
Marchell segera menyusul Jill ke toilet dan menunggunya di depan toilet. Beberapa wanita yang keluar dari toilet, berusaha menggodanya.
"Pria tampan, mau ku temanin?" ucap mereka.
Bukannya menjawab, malah menatap dengan sinis.
"Pergi kalian" seru Marchell.
Jill yang sudah selesai, berlalu begitu saja melewati kekasih sepupunya itu.
"Cih, dasar playboy! Ngincar gadis kok depan toilet". Melewati Marchell yang sedang di kelilingi para gadis.
"Sayang, tunggu" ucap Marchell sengaja memanggil sayang, agar gadis-gadis di depannya segera menyingkir.
Jill yang tidak merasa di panggil pun, tetap berjalan.
"Gadis ini!" desis Marchell, mengejar Jill. Menarik pergelangan tangan Jill
Jill berbalik dan menatap sengit Marchell.
"Aw, apa-apaan kau ini?!". Suara Jill terdengar kuat di telinga beberapa manusia yang berada di sekitar mereka. Menatap mereka berdua, lalu kembali bicara dengan lawan masing-masing.
Sedangkan di sudut bangunan, dekat area minuman para tamu, seorang pria menaburkan sesuatu tanpa ada yang tau. Mereka terlalu sibuk dengan temannya.
"Kau, lihat orang disana" tunjuk Pria tersebut, ke arah Marchell dan Jill. Pelayan yang di hentikannya pun melihat ke arah yang d tunjuk pria tersebut
"Berikan minuman ini ke mereka" ucapnya memerintah. Pelayan tersebut bingung.
"Dan ini upahmu" ucap pria berkemeja navy, bernama Tommy tersebut. Membuat pelayan tersebut tersenyum, lalu berjalan ke arah Jill dan Marchell.
Tommy yang dari awal menyukai Jill, marah, melihat Jill tidak menanggapinya. Berusaha mengajaknya bicara, malah hanya ditanggapi biasa saja. Padahal dia tidak tau, memang begitulah Jill saat bertemu orang yang baru dikenalnya.
Melihat Jill justru akrab dengan rivalnya dari kecil, dan juga rival perusahaannya, Tommy semakin marah.
"Kalian sepertinya sangat bersenang-senang, akan kubuat kalian lebih senang lagi" dan menatap kedua manusia di depannya.
Pelayan berseragam putih-hitam tersebut, berjalan menuju beberapa tamu dulu, sebelum tiba di depan Jill dan Marchell. Sengaja, agar tidak ada yang curiga.
"Minumannya, Nona" tawar pelayan tersebut.
"Maaf, aku tidak haus" tolak Jill secara halus.
Berbeda jawaban dengan Jill, justru Marchell mengambil dua gelas minuman terakhir.
"Ini peganglah, ayo kita bicara di depan sana. Aku malas di dalam" ajak Marchell dan tidak di gubris Jill.
Tidak langsung menerima pemberian Marchell. Jill hanya menatap nanar gelas tersebut. " Apa yang ingin kau bahas, tuan?"
"Tentang Kinanti?" tanya Jill
" Iya.." jawab Marchell basa-basi. Bukan Kinanti yang ingin di bahasnya. Dia tau, ini salah, mendekati sepupu kekasihnya.
"Apa Kinanti bercerita padamu, sesuatu?"
"Tidak, kenapa?"
Marchell terdiam, menatap Kinanti. Kenapa gadis ini, ketus sekali.
"Masalah lamaran, Kinanti ingin aku segera menikahinya" ucap Marchell jujur. Entah kenapa dia ingin melihat respon gadis di depannya. Padahal mereka bukan siapa-siapa, teman saja bukan!
"Selamat! Kinanti pasti senang jika kau lamar. Kalau bisa secepatnya melamar, mumpung keluarga kami masih belum kembali ke Paris"
Degh! Entah kenapa perasaan Marchell jadi tidak senang, mendengar ucapan Jill barusan.
"Kau tidak menetap di Jakarta?"
"Tidak, hanya sebulan saja. Kenapa kau banyak bertanya?
"Apa kau selalu ketus begini?
" Kenapa kau jadi ingin tahu? "
" Apa kau tahu, konsep pernikahan yang ingin di idamkan wanita?. Bukan ini yang ingin dia bahas. Tapi hanya yang berhubungan dengan Kinanti saja, gadis ini mau merespon!
"Spesifik jika bertanya, Tuan! Jangan secara general. Harusnya pertanyaanmu, konsep pernikahan yang Kinanti inginkan, benar?
Marchell hanya tersenyum mendengarnya. Pintar!
" Kau sudah melamarnya?". Marchell menggelengkan kepalanya. Kenapa kami jadi bahas pernikahanku dan Kinanti, sih?!
"Kemarikan ponselmu sebentar"
"Untuk apa? Mensave nomormu? Sebutkan saja, biar aku call" ucap Marchell, mengeluarkan benda pipih dengan lambang apel setengah gigitan.
