
"Mari Nona saya tunjukkan koleksi gaun di Vina Boutique" ucap pegawai Vina dengan sopan, mengarahkan tangannya, lalu memimpin jalan.
"Wah, ini bagus-bagus semua, Mba" ucap Jill terpukau, melihat deretan koleksi gaun rancangan tantenya. Pegawai tersebut hanya tersenyum mendengar pujian Jill atas karya atasannya, Vina.
"Mendekati satu buah gaun putih gading, di pajang di sebuah patung manekin.
" Ini bagus banget mba. Gaun siapa ini mba?",tanya Jill dengan pandangan berbinar.
Sungguh, Jill terpukau melihat gaun tersebut. Betapa cantiknya. Mencoba meraba kelilingi gaun tersebut.
Lalu mundur selangkah, memperhatikan detail payet gaun tersebut. Luar biasa karya tantenya ini, batin Jill dalam hati.
" Sepertinya ini gaun pernikahan ya mba?" tanya Jill penasaran dengan gaun indah tersebut.
" Iya Jill, itu gaun pernikahan. Gaun itu tante buat khusus Kinanti. Ya walaupun tante ga tau, kapan nikahnya! Kamu mau coba, Jill? Jawab Vina tiba-tiba. Membuat Jill kaget dan menoleh ke asal suara.
"Tante, lupa bawa gaun Nyonya Lawson, makanya ke sini. Coba saja gaun itu. Tante rasa ukuran tubuhmu tidak jauh berbeda dengan tubuh Kinan. Kinan beberapa kali tante minta untuk mencoba, tapi tidak mau. Jadi gaun itu, termasuk gaun tak bertuan" ucap Vina menjelaskan.
"Anggi, tolong bantu keponakan saya menggunakan gaun itu ya. Saya masih ada urusan dengan Nyonya Lawson. Putranya tiba-tiba ingin ikut acara malam ini, dan ingin melihat stelan jas terbaru kita. Biar saya yang handle" Vina menjelaskan secara detail pada pegawainya. Melambai pada Jill, dan langsung berjalan ke ruangannya dengan 2 model gaun, yang di bawa pegawai lainnya.
"Thank you tante" Jill katakan dengan mengangkat tangan membentuk hati.
Tiga pegawai tantenya, mencoba membantu Jill menggunakan gaun tersebut. Di ruang fitting room yang cukup luas ini, tidak ada pintu, di kelilingi kaca besar, ruangan hanya di tutup tirai tebal.
Wah, cantiknya aku. Kalau Maxime melihat, pasti semakin ketat penjagaannya, batin Jill sembari tersenyum melihat dirinya di pantulan kaca.
"Non, saya sebentar ke ruangan Bu Vina. Mau antar paper bag ini" ucap Anggi sopan pada Jill.
"Iya mba Anggi gapapa. Aku juga masih betah ini memandang cermin"
"Baik Non" pamit Anggi akhirnya.
Bersenandung menyanyikan lagu Beautiful in White. Jill tampak gembira mengenakan gaun tersebut. Sesekali, mengembangkan gaunnya lalu berputar-putar.
Aduh, Jill merasa pusing setelah beberapa kali putaran. Dan merasa tubuhnya mulai akan jatuh..
Tap..
Degh, seseorang menangkap tubuhku! Jill mencium aroma parfume Clive Christian. Ia mengenali aroma ini, karena Maxime menyukai parfume ini.
Untunglah Maxime yang menopangku.
"Max.. Lepas, aku sudah kuat berdiri" ucap Jill mencoba berdiri. Tegak namun terpaku. Dia bukan Maxime, Oh my God..!
"Siapa Max, aku Marchel bukan Max! Apa kau salah sebut nama?" tanya Marchel menelisik tampilan Jill saat ini.
Ya, Marchel adalah pewaris tunggal keluarga Lawson. Dia sengaja datang, karena Mamanya meminta di temani untuk acara malam ini, dan dia butuh stelan jas terbaru.
"Iya Maaf! Lagipula aku tidak meminta mu untuk menolongku" sungut Jill yang memang tidak suka bertemu dengan Marchell, tapi karena dia kekasihnya Kinanti, maka Jill akan berusaha lebih baik.
"Ya sudah sana, ngapain masih di sini?" pinta Jill seraya mengibaskan tangannya mode hus,hus,hus. Tapi yang di usir malah tidak peka. Justru semakin santai berjalan ke arah sofa, tepat Jill berdiri.
"Cih, apa mau dia sekarang? Aku sudah minta maaf, lalu apalagi? Malah duduk menatapku! Cibir Jill menatap balik Marchel yang menatapnya.
" Cantik.. "puji Marchel tiba-tiba saat memandang Jill.
" Aku memang sudah terlahir dengan sangat cantik, asal kau tahu" jawab Jill dengan pedenya,membalas ucapan Marchel.
"Bukan kau yang kumaksud, Gaun itu yang cantik" balas Marchell mematahkan kepedean Jill. Namun dalam hati, Marchel tersenyum.
Sedangkan Jill yang mendengar kalimat terakhir Marchell, menghentakkan kakinya, menatap jengah pria di depannya.
