
"Jill, darimana saja?!", teriak Maxime tertahan, jauh dari kamar rawat inap Omanya.
Maxime yang sadar, Jill tidak ada di ruangan, saat dia ke toilet pun panik.
Kemana adiknya itu, Jill belum tau arah manapun di Jakarta.
Ingin rasanya Maxime bertanya pada Omanya, tapi takut mengganggu istirahat Omanya yang sedang terlelap.
Memandang sebelah kirinya, nampak Mommynya sedang asik bergossip ria dengan tante Vina, istri Om Dika.
Sedangkan Daddy dan Om Dika sudah sejak tadi berangkat ke kantor pusat CapAbellRD. Entah masalah apa yang terjadi di kantor, sehingga baru beberapa jam landing langsung bekerja.
Maxime ingat, Daddynya menitip pesan selama Daddynya bekerja harus mengawasi Jill, Mommy dan Omanya.
"Maafkan aku Max, tadi aku dan Kinanti mengantuk. Dan Oma menyuruh Kinanti untuk mengajakku ke Coffee Shop beberapa meter dari sini, Max" jawab Jill sambil menunduk. Jill paham situasi saat ini, Max dan Daddynya sama saja. Selalu menganggapnya gadis kecil, padahal usia mereka sama. Dia hanya selisih 3 menit lahir dari Max.
"Kalau bicara, lihat lawan bicaramu, Jill" seru Max pelan. Dia tahu Jill, adiknya, tidak bisa di bentak sedikitpun.
Jill mengangkat kepala dan menatap kembarannya itu. Lalu mengatupkan kedua tangannya meminta maaf kembali.
"Jangan marah Max, nanti kau cepat tua!" ucap Jill dengan posisi yang sama, mengatupkan tangan.
"Ya, sejak tadi aku mencarimu, umurku sudah bertambah 10 tahun lebih tua, Jill. Kenapa kau tidak angkat panggilanku?!. Jika ponselmu tidak bisa kau gunakan untuk menjawab, kau buang saja, Jill!", ucap Max sambil memegang kedua pundak adiknya itu.
"Tadi aku silent, Max. Sebelum kita masuk ke ruangan Oma, aku memang sengaja men-silent ponselku, Max. Karena tidak ingin mengganggu Oma nantinya saat beristirahat, Max."
Jill melepas tangan Max di pundaknya. Lalu menggandeng tangan kembarannya tersebut, yang masih betah dengan mode ngambeknya.
" Ayo, ke ruangan Oma. Malam ini, biar kita berdua saja yang menginap ya, Max. Kapan lagi, bisa sepanjang malam bersama Oma", ucap Jill sambil mentoel-toel pipi Max. Berharap saudara kembarnya itu segera selesai masa ngambeknya.
"Baiklah" akhirnya Maxime luluh juga. Bagaimana pun dia tidak bisa berlama-lama marah dengan adiknya tersebut.
"Kau, sudah makan Jill?", tanya Max lembut saat berjalan, melihat Kantin di sudut rumah sakit tersebut.
"Iya sudah, Max. Kau, tidak melihat bungkusan yang kubawa ini, Max?",tanya Jill sambil mengangkat plastik hitam ke arah Max.
"Apa itu?"
"Kesukaanmu, Max"
"Nasi Goreng?"
"Bukan.." ucap Jill seraya menggoyangkan plastik hitam tersebut.
"Gado-gado?"
"No, Max!".
Mana ada yang jual Gado-gado malam begini, batin Jill.
"Ya sudahlah, katakan saja. Perutku sangat lapar saat ini, Jill. Aku belum bisa makan dari tadi, kalau kau belum ketemu"!.
Jill yang mendengar penjelasan saudara nya pun terharu. Memang the best brother!!
"Rendang, Max. Ini favoritmu" ucap Jill menyerahkan plastik hitam tersebut. Max tersenyum menerima plastik, berisi makanan favoritnya.
"Tadi aku pesan 2 porsi, masing-masing porsi berisi 5 potong rendang, Max", bisik Jill lalu terkekeh melihat raut bahagia saudara kembarnya itu.
"Kau yang terbaik, Jill" ucap Maxime, memeluk Jill.
"Atau kau mau ke Restoran terdekat sini, Max?" tawar Jill. Menatap Max yang langsung menggelengkan kepala dengan tawarannya.
"Aku makan di Kantin saja, supaya tidak mengganggu Oma, kalau makan di ruangan. Tapi aku antar kau dulu sampai depan pintu kamar Oma, baru aku ke kantin, Jill. Ayo" ajak Max sambil menyambut tangan Jill.
Kedua kakak beradik itu, sepanjang jalan saling bergandengan tangan. Bertukar cerita, bercanda sambil tersenyum. Membuat banyak pasang mata iri pada hubungan mereka. Yang satu sangat tampan, satunya lagi sangat cantik, pikir mereka.
