
Rosa kembali teringat akan kata-kata Andri, tentang Reyhan karena mereka baru bertemu saat ini. Meski Reyhan mengatakan jika ia mengenal Rosa, tapi Rosa sama sekali tidak ingat apapun.
"Sayang, kamu kenapa?" Reyhan tiba-tiba datang dan duduk di samping Rosa, wanita itu hanya tersenyum tipis.
"Tidak kok, aku hanya memuji beberapa hal yang tidak penting." Jawab Rosa dengan wajah yang masih menunduk dan enggan untuk melihat ke arah Reyhan.
"Aku paham, apa yang kau katakan."
Rosa langsung mengerutkan keningnya saat Reyhan mengatakan hal itu, "Maksudnya?"
"Aku tahu, apa yang sedang kau pikirkan. Kau pasti masih memikirkan kata-kata dari pria itu."
Rosa masih diam ada perasaan bersalah di hatinya, Reyhan pun hanya bisa tersenyum tipis lalu segera pergi meninggalkan Rosa begitu saja.
Ingin rasanya Rosa mengejar pria itu, tapi kaki Rosa seakan berat untuk melangkah.
"Maaf." Gumam Rosa dengan nada yang pelan.
Reyhan langsung menutup pintu kamar dengan kencang, melihat keadaan Rosa saat ini membuatnya sangat kesal dan juga stress. Reyhan memang sangat bahagia ketika mengetahui jika Rosa masih hidup, tapi dengan keadaan Rosa yang sama sekali tidak mengingatnya membuat Reyhan semakin frustasi.
Rasa sakit di kepalanya kembali muncul dan membuat Reyhan duduk lemas di atas lantai, Bi Marni yang mendengar suara dari kamar Reyhan pun segera masuk ke dalam.
Dengan perasaan panik, ia langsung menelpon Shella agar segera datang untuk melihat kondisi Reyhan.
Rosa yang baru keluar dari kamar melihat Shella yang baru saja keluar dari kamar Reyhan, wanita itu nampak mengerutkan keningnya saat melihat Shella berjalan mendekat ke arahnya dengan tatapan yang marah.
"Apa sekarang, kau sudah puas?" Tiba-tiba Shella mengatakan hal itu yang membuat Rosa terdiam dengan wajah yang bingung.
"Apa maksudmu?" Tanya Rosa tak paham.
"Setelah kau datang, penyakit Reyhan semakin parah. Dan ini semua gara-gara kau, harusnya kau enyah dari kehidupan Reyhan." Ucap Shella dengan nada yang tinggi.
"Maaf, aku tidak tahu jika apa yang ku lakukan sekarang malah memperburuk keadaan Reyhan. Jika aku bisa, aku juga ingin mengingat semuanya.." Jawab Rosa.
Lalu Rosa pun berjalan hendak melihat keadaan Reyhan, tapi dengan cepat Shella menatap tangan Rosa dan mendorong tubuh wanita itu hingga hampir terjatuh ke lantai.
"Jangan temui lagi Reyhan, jika kau menemuinya. Itu malah akan semakin memperburuk penyakitnya, apa kau tidak kasihan melihat keadaan Reyhan yang seperti ini?"
Rosa mulai menunduk kepadanya, perasaan bersalah mulai menghantuinya. Hingga setetes air mata lolos dari kelopak matanya, hatinya berkata jika ia ingin bertemu dengan Reyhan tapi yang di katakan oleh Shella memang benar, jika dirinyalah yang membuat keadaan Reyhan semakin parah.
"Sebaiknya kau pergi dari ini dan jangan temui Reyhan lagi." Ucap Shella dengan nada dingin dan tatapan marah.
"Tapi bagaimana jika Mas Reyhan menanyakan keberadaan ku?" Tanya Rosa.
Shella tersenyum seakan tengah mengejek, "Itu urusan ku, dan sekarang lebih baik kau pergi. Dengan adanya kau di sini, malah membuat keadaan Reyhan semakin buruk."
Rosa hanya bisa terdiam lalu dengan langkah yang berat, ia mulai berjalan meninggalkan rumah Reyhan.
Meski Rosa sama sekali tidak mengingat Reyhan, tapi hati kecilnya selalu ingin bersama dengan pria itu.
Di saat Rosa tengah berjalan menyusuri jalanan, tiba-tiba sebuah mobil menghadang perjalanannya.
Dua orang pria langsung turun dari dalam mobil, Rosa yang melihat kedua orang itu merasakan perasaan bahaya.
Dengan cepat Rosa langsung berlari, tapi kedua pria itu pun langsung mengejar Rosa.
"Lepaskan.." Teriak Rosa.
Kedua tangan Rosa mulai di ikat dan mulutnya pun juga di tutup dengan sebuah kain. Rosa langsung di bawa masuk ke dalam mobil, perasaan takut kembali menyelimuti hati Rosa.
"Siapapun tolong aku.."