
"Jill, boleh aku tanyakan sesuatu?" Bimo menatap Jill, yang mencoba mencoba memperbaiki posisi duduknya.
"Aku kenapa ya, Bimo?" Jill bertanya tanpa menjawab pertanyaan Bimo lebih dulu.
"Kamu pingsan tadi di bawah Jill," ucap Bimo, menarik lebih dekat kursinya ke arah Jill. Menuangkan air hangat dalam gelas dan memberikannya pada Jill.
"Minumlah Jill, setelah minum ayo kita lanjutkan lagi pembicaraan kita Jill, okay?" Bimo menunggu Jill meminum minumannya sampai kandas, dan tetap memperhatikan raut wanita di depannya.
"Tanyakanlah, apa yang ingin kau tanyakan," balas Jill,memundurkan sedikit tubuhnya ke arah tembok, untuk bersandar.
"Baiklah, mungkin ini agak sedikit pribadi bagimu Jill. Tapi serius, aku hanya ingin membantumu saja, sebagai seorang teman," Bimo menatap sendu Jill, membuat Jill semakin penasaran saja, tentang maksud ucapan Bimo padanya.
"Langsung saja, Bimo!" sentak Jill yang mulai penasaran.
"Apa kau sudah punya kekasih, tanpa sepengetahuan orangtuamu?" Bimo menarik nafasnya lebih dulu, sebelum kalimat tadi dia ucapkan. Jill yang mendengar kalimat omong kosong dari pria di depannya pun menatap tajam.
"Pertanyaanmu sangat aneh!"
"Aku tahu, tadi kan aku sudah jelaskan, yang aku bahas ini privasi Jill."
"Apa kau, diam-diam sudah menikah tanpa sepengetahuan keluargamu, Jill?" Sebuah pertanyaan aneh, yang membuat Jill emosi menatap Bimo. Dasar Pria Gila! umpat Jill dalam hati saat menatap Bimo. Bagaimana mungkin,dia bisa menikah tanpa restu keluarganya.
Bimo menarik nafas kembali, memandang Jill yang tidak menjawab apapun pertanyaannya, justru menatap ke arah lain, seolah-olah dia tak ada di sana. Namun dari nada Jill menjawabnya, Bimo menarik kesimpulan, Jill belum memiliki kekasih apalagi suami. Kenapa kau bisa sejauh itu Jill? tanya Bimo dalam hati saat menatap Jill.
"Jill, kau tahu kenapa kau pingsan tadi?" Bimo berbicara sangat lembut, bersitatapan sesaat dengan Jill. Sepertinya Bimo sadar, pertanyaan sebelumnya bukan pertanyaan ke pasien, tapi lebih ke pribadinya. Merasa tidak terima,saat tahu gadis yang dia sukai, sudah berbadan dua.
Jill menggelengkan kepalanya, pertanda tidak tahu, kenapa dia bisa pingsan. Tanpa memberitahu Jill lebih dulu, Bimo ingin Jill sendiri yang lebih dulu menebaknya. Supaya kehamilannya lebih mudah di terima oleh Jill.
"Apa yang kamu rasakan akhir-akhir ini, Jill?" Jill yang menerima pertanyaan seperti itu dari Bimo terdiam. Mencoba mengingat kondisi tubuhnya beberapa hari ini. Namun tidak mungkin mengatakan keluhannya tersebut pada Bimo.
"Apa Jill? Jika tadi aku berbicara padamu sebagai seorang teman, sejak pertanyaan tadi, aku bertanya sebagai seorang Dokter terhadap pasiennya. Kamu harus bantu menginformasikan gejala-gejala yang kamu alami, supaya aku bisa menganalisa,sebelum kamu ke rumah sakit, Jill. Ayo ceritakan Jill."
Menatap ragu pada Bimo, "Tapi benar yang Bimo katakan, sebelum ke rumah sakit, baiknya dia bercerita pada Bimo, dia kan Dokter" gumam Jill dalam hati.
"Beberapa hari ini, aku gampang lelah, juga mudah sekali mengantuk,padahal tidur malamku lebih dari cukup," jawab Jill menatap Bimo, yang sepertinya tidak kaget dengan kalimatnya barusan, "Apa dia sedang observasi?" ucap Jill dalam hati,sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
"Terus aku lebih cengeng sekarang, lebih moody-an,padahal aku bukan gadis yang moody-an."
"Lalu?" tanya Bimo kembali, membuat Jill mencoba berpikir kembali.
" Aku juga sering sakit kepala berlebihan seperti hari ini, mungkin karena sakit kepala tersebut,aku pingsan ya?" Jill menanya balik pada pria yang tersenyum tipis mendengar kalimatnya barusan.
"Lalu, apa lagi Jill?" desak Bimo saat melihat Jill menolak menjawab pertanyaannya lagi.
"Kau pemaksa sekali! Ini kan sensitif buat seorang gadis! Ish," sungut Jill membuat Bimo tersenyum menggelengkan kepalanya. Dalam keadaan seperti ini, Jill tetap terlihat menggemaskan di matanya.
