One Month in Jakarta

One Month in Jakarta
Bab 30



"Stop sayang!" Abbellard segera menghampiri istrinya tersebut, merangkulnya agar tetap di sisinya.


"Iiih, lepas!" Dhita mencoba melepaskan rangkulan erat Abbellard. Berkacak pinggang menatap Abbellard.


"Aku mau bicara dengan Tigor sahabatku, kau kan juga disini, kenapa masih dilarang?"


"Tidak bisa, kau bisa bicara dengan dia melalui video call saja, pakai ponselku!"


"Orangnya ada di depan ku, ngapain harus video call segala?"


"No!"


"Tigor, apa kabarmu?" sapa Dhita sedikit berlari dari hadapan suaminya."


"Aku senang melihatmu disini," balas Tigor mengarahkan tangannya untuk high five, seperti kebiasaan mereka berdua dulu jika bertemu.


Tos!


Biar aku saja yang menggantikan Dhita ya,"Istriku sangat sensitif kulitnya. Kau pasti tau itu!"


"Sejak kapan Dhita sensitif kulitnya?" tanya Tigor penasaran. Mereka sejak kecil bermain dengan Dhita di sawah di perkampungan belakang rumah Bu Rima, mencari anak kodok, untuk umpan pancing mereka, menangkap belut, selalu berkubang dengan lumpur, belum pernah melihat ruam-ruam di kulit Dhita.


"Sejak 5 menit yang lalu!"


Mengabaikan kalimat Abbellard barusan, Tigor menatap sahabatnya lagi.


"Kau punya lakban?"


"Tidak, untuk apa Lakban?"


"Untuk menutup mulut suamimu itu, menyebalkan"


"Mana keponakanku, kangen aku!"


"Mereka ada di atas semua, mau kuantar menemui mereka?" tawar Dhita, yang di anggukin oleh Tigor.


Mereka berjalan melewati Abbellard yang ngambek luar biasa.


"Kau tidak apa-apa mengabaikan dia,begitu saja?"


"Tidak, aku punya cara menjinakkannya!" Dhita tersenyum.


"Lakban, kau bilang? Aku bahkan ingin mencari karung untukmu!" geram Abbellard, mengikuti istri dan mantan rivalnya itu.


Test


Test


Test


Suara Mic dari MC menghentikan langkah mereka bertiga, yang hendak menaiki tangga.


Keasyikan berdebat, membuat mereka lupa, acara lamaran akan dimulai.


" Kami ucapkan selamat datang kepada keluarga Alm. Bapak Reinhard Lawson dan Ibu Lawson dari Jakarta Selatan, yang telah datang di kediaman Bapak Dika Setya Nugraha dan Vina Kurniawan di Jakarta Pusat.


Kami persilahkan kepada keluarga Alm. Bapak Reinhard Lawson untuk memasuki ruang acara dan menempati tempat duduk yang telah disediakan.


"Gor, acara sudah di mulai. Kalian berdua, duduk dulu di sana," tunjuk Dhita ke arah tempat duduk pihak keluarga perempuan.


"Sayang, aku cari anak-anak dulu ya. Kalian berdua bergabung dulu sana. Duduk di bangku masing-masing ya. Awas, jangan pangkuan kalian berdua," guraunya, langsung menaiki tangga.


Dhita mencari Jill dan Maxime yang dari tadi belum kelihatan. Segera menuju ke kamar Kinanti, untuk mencari Jill.


Berpapasan dengan Kinanti dan Vina yang akan turun.


"Kinan, kamu lihat Jill? Tante belum lihat mereka berdua dari tadi," tanya Dhita terhenti di tangga paling atas, tempatnya berpapasan dengan Kinanti.


"Ada di kamarku, Tante. Jill sepertinya kurang sehat, wajahnya sangat pucat, jadi kami suruh tidur dulu," balas Kinanti.


"Tadi, aku coba bangunkan juga beberapa kali, tapi tetap tidur, jadi kami tinggal turun ke bawah," imbuh Vina yang segera mengajak Kinanti turun, karena MC sudah memanggil mereka.


" Ayo Dhita, biarkan Jill tidur dulu," ajak Vina sebelum melangkah.


"Kalian duluan dulu, aku cek Jill dulu ya," ucap Dhita berlari, membuka pintu, dan benar saja, Putrinya masih pulas.


Mendekati Jill dan mengecek suhunya, tidak panas. Tapi kenapa Jill pucat sekali. Dhita duduk di tepi tempat tidur, mencoba membangunkan Jill.


"Mom, apa Jill belum bangun? Apa masih pucat?" Maxime yang baru saja datang, mencecar Dhita langsung.


"Kau darimana saja tadi?" tanya Dhita tidak menjawab pertanyaan Maxime. Toh, Maxime bisa melihatnya langsung.


"Aku menemani Oma, Mom"


"Jill, Jill, kau tidak ikut acara di bawah?" Maxime juga ikut mencoba membangunkan Jill, tapi gagal.


