
Reyhan pulang ke rumah tapi tatapannya tertuju pada keadaan rumah yang sangat hening dan juga sepi.
Lalu Bi Marni langsung menghampiri Reyhan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ada apa?"
Reyhan sama sekali belum mengetahui tentang berita hilangnya Rosa dan pertengkaran antara Rosa dan juga Galih.
"Nona Rosa hilang." Bi Marni mengatakan itu dengan suara sedih dan isak tangis.
"Apa? Bagaimana bisa?"
Reyhan langsung terkejut saat mendengar berita hilangnya Rosa. Lalu Bi Marni langsung menceritakan kronologi awal semua ini bermula, dari pertengkaran antara Rosa dan Galih.
Dan kepulangan Galih dengan tubuh yang bersimbah darah, lalu pria itu mengatakan jika dia mengalami kecelakaan dan Rosa pun terjatuh ke jurang dan belum di temukan.
Reyhan langsung terdiam dengan wajah yang panik dan juga sendu, "Lalu dimana Galih dan juga Ayahnya?"
"Mereka sudah pergi 4 hari yang lalu, Tuan."
"Kenapa tidak ada yang memberitahu ku tentang hal ini?!" Reyhan seketika marah.
"Ponsel anda tidak bisa di hubungi."
Reyhan pun langsung melemparkan tas kerjanya, di saat Reyhan hendak pergi Bi Marni kembali menghalanginya.
"Ada apa lagi sih bi? saya ingin mencari Rosa."
"Maaf Tuan, tapi saya ingin memberikan ini." Bi Marni langsung memberikan kertas kehamilan Rosa yang dia temukan di kamar wanita itu.
Reyhan langsung lemas seketika saat membaca isi kertas tersebut.
"Nona Rosa sedang hamil anak anda, dan dia belum sempat mengatakannya."
Reyhan hanya bisa terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, jika saja dia tidak pergi ke luar kota mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi.
"Rosa hamil anak ku.." Reyhan nampak sangat sedih, saat dia mengetahui jika Rosa hamil tapi saat itu pula dia harus menerima kenyataan pahit jika wanita itu telah hilang dan belum di temukan.
Lalu Reyhan langsung menelpon pihak kepolisian dan juga menyuruh anak buahnya untuk melakukan pencarian Rosa, dia tidak ingin kehilangan Rosa.
Kini Reyhan berada di depan rumah baru milik Galih, tapi tatapan Reyhan tertuju pada kerumunan orang yang tengah berkumpulnya di rumah itu.
"Ada apa ini?" Reyhan bertanya pada seorang pria.
"Di sini sedang di adakan pesta pernikahan kecil-kecilan."
"Siapa yang menikah?"
"Galih."
Reyhan langsung masuk ke dalam rumah, dia melihat Galih tengah berbahagia menikah dengan Melinda.
Dan di sana juga ada Faldi yang juga ikut senang atas pernikahan anaknya.
"Galih.."
Suara Reyhan menggelegar dan membuat semua orang yang menatap ke arahnya, tapi Galih langsung tersenyum seakan tengah meledek pria itu.
"Paman, aku lupa mengundang mu. Tapi aku sudah bercerai dengan Rosa."
"Meski begitu, apa pantas kau langsung menikah Begitu saja? Lalu dimana Rosa sekarang."
"Mana ku tahu, mungkin sekarang dia sudah mati."
Faldi langsung menghampiri adiknya dan memintanya untuk segera pergi.
"Jangan suruh aku pergi," Reyhan langsung menolak dengan keras.
"Kau sangat keras kepala, sebaiknya kau jangan mengacaukan momen bahagia putra ku."
"Momen bahagia? Di saat Rosa hilang kalian mengadakan pesta pernikahan, apa kalian sudah gila?!"
"Hahaha.. Yang gila itu kau Paman, kau berselingkuh dengan istri ku. Bahkan kau menghamili istri ku, siapa yang gila di sini." Galih tiba-tiba mengatakan hal itu, para tamu undangan yang mendengarnya pun langsung terkejut.
Tapi Reyhan hanya diam dan menatap tajam ke arah Galih.
"Lihatlah, seorang pria kaya raya dan memiliki perusahaannya besar dengan reputasi yang bagus, tapi ternyata dia hanya seorang pria perebut istri orang lain. Bahkan tanpa tahu malu, dia berselingkuh dengan istri keponakannya sendiri."
Galih langsung mempermalukan Reyhan saat itu juga. "Dimana Rosa sekarang?" Tapi Reyhan sama sekali tidak terprovokasi oleh hinaan Galih, tujuannya ke sini hanya untuk mengetahui keberadaan Rosa.
Lalu pria itu dengan pelan datang menghampiri Reyhan, "Aku sudah membuangnya ke jurang dan mungkin dia sudah mati." Bisik Galih.
Mendengar hal itu Reyhan langsung marah, dia langsung memberikan pukulan tepat di wajah Galih.
Hingga orang-orang langsung memisahkan Reyhan agar tidak terus memukuli pria itu.
"Galih, kau sudah membuat ku marah."
Reyhan menatap Galih dengan tatapan serius, "Hah? Memangnya apa yang bisa kau lakukan?" Galih langsung menantang Reyhan.
"Kita lihat saja, kau akan merangkak ke depan ku dan meminta ampun atas apa yang kau lakukan kepada Rosa."
"Reyhan, kau pria yang tidak tahu malu. Kau telah menghancurkan kebahagiaan putraku dan sekarang kau mengancamnya." Faldi langsung memaki Reyhan.
Tapi Reyhan tidak mau kalah, dengan tegas dia langsung membentak Faldi hingga membuat pria itu terdiam ketakutan melihat adiknya yang tengah marah.
"Kebahagiaan apa yang kau katakan? Kau juga tahu jika Rosa selalu di siksa oleh Galih, tapi kau hanya diam dan malah membela pria bajing*n itu. Dan Faldi, kau tidak lebih hanya seorang pria kampung yang tidak memiliki apa-apa. Jika bukan sumber dana dari ku, kau tidak akan pernah merasakan hidup yang mewah seperti sekarang. Dan kau juga Galih, apa yang telah kau dapatkan saat ini. Aku akan menghancurkan nya hingga kalian semua menangis dan berlutut di depan ku."
Galih dan Faldi hanya bisa diam, dan tidak berani menjawab perkataan Reyhan.
"Hanya karena wanita itu kau sampai ingin merusak tali persaudaraan kita." Faldi tiba-tiba langsung mengungkit hubungan saudara antara dirinya dan Reyhan.
"Dari awal persaudaraan kita memang sudah rusak, jika aku miskin mungkin kau tidak akan pernah datang kepada ku."
Dengan tatapan marah dan kesal Reyhan pun langsung pergi setelah mengatakan itu, rasa marah terus menerus membara di benaknya.
Lalu Reyhan langsung menelpon seorang pengacara terkenal untuk menuntut Galih atas kasus KDRT dan juga pembunuhan yang dia lakukan kepada Rosa.
"Rosa tidak mungkin mati, wanita ku pasti masih hidup." Gumam Reyhan.
Kini Reyhan berada di rumahnya, tatapan sendu terlihat di benaknya. Pikirannya masih melayang pada sosok Rosa, wanita yang telah mengisi hatinya selama ini.
Di tangan Reyhan terdapat sebuah kertas hasil pemeriksaan kehamilan Rosa, para pelayan yang melihat keadaan Reyhan pun tidak bisa berbuat banyak.