Oh My Uncle

Oh My Uncle
OMU ~ Bab 25



Rosa berjalan dengan pelan, dia melihat sebuah mobil berwarna putih milih Dokter Andri. Pria itu pun mulai membantu Rosa untuk memasukkan barang dagangannya ke dalam bagasi mobil.


"Terimakasih, Dok."


"Jangan panggil Dok, panggil saja Andri." Pria itu tersenyum manis ke arah Rosa.


"Baik, Mas Andri."


Rosa langsung tersenyum dan kembali memasukkan barang dagangannya ke dalam mobil, setelah selesai dia langsung masuk ke dalam mobil.


Nampak Andri mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, untuk pertama kalinya Rosa keluar dari hutan tempatnya tinggal dengan Nek Sari.


Kini Rosa bisa melihat gedung-gedung pencakar langit tapi entah kenapa ada perasaan tidak asing di hatinya, dia seperti pernah melihat semua pemandangan di depan matanya.


Hingga mata Rosa tertuju pada sebuah bangunan pencakar langit yang sangat besar dan juga tinggi.


"Itu tempat apa?" Rosa langsung bertanya kepada Dokter Andri.


"Oh, itu. Itu salah satu perusahaan terbesar di Jakarta dan pemiliknya bernama Reyhan."


Mendengar nama itu Rosa seperti merasakan perasaan tidak asing, nama itu seperti pernah dia dengar di suatu tempat. Tapi Rosa sama sekali tidak mengingat apapun, kini Andri sudah sampai di pasar


Dokter Andri langsung mengenalkan Rosa pada orang-orang yang menjadi teman Nek Sari ketika di pasar, mereka nampak kagum saat melihat Rosa yang sangat cantik dan juga ramah.


"Rosa, aku tinggal dulu. Nanti jam 2 siang aku akan menjemputmu."


"Baik, Mas. Terimakasih."


Kini Rosa pun langsung membereskan barang dagangannya dan memajangnya dengan rapi, dia kira akan sepi pembeli tapi rupanya banyak pembeli yang membeli barang dagangannya dan kebanyakan pembelinya pria.


Tanpa menunggu waktu yang lama kini semua barang jualan Rosa pun habis terjual, nampak beberapa pedagang sayuran menatap sinis ke arah Rosa.


Dan waktu pun masih belum menunjukkan pukul 2 siang, Rosa hanya bisa duduk terdiam. Matanya terus menatap kerumunan orang-orang yang terus berlalu lalang di pasar.


Perasaan bosan dan jenuh pun mulai datang, Rosa hanya bisa tetap menunggu Dokter Andri datang menjemputnya.


Rosa pun mulai memberanikan diri untuk berjalan-jalan dan melihat area sekitar pasar, hingga dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita paruh bayah.


"Maafkan saya.." Rosa langsung meminta maaf dan membantu wanita itu untuk membereskan barang-barangnya.


Bi Marni pun langsung melihat wanita yang telah menabraknya, tapi seketika tatapannya langsung membulat saat melihat sosok Rosa di depannya.


"Non Rosa." Bi Marni langsung memanggil Rosa dengan mata yang berkaca-kaca.


Rosa hanya bisa diam dengan pikiran yang masih bingung, "Maaf, anda siapa?"


"Tuan, pasti senang jika mengetahui Nona Rosa masih hidup." Bi Marni langsung buru-buru mengeluarkan ponsel miliknya untuk menelpon Reyhan, tapi telpon dari Bi Marni tidak di jawab oleh pria itu.


Berkali-kali Bi Marni terus menelpon Reyhan, Rosa yang melihat hal itu masih bingung. Tapi tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik tangan Rosa.


"Mas Andri?"


"Maaf membuatmu menunggu lama."


"Tidak kok, lagi pula ini masih belum jam 2 siang."


"Iya, tadi aku menerima telpon dari pedagang dan mengatakan jika dagangan mu sudah habis jadi aku langsung ke sini untuk menjemput mu."


Bi Marni yang tengah sibuk menelpon Reyhan pun baru menyadari jika Rosa sudah tidak berada di sampingnya.


"Non Rosa?!" Panggil Bi Marni dengan mata yang terus mencari keberadaan Rosa.


"Non Rosa.." Bi Marni langsung mencari keberadaan Rosa, "Kemana perginya Non Rosa."


Hingga telpon dari Reyhan pun langsung membuat Bi Marni berhenti mencari Rosa dan langsung mengangkat panggilan dari majikannya.


"Ada apa bi, kau menelpon ku beberapa kali? Apakah ada masalah yang serius?"


"Begini Tuan, tadi saya bertemu dengan Nona Rosa."


"Apa? Bibi jangan bercanda."


"Saya tidak bercanda Tuan, tadi saya bertemu dengan Nona Rosa."


"Lalu dimana dia sekarang?"


"Saya tidak tahu, tadi saat saya sedang menelpon anda. Nona Rosa sudah pergi entah kemana."


"Baiklah, dimana tadi Bibi melihat Rosa."


"Di pasar X."


Reyhan langsung mematikan panggilannya, dan langsung bergegas pergi untuk mencari Rosa. Selama ini Reyhan terus mencari wanita itu tapi tidak ada satupun petunjuk tentang keberadaan Rosa, bahkan Reyhan pun sempat putus asa jika Rosa memang sudah meninggal.


Tapi setelah mendengar kabar dari Bi Marni, Reyhan seperti memiliki harapan untuk bisa kembali lagi bersama dengan Rosa.


Rosa tengah duduk di dalam mobil bersama dengan Dokter Andri, pikirannya masih tertuju pada sosok wanita paruh baya yang tadi menyapanya.


"Ada apa, dari tadi kau bengong terus?"


Dokter Andri sesekali melihat ke arah Rosa yang nampak tengah memikirkan suatu hal.


"Tidak, aku hanya masih memikirkan suasana perkotaan yang sangat ramai."


Rosa tidak menceritakan tentang wanita tadi kepada Dokter Andri.


"Oh.. Begitu yah, bagaimana jika kita makan siang dulu? Aku yakin jika kau pasti lapar."


"Iya, aku sedikit lapar."


Dokter Andri langsung mengarahkan mobilnya ke sebuah restoran mewah yang ada di Jakarta, nampak Rosa melihat restoran di depan matanya.


Tapi bukan perasaan takjub yang ada di hatinya, melainkan perasaan tidak asing dia seperti pernah melihat restoran ini tapi Rosa sama sekali tidak ingat.


"Ayo, masuk."


"Ah iya.."


Rosa dengan pakaian sederhana langsung masuk ke restoran, nampak pelayan Restoran pun langsung mengenali Rosa karena wanita itu dulu selalu datang bersama Reyhan ke restoran tersebut.


"Selamat siang Nona Rosa." Sapa pelayan itu dengan ramah dan langsung memberikan buku menu.


Rosa terdiam dengan tatapan bingung, "Anda mengenal saya?"