
Rosa hanya duduk diam di ruang tamu, sementara Galih dan Melinda tengah makan bersama. Bahkan keduanya tidak memberikan Rosa makanan sama sekali, ia hanya bisa duduk diam seraya menahan perut yang mulai kelaparan.
"Eh.. Rosa, kamu pasti lapar yah." Melinda berjalan ke arah Rosa dengan tangan yang memegang sebuah piring.
Lalu Melinda memberikan piring itu kepada Rosa, ia bisa melihat isi piring dengan sedikit nasi dan satu foto daging sisa.
"Makanlah, jangan sungkan-sungkan."
Rosa yang lapar pun langsung memakan makanan itu, Melinda tersenyum mengejek ke arah Rosa. Setelah selesai makan, Rosa langsung membereskan sisa makanan yang ada dan mencucinya.
"Wah.. Kau memang cocok jadi pembantu," Ejek Melinda dengan senyuman di wajahnya.
Tapi Rosa hanya diam dan enggan untuk menjawab. "Aku heran, kenapa ayahnya Galih sangat menyukai mu. Apa kau telah menggodanya?"
"Jaga mulutmu, aku tidak pernah menggoda siapa pun."
"Sungguh? Tapi Galih selalu bercerita jika kau sering meminta hal itu tapi kekasih ku tidak mau. Apa kau tidak malu, meminta hal seperti itu kepada pria?"
"Memangnya kenapa? Lagi pula aku istri sahnya kenapa harus malu, yang harus malu itu yang bukan istri sahnya tapi minta jatah dan uang dari suami orang." Rosa langsung membalas perkataan Melinda dengan tajam yang membuat wanita itu marah.
"Jaga mulutmu yah, beraninya kau mengatakan itu."
"Kenapa? Kau marah, lagi pula aku tidak berbicara omong kosong. Ini semua faktanya." Rosa langsung berbalik memaki Melinda.
Hingga Galih tiba-tiba datang, Melinda pun langsung mengadukan hal itu kepada Galih. Tapi Rosa tidak mau kalah, untuk kali ini dia akan membuat Melinda semakin marah.
"Mas, kau lihat wanita itu. Di menghina ku, bahkan menyebut ku wanita murahan yang tidak tahu malu." Rengek Melinda.
"Mas.. Sakit." Rosa langsung melihat ke arah Galih dengan mata yang berkaca-kaca, Galih langsung terpana saat melihat wajah Rosa yang sangat cantik dan imut.
"Kamu kenapa, Rosa?" Galih langsung melepaskan tangan Melinda dan berjalan ke arah Rosa.
"Tadi aku sedang mencuci piring tapi tiba-tiba kekasihmu datang dan menghina ku, lalu aku hanya menjawabnya dan dia marah. Dan mendorong ku hingga tangan ku berdarah terkena benda tajam."
Galih pun langsung membawa Rosa keluar dari dapur, di dalam hati Rosa sangat ingin tertawa puas. Dia sengaja melukai tangannya sendiri agar Galih merasa kasihan kepadanya, kini Rosa sadar jika kecantikan wanita itu adalah senjata yang paling ampuh untuk menaklukkan seorang pria.
"Sini biar aku obati." Galih langsung mengobati luka di tangan Rosa, wanita itu pun melirik ke arah Melinda yang tengah marah dan menatap sinis ke arahnya.
Setelah selesai mengobati, Rosa langsung bersandar di pundak Galih. "Mas, aku pulang dulu yah."
"Biar aku antar."
"Enggak usah, nanti kekasih mu marah." Rosa mengatakan itu dengan nada lembut dan ekspresi yang sengaja di buat semanis mungkin.
"Tentu saja tidak, lagi pula kau istri ku. Dan sudah kewajiban ku untuk mengantarkan mu kemana saja." Galih langsung tersenyum, dia baru menyadari jika Rosa semakin hari semakin cantik bahkan tubuhnya pun sangat harum.
Rosa tersenyum manis lalu dia pun bangkit dari tempat duduk, dan saat hendak pergi Rosa pura-pura terpeleset.
"Ah.. Mas."