"Kenapa masih disini, sana cari yang kau butuhkan di Boutique ini. Jangan ganggu aku" ucap Jill kembali mengibaskan tangannya.
Marchel yang melihat kibasan tangan itu, malah tersenyum. Gadis ini, dia pikir aku kucing ya...
Menatap kembali pria di depannya, Jill melipat tangan, menegakkan kepalanya.
"Kau apakan Kinanti setelah aku pamit pulang di coffee shop?" tanya Jill terus terang.
"Kinanti? Kenapa? Aku tidak apa-apakan dia. Kami baik-baik saja" ucap Marchel santai. Jill menatapnya penuh selidik, tapi sepertinya tidak ada kebohongan dari ucapannya, pikir Kinanti.
"Lalu kenapa, tiba-tiba dia sakit setelah pulang dari Coffee shop?" selidik Jill kembali.
"Aku mana tahu. Coba kau sendiri yang tanya sama Kinanti. Apa yang membuatnya sakit? Jangan-jangan memang karena Kinanti kelelahan. Kau, jangan asal tuduh ya!" serang balik Marchel.
Dia tidak terima dituduh sebagai dalang sakitnya Kinanti. Walaupun dia tahu apa penyebabnya.
"Baiklah aku pergi dulu. Sepertinya kehadiranku membuatmu sangat nyaman, benar?" ucap Marchel bergurau. Ingin memecah suasana dingin antara mereka. Dia pura-pura berdiri, agar Jill percaya dia akan pergi.
"Apa kau sedang mabuk?" tanya Jill. Nyaman? Cih, ngarep!! Batin Jill.
"Kenapa kau bilang mabuk?"
"Auramu....
" Jill, aduh cantiknya keponakan tante" ucap Vina yang tidak sengaja melihat Jill saat ingin mengantar Nyonya Lawson ke luar Boutique, karena urusannya sudah selesai. Jill yang merasa di panggil menoleh ke arah tantenya berdiri.
"Masa sih tante?" ucap Jill malu-malu kucing.
"Dalam sedetik cepat sekali rautmu berubah. Apa kau memiliki kepribadian ganda, Nona Jill?" ucap Marchel menggoda Jill. Entah kenapa dia mulai suka menggoda gadis di depannya.
"Kalian saling mengenal?" tanya Nyonya Lawson yang berdiri di sebelah Jill. Dia takut putranya tertarik dengan Jill. Sedangkan dia sudah sangat menyayangi Kinanti, Putrinya sahabatnya, Vina.
"Tidak" jawab Jill cepat
"Iya" jawab Marchel
"Mana yang benar?" tanya Nyonya Lawson bingung. Jangan sampai Marchel jatuh hati padanya,batin Nyonya Lawson sembari memandang keduanya.
"Kau tidak kenal aku, ya?" tanya Marchel, menaikkan alisnya. Entah kenapa dirinya sedikit tercubit atas penolakan gadis di depannya ini. Semua gadis yang dia kenal ataupun tidak di kenalnya, semua memuja yang ada pada dirinya, saat mereka melihat dirinya. Termasuk sepupunya, Kinanti.
"Yakin, tidak mau mengaku" tanya Marchel lagi. Menaikturunkan alisnya, seakan ingin bernegosiasi dengan gadis di depannya.
"Jangan sampai aku mengatakan hubungan kita yang sebenarnya pada mereka" ucap Marchel sedikit mengancam.
"Gaya bicaramu seakan-akan kita berdua, punya hubungan. Hubungan apa? Cih, melihatmu saja barusan. Tiba-tiba masuk ke area fitting room, seolah-olah kaulah yang berhak melihatku menggunakan gaun ini. Kenal saja, tidak",ucap Jill panjang lebar, sengaja agar tantenya tidak berpikiran apapun.
Bagaimana pun, pria di depannya ini, kekasih sepupunya, Kinan. Lebih baik dia melukai hati pria ini, daripada melukai hati keluarganya.
"Aku tanya sekali lagi, yakin kau tidak mengenalku" tanya Marchel sekali lagi dengan suara tertahan. Nyonya Lawson langsung menoleh mendengar suara serak putranya. Dia tahu anaknya sedang menahan emosi.
Lalu kenapa anaknya emosi, kalau gadis ini mengatakan tidak mengenalnya. Atau apakah memang mereka punya hubungan tanpa sepengetahuannya!
"Tidak.. Aku tidak kenal siapa kau" jawab Jill mantap mengatakan itu, sambil menatap mata pria di depannya.
"Baiklah, kalau begitu" ucap Marchel terdengar santai, lalu berjalan maju mendekati gadis yang masih menggunakan gaun pengantin itu.
"Bisa kau jelaskan pada mereka apa ini" ucap Marchel seraya mengecup singkat pipi Jill, lalu terkekeh menatapnya.
Berjalan santai menuju pintu keluar Boutique dan meninggalkan tiga wanita yang shock atas tindakannya.
"Ishh.. Dasar pria kurang asemmm!"
Ingin mengejar, terhalang beratnya gaun yang masih Jill pakai.
"Awas kau yaaa, asemm" maki Jill tidak terima. Sedangkan pria yang dimakinya, tertawa puas di dalam mobilnya