
Rosa mulai membuka matanya secara perlahan, rasa sakit di kepalanya mulai menjalar ke seluruh tubuh nya.
Setiap ingatan yang ia lupakan kini kembali bermunculan, "Reyhan.."
Nama itu yang pertama keluar dari mulut mungil Rosa, matanya mulai berkaca-kaca. Rasa sedih di hati mulai menyelimuti dirinya saat mengingat kondisi Reyhan yang sekarang penyakitan setelah kepergiannya.
"Kau sudah sadar!" ucap Faldi yang tiba-tiba datang dengan raut wajah dingin dan kesal saat menatap wanita yang telah merusak masa depan anaknya.
"Ayah mertua," ucap Rosa yang kini sudah mengingat siapa pria di depan matanya.
Mendengar panggilan itu membuat Faldi semakin kesal dan marah, "Jangan sebut aku sebagai mertua, kau adalah wanita yang tidak tahu malu. Aku mengurus mu sejak kecil tapi kau malah menjadi bom untuk keluarga ku," ucap Faldi dengan jari yang menunjuk-nunjuk ke wajah Rosa.
"Harusnya kau yang berkaca, kau yang tidak bisa mendidik anak mu menjadi suami yang benar tapi kau malah menyalahkan ku. Bahkan anak mu itu hanyalah pria pengecut yang bisanya main tangan pada seorang wanita," ucap Rosa yang tidak terima di katakan tak tahu malu.
"Beraninya sekarang kau melawan ku," ucap Faldi yang kesal saat melihat mantan menantunya melawan ucapannya.
Tamparan demi tamparan di berikan Faldi ke pipi kiri Rosa, wanita itu hanya bisa menahan sakit.
"Kau bahkan sama pengecutnya hanya berani bermain kasar kepada wanita, sebaiknya kau ganti kelamin saja." Maki Rosa dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Jaga mulutmu, Rosa."
Faldi kembali melayangkan tamparannya para Rosa, wanita itu hanya bisa meringis menahan sakit. Ia berharap jika Reyhan datang untuk menolongnya, di saat Faldi tengah asik menyiksa Rosa.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan keras, sosok Reyhan muncul di balik pintu dengan tatapan dingin dan aura membunuhnya.
Sorot mata Reyhan langsung tertuju pada kaki Faldi yang tengah berada di pipi Rosa, dengan perasaan marah dan kesal Reyhan langsung menarik pria tua di depannya dan memukul Faldi habis-habisan.
Faldi memohon ampun agar Reyhan berhenti memukulnya tapi bukannya berhenti Reyhan malah semakin menjadi, darah mulai mengucur dari tubuh Faldi.
Pria tua itu kini sudah babak belur setelah di hajar habis-habisan oleh Reyhan, merasa puas memukul Faldi.
Perlahan mata Rosa membuka ia melihat ke arah Reyhan dengan senyuman tipis, tangan Rosa membelai wajah kekasihnya.
"Maaf," kata itu yang terucap dari mulut Rosa.
Reyhan tidak menjawab perkataan dari Rosa, ia langsung membawa kekasihnya untuk segera di obati.
Perasaan marah dan kesal masih menyelimuti diri Reyhan, "Buang pria itu ke hutan," ucap Reyhan kepada anak buahnya agar membuat Faldi ke dalam hutan dan membiarkan pria itu mati di makan hewan buas.
"Rosa, bertahan lah sayang." Ucap Reyhan dengan tangan yang memeluk tubuh Rosa.
Mobil yang di tumpangi oleh Reyhan pun langsung melaju kencang ke rumah sakit terdekat, di sepanjang jalan Reyhan terus membelai wajah kekasihnya yang memar akibat tamparan yang di berikan oleh Faldi.
"Maafkan aku karena tidak bisa menjaga mu dengan benar," ucap Reyhan dengan tatapan yang mata sendu.
Kini Rosa sudah di tangani oleh dokter, banyak luka-luka memar yang Rosa alami tapi untungnya hanyalah luka luar.
Tapi Reyhan masih belum bisa melihat keadaan Rosa karena kekasihnya masih di obati oleh Dokter.
Hingga suara langkah kaki menggema di lorong rumah sakit, Stella menghampirinya Reyhan yang tengah menunggu Dokter keluar dari ruang rawat Rosa.
"Reyhan," panggil Stella.
Reyhan mengerutkan keningnya saat melihat kedatangan Stella, "Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Reyhan.
"Aku ke sini karena khawatir dengan keadaan mu, kau masih dalam perawatan ku. Tapi kau malah pergi begitu saja," ucap Stella.
Reyhan hanya diam dan enggan untuk menjawab perkataan dari Stella. Ia lebih memilih untuk mengabaikan wanita itu, Stella yang di merasa di abaikan pun sangat kesal tapi ia berusaha untuk tetap tenang.