Galih pun langsung melihat keadaan kaki Rosa. "Kamu kenapa?"
"Sepertinya kakiku terkilir,"
"Apa masih sanggup untuk berjalan?"
Rosa langsung menggelengkan kepalanya, Galih pun dengan senang hati memangku tubuh Rosa dan membawanya pergi ke parkiran.
Sekilas Rosa tersenyum dan menjulurkan lidahnya pada Melinda, wanita itu nampak sangat marah dan ingin memaki Rosa habis-habisan.
"Kenapa? Bukankah kaki mu sakit?"
"Sekarang sudah mendingan kok, Mas. Jadi aku jalan saja."
"Ya sudah," Galih pun tersenyum senang dan langsung menuntun Rosa dengan memegang tangannya.
"Tangan mu sekarang sangat lembut, wangi dan juga putih." Puji Galih seraya mengelus tangan istrinya.
Rosa hanya tersenyum meski di dalam hati dia ingin membalas perkataan Galih.
"Jelas jadi putih, lembut dan juga bawa. Karena sekarang aku di beri uang untuk perawatan oleh Paman Reyhan, memangnya kau jadi suami tidak modal."
Galih langsung mengantarkan istrinya kembali ke rumah Pamannya, sesampainya di sana. Reyhan sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
"Paman, kau belum tidur?" Galih langsung menyapa Pamannya dengan duduk di samping pria itu.
"Iya, aku masih ada pekerjaan jadi belum tidur. Kalian darimana?" Reyhan langsung melihat ke arah Rosa, tapi wanita itu segera memalingkan wajahnya.
"Biasa, kami jalan-jalan di sekitaran sini." Bohong Galih karena tidak mungkin jika dia mengatakan Rosa di bawa ke apartemen untuk di jadikan pembantu.
"Oh begitu, dan sebagainya kau segera pulang. Aku yakin jika kekasih mu pasti sedang menunggu." Usir Reyhan dengan halus karena dia ingin segera bermesraan dengan Rosa.
"Tidak Paman, hari ini aku akan tidur di sini dan menemani Rosa."
Reyhan dan Rosa sama-sama terkejut saat mendengar perkataan Galih tapi mereka berusaha untuk menutupi hal itu.
"Mas, kamu mau nginep di sini? Lalu bagaimana dengan Melinda?" Rosa berusaha untuk membuat suaminya pulang.
"Sudah jangan bahas wanita itu, aku tahu selama ini kau pasti merindukan ku. Jadi sekarang aku akan menebusnya." Galih langsung mengajak Rosa untuk segera masuk ke dalam kamar.
Reyhan yang melihat hal itu sangat marah, dia ingin sekali menyeret pria itu keluar dari rumahnya.
Di dalam kamar...
Galih sudah berbaring di atas ranjang dengan hanya menggunakan celana pendek saja, Rosa pun hanya bisa tersenyum, "Mas aku ke dapur dulu yah, bawa minuman untuk kamu."
"Terimakasih, sayang."
Rosa langsung bergegas ke dapur untuk membawakan air putih. Tapi tangan kekar Reyhan langsung melingkar di pinggang wanita itu.
"Paman, apa yang kau lakukan. Nanti Mas Galih lihat."
"Berjanjilah kepada ku jika kau tidak akan melakukan hal itu."
"Aku sudah mengatakan jika sedang datang bulan, tapi meski begitu bisa saja Mas Galih tetap meminta melihat bagian tubuh ku yang lain."
Reyhan langsung mengeluarkan serbuk putih dari saku celananya dan langsung memasukkan nya ke dalam minuman milik Galih.
"Berikan kepada suami mu, dia akan tertidur dan kau tidak perlu melayani nya."
"Baik Paman."
Tapi sebelum pergi, Reyhan mencium bibir Rosa dengan lembut. Meski di dalam hatinya ia sedang tidak senang karena melihat Galih satu kamar dengan wanita nya.
Rosa pun kembali ke kamar dengan membawa satu gelas air putih, dia langsung memberikannya kepada Galih. Dan tanpa menunggu hitungan jam, pria itu sudah terlelap dalam tidurnya.