"Mom, kita biarkan saja dulu Jill, beristirahat. Selesai acara, kita cek lagi, jika masih pucat, nanti aku bawa ke dokter"


"Tidak usah ke dokter, tadi Mommy lihat ada dokter Bimo di bawah. Biar nanti Bimo saja yang periksa," ucap Dhita, langsung menarik Maxime keluar kamar Kinanti.


Menuruni tangga, sayup-sayup Maxime mendengar kata sambutan dari keluarga pria.


...Pada hari ini, kami hadir di tengah-tengah keluarga Bapak dan Ibu, tiada lain dalam rangka bersilaturahmi agar saling mengenal satu sama lain dengan lebih dekat. Selanjutnya, kami juga ingin menyampaikan maksud dari keponakan kami yang sudah cukup lama mengenal putri Bapak dan Ibu. maka dari itu, izinkan kami mewakili Marchell Lawson untuk menyampaikan niat baik yang tulus untuk melamar putri Bapak/ Ibu sebagai wujud keseriusan kami....


Serangkaian prosesi berjalan dengan baik di pandu oleh MC, sampai tahap menunggu jawaban dari wanita yang saat ini dilamar.


Dengan menyebut nama Allah dan dengan restu Ayah Ibuku, aku bersedia menikah denganmu, Marchell Lawson.


Kinanti meneteskan air mata bahagianya, mengucapkan kalimat tersebut. Selangkah lagi, dia dan Marchell akan menjadi satu dalam pernikahan suci.


Marchell menatap hampa sekumpulan manusia-manusia di hadapannya, sebelah kiri, sebelah kanan, dia tidak melihat sosok Jill di sana.


Jelas, dia melihat Jill tadi datang bersama seorang pria. Marchell lupa, Maxime yang bersama Jill dulu sudah pernah di kenalkan Dhita sebagai kembaran non identik Jill.


Marchell mendengar kembali, MC mengambil Mic.


Hadirin yang berbahagia, setelah mendengarkan penyampaian dari kedua belah pihak, maka saatnya kini tiba di acara penyematan cincin oleh Marchell Lawson kepada Kinanti Putri Nugraha sebagai simbol pengikat dilaksanakannya acara lamaran ini.


Marchell menarik nafasnya, mengambil cincin yang di serahkan padanya, menatap Kinanti lama, sebelum menyematkan cincin di jari Kinanti.


Bertepatan Jill muncul di belakang Kinanti, saat penyematan cincin selesai. Marchell tergugu, menatap 2 wanita di depannya. Satu, calon istrinya, satu lagi pemilik hatinya.


Marchell tidak mendengar apapun lagi, yang MC katakan selanjutnya. Fokusnya hanya pada Jill, yang terlihat sangat pucat.


"Apa dia sakit?" pikiran Marchell berkecamuk, tetap menatap Jill.


Nyonya Lawson yang sedari tadi, menatap Marchell, dan fokus pandangannya, bukan pada tunangannya, justru pada gadis di belakang Kinanti, menyenggol Marchell.


"Perhatikan pandanganmu. Mama sudah memberikan pilihan padamu, dan inilah pilihanmu, sayang," bisik Nyonya Lawson, menempuk bahu Marchell.


Berusaha mengembalikan fokus anaknya pada acara selanjutnya.


Berbeda dengan Marchell, yang terus menatap Jill, Jill mengarahkan pandangannya ke arah lain. Hatinya benar-benar tidak kuat, menatap Marchell.


Saat terbangun, dan samar mendengar MC bicara tentang cincin, Jill segera turun dari tempat tidur. Perlahan membuka pintu agar suaranya tidak mengganggu acara, bersandar sebentar pada dinding, karena kepalanya begitu berat.


Berusaha mengumpulkan tenaganya, Jill mencoba menuruni tangga. Ditangga terakhir, jelas dia melihat, Marchell menyematkan cincin di jari Kinanti. Berhenti sejenak, menahan air matanya. Mengangkat wajahnya, agar tidak ada yang melihat raut sedihnya.


Entah, kenapa akhir-akhir ini dia cengeng sekali.


Berjalan menuju arah keluarga besarnya, Mom dan Maxime yang melihatnya datang, melambai.


Jill ke arah mereka, berdiri di samping Maxime. Tapi saudaranya, malah menggesernya ke belakang Kinanti.


Membuat Jill bertatapan dengan Marchell beberapa menit, sebelum Jill memutus tatapan mereka. Kepalanya benar-benar pusing.


Dia tahu, Marchell masih menatapnya sampai sekarang, bahkan setelah mamanya mengingatkannya.


"Kau tidak apa-apa?" Maxime merangkul Jill dan melihat raut Jill yang bukannya semakin segar setelah tidur, malah semakin pucat.


"Iya, baik-baik saja, lambungku sepertinya belum baik-baik saja"


"Mau ku ambilkan beberapa cemilan atau makanan, Jill?" tawar Maxime lagi.


"Tidak, aku sudah mendingan kok," bohong Jill, bahkan tubuhnya bergetar menahan kepalanya yang sangat berat.


"Baiklah, aku tinggal sebentar ke kamar mandi ya, Joni-ku sepertinya mau mengguyur bumi," guraunya mengelus kepala Jill sebentar dan berbalik menuju toilet.


GUBRAK


"JILLLLLLLL!!"