Mereka tidak tau, pasangan yang mereka iri-in itu adalah saudara kembar non identik. Dasar netizen, seenaknya saja mengambil kesimpulan..
"Beib...." panggil Kinanti dengan suara terlembutnya. Semenjak Jill pergi, tidak ada percakapan apapun lagi di antara mereka berdua.
Marchel terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Hanya pegawai biasa, tapi kenapa sibuknya melebihi CEO, pikir Kinanti kesal.
" Beib.. apa kau lapar, mau aku pesankan sesuatu?", tanya Kinanti ulang, mencoba bersabar. Dia tidak mau lepas kontrol, dan membuat pria di depannya marah.
"Kau saja dulu yang makan, aku masih bekerja" jawab Marchel benar adanya.
Cabang perusahaannya di Surabaya sedang bermasalah. Ada penggelapan dana dengan transaksi yang fantastis selama beberapa bulan ini. Marchel sudah menurunkan beberapa team audit internal Pusat secara rahasia untuk mengecek Perusahaan tersebut. Dan dua hari lalu, mengirimkan asisten kepercayaannya Jason menggantikan dirinya untuk meeting internal perusahaan. Karena yang mereka tau, Jasonlah Pemilik Perusahaan tersebut.
Pagi tadi, Marchel menerima kabar, Jason asisten mengalami kecelakaan parah. Dan sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Surabaya. Kondisinya masih dalam pantauan Dokter saat ini.
Marchel yakin ini ulah rival perusahaan atau orang dalam yang saat ini sedang dia selidiki.
Marchell memijat pelipisnya saat ini. Sungguh dia ingin ke Surabaya, melihat keadaan Jason. Tapi terhalang janjinya dengan Kinanti.
"Kau selalu begitu, Beib. Terkadang aku berpikir, apakah benar kau mencintaiku, Beib?", Kinanti kelepasan bicara. Ini pertama kalinya, dia bertanya pada pria di depannya, apakah mencintainya. Sungguh, Kinanti penasaran!.
Ya dia, yang menyukainya lebih dulu!
Dia yang menyatakan cinta lebih dulu!
Tapi selama 2 tahun mereka berpacaran, lebih terlihat seperti Kakak-adik daripada pasangan kekasih.
"Apa maksudmu, Kinan?!" tanya Marchel yang mulai tak senang atas pertanyaan tersebut. Cinta? Dia memang sudah mencoba, tapi tidak bisa. Ingin rasanya mengakhiri, tapi takut gadis di depannya ini bunuh diri! Itu yang selalu Kinanti katakan padanya. Selain janjinya pada mamanya.
"Apa kau mencintaiku?" ulang Kinanti kembali.
"Untuk apa kau tanyakan, tidak cukup aku berada di sisimu, Kinan?!" jawab Marchel tegas. Sungguh ingin rasanya dia mengakhiri hubungan ini. Menyesal rasanya dia memulai hubungan ini atas permintaan Mamanya, atas dasar hutang budi, karena Kinanti yang menyelamatkan Mamanya.
" Benarkan? Kau tidak bisa jawab? tanya Kinanti mulai sinis. Sudah sejak awal melihat Marchel, Kinanti menyukai pria itu. Tapi kenapa tidak berbalas sampai sekarang. Berpacaran, tapi tidak pernah bergandengan tangan. Jalan hanya bersisian saja dengan jarak.
Berpacaran tapi tidak bisa saling menyentuh area pink di bawah hidung tersebut. Lalu mereka ini apa?!
"Jangan mulai Kinan, aku memang sedang banyak masalah pekerjaan saat ini. Maaf tadi mengabaikanmu" hibur Marchel akhirnya. Dia tidak bisa melupakan janji dengan Mamanya agar tidak meninggalkan Kinanti,meski ingin mengakhiri hubungan ini.
Marchel dilema!
Kinanti gadis yang baik, sopan dan dekat dengan mamanya. Tapi hatinya tidak berdebar sampai saat ini saat bersama Kinanti. Kalimat, Cinta tidak bisa dipaksa, sungguh adanya! Dia mengalaminya.
"Baik aku akan memaafkanmu, Beib. Dengan satu syarat, Beib" ucap Kinanti akhirnya menahan takut. Takut di tolak lagi.
"Apa?" tanya Marchel menatap Kinanti.
Menarik nafas saat membuat keputusan. Dia masih berusia 18 tahun, baru akan kuliah. Dan pria di depannya 1 tahun di atasnya. Walaupun kuliah sambil bekerja, setidaknya dia berpenghasilan, pikir Kinanti mempertimbangkan ucapannya selanjutnya.
"Lamar aku segera, Beib"