie " jawab Maxime yang membuat Jill tersenyum.