
"Pantau terus pergerakan Jill, kemanapun!" Marchell memberi perintah seseorang mengawasi Jill kemana pun. Mengetahui gadis yang di sukainya, di jodoh-jodohkan Mommynya membuat Marchell geram.
"Apa harus ku culik dia di Apartment ku?" tanya Marchell dalam hati. Jason, asistennya, tempatnya bertanya, masih terbaring di depannya.
Awalnya ingin memindahkan Jason ke rumah sakit terbaik di Singapore. Namun Dokter yang menangani Jason, mengatakan keadaan Jason sudah mulai pulih. Tinggal menunggu sadar saja. Biarkan tetap melanjutkan pengobatan di Surabaya.
Marchell beranjak dari rumah sakit, segera pulang ke Jakarta.
Landing dengan selamat di Jakarta, melesat cepat menuju lokasi Jill berada.
"Dasar naka!" desis Marchell kesal.
"Aku kan sudah bilang batasmu 1 bulan! Masa tidak mengerti, bahasa sesederhana itu! Berani sekali menemui pria lain dan berkencan". Menatap kesal, foto yang dia terima di WhatsApp.
Jill berada di salah satu Mall di Jakarta. Menghembuskan nafasnya kasar, sungguh, dia sangat malas menemani Bimo menonton Film.
"Kau suka nonton film apa, Jill" ucap Bimo menatap gadis berdarah Perancis - Indonesia.
"Aku tidak pemilih. Semua genre aku suka"
" Baiklah sebentar, tunggu di sini" jawab Bimo senang.
Tadi di rumah sakit, begitu mendapatkan telepon masuk dari Mommy Dhita, Bimo langsung bahagia, bisa bertemu lagi dengan gadis yang membuat dadanya berdebar dengan kuat.
Karena mereka kedatangan mereka sudah di luar jam praktek, setelah mengecek kondisi Jill yang sudah baik-baik saja, Bimo berniat mengantar Mommy Dhita dan Jill pulang.
Bak gayung bersambut, Dhita menyarankan Bimo mengajak Dhita jalan atau Nonton, mungkin!
Melepas Jill dengan Bimo, Dhita tak khawatir.
Jill sudah menguasai ilmu bela diri. Lagian suaminya mengenal papanya Bimo, Ganesh Narenda.
Jill dan Bimo bersisian memasuki area Bioskop, sambil memegang 2 popcorn jumbo dan 2 botol air mineral.
Duduk sambil menikmati popcorn menunggu Film di putar, Bimo sesekali melirik gadis cantik di sebelahnya.
"Kau, berapa lama di Jakarta? tanya Bimo basa-basi.
" 1 bulan saja. Hitung hari ini 27 hari lagi"
"Kuliah?"
"Iya, baru mau masuk"
" Kenapa tidak kuliah di Jakarta saja"
"Daddy ku tidak mengizinkannya"
"Ambil jurusan apa nanti?"
"Sama sepertimu, Kedokteran"
"Dimana?"
"Université Grenoble Alpes di kota Kota Saint Martin d'Hères" jawab Jill jujur
Bimo yang mendengar pun tersenyum. Setidaknya, jika dia ingin berjuang, dia bisa menemui Jill di Kota Saint Martin d'Hères.
Jill menikmati film yang sudah di putar di depannya. Film yang membuatnya selalu tertawa. Berbeda dengan Jill yang tertawa karena Film, Bimo justru tertawa karena Jill tertawa. Bimo terus menatapnya.
Jika Bimo menatap Jill dengan penuh cinta, beda dengan pria di belakangnya, menatap kesal rivalnya.
"Berani sekali memandang Jill". Marchell berdiri, dan pura-pura menumpahkan soda di tangannya.
"Maaf, tak disengaja" ucap Marchell tak serius. Mendengar suara yang di kenalnya, Jill berbalik,
"Kau...." ucapnya tanpa suara.
"No problem, aku bisa bersihkan. Aku ke toilet sebentar, Jill" pamit Bimo dan menatap OK pada Marchell.
Melihat Bimo sudah melewati pintu, Marchell menarik tangan Jill, membawa nya keluar bioskop.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jill yang tidak senang di tarik seperti ini.
Jill melepaskan tangannya kasar, saat sudah sampai di sebelah mobil Marchell.
"Apa-apaan kau ini, menarik sembarangan. Aku pergi dengan Bimo, maka pulang dengan Bimo, bukan denganmu!"
Jill berbalik arah hendak meninggalkan Marchell, namun langkahnya tertahan,
Marchell sudah lebih dulu menggendongnya. Membawanya ke mobilnya.
