
Galih dengan santai berjalan masuk ke apartemen miliknya, dia langsung di sambut dengan tatapan tajam dan dingin dari Melinda.
"Baru inget pulang?"
Tapi Galih menanggapi perkataan kekasihnya dengan santai. "Kenapa sih?"
"Kenapa kau bilang? Kamu mikir dong, Mas. Aku ini kekasihmu dan kau meninggalkanku demi wanita itu." Maki Melinda marah.
"Dia istri ku, jadi wajar jika aku menemaninya."
"Hah? Istri, kau baru mengakuinya sebagai istri. Selama ini kau kemana saja? Di saat dia jelek kau menghina dan tidak mengakuinya sebagai istri. Tapi di saat dia sudah bening sedikit kau langsung berpaling dari ku dan membela wanita itu."
"Aku tidak suka yah dengan sikap mu yang cemburuan seperti ini." Galih langsung memarahinya Melinda.
"Wajarlah aku cemburu, selama ini kau selalu memberikan perhatian kepada ku tapi kini kau malah mementingkan wanita itu."
"Dia istri ku jadi wajar jika aku memberikan perhatian ku kepadanya."
Plak...
Melinda langsung menampar pipi Galih dengan keras, wanita itu langsung berjalan pergi meninggalkan Galih sendirian. Galih pun langsung menghampiri Melinda dan membujuk wanita itu agar dia tidak marah lagi.
"Sayang, ku mohon jangan marah lagi. Aku minta maaf, sayang." Galih langsung memeluk Melinda dan mencium wanita itu dengan lembut.
"Lepaskan, pergi saja kepada istri mu itu jangan datang lagi pada ku." Melinda langsung melepaskan tangan Galih pada pinggang nya.
"Sayang, aku mencintaimu. Yang ku lakukan kepada Rosa hanya sekedar formalitas saja, lagi pula aku tidak mau di pandang buruk oleh Paman ku."
"Alasan, jangan bersembunyi di balik kata formalitas."
"Aku bersungguh-sungguh." Galih langsung kembali memeluk Melinda dan menenangkan kekasih.
Meski Melinda marah dan kesal ia terpaksa harus memaafkan Galih karena meski begitu, Galih adalah sumber uang nya.
"Oke, aku memaafkan mu tapi untuk kali ini saja. Jika kau melakukan hal itu lagi, aku tidak segan-segan untuk berpisah dari mu."
"Baiklah sayang, aku sangat-sangat mencintaimu."
*
*
Rosa kini berada di kantor tempat kerja Reyhan, ia melihat dekorasi kantor yang rapi dan juga berkelas.
"Kenapa? Apa kau ingin mencobanya di kantor?" Reyhan tiba-tiba langsung memeluk Rosa dari belakang.
"Paman, jangan. Kau fokus saja pada pekerjaanmu."
"Aku tidak akan pernah fokus jika melihat wanita seksi di depan ku." Bisik Reyhan.
"Paman, kau sangat nakal."
"Aku hanya nakal kepada mu tidak pada wanita lain."
"Sungguh? Tapi kenapa kau ingin mendekati ku? Bukankah di luar sana banyak wanita yang lebih cantik dan seksi daripada aku?" Rosa langsung menanyakan alasan kenapa Reyhan malah mendekatinya karena Rosa belum tahu jika benda Reyhan tidak bisa bangun.
"Emm.. Iya karena kau berbeda dari wanita lain." Reyhan tidak mungkin mengatakan jika barang miliknya tidak pernah bangun jika tidur bersama wanita lain.
"Sungguh? Tapi selama aku di kampung, banyak rumor buruk tentang mu Paman. Dan aku kira jika rumor itu benar, tapi ternyata itu hanya kebohongan semata."
"Rumor apa?"
"Jika kau pria impoten."
"Tentu saja tidak, apa kau tidak lihat jika barang ku berdiri dengan tegak dan juga gagah." Bisik Reyhan
Mendengar hal itu Rosa langsung tersipu malu, Reyhan pun kembali memeluk Rosa dan mengajaknya untuk duduk di sofa.
Reyhan membelai wajah wanita nya dengan lembut, dia ingin segera memiliki Rosa secara utuh.
"Kapan kau akan bercerai dengan Galih?"
"Aku tidak tahu, Paman. Tapi sepertinya akan sulit karena ayah sangat menentang perceraian antara kami berdua."
"Iya, kakak ku pasti tidak menyukainya dan tidak akan setuju. Tapi bagaimana jika kau coba?"
"Iya kau katakan saja jika Galih sering melakukan KDRT dan juga masih memiliki hubungan dengan Melinda."
"Baiklah nanti saat kembali ke kampung aku akan berbicara dengan ayah."
Reyhan pun langsung memeluk Rosa, "Tapi Paman, apa kau benar-benar akan menikahi ku?" Rosa langsung menatap penuh harap kepada Reyhan.
"Tentu saja, aku akan menikahi mu dan menjadikan mu ratu di hidup ku."
"Tapi apa tidak masalah dengan status kita? Aku istri keponakan mu dan jika kita menikah pasti akan menjadi bahan pembicaraan orang lain."
"Lalu? Apa masalahnya selagi kita bahagia jangan pernah mendengarkan pembicaraan orang lain."
Rosa pun tersenyum lalu tangannya langsung memeluk Reyhan, jika saja dari dulu dia bertemu dengan Reyhan mungkin kehidupannya akan lebih baik.
"Apa kau lapar?"
"Sedikit, Paman."
"Sudah berapa kali ku katakan jika sedang berduaan jangan panggil Paman, tapi Mas atau sayang."
"Iya sayang."
Di saat Reyhan tengah berduaan dengan Rosa, tiba-tiba Tomi datang dan langsung membuka pintu tanpa mengetuk sama sekali.
Rosa dan Reyhan pun langsung terkejut saat melihat pria itu sudah berdiri di depan pintu.
"Reyhan.." Tatapan mata Tomi langsung tertuju pada sosok wanita yang ada di dalam pelukan Reyhan.
"Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu." Maki Reyhan dengan tatapan kesal.
"Hahaha.. Santai, biasanya aku juga selalu langsung masuk, siapa ini?" Tomi tanpa basa-basi langsung menanyakan sosok wanita yang ada di samping Reyhan.
"Dia Rosa, kekasih ku." Jawab Reyhan.
"Kekasih? Tapi bukankah kau tidak bisa..." Sebelum Tomi melanjutkan perkataannya Reyhan langsung membungkam mulut Tomi dan membawanya keluar dari perusahaan.
"Ada apa dengan mu?" Tomi langsung keberadaan saat melihat reaksi Reyhan yang sangat berlebihan.
"Jangan kau bahas tentang barang ku yang tidak bisa berdiri, dia tidak tahu tentang hal itu."
"Tapi bagaimana bisa? Kau menipu nya, lalu bagaimana jika dia meminta hubungan intim."
"Tentu saja aku bisa, dia istri keponakan ku yang pernah ku ceritakan."
"Apa? Aku tidak menyangka jika kau senekat ini."
"Diam lah, sebaiknya kau pulang dan jangan ganggu aku."
"Wah.. Wah.. Setelah menemukan lubang yang cocok kau langsung melupakan sahabatmu ini."
"Sebaiknya kau segera pergi, aku sedang tidak ingin di ganggu."
"Baiklah, tapi aku memberikan saran kepadamu. Lebih baik kau cepat-cepat buat keponakan mu untuk menceraikan istrinya,"
"Tanpa kau kasih tahu aku sudah merencanakan nya."
Setelah itu Tomi langsung pergi meninggalkan Reyhan, Rosa yang melihat Reyhan kembali masuk pun langsung mengerutkan keningnya.
"Tadi siapa, mas?"
"Dia teman ku."
"Oh, tapi tadi dia ingin mengatakan apa? Kok kamu langsung menutup mulutnya."
"Bukan apa-apa kok."
Reyhan pun tersenyum kepada Rosa. "Aku haus." Bisik Reyhan.
"Aku akan belikan dulu minuman."
Tapi Reyhan langsung memeluk wanitanya, "Aku ingin minum dari air pegunungan yang asli." Bisik Reyhan dengan tangan yang menggenggam dua gunung di depan matanya.
Rosa pun hanya bisa menggigit bibir bagian bawahnya, saat mendengar hal itu. Pikirannya pun langsung melayangkan dan membayangkan kegiatan yang akan mereka lakukan selanjutnya.