
"Jason, aku pamit pulang sebentar ya ke Jakarta. Mungkin aku akan kembali sini lusa. Aku berharap, kau sudah sadar saat aku menjenguk mu kembali".
Sudah 1 jam Kinanti duduk di sebelah Jason. Mengatakan hal-hal positif, yang merangsang alam sadar Jason untuk segera sadar. Menceritakan hal-hal lucu, konyol saat mereka bermain bersama dulu.
Tapi waktu sudah menunjukkan isyarat dia harus berangkat, 3 jam sebelum waktu keberangkatan kembali ke Jakarta.
"Jika kau sudah sadar, aku janji akan menemani mu pulih bersama. Aku pamit ya" ucap Kinanti, beranjak dari kursinya menuju pintu keluar.
Tanpa Kinanti sadari, Jason meresponnya. Jari kelingking Jason bergerak lemah beberapa kali.
Di Bandara Internasional Juanda, pria berkaca mata hitam, berjalan sendirian tanpa asisten menemani. Marchell tidak menyadari, dia baru saja selisih jalan dengan Kinanti.
Ting!
Berhenti sebentar, Marchell mengambil ponselnya.
"Kau dimana, beib?"
Begitulah isi pesan WhatsApp Kinanti baru saja.
Marchell menatap bersalah pada nama tersebut. Maafkan aku Kinanti, menyakiti gadis sebaik dirimu, gumam Marchell pelan membaca nama Kinanti.
"Ada urusan pekerjaan di luar kota. Aku akan menemuimu lusa" balas Marchell.
Baiklah, aku menunggumu, gumam Kinanti pelan dan tersenyum bahagia. Melangkah dengan riang menuju gate keberangkatannya ke Jakarta.
Di lain tempat, di sebuah rumah mewah di daerah selatan kota Jakarta, seorang wanita berusia, berjalan pagi di area taman lingkungan bersama anak, mantu dan cucunya.
"Jill, alergimu bagaimana?" Ditha bertanya sambil menuntun pelan ibunya.
"Sudah baikkan, Mom"
"Kita periksa saja dulu nanti ya. Mommy khawatir"
"Baiklah, Mom"
Ditha tersenyum, menemui dokter Bimo adalah rencananya. Dia akan mencoba mencari informasi terkait dokter tersebut. Berobat dan berkenalan, sekali tembak dua kena!
"Maxime, kenapa kau dari tadi diam saja
Kau ambeien?" tanya Ditha, membuat Oma senyum
Sedangkan yang di tanya, kesal dan membalikkan tubuhnya
"Lagian apa hubungannya ambeien dan mulut, Mom?" tanya Maxime.
Ditha tertawa, dan merangkul Maxime dari belakang.
"Kau kesal karena kemarin?"
"Karena Jorok, Jomblo dari orok?!" ucap Ditha mempertegas,menambah kadar malunya Maxime.
Maxime memang masih kesal dengan Mommynya. Yang mencoba mendekatinya dengan anak gadis temannya. Maxime heran, usia mereka masih sangat muda, kenapa selalu dipermasalahkan ibunya jika belum ada pasangan! Jika memang ada gadis yang membuatnya tertarik, dia akan bawa ke hadapan ibu! Sabar, ih!
"Sayang sudah, jangan goda Maxime lagi" ucap Abbellard menarik tangan istrinya yang sedang merangkul anaknya.
Ditha mendelik pada Abbellard. Tak terima rangkulannya di lepas Abbellard.
"Kau ini kenapa sih? Kau cemburu, aku memeluk anakku?"
"Lalu kenapa kau lepas?!
" Kondisikan posesifmu sayang!"
" Baiklah, tapi peluklah sewajarnya saja" ucapan Abbellard yang membuat Ditha mengerutkan lidahnya.
"Kalau aku.... mmuachh.." ucap Ditha menarik langsung pipi Maxime.
Membuat anak dan Daddy tersebut melotot. Oma dan Jill justru terkekeh melihatnya. Mommynya memang paling the best menggoda Daddnya.
"Kau...!" ucap Abbellard tak terima. Lalu berjalan menuju salah satu kursi di taman tersebut.
"Cih, liat mantu kesayangan ibu. Udah beruban, kelakuannya..." ucap Dhita menunjuk pria yang sedang mengambek tersebut.
Lalu berjalan sambil tersenyum, duduk dan menggoda suaminya.
"Ish.. Ish, kau semakin tampan saja, kalau ngambek. Jadi pengen telepon Tigor" " goda Ditha nakal.
" Coba kalau berani" tantang Abbellard geram.
"Kau berani marah padaku?"
"Tidak sayang"
"Coba saja ngambek, aku keringkan kolam susu-mu!!" ucap Dhita asal. Mana mungkin dia mengeringkan 2 kolam yang slalu di bawanya kemana-mana.
Ucapan Dhita tersebut, membuat Abbellard terkekeh. Istrinya ini memang paling bisa, menghiburnya.
"Masih ngambek? Mau aku tutup lokasi tambang emasmu? Ucap Ditha sambil melirik ke bawah sebentar.
" Ikh bukannya jawab, malah balik badan. Ngambek lagi, aku ganti wisatawan nanti, ke Obyek wisata "naik-naik ke puncak gunung"!
"Mau?" tanya Ditha lagi.
"Nakal" toel Abbellard lalu memeluk istrinya. Mana rela dia, ada orang lain menikmati objek wisata "naik-naik ke puncak gunung dan kolam susunya!".
"No one" Never! "
Sore ini, Ditha sudah mengatur jadwal konsultasi dengan Dokter Bimo. Ditha berinisiatif menghubungi nomor Bimo yang tertera di name cardnya.
Abbellard tidak bisa ikut, karena ada client penting yang harus di handle bersama Dika, di kantor cabang CapAbbellRD di Bali.
Maxime? Seperti biasa, sangat betah bersama Oma kesayangannya.
Biarlah Abbellard mengejeknya Mak Comblang. Toh niatnya kan baik, hanya memperkenalkan saja, jika tidak cocok, ya sudah. Dia bantu cari lagi.
Anak-anaknya tidak akan mencari pasangan sepertinya. Setiap hati kemana-mana selalu berdua.
"Sus, ruang praktek Dokter Bimo, dimana ya?" tanya Ditha di Front Desk rumah sakit.
Dhita dan Jill berjalan sesuai petunjuk perawat tersebut.
Seorang asisten perawat, langsung mempersilakan mereka masuk.
"Selamat sore Dokter Bimo"