Oh My Uncle

Oh My Uncle
OMU ~ Bab 28



Reyhan tengah duduk di depan meja makan, seperti biasa dia sarapan dengan makanan kesukaan Rosa. Baginya memakan makanan kesukaan Rosa seperti mengingatnya akan wanita itu.


Hingga Sheila kembali datang kepada Reyhan, pria itu hanya diam dan mengabaikan kehadiran Sheila.


"Apa yang sedang kau makan? Itu makanan yang tidak sehat." Protes Sheila.


Lalu wanita itu dengan berani langsung mengambil piring makanan Reyhan dan segera membuangnya ke tong sampah, dan langsung mengeluarkan makanan yang dia bawa dari rumah untuk Reyhan.


"Apa yang kau lakukan? Beraninya kau membuang makanan ku." Maki Reyhan yang emosi.


"Reyhan, itu mie instan. Dan makanan itu tidak bagus untuk kesehatan mu, lebih baik sekarang kau makan makanan yang ku bawa. Ini semua aku masak dan pastinya bergizi."


Reyhan yang melihat makanan dari Sheila langsung melemparkannya ke lantai, Sheila langsung terdiam dengan mata yang terkejut.


"Aku sudah memperingatkan mu sejak dulu, jangan pernah lagi menunjukkan wajahmu di depan ku." Reyhan langsung memberikan peringatan keras kepala Sheila.


Tapi wanita itu dengan tegas menolak peringatan dari Reyhan.


"Tidak, aku psikiater untuk mu. Dan aku tidak akan pernah meninggalkan mu sampai kau sembuh."


Reyhan langsung tersenyum mengejek ke arah Sheila, lalu pria itu langsung pergi meninggalkan Sheila. Ia juga meminta para pelayan untuk mengusir wanita itu keluar dari rumahnya.


Sheila pun langsung keluar dari rumah Reyhan, meski Reyhan sudah mengusirnya beberapa kali tapi ia tidak akan pernah menyerah dan akan berusaha menyembuhkan Reyhan.


Kini Sheila berada di sebuah cafe, tatapannya langsung tertuju pada seorang wanita yang merupakan temannya.


"Kau darimana saja selama beberapa minggu?" Natasya langsung duduk di hadapan Sheila.


"Aku sedang sibuk mengurus pasien ku."


"Waw.. Sepertinya pasien mu sangat spesial sampai kau mau mengurusnya seperti itu."


"Iya, dia Reyhan pemilik perusahaan besar yang tengah naik daun."


"Apa? Maksud ku sungguh? Pasien mu pria itu? Pria yang menjadi incaran setiap wanita."


"Iya aku serius."


"Tapi tunggu dulu, memangnya dia sakit jiwa?"


"Tidak, tapi dia sedikit depresi."


"Kenapa?"


"Kau banyak nanya,"


"Ayolah, aku juga penasaran."


"Oke, ku dengar orang yang dia suka telah pergi karena kecelakaan. Jadi dia depresi karena hal itu."


"Sungguh romantis sekali, berarti wanita itu sangat spesial di hati Reyhan sampai pria itu sakit-sakitan karena kehilangan nya."


Mendengar hal itu Sheila langsung menatap dingin, "Romantis? Itu bukan romantis tapi sebuah penderitaan, apa kau tidak tahu bagaimana penderitaan yang di dapatkan oleh Reyhan karena wanita itu. Dan kau masih mengatakan jika itu adalah hal romantis?"


"Oke, tapi biasa aja kali kok ngegas gitu sih."


"Aku bukannya ngegas, cuman jijik aja dengernya. Hal seperti itu malah di katakan romantis."


"Baiklah, tapi wanita Pak Reyhan itu sudah meninggal?"


"Entahlah karena ku denger jika dia mengalami kecelakaan dan sampai sekarang masih belum di temukan."


"Oh, begitu yah. Tapi bisa saja kekasihnya itu masih hidup dan mungkin seketika Pak Reyhan bertemu lagi dengan wanita itu dia pasti akan sembuh."


Mendengar hal itu Sheila langsung melihat ke arah Natasya. "Orang mati sudah tidak akan bangkit lagi."


"Terserah kau saja.."


*


*


"Ada apa lagi kau datang ke sini?"


"Tentu saja untuk menghibur mu."


"Aku tidak butuh hiburan darimu." Reyhan kembali mengalihkan pandangannya ke arah laptop miliknya.


"Aku ingin mengajakmu untuk berburu di hutan."


Reyhan langsung mengerutkan keningnya saat mendengar ajakan dari Tomi, "Aku tidak tertarik."


"Ayolah, kau tahu berburu itu kegiatan yang sering di lakukan oleh semua pria."


"Memangnya apa yang akan di buru?"


"Tentu saja hewan-hewan, mungkin babi hutan."


"Entahlah, aku tidak tertarik."


"Ayolah, aku hanya ingin mengajakmu agar pikiran mu lebih jernih."


"Baiklah, aku ikut. Kapan?"


"Besok, kita akan berangkat jam 7 pagi dan langsung mencari hewan buruan di hutan. Kau tenang saja semua perlengkapan dan juga senapan, aku yang urus."


"Terserah kau saja, dan sebaiknya sekarang kau pergi dari sini. Aku masih memiliki banyak pekerjaan."


"Baiklah, tapi ingat besok pagi aku akan menjemput. Dan ku harap kau sudah bersiap-siap."


"Emm.."


Tomi langsung bergegas pergi meninggalkan Reyhan, pria itu kembali menyelesaikan pekerjaan yang masih menumpuk.


Hingga di saat Reyhan tengah mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba Sheila kembali datang berkunjung ke perusahaan Reyhan.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Reyhan kembali menatap jengkel ke arah Sheila.


"Aku datang ke sini untuk memberikan beberapa obat untuk mu dan juga memeriksa kesehatan mu."


"Aku sudah mengatakan berapa kali, aku sudah tidak membutuhkan mu jadi jangan pernah muncul lagi di hadapan ku."


"Aku ini psikiater mu dan ini tugas ku."


"Arg.. Jangan bawa-bawa profesi mu untuk mendekati ku. Aku sudah melihat banyak wanita menjijikan seperti ku yang ingin mendekati ku dengan berbagai cara."


"Apa yang kau katakan? Aku melakukan ini semuanya murni karena pekerjaan dan sikap profesional ku. Bukan untuk mendekatimu, aku tahu kau pria yang menjadi idaman semua wanita. Tapi bukan aku, bahkan aku sama sekali tidak pernah tertarik kepada mu."


Mendengar hal itu Reyhan pun terdiam, dia merasa Sheila mengatakan kejujuran. Lalu Sheila pun langsung mendekat ke arah Reyhan dan memberikan beberapa obat untuk pria itu.


"Jangan lupa makan obat ini, agar kesehatan mu semakin membaik. Dan ingat jangan memakan makanan yang tidak sehat karena itu tidak baik untuk tubuhmu. Aku akan mengatur pola makan mu dan juga pemeriksaan mental mu agar kau cepat sembuh."


Mendengar hal itu Reyhan langsung terdiam, kemudian dia hanya duduk dan mulai memejamkan mata.


"Apa kau masih merasa sakit di kepala?" Sheila langsung menanyakan penyakit sakit kepala yang dulu sering terjadi pada Reyhan.


"Iya."


"Baiklah, untuk meredakan sakitnya aku akan memijat kepala mu."


Sheila pun mulai berjalan ke belakang tubuh Reyhan dan memijat kepala pria itu dengan sangat terampil.