"Sebenarnya aku malu mengatakannya, karena kau seorang Dokter, baiklah. Beberapa hari ini, ada beberapa bercak di pakain dalamku,tapi tidak banyak, padahal belum tanggalnya datang bulan," jawab Jill, yang langsung membulatkan matanya.
"DATANG BULAN??? Jill berteriak kaget, lalu menutup mulutnya,memandang Bimo yang juga sedang memandang dirinya. Langsung mengambil kalender di meja kamar Kinanti. Melihat baik-baik tanggal di kalender tersebut. Tiba-tiba gadis sepintar Jill, lupa bagaimana menghitung pengurangan. Jill menghitung manual tanggal seharusnya dia haid, tanggal 22, sedangkan sekarang tanggal 30, dan dosa tersebut, Jill ingat di tanggal 03 bulan ini
Jill menjatuhkan kalender tersebut, melipat kedua tangannya kepada Tuhan, semoga apa yang di pikirkannya tidak terjadi. "Jangan Tuhan, kumohon jangan, please," ucap Jill bergetar terisak duduk membelakangi Bimo.
Mengambil ponselnya, dan mengetik beberapa gejalanya di kolom pencarian. Jill membaca artikel tersebut, menjatuhkan ponselnya dan duduk menangis di atas karpet. Bagaimana dia akan menjelaskan pada Daddynya, Maxime dan Mommynya? Bimo yang paham, Jill sudah sadar dengan kondisinya pun mendekat, duduk di sebelah Jill, menepuk bahu Jill pelan, menyalurkan supportnya pada Jill. Bimo tahu, tidak mudah di posisi seperti ini.
"Jill, kau harus segera memberitahukan keluargamu, dan meminta pertanggung jawaban pada ayah calon bayimu," ucap Bimo berusaha menenangkan tangisan Jill. Tapi bukannya semakin tenang, tangis Jill semakin kuat.
"Aku harus bagaimana Bimo, kami bahkan tidak sadar melakukannya, dia pria yang sudah memiliki calon istri,' jawab Jill terisak mengingat Marchell.
Marchell yang hari ini baru saja resmi menjadi calon suami sepupunya. Marchell yang sedari tadi berdiri di depan pintu, namun ragu masuk kedalam kamar, memantapkan hati membuka pintu kamar tersebut. Hatinya mendidih melihat Jill duduk bersama pria lain di dalam kamar.
Ingin berbalik dan turun ke bawah, terhenti saat melihat Bimo menghapus air mata di pipi Jill. Marchell yang emosi, tanpa sadar melangkah ke arah Jill, dan berhenti beberapa langkah saja dari Jill dan pria yang menghapus air mata Jill.
"Cih, ternyata aslimu seperti ini, Jill?" Dimanapun berada selalu berduaan dengan para pria. Terlihat sangat polos, ternyata kau sangat murahan Jill," desis Marchell meluapkan emosinya. Dia yang berulang kali mengajak Jill memperjuangkan kisah mereka, harus kandas di tolak Jill. Apa mungkin karena pria ini, Jill menolaknya?
Jill yang masih shock dengan kabar kehamilannya, semakin sedih mendengar ucapan Marchell padanya. Ingin Jill menamparnya dan berteriak mengusirnya, tapi dia sadar, masih banyak keluarga di bawah.
"Pergilah jika hanya ingin menyakiti saja. Iya aku memang murahan, puas kau!!" balas Jill nyalang menatap Marchell yang masih belum mau beranjak dari pandangannya.
Bimo yang terkejut dengan kalimat Jill barusan, mulai menatap Jill dan Marchell bergantian berulang kali.
"Ada apa dengann dua manusia ini," pikir Bimo dalam hati. Lalu segera berdiri, dan melangkah ke arah Marchell berdiri.
"Maaf bro, bisa tolong keluar dulu,"pinta Bimo sopan pada Marchell. Berbeda dengan Bimo yang tulus meminta, Marchell justru semakin emosi mendengar usiran halus pria di depannya.
Bugh
Bugh
"Kau tidak ada hak mengusirku, dari kamar calon istriku, Kinanti!" desis Marchell emosi mengingatkan posisi pria di depannya. Bimo yang masih menahan rasa sakit di perutnya akibat pukulan Marchell, berusaha bangkit, namun tidak bisa, pukulan tadi sangat kuat.
Jill yang kaget melihat Bimo yang tidak bersalah, di pukul, berdiri ke arah Marchell dan melayangkan sebuah tamparan untuk Marchell. Marchell kaget dan sangat sakit hati, ditampar Jill, demi membela pria di depannya. Semakin sakit hati lagi, melihat langsung Jill mendekati Bimo, dan membantu pria tersebut berdiri.
"Kau baik-baik saja, Bim?" tanya Jill yang terdengar kejam di telinga Marchell. Bagaimana bisa, wanita di depannya lebih memperdulikan Bimo, daripada dirinya! Sungguh sakit hatinya!!
"Kau memang murahan!' desis Marchell meninggalkan ruangan tersebut.
Jill yang tubuhnya merosot di lantai, langsung menangis pilu,membuat Bimo yang masih meringis, semakin yakin dengan dugaan hubungan keduanya.
"Jill apakah pria tadi, ayah dari bayimu?"