One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 12



Perjalanan dari Lawson Salon menuju Hotel Big Lawson sekitar 40 menit dengan suasana macet kota Jakarta.


"Kau haus, Jill" tawar Dhita pada putrinya, yang duduk di belakang bersama tantenya, Vina.


"Thank you Mom. Tapi nanti saja" jawab Jill sembari membuka pintu mobil. Keluarga Abbellard dan Vina, berjalan menuju lobby dulu sebelum ke Ballroom, lokasi reunian sesuai undangan.


"Bang Dika, ga ikut, Vin?" tanya Ditha menanyakan keberadaan abang kandungnya.


"Ntar dia nyusul, Dith. Masih belum selesai meeting", Vina menjelaskan sambil merapikan gaunnya.


"Ck, kita lebih awal 70 menit, seperti kita yang punya acara saja" ucap Abbellard dongkol. Lebih awal 10 menit, okelah. Terlalu cepat 70 menit, mau ngapain di di sini. Sedang istrinya mengatakan acara mulai jam 19.00. Dasar wanita! Pasti ingin bergossip ria di sana! ucap Abbellard melirik istrinya, yang mengedipkan sebelah matanya nakal.


"Aku hanya ingin menyapa teman lamaku saja"


"Siapa? Tigor? Cih, berani kau dekati, Tigor..


" Apa? Jawab Ditha tersenyum


"kubuat kau tak bisa jalan" bisik Abbellard mode merayu.


"Ehm, aku dengar loh, Dith" ucap Vina tertawa.


"Entah! heran, bentar lagi sudah mau punya mantu, tetap aja cemburuan ama Tigor. Dia kan teman ku dari kecil" ucap Ditha menjelaskan.


Melanjutkan perjalanan menuju lobby,Abbellard memutar arah ke meja resepsionis.


Abbellard mengeluarkan Paspornya. Memejamkan matanya sebentar, ingin rasanya sejam merebahkan diri dulu di kamar. Tubuhnya pegal seharian menemani istrinya kesana kemari di kota Jakarta demi sepasang heels saja.


"Mau ngapain, Dad?" tanya Jill lebih dulu, karena ibunya masih bercanda dengan tantenya.


"Order room, sayang. Malam ini kita menginap di sini saja ya, sayang?" tanya Abbellard menjawab Jill, lalu bicara pada istrinya. Ditha mendekati suaminya.


"Apa kau sakit, hingga kita open room?"


tanya Ditha, lalu menempelkan punggung tangannya. "Tidak panas" ucap Ditha heran,karena bukan karakter Abbellard tidur sebelum acara.


"Lion yang panas, sayang" jawab Abbellard pelan di telinga Ditha, supaya putrinya tak mendengar. Ditha yang mendengarnya pun, mencubit tangan suaminya. Bisa-bisanya mau acara, Lion bangun. Ditha mendorong pelan suaminya, lalu menggelengkan kepalanya, Big No!


"Main dokter-dokteran yuk" bujuk Abbellard kembali, yang mendapat pelototan lagi dari Ditha. Ada anak dan ipar, sempat-sempatnya minta main suntik-suntikan. Heran deh! batin Ditha!


"Hahahaha, ada-ada aja kau, Abbellard" tawa Vina sambil memegang perutnya.


"Sorry, just a kidding. Aku benar-benar lelah seharian ini, sayang. Sebelum acara, izinkan aku tidur sejam dulu ya?" pinta Abbellard serius kali ini,tidak bercanda lagi.


Bagaimana kalau, kita menginap di sini malam ini. Kau kan, tidak tau sampai kapan acaranya selesai? Terlalu lelah jika mengemudi kembali di tengah malam, sayang" ucap Abbellard sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Kau mau aku pesankan juga, Vina?"


Tawar Abbellard pada iparnya.


"Bolehlah, lumayan gratis" ucapnya semangat. Vina barisan depan emak-emak pencinta Gratisan. Kalau bisa, pas bayar " Buy one Free angkut semua"


"Mba, 3 Presidential Suite. Untuk 1 kamar tolong connecting room untuk saya dan putri saya, bisa?" tanya Abbellard secara sopan.


"Mohon maaf Pak, 3 suite room saat ini. Semua kamar sudah full reserved Pak. Banyak peserta event kami yang sudah jauh-jauh hari memesan Pak, mau saya reservasi untuk 3 suite room Pak? tanya resepsionis bernama Anggun tersebut.