"Kemarikan" ucap Jill kembali. Marchell akhirnya memberikan ponselnya.
Jill lalu mengetik sebuah pesan, terkirim dan sudah terbaca.
"Kinan, mari kita menikah"
Ulang Marchell membaca pesan tersebut. Setelah Jill mengembalikan ponselnya.
Lalu menatap Jill, kau gila!
"Kenapa mengirim pesan seperti ini?" ucap Marchell tidak terima.
Jill tersenyum dan mengambil minuman di tangan Marchell, meminum Jusnya. Tandas, dan meletakkan kembali gelas tersebut, di meja terdekatnya. Dia tidak ingin bicara dengan Marchell lagi, tujuannya sekarang kembali ke kamarnya.
Berlalu dan menghampiri Mommynya.
"Mommy masih disini? Bisakah aku duluan ke kamar, Mom? ucap Jill menatap Mommynya.
" Kenapa Jill, apa kau sedang tidak enak badan? "
" No Mom, aku hanya mengantuk saja. Sudah jam 11 malam. Dan Mom tahu, itu sudah melebihi jam tidurku"
Dhita yang memang tahu putrinya ini tidak pernah begadang dan selalu tidur jam 10 malam pun mengangguk.
"Ayo, Mommy antar ke kamar, Jill"
"No Mom, Jill sendiri saja, kan tinggal naik lift saja. Jill mau langsung tidur Mom. Jill sangat mengantuk" ucap Jill yang mulai merasakan tubuhnya panas.
"Baiklah.. hati-hati sayang" jawab Dhita, memandang kepergian Jill. Lalu berdiri dan mengawasi Jill dan tetap mengikutinya sampai ke depan lift. Begitu Lift terbuka dan Jill masuk, Dhita kembali ke mejanya.
Sedangkan di lift. Jill terkejut, ada sebelah kaki yang menahan pintu lift.
"Kau, ngapain mengikuti aku?" ucap Jill tak percaya, pria ini masih saja mengikutinya.
"Aku tidak mengikutimu, Nona. Pede sekali dirimu! Aku mau kembali ke kamarku!" jawab Marchell, yang masih kesal dengan pesan Jill ke Kinanti.
Marchell yang juga sudah minum minuman tadi pun, paham ada yang berbeda dengan tubuhnya. Panas dan..
Menekan tombol 9. Jill menatap Marchell, apa mereka menginap di 1 lantai?pikir Jill, tapi tidak bertanya kepada pria sebelahnya. Bukan urusannya!
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka pun melangkah keluar.
Jill yang merasa Marchell mengikutinya pun, membiarkan saja. Toh kamar mereka di lantai yang sama. Mencoba mengibaskan tangannya.
Panas sekali,batin Jill.
Marchell yang berjalan di belakang Jill, juga sudah tak tahan dengan panasnya. Melihat ke bawah, saat "kuda" nya bereaksi. ****!
Apa yang kuminum tadi?
Bergegas melewati Jill. Marchell takut melakukan sesuatu pada gadis ini.
Dia akan langsung berendam,setelah sampai kamar, itu rencana yang ada di pikirannya.
Marchell dan Jill yang sudah sampai di depan kamar masing-masing. Mencoba membuka pintu dengan keycard.
Men-tap cardnya, Jill gagal. Tubuhnya sudah sangat gemetar dan panas. Menjatuhkan keycardnya. Tanpa sadar, Jill membuka salah satu bagian atas pakaiannya. Hanya tersisa tanktop saja.
Kenapa masih panas juga, sih? gumam Jill.
Kemana keycard tadi. Jill mencarinya di karpet. Sampai tak sadar, di depannya ada seorang pria, yang semenjak tadi sudah menatapnya dengan pandangan berbeda. Pria itu sudah tidak tahan, melihat mulusnya leher jenjangnya. Ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya, dan ini belum pernah terjadi!
Mencoba mengambil keycard menahan panas tubuhnya, Marchell semakin bergejolak melihat belahan bukit Jill saat menunduk. ****! Gadis ini kenapa, diam-diam menggodaku?!!
Berbalik dan membuka pintu kamarnya. Otak dan tubuhnya, mulai tak sinkron.
"Jill, kau yang mulai" ucap Marchell di sisa kesadaran terakhirnya. Berbalik kembali ke arah pintu. Melihat Jill berdiri, menahan tubuhnya di tembok, Marchell menarik Jill masuk ke kamarnya!
Menutup pintu, Marchell mendorong Jill ke tembok dan memulainya,tanpa memberi kesempatan Jill kabur..
Jill yang sadar sebentar, menatapnya, lalu menendang kaki pria di depannya.
"Kau yang membuka bajumu lebih dulu, kenapa, kau sekarang jual mahal" teriak Marchell mengerang kesakitan. Pandangan kembali pada bukit tersebut. Sial! Dia sudah tak tahan lagi.
"Gillaa, dasar....
Ucapan Jill terhenti dengan bungkaman dari Marchell yang akan membuatnya melayang malam ini, dan menangisinya besok!
Tubuh Jill menginginkannya!