Jill berontak, Marchell membuka pintu dan mendudukkan Jill, memasang seatbeltnya dan..
Cup
Cup
Ayo pulang bersamaku!
Cup
Jangan buat aku cemburu!
Cup
Aku mencintaimu!
Cup
Ayo menikah, sayang!
Tatap Marchell menyudahi kecupan di bibir Jill, lalu mengecup lama kening Jill. Jill terdiam, ada yang berdesir di hatinya perlahan.
Marchell tersenyum melihat Jill di sampingnya, duduk manis dengan wajah merona. Sedangkan Marchell masih fokus mengemudikan mobilnya.
" Kau tinggal dimana?" tanya Marchell basa basi, padahal dia sudah tahu alamat rumah Oma Jill.
"Tidak perlu antar sampai rumah, aku tidak mau bertemu Kinanti saat kau mengantarku nanti" ucap Jill menekan perasaannya.
Marchell menoleh, mengambil tangan Jill dan mengecupnya.
"Ayo, kita jujur pada Kinan. Aku yakin Kinan akan merestui kita. Biar aku yang bicara pada Kinan, bagaimana?" tawar Marchell tersenyum.
"Tidak, tetaplah lamar, Kinanti. Jangan patahkan kebahagiaan dia dengan kabar kita" tolak Jill menekan perasaan di dadanya. Jill sangat takut merusak kebahagian keluarganya.
"Tapi aku tidak mencintai Kinanti, aku mencintaimu" ucap Marchell mencoba membujuk gadis keras kepala di sampingnya ini.
"Tapi kau kekasih Kinanti. Tidak mungkin kalian menjadi kekasih, jika tidak saling mencintai!"
"Mama ku yang menyukai Kinanti dari awal mereka bertemu. Aku tidak ada alasan menolak permintaan mamaku, saat menginginkan Kinanti menjadi kekasihku, saat itu aku masih single. Aku sudah mencobanya, menyukai, tapi tidak bisa. Hatiku menganggap Kinanti, sebagai adik, bukan kekasih, Jill! " terang Marchell frustrasi. Kenapa gadis ini terlalu keras kepala!
" Turunkan aku di depan sana " tunjuk Jill ke simpang jalan sebelum rumahnya.
" Tidak, aku akan mengantarmu sampai depan pagar" balas Marchell membelokkan mobilnya menuju rumah keluarga Jill.
Memasuki pagar rumah keluarganya, Jill terkejut, satpam keluarganya, membiarkan Marchell masuk ke area rumah keluarganya.
Marchell memarkirkan Mobilnya. Jill yang sudah tidak sabar ingin turun, mencoba membuka pintu,tapi tidak bisa, terkunci.
"Buka central lock-nya, Please. Aku tidak mau keluargaku melihatku turun bersamamu"
Mendengar permintaan Jill, Marchell menangkup wajah Jill lalu mengecupnya sebentar..
"Sebentar Jill, berikan aku sedikit kekuatan menghadapi keras kepalamu" ucap Marchell menarik nafasnya.
Dan ******* kembali pink rose Jill-nya. Baik Jill dan Marchell sama-sama menyalurkan perasaannya..
Menatap Marchell yang sedang mengusap bibirnya, Jill menatap lembut, memegang tangan Marchell.
"Kau mencintaiku?" tanyanya lembut
"Iya Jill" jawab Marchell mengangguk.
"Berjanjilah padaku"
"Apa?"
"Tetap lamar Kinanti sesuai kesepakatan kita"
Membuat Marchell diam. Kenapa wanitanya itu, tidak mau berjuang bersamanya?!
"Jill, kau sadar ucapanmu itu, menyakiti kita? Menyakiti kau dan aku, atau calon anak kita?? Ucap Marchell menyentuh perut Jill.
" Lebih baik menyakiti diri sendiri, daripada menyakiti hati Kinanti dan keluarga besarku. Tidak akan ada pengikat di antara kita. Aku pastikan itu" ucap Jill melepaskan sentuhan Marchell di perutnya.
"Tolong buka central lock pintu. Mari kita akhiri sampai di sini" tegas Jill beranjak dari mobil Marchell, begitu Jill mendengar Central lock di buka.
"Baiklah Jill"
"Mari kita bermain dalam permainanmu Jill. Pastikan kau menyesal melepas aku, Jill" ucap Marchell meremas kemudi setir.
Lalu turun saat melihat Kinanti sedang duduk di ayunan di taman keluarga Oma Rima.