"Baiklah, tidak masalah. Apa bisa semua dalam 1 lantai?", tanpa Abbellard kembali.


"Mohon maaf Pak, 3 room yang saya cek, berbeda lantai semua Pak, 712, 418 dan 911 Pak. Bagaimana Pak, mau saya lanjutkan prosesnya? Ucap resepsionis Lawson Hotel sopan.


" Baiklah, saya ambil ke tiganya" jawab Abellard akhirnya. Daripada harus keluarkan mobil cari hotel lainnya, mending di sini saja. Toh, cuman numpang tidur saja.


Menerima 3 keycard berbeda. Jill langsung memilih room 911. Abellard paham, Putrinya ini sangat suka menatap kota di malam hari. Itu kenapa memilih lantai9. Jill segera memasukkan keycard tersebut kedalam handbagnya.


"Jill, jika ada apa-apa call daddy, atau ke 712 ya. Daddy dan Mommy disana menginap"


"iya Dad" jawab Jill menatap Daddynya.


" Tenang Dad, aku baik-baik saja sendirian", ucap Jill menenangkan Daddynya.


"Sayang, aku tidur sebentar ke kamar ya. Aku pastikan menemuimu di ballroom tepat jam 8 malam", ucap Abbellard berpamitan pada anak dan istrinya, lalu masuk ke dalam lift.


"Yess..." ucap Ditha sangat senang. Akhirnya selama satu jam kedepan dia bebas, tidak ada pawang. Merdeka!


Jill dan Vina yang melihat hal itu, hanya tersenyum sambil menggeleng.


Menunggu Lift terbuka, Ditha mengirimkan pesan ke Maxime via WhatsApp, menanyakan keadaan Ibunya dan memberitahu kemungkinan mereka akan menginap.


"Oma baik-baik saja Mom. Sudah minum obat dan terlelap. Aku sekarang tidur bersama Oma" balas pesan Max.


Ting!


Ditha menerima 1 pesan gambar di WhatsApp.


Membuka dan melihat, Max yang tidur sambil memeluk Oma-nya.


"Anakmu tampan" ucap suara wanita di telinga Ditha. Ditha menengok.. Siapa ya? mencoba mengingat perempuan di depannya. Memasukkan ponselnya ke dalam handbag-nya.


"Anita? Iya kan? Yang duduk di belakangku dulu, yang chubby" ucap Dhita sambil menggembungkan pipinya. Bukan bermaksud mengejek wanita di depannya, cuman mempertegas ciri khasnya dulu saat sekolah.


"iyah.." jawabnya.


"Ikh, kamu makin cantik aja sekarang" ucap Ditha memeluk Anita. Lalu Vina yang memang masih berhubungan baik dengan Anita juga memeluknya.


"Baru juga pisah 7 jam yang lalu" canda Vina memeluk Anita.


"Kok bisa 7 jam yang lalu, Vin?tanya Ditha kepo.


" Lah dia baru ngambil gaun di Boutique aku. Ini customer spesial di Boutique aku loh. Ga percaya, Spesial?! Lihat deh ikat rambutnya, 2 kan karetnya?! canda Vina membuat Anita tersenyum.


Berbincang selama di lift,membahas apapun yang bisa mereka bahas, masuk dalam ballroom dan duduk di meja berbentuk lingkaran di tengah ballroom.


"Yang cantik ini siapa ya?" tanya Anita menatap Jill. Cantik luar biasa, batin Anita.


"Ini Putri ku, Jill. Yang tadi kamu lihat di ponselku, Maxime, kakak kembarnya" jawab Dhita memperkenalkan anaknya. Jill berdiri dan menyalim Anita.


"Bule, bisa salim juga toh?" tanya Anita tak percaya melihat Jill menyalimnya.


"Udah aku biasakan dari kecil, Nit. Bule satu lagi yg di rumah, bahkan khatam makan pakai tangan",balas Dhita menceritakan anaknya yang memang dia didik menggabungkan 2 kebudayaan.


"Mereka fasih bahasa Indonesia, juga?" Anita menatap Jill kembali, kaget karena Jill sebelumnya memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia.


"Iya dong. Bahasa Indonesia kami gunakan dalam percakapan sehari-hari. Walaupun di mixed dengan bahasa Perancis. Jadi, dari kecil, mereka bicara dengan ku pakai bahasa indonesia, jika ngobrol dengan Daddynya, bahasa Prancis" jelas Dhita seadanya.


"Wah luar biasa! Btw, putrimu sudah punya kekasih, Dith?" tanya Anita lagi. Entah kenapa dia ingin menjadikan Jill sebagai menantunya. Toh bibit bebet bobot keluarga mereka berdua jelas.


"Belum, masih ting-ting" ucap Ditha nakal. Mereka semua tertawa, berbeda dengan Jill yang menahan malu. Mommy, ikh!


" Kebetulan anakku juga masih single loh. Dia Direktur muda di perusahaan kami. Usia 25 tahun saat ini. Mungkin datang sebentar lagi"


"Usia 25 tahun? Bukannya, aku lebih dulu menikah daripada kalian? Kenapa lebih tua 7 tahun ya? tanya Ditha penasaran.


" Dia anak tiri rasa kandung, Dith" ucap Anita. "Putri kandungku masih berusia 11 tahun" jawab Anita tanpa menutupi apapun. Mereka yang mendengar perkataan Anita pun, tidak bertanya apapun lagi. Toh, bukan urusan mereka!


"Aduh kok aku yang deg-degan ya, padahal Jill yang mau ketemu calon kekasih" ucap Ditha tersenyum. Untung Abbellard sudah tidur. Jika dia dengar ucapannya, pasti dirinya sudah di seret pulang, lalu di hukum asik-asik.


"Ada fotonya? Sini, tante lihat! Mata tante paling jago kalo soal beginian?" ucap Ditha menepuk dadanya, seolah-olah dirinya, tante-tante nakal di luaran sana.


Jill yang melihat hal tersebut, ingin rasanya langsung pergi, naik lift dan menggunakan akses Keycard ruangannya. Mending di kamar daripada mendengar hal beginian.


" Bisa aja kamu Dith. Tuh, anaknya Dith" ucap Anita, menunjuk ke arah pemuda yang baru saja masuk pintu Ballroom.


Anita melambaikan tangannya dan memanggil anaknya. Pria muda menggunakan stelan jas hitam tersebut mendekati arah meja Anita saat ini.


"Malam Bu, malam tante semua" ucap Pemuda tersebut sopan.


"Perkenalkan saya Tommy, Tommy Argantoro", lalu mengambil posisi duduk dekat Anita.


"Vin, bawa kacamata?tanya Ditha melirik arah tas Vina.


" Gak, di mobil tinggal. Buat apa? " tanya Vina balik. Dasar ga peka, sungut Ditha dalam hati.


" Buat di pakailah. Silau mata ini melihat ketampanannya" ucap Ditha bergurau, membuat Jill tersedak dan Anita tertawa.


"Tommy masih single?" tanya Dhita to the point. Membuat yang ditanya terbatuk-batuk. Baru saja kenalan, sudah menanyakan status. Aneh!


"Maksud Tante..? tanya Tommy dengan sopan.


" Ish ish, jangan panggil Tante, atuh!


"Lalu? Tommy harus panggil apa ya Tan?


" Panggil kakak saja, panggil de-de juga boleh! ucap Dhita yang membuat Tommy terbatuk kembali. Jill melirik Mommnya, sekarang dia tahu kenapa, Daddynya selalu menemani mommnya di setiap arisan atau acara apapun, kecuali saat ini. Ck ck..


Dasar daddy cemburuan sama Om Tigor, selalu menyalahkan Om Tigor, padahal istrinya sendiri melawan arus...


Ish ish ish


"Hahahaha, tante bercanda saja kok Tommy. Sudah lama tidak merasakan suasana seperti ini, goda dan di godain" ucap Ditha lagi. Pemuda depan ini terlalu kaku, bukan lawanku bercanda!


Vina hanya tersenyum tipis saja mendengar gurauan Ditha. Semenjak Boutique terkenal di Indonesia, Vina mulai menahan diri. Dia terlalu malu, ketemu kolega pas posisi ngakak!


"Ditha... Ditha, udah tua masih gombal aja" bisik Vina ke Ditha.


Yang di bisikkin malah terkekeh. Meskipun suka menggoda orang, bukan berarti dia suka bergonta-ganti pasangan.


Hanya Abellard saja prianya, kuncinya. Dia tidak menerima kunci lain untuk Gemboknya!