Oh My Uncle

Oh My Uncle
OMU ~ Bab 18



Reyhan pulang ke rumah dengan tatapan dingin, Galih langsung melihat ke arah Pamannya yang baru datang.


"Paman, dimana Rosa?"


Tapi bukan jawaban yang Galih dapat melainkan sebuah pukulan yang langsung menghantam wajah pria itu, Reyhan dengan marah langsung memukuli Galih hingga babak belur.


Faldi pun dengan cepat berusaha menghentikan aksi Reyhan agar tidak memukuli putranya lagi.


"Apa kau gila? Kenapa kau memukuli keponakan mu sendiri."


Tapi Reyhan enggan menjawab, dia malah menatap Faldi dan Galih dengan tajam. Lalu pria itu langsung pergi begitu saja tanpa menjelaskan sedikit pun.


"Apa kau baik-baik saja, nak?"


"Iya, aku baik ayah. Tapi kenapa Paman malah memukul ku seperti itu? Bukankah dulu dia sangat menyayangi ku."


"Entahlah, ayah juga tidak mengerti. Pasti Rosa mengadukan sesuatu yang tidak baik tentang mu kepada Pamanmu itu, karena mana mungkin tiba-tiba Paman mu menjadi sangat kasar seperti itu."


"Iya, tapi dimana Rosa sekarang?"


"Entahlah, ayah juga tidak tahu."


Galih pun langsung pergi dari rumah Reyhan, dia segera pergi ke tempat Melinda untuk mencurahkan seluruh kekesalannya saat ini.


*


*


3 Hari berlalu...


Rosa kini sudah keluar dari rumah sakit, dia langsung pulang ke rumah Reyhan. Nampak tatapan mata Faldi dan Galih langsung menatap sinis ke arahnya, tapi Rosa hanya diam dan langsung bergegas pergi ke kamar tanpa memperdulikan suami dan juga mertuanya.


"Darimana saja kau?" Galih tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan langsung bertanya darimana Rosa selama ini.


"Aku di rawat di rumah sakit."


Mendengar hal itu Galih sedikit terkejut, dia pun langsung bersikap lembut kepada Rosa.


"Kenapa kau tidak bilang jika kau di rawat di rumah sakit, aku sangat mengkhawatirkan mu."


Rosa langsung menyipitkan tatapan saat mendengar nada bicara Galih yang sangat lembut.


"Kau yang membuat ku masuk ke rumah sakit."


"Aku minta maaf, sayang. Saat itu aku khilaf, dan aku berjanji tidak akan pernah mengulangi hal seperti itu lagi."


Rosa langsung menarik nafas dan mengeluarkan dengan kasar, "Aku akan memaafkan mu, tapi.."


"Tapi apa?"


"Tapi kita bercerai saja." Rosa langsung mengatakan kalimat itu dengan menatap Galih.


Galih bisa melihat tatapan dingin dan penuh kebencian dari Rosa untungnya.


"Tidak, aku tidak mau kita bercerai. Hanya hal kecil seperti ini saja kau meminta bercerai dari ku?!"


"Hal kecil? Kau menyiksa fisik dan mental ku, Mas. Dan aku juga berselingkuh dari ku, kau masih mengatakan hal kecil?"


"Oke, aku tahu.. Aku salah, aku minta maaf. Dan aku tidak mau kita bercerai."


"Tapi aku ingin, aku udah cape menghadapi semua tingkah laku kamu yang kayak gitu."


"Aku minta maaf, Rosa. Aku berjanji tidak akan pernah menyiksa mu lagi, percayalah kepada ku."


"Aku sudah tidak ingin lagi percaya kepada mu, Mas."


Galih langsung memeluk istrinya, "Jika kita bercerai, bagaimana dengan ayah ku nanti? Dia pasti akan sangat kecewa."


"Aku tidak peduli."


"Rosa, kamu jangan hanya memikirkan dirimu sendiri tapi tolong pikirkan juga keadaan ayah ku."


"Ya itu karena memang kewajiban mu harus mengalah, pokoknya aku gak mau kita cerai."


"Enggak, aku bakalan tetap cerai."


"Kenapa sih kamu ngotot gini minta cerai? Dulu saat aku seperti ini, kamu juga tidak pernah minta cerai tapi sekarang malah ingin cerai."


"Ya karena aku sudah lelah."


"Aku tidak peduli, tapi intinya aku gak mau cerai."


"Gila kamu yah, egois."


"Jaga mulutmu itu, Rosa. Aku ini suami kamu."


"Kamu cuman suami di atas kertas, bahkan kau sendiri tidak pernah memperlakukan ku seperti seorang istri."


"Kamu semakin hari semakin membuat ku kesal, pokoknya aku gak mau cerai." Galih langsung bergegas pergi menuju tumpukan tas, dia langsung menggeledah tas milik Rosa dan membawa buku nikah mereka.


Rosa berusaha untuk merebut buku nikah tersebut agar dia bisa mengajukan perceraian ke pengadilan.


"Untuk saat ini, buku nikah ini akan ku simpan. Dan jangan harap kau bisa bercerai dengan ku."


"Kau gila yah, kembalikan kepada ku."


Tapi Galih langsung menolak, dia segera menutup pintu kamar dan meninggalkan Rosa sendirian di dalam kamar.


Semakin hari Rosa semakin di buat stres dengan pernikahannya bersama dengan Galih.


Hingga tiba-tiba Rosa merasakan kepalanya sangat pusing, tapi Rosa langsung berusaha untuk tidak merasakan sakit di kepalanya.


Dia pun langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang, lalu tangannya mengambil handphone dan mengirimkan pesan kepada Reyhan jika ia merasa tidak enak badan.


Reyhan yang menerima pesan dari Rosa, langsung bergegas ke kamarnya.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik Paman, hanya sedikit pusing."


"Bagaimana jika kita ke dokter."


"Tidak usah, aku baik-baik saja. Mungkin hanya butuh istirahat.


Tiba-tiba Galih pun datang, dia sedikit kaget saat melihat Pamannya berada di kamar Rosa.


"Paman, apa yang sedang kau lakukan di kamar istri ku?"


"Kata pelayan jika Rosa sedang sakit, jadi aku melihatnya. Lalu darimana saja kau? istri mu sedang sakit tapi kau malah tidak menjaganya sama sekali."


"Aku tadi dari dapur, untuk mengambil air."


Reyhan pun langsung bergegas pergi meninggalkan kamar Rosa, perasaan cemas dan khawatir masih terlintas di benak Reyhan. Tapi saat ini dia tidak bisa berbuat banyak karena statusnya saat ini.


"Kau kenapa?"


"Aku hanya pusing."


Galih langsung menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban dari Rosa.


"Kau ini, jadi wanita sangat lemah hanya pusing sedikit saja seperti sedang sakit parah."


"Jika kau tidak berniat untuk peduli, pergi saja."


"Dasar wanita aneh, kau jangan berpura-pura sakit karena masalah tadi. Aku tidak ingin hanya karena masalah sepele, kau membuat ku di benci oleh Paman karena tidak di anggap sebagai suami yang bertanggung jawab."


Tapi Rosa enggan untuk menjawab perkataan Galih, dia memilih membalikkan tubuhnya dan mengabaikan pria itu.


Reyhan yang panik dengan kondisi Rosa pun langsung menyuruh pelayan di rumahnya untuk merawat dan menjaga Rosa agar kondisinya semakin membaik.


"Maafkan aku Rosa, aku tidak bisa merawat dan menjagamu dari jarak